--"Lebih baik buta, daripada melihat hal yang tidak berguna"-- Hear Saber
.
.
.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Bola mata Rei seketika membesar, terkejut. Seseorang yang ia lihat dari tirai kamar Yuuki tadi, kini berjalan bersimpangan dengannya. Kedua kakinya terhenti mendengar bisikan lelaki di sebelahnya yang juga menghentikan langkahnya, seakan ia sengaja ingin menakuti Rei.
"Rei?" Tanya Yuuki keheranan, ia sudah berada beberapa langkah di depan Rei, tapi Rei tetap bergeming. Sontak, Yuuki menyadari lelaki di sebelah Rei. Ia hendak mengambil pena dan buku catatannya, mencoba menulis sesuatu yang dipikirkannya. Tiba-tiba lelaki itu berbalik ke arah Yuuki sambil menepuk pundak Rei.
"Hei, tolong katakan pada temanmu itu, jangan menulis dan mengubah takdir waktuku sesukanya."
Rei tetap bergeming, apalagi mendengar ucapan lelaki yang seakan tahu kemampuan Yuuki. Begitu juga Yuuki, ia masih memegang pena dan buku catatannya dalam keadaan tertutup.
"Ah, lupa ya? Pantas kalian heran. Biar aku ingatkan, aku bisa mendengar kalian. Ah, tepatnya bisa mendengar apapun, termasuk detak jantung dan pergerakan kalian." Lelaki itu tersenyum ramah. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Rei. Mencoba memberanikan dirinya, Rei menatap ke sebelahnya, ke lelaki itu.
Ia buta!
Siapa?
Siapa?
Apa aku mengenalnya?
Lelaki itu balas menatap wajah Rei yang memperhatikannya lekat-lekat. Ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu tersenyum lembut tapi tetap tak terlihat bersahabat.
"Ah, sepertinya kau lupa, aku jadi sedih sekali, tapi sepertinya kau tidak lupa, kan, Yuuki?"
Lelaki itu kini menatap Yuuki. Entah kenapa Rei juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah Yuuki, seolah menunggu jawaban atas pertanyaan lelaki itu.
Yuuki terdiam. Wajahnya tampak menahan amarah. Dari balik kacamatanya, terlihat mata teduhnya yang menatap sinis lelaki itu. Ia mencoba mengendalikan dirinya, hati dan pikirannya. Tak mau ambil pusing, dia mulai berjalan ke arah lelaki itu berniat menghajarnya. Namun niatnya dihentikan oleh tangan seseorang yang menahan pundaknya. Haruna, dia datang tepat waktu sebelum Rei menghentikan Yuuki.
"Tidak tahu ya, kalau Lei akan marah besar jika kau melakukan ini? Ah, rasanya ikut kesal karena pagi-pagi begini malah membaca emosi amarahnya Lei." Haruna mendengus kesal. Dia menatap tajam pada lelaki buta yang masih memegang pundak Rei.
"Hei, kau bisa mendengar detak jantung dan pergerakanku, kan? Aku bisa membaca pikiran dan emosimu, ingat?"
Mendengar perkataan Haruna, lelaki buta itu tersenyum datar. Ia menarik nafasnya dan mengeluarkannya kembali. Tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam pundak Rei diarahkannya ke atas, diiringi dengan tangan kirinya. Kini ia tampak seperti menyerahkan diri.
"Oke, sepertinya kau tahu aku tidak bermaksud buruk, reader, ah, dan kau juga penulis pengubah takdir orang," Lelaki buta itu berbicara sambil menjauhkan diri dari Rei. Ia lalu menghadapkan wajahnya ke arah Yuuki dan Haruna dengan lembut, seakan menatap mereka. Namun, mereka berdua tetap saja melihatnya dengan curiga.
"Aku hanya ingin memastikan anak ini masih hidup. Karena sepertinya mulai sekarang 'dia' akan terus mengawasi kalian."
Raut wajah Rei semakin penasaran. Ia seakan tak mengerti situasinya. Siapa orang yang mencarinya dan kenapa, semua pertanyaan memenuhi pikiraannya.
Menyadari kebingungan Rei, si lelaki buta tersenyum padanya.
"Yang jelas kau dan kita dalam bahaya, aku harap kau mencari tahu tentang 'dia' yang menginginkanmu. Sampai jumpa, aku harap kita bertemu lagi, Tuan Harold."
