--"Semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang pandai menulis" -- Rajua Harold
.
.
.
Hari itu langit lebih biru dari hari kemarin. Suara burung-burung gereja menemani pagi menjelang siang. Terik mentari mewarnai putihnya awan hingga berwarna keemasan. Namun udara hari itu tak terasa panas, malah sejuk menenangkan. Semua bangunan di Moskow terlihat damai, walau banyak orang tengah berdesas-desus. Dari sebuah rumah besar di pinggir kota lah awal desas- desus itu. Seorang anak akan lahir, dan dia bukanlah anak biasa.
Di sudut rumah besar itu tampak beberapa anak kecil tengah menyudutkan satu anak. Si anak yang disudutkan duduk tersungkur di tanah. Punggungnya erat dengan dinding luar rumah. Sorot matanya terjatuh ke arah rerumputan. Anak-anak yang menyudutinya; tiga lelaki dan dua perempuan, menatap jengkel padanya. Satu anak lelaki berdiri paling dekat dengan anak yang disudutkan. Ialah yang paling kesal.
"Bukankah kau bisa mengubahnya? Hentikan waktunya!" Si anak lelaki yang berdiri itu berteriak dengan nada memaksa. Dia tampak seperti anak berumur tujuh tahun, sedangkan anak yang diteriakinya sangat kecil, seperti berumur tiga tahun kurang.
Si anak yang disudutkan hanya menggeleng mendengar teriakan anak lelaki itu. Ia tampak takut sekarang. Wajahnya ditundukkan hingga hampir tak terlihat ekspresinya, tapi bisa kita lihat matanya yang penuh rasa takut mulai menangis.
Si anak lelaki tadi makin jengkel. Ia menyuruh keempat temannya untuk memukuli anak tiga tahun itu. Kompak, mereka memukuli anak itu. Walau hanya pukulan anak-anak pasti anak tiga tahun itu merasa sakit, karena nyatanya anak-anak yang memukulinya lebih besar dan lebih tua darinya.
Si anak tiga tahun tak berdaya. Kini ia terbaring pasrah dengan punggungnya yang masih erat dengan dinding rumah. Air matanya mengalir deras, dari bibirnya mulai terdengar isakan tangis. Ia mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangan tapi pukulan anak-anak itu tetap saja mengenainya. Ya, karena mereka lebih besar darinya, sungguh perkelahian yang tidak adil.
Bukankah seharusnya mereka menyayangi anak yang lebih muda dari mereka? Bahkan itulah aturan di rumah besar itu. Tapi anak-anak itu tidak peduli, karena si anak yang menjadi harapan mereka itu justru tidak mau membantu mereka.
"Tidak berguna! Dasar penulis bodoh, pantas kau dibuang oleh ibumu!" Anak-anak itu lantas meninggalkan si anak tiga tahun yang masih terbaring di tanah. Isak tangisnya ia tahan semampunya. Ia tak mau ayah angkatnya mendengar tangisannya.

***
Harold keluar dari ruang bersalin istrinya dengan wajah muram. Ternyata memang mimpinya haruslah dibayar dengan mahal. Ia mendesah, menenangkan hatinya, lalu mengangkat kepalanya yang mulai letih. Di sana ia melihat salah satu dari anak-anak angkatnya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Anak itu tengah menunggu Harold keluar dari ruang bersalin. Ya, hanya anak itu yang menunggunya dengan tatapan yang teduh.
"Yuuki! Apa yang terjadi padamu, Nak?"
Harold berlari tergesa melihat kondisi anak angkatnya, Yuuki. Terlihat banyak lebam di badan Yuuki, terutama di kedua tangan dan kakinya. Di ujung bibirnya pun terlihat bekas darah yang baru berhenti mengucur. Tak ada luka di matanya, tapi pelipisnya sedikit berwarna ungu.
Yuuki hanya menggeleng melihat Harold yang dengan khawatir mengelus pipi kanannya. Ia tak mau ayah angkatnya itu tahu, atau menyalahkan anak-anak angkatnya yang lain.
Mungkin ini memang salahku, tak mau menuruti permintaan mereka.
Ayah tak perlu tahu, aku tak mau ayah kecewa pada mereka.
Yuuki terus berbicara sendiri di dalam hatinya. Tangan kecilnya menggenggam tangan Harold yang berjalan ke arah laboratorium. Di sana Harold mengobati luka-luka di badan Yuuki dengan lembut. Yuuki terduduk lemah di kursi sambil terus menatap ayah angkatnya itu.
