--Saat kau tidak mengenal dirimu sendiri, maka hanya pertanyaanlah yang akan terus menghantuimu.
.
.
.
Rei duduk di kursinya dengan pandangan hampa. Diktat kuliahnya dibiarkan terbuka begitu saja, tanpa sedikitpun goresan tentang penjelasan dosennya di depan sana. Matanya tampak kosong, layaknya orang yang jiwanya berada di dunia lain. Namun, memang begitulah kenyataannya, ia mengikuti kelas itu, tapi jiwanya terkurung dalam pikirannya yang terus mengulang kalimat yang sama.
Kau harus mencari tahu 'orang itu', atau kau dan kita akan dalam bahaya.
Samar, terngiang terus kalimat pria buta yang beberapa hari lalu bertemu dengannya; memperingatinya, tepatnya. Rei sama sekali tak mengerti, bahkan tak satupun hal yang terlintas dalam pikirannya tentang 'orang itu' yang dimaksud si pria buta.
Kesalnya, bahkan Yuuki dan Haruna pun bungkam akan hal itu. Setiap Rei bertanya pada mereka, tak ada satupun kata yang mereka lontarkan, seakan semuanya sengaja dirahasiakan dari dirinya. Rei menghela napas berat. Pikiran-pikirannya terus bergelut, mengacak-ngacak isi kepalanya, segala tanda tanya memenuhi otaknya. Ia lelah terus berdiam diri. Ia bosan terus melarikan diri dari kenyataan yang tersembunyi darinya.
Saat Rei masih berkutat dengan pikirannya, dosennya memperhatikannya dengan wajah kesal. Ia tengah mendapati mahasiswa jenius di kelasnya mengacuhkan penjelasannya.
"Tuan Rei Harold, bisakah kau maju ke depan kelas dan megutarakan pendapatmu tentang teori yang baru saja saya jelaskan?" Sontak Rei tersadar dari lamunannya. Ia mencoba mengeluarkan jiwanya dari kekangan pikiran tentang perkataan si pria buta. Lantas ia berdiri dan berjalan ke depan kelas. Rei menatap mata-mata mahasiswa di kelas yang diikutinya, mereka tengah menatapnya tak peduli.
Ah, kenapa juga aku harus menjelaskan sesuatu pada orang-orang yang bahkan tak mau mendengarkannya.
Hati Rei menolak suruhan dosennya, tapi mulutnya tetap bergerak menjelaskan teori itu; teori pembentukan sel DNA. Saat ia tengah menjelaskan teori tersebut, pikirannya kembali meracau. Sekarang pikiran itu membawa Rei pada sebuah ingatan tentang riset pembentukan DNA sempurna milik ayahnya. Untungnya, pikiran-pikiran itu tidak membuatnya salah menjelaskan pendapatnya tentang teori itu.
"Jadi hemat saya, pembentukan DNA dan pengubahan struktur di dalamnya bisa dilakukan dengan beberapa formula yang tepat, termasuk kondisi janin atau wadah yang menjadi tempat penanaman DNA tersebut, namun sudah pasti ada konsekuensi yang akan terjadi, karena saya percaya bahwa tidak akan pernah ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi tentu kita pasti ingin menjadi sempurna." Rei mengakhiri kalimatnya lalu kembali menatap mata-mata tak peduli di depannya. Ah, pandangan tadi berubah menjadi antusias. Syukurlah, pikir Rei. Dosennya merasa puas dengan jawaban mahasiswanya yang jenius itu. Penilaiannya kepada Rei memang tidak salah.
"Terimakasih, Tuan Rei Harold, pendapat yang luar biasa. Namun saya harap anda tidak melamun saat mengikuti kelas saya, walaupun anda jenius, karena orang yang jenius akan kalah dengan orang yang rajin, anda mengerti hal itu bukan?"
Rei mengangguk mendengar pertanyaan dosennya itu. Sebenarnya, ia malu mendengar sindiran itu. Ya, ia merasa sia-sia menjadi jenius. Lain kali ia tak akan membiarkan pikirannya berkutat dengan hal lain saat berada di kelas. Itu janjinya dalam hati.
Saat ia hendak kembali ke kursinya, matanya berpapasan dengan mata Yuuki. Pandangannya mengandung banyak tanda tanya pada Yuuki, tapi dengan segera Yuuki mengalihkan matanya, seakan tak ingin menjawab segala pertanyaan Rei. Dengan berat hati, Rei kembali menghela napas.
Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua kenyataan tentangku, Yuuki?
Begitulah ucapnya dalam hati sembari melangkah menuju ke kursinya dengan gontai.

***
"Bukankah kau tahu, kami hanya ingin melindungimu, Lei."