Lelaki buta itu berbalik pergi sambil menepuk pundak Rei. Ia lalu memasang earphone biru langit yang sejak tadi dikalungkannya. Yuuki dan Haruna menatap ia pergi dengan wajah kesal, sedang Rei masih mematung dengan raut wajahnya yang penasaran.
***
Di sebuah atap gedung, tak jauh dari apartemen Rei dan Yuuki, seorang wanita tengah berdiri memperhatikan sesuatu. Tangannya disilangkan di depan dadanya dengan wajah yang nampak kesal. Ia menutup matanya sesaat, seakan mencoba menenangkan detak jantungnya.
Angin berdesir mengibaskan beberapa helai rambut panjangnya yang terikat tak rapi. Beberapa saat kemudian, ia berdecak lalu mengalihkan pandangannya ke sisi pintu masuk atap gedung. Di sana, si lelaki buta tengah berjalan ke arahnya.
"Ah, benar-benar membuat kesal, kenapa kau lama sekali? Dan apa yang tadi kau lakukan? Memberi lelucon dengan memperingatkan bocah-bocah itu, heh?!" Si wanita tersenyum dengan maksud mencibir. Gerakan matanya seakan merendahkan lelaki buta itu.
"Kau bodoh, ya? Mau mati, heh? Kalau dia tahu kau memperingatkan bocah itu, kau benar-benar dalam bahaya!"
Lelaki buta itu kini sudah berdiri di samping wanita. Ia hanya berdiam diri mendengar ocehan si wanita.
"Ah, sial. Kenapa juga kau harus melakukan itu, dasar si buta bodoh!" Wanita itu makin menjadi dengan ocehan dan cibirannya. Seperti orang yang tak terima, si lelaki buta mulai angkat bicara.
"Lebih baik buta, daripada melihat hal yang tidak berguna." Ucapnya datar dan sinis.
"Hei! Kau mengejekku ya? Ah, kenapa juga aku harus punya adik sepertimu. Ah, sialnya."
"Sudah selesai bicaranya? Lagipula bukankah ini yang dia inginkan, jadi ayo kembali sebelum pria yang kau kagumi itu mengamuk dan membuat semua orang masuk penjara." Si lelaki buta memakai kembali earphonenya yang tadi sempat ia lepaskan. Ia lau melangkah beranjak pergi meninggalkan si wanita.
"Hei, ah anak ini benar-benar membuatku kesal." Si wanita mendengus lalu mengejar langkah lelaki buta yang sudah berjalan di depannya.
***
Roma, 2042
In the arms of the angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear are pulled from the wreckage
of your silent reverie
You're in the arms of the angel
May you find some comfort here
(Angel- Sarah Mclachlan)
Seorang wanita tengah bersenandung di depan Fontana De'tuvre. Beberapa pasangan yang melewatinya berdecak kagum, beberapa yang lainnya menatap aneh, tapi wanita itu tidak peduli dan tetap bersenandung. Matanya tertutup sempurna dengan kacamata hitam. Rambut yang digerainya di samping bahu kanan dihiasi topi hitam dengan pita merah maroon di tengahnya. Tubuh langsing dan kulit putih pucatnya diselimuti mantel bulu berwarna coklat sampai paha. Sedang kakinya yang indah tertutup rok dan stocking hitam, tak lupa sepatu berhak berwarna merah senada dengan topinya ikut menyempurnakan tampilannya. Benar-benar tampak seperti seorang diva.
Belum habis lagu yang disenandungkannya, ponselya berbunyi. Terdengar nada yang sama dengan lagu yang ia senandungkan dari ponsel itu. Ia meraih ponsel itu dan menerima panggilan, mengacuhkan pandangan kecewa orang-orang yang tadi mendengar nyanyiannya.
"Ah? Sudah ketemu? Siapa yang menemukannya? Oh! Listener? Tidak, dia tidak ada di Roma. Hah, padahal aku sudah jauh-jauh ke Italia, tapi mereka melarikan diri, mengecewakan. Hm? Oke, aku akan naik pesawat ke Jepang besok pagi, lagipula aku tak sabar ingin menyanyikan lagu untuknya. Hm? Iya, ya. Aku mengerti jangan menceramahiku begitu, kakak iparku yang cantik. Oke, sampai jumpa di Jepang."
Ia memutus panggilan untuknya. Ponsel di tangannya kini diadu-adukan pada ujung bibir merahnya. Ia tersenyum manja, namun nampak mengesalkan.