"Ayah, apa aku tidak berguna?" Yuuki mulai berbicara walau di hatinya masih ada sedikit rasa takut. Ia teringat dengan ucapan anak lelaki yang memukulinya dan sangat penasaran dengan pendapat ayah angkatnya.
Harold menutup kotak P3K lalu menatap Yuuki lekat-lekat. Ia mendongakkan kepalanya hingga matanya benar-benar bertemu dengan mata Yuuki. Harold menggenggam tangan kecil Yuuki di atas kaki mungilnya.
"Nak, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak berguna, setiap manusia membutuhkan manusia lain, jadi tidak mungkin kau tidak berguna."
"Bukan itu maksudku, maksudku adalah kemampuanku, dibanding yang lain kemampuanku tidak berguna kan? Apa istimewanya mempunyai kemampuan 'menulis'? Bukankah semua orang juga bisa menulis?" Yuuki mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Entah apa yang membuatnya akhirnya mengatakan semua yang ia pikirkan.
"Semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang pandai menulis,"
Yuuki terdiam mendengar jawaban ayah angkatnya. Bola matanya menyudut ke bawah, ia merasa ayahnya benar, dan ia kesal karena jawaban ayahnya seakan mematahkan pikiran anak kecilnya itu.
"Dengar, nak, kau istimewa, setiap anak yang terlahir itu istimewa. Kau bahkan lebih istimewa," Harold melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yuuki. Kini ia memegang pundak Yuuki erat.
"Kau memiliki kemampuan di luar batas logika manusia! Apa kau pernah melihat anak seusiamu sudah pandai berbicara bahkan menulis dengan rapi?" Yuuki menggeleng, menjawab pertanyaan ayah angkatnya itu.
"Kau sangat istimewa, Yuuki. Tulisanmu bukan tulisan biasa, tulisanmu akan menjadi hal yang nyata, tulisanmu mampu mengubah dunia, jadi apa kau masih menganggap dirimu tidak berguna, nak?"
Yuuki tidak menjawab pertanyaan Harold. Sinar matanya berubah, lebih bersinar dari sebelumnya, mungkin itulah jawaban yang tak mampu ia ungkapkan.

***
Kyoto, 2042
Rei membuka pintu kamar Yuuki lalu bersegera menyibak tirai jendelanya hingga sinar mentari masuk ke dalam kamar itu. Yuuki sudah terjaga dari tidurnya. Matanya sembap, seperti habis menangis. Ia masih terduduk di ranjangnya dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Memimpikan ayah lagi?"
Pertanyaan Rei hanya dijawab Yuuki dengan anggukan lemah. Rei menghela nafas. Dirinya merasa bersalah pada Yuuki. Dia sangat tahu, alasan Yuuki pergi bersamanya karena janjinya pada ayahnya, ayah kandung Rei juga ayah angkat Yuuki. Berbagi ayah membuat mereka seperti saudara, bahkan mungkin rela mengorbankan hidupnya satu sama lain.
"Aku bukan anak kecil lagi, dan janjimu pada ayahku harusnya sudah kau buang dari dulu."
Yuuki menatap Rei dengan lemah, lantas ia mengambil kacamatanya di atas meja tepat di samping ranjangnya. Ia mencoba mengingat kembali mimpinya. Mimpi tentang masa kecilnya. Mimpi yang terus berulang ketika ia melihat Rei dalam bahaya. Jadi bagaimana dia bisa membuang janjinya? Sedang mimpi itu masih saja membayangi dirinya. Membuatnya merasakan hutang budi pada ayah Rei dan hanya kemampuannya lah yang mampu membayar hutangnya itu. Ia harus melindungi Rei, bagaimanapun caranya.
Sembari Yuuki beranjak dari ranjangnya, Rei memperhatikan seseorang dari jendela. Seorang lelaki muda, mungkin sepantaran mereka atau lebih tua, Rei tidak bisa menerkanya.
"Sepertinya dia buta." Gumam Rei.
"Siapa?" Tanya Yuuki dengan nada khawatir.
Rei terkesiap, suaranya ternyata terdengar oleh Yuuki yang kini berdiri tak jauh darinya. Ia mengalihkan pandangannya sambil menutup sebagian tirai jendela. Ia tak mau kondisi Yuuki lebih terguncang karena terus mengkhawatirkan dirinya.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang lewat."