Runa mengambil tempat duduk tepat di samping Rei yang tengah duduk di kursi taman depan kampus. Tatapan Rei terpaku pada rerumputan yang terhembus angin sepoi-sepoi. Ini sudah masuk musim semi, berarti hampir tiga minggu sejak dia bertemu dengan si pria buta. Selama itu pula, Yuuki dan Haruna sengaja menjaga jarak dari Rei, mungkin karena mereka tahu apa yang akan diucapkan Rei saat bertemu mereka.
"Untuk apa kau mengatakan itu? Sudah kubilang aku tak perlu perlindungan kalian, bahkan aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Hanya janji bodoh yang dibuat Yuuki dengan ayahku yang kutahu, lalu apa? Kalian akan terus menutupinya seperti ini?"
Mata Rei kini menatap mata Runa dengan pandangan menghakimi. Runa memasang wajah masam. Sebenarnya bukan kata-kata itu yang dia harapkan dari bibir Rei saat akhirnya ia menemuinya lagi.
"Lei...,"
Runa hendak menggenggam tangan Rei saat melanjutkan kata-katanya. Sayang, niatnya harus dihancurkan dengan tatapan Rei yang menyudutkannya.
"Kau akan menyadarinya sendiri, kau pasti akan mengingatnya. Bertahanlah sebentar lagi Rei, tinggal menghitung hari saat memorimu yang hilang akan kembali lagi padamu, bertahan--"
Belum sempat Runa menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara teriakan dari sisi lain taman. Beberapa mahasiswa seketika sibuk berlari menuju arah suara. Mereka tampak panik.
Rei dan Runa menatap satu sama lain. Mereka seakan sepemikiran untuk ikut bergegas ke sumber suara tersebut. Rei merapikan diktat-diktat kuliahnya dan segera berlari ke pusat kegaduhan, diikuti Runa di belakangnya.
Tepat di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran, banyak mahasiswa yang tengah mengelilingi sesuatu. Sangat gaduh di sana. Beberapa di antara mereka ada yang memegang ponsel dan sibuk merekam video, beberapa yang lain tengah melakukan panggilan di ponselnya dan mengatakan satu kata "Polisi?"
Rei dan Runa berada di antara kerumunan itu. Namun, bola mata mereka membesar ketika melihat hal yang tengah dikerumuni para mahasiswa itu. Mayat, seonggok mayat. Ya, di tengah kerumunan itu seonggok mayat seorang mahasiswa tergeletak di atas rerumputan.
Keadaan mayat itu tidak seperti dibunuh oleh seseorang. Tidak ada bekas luka apapun di tubuhnya, namun bibirnya nampak membiru. Tangan kanannya memegang sebuah diktat dan tangan lainnya memegang dadanya, seakan ia menahan sakit di sana sebelum ajalnya.
Rei menatapnya dengan wajah yang sangat tidak percaya apa yang ada di depannya. Sosok mahasiswa yang sudah menjadi mayat tersebut hampir mirip dengan dirinya. Ia tak percaya ini.
Apa 'orang itu' yang membunuhnya?
Kenapa?
Apa ia salah mengira jika dia adalah aku?
Segala tanda tanya kembali meracau di pikiran Rei. Di belakang punggung Rei, Runa menyembunyikan wajahnya. Ia merasa takut, jantungnya berdegup kencang sampai ia ingin berteriak meminta tolong. Apa daya, teriakannya tidak keluar, dia hanya mampu memegang tubuh Rei kuat-kuat dan menahan tangisnya.
Rei menoleh ke kanan dan kiri. Yang ia pikirkan adalah keberadaan Yuuki, ia pasti mengetahui apa yang terjadi. Benar saja, berseberangan dengan tempat Rei berdiri, Yuuki terpaku di sana. Sayang, saat Rei hendak melangkahkan kaki mendekati Yuuki, sesosok pria berjas hitam rapi menghalanginya.
"Harap minggir, kami dari kepolisian."
Pria itu diikuti beberapa pria berjas hitam yang lain. Mereka segera memeriksa mayat mahasiswa yang masih tergeletak di rerumputan. Di antara mereka juga terdapat beberapa pria berseragam yang dengan segera memasang police line di sekitar mayat.
Pria berjas hitam rapi yang pertama kali dilihat Rei langsung sibuk memeriksa mayat. Ia mengidentifikasi waktu kematian dan lainnya lalu memberitahukan seseorang dari mereka untuk mencatatnya. Setelah ia selesai mengidentikasi mayat itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah para mahasiswa-mahasiswa yang berkerumun di sana.
"Apa ada yang mengenal korban?" Tanyanya.
"Saya, dan saya mungkin tahu siapa pelakunya." Rei mengangkat tangan kanannya. Matanya menatap si pria berjas hitam rapi dengan tegas dan serius. Yuuki dan Runa serentak menatap Rei, mata mereka terbelalak. Terkejut.