Part 1-- Kasus

1193 Words
 --Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar juga ketakutannya. . . . Kyoto, 2042 Pelataran fakultas Engineering Science, Universitas Kyoto tengah dipenuhi mahasiswa. Banyak dari mereka baru saja mengikuti kelas. Beberapa di antaranya sibuk membaca modul perkuliahan dan berbagi diskusi. Di sana tampak pula dua orang pria yang sibuk bertukar pikiran sambil berjalan keluar fakultas. Yang satu berperawakan tinggi, berwajah putih khas asia, matanya tidak terlalu sipit tidak juga terlalu besar. Bibir merah dan alisnya yang hitam hampir membuat kita salah mengira ia seorang wanita, jika saja kita tidak melihat rambutnya yang pendek terpangkas rapi ala pria-pria muda Jepang umumnya, sungguh pria yang manis dan terlihat seperti anak kecil. Ia memakai celana semi jeans yang dipadukan dengan kemeja biru laut di dalam jaket panjang selutut berwarna cream. Tak lupa sebuah ransel coklat di punggungnya serta beberapa modul kuliah dipegangnya. Yang seorang lagi, berperawakan hampir sama, namun dengan rambut pendek cepak serta kacamata menutupi mata teduhnya. Kemeja abu-abu bergaris dengan vest putih di luarnya dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, cocok dengan penampilannya yang tampak cerdas. Saat mereka asyik berdiskusi, dari arah taman depan kampus, seorang wanita berlari ke arah mereka. "Lei!" Teriak wanita itu sembari merangkul si laki-laki berkemeja biru laut. Wanita itu terlihat sedikit tomboy dengan rambut panjang terikat dan blus hitamnya yang dipadukan dengan celana denim. Si laki-laki yang diteriakinya tampak kaget, dan raut wajahnya berubah jengkel. "Ah, sudah kubilang jangan memanggilku begitu, Runa," ucapnya dengan kesal sambil menangkis rangkulan Haruna, wanita yang tadi memanggilnya. "Kenapa? Lalu aku harus panggil apa?" "Tentu saja, namaku, LEI!" teriak si lelaki kesal. Haruna tertawa terbahak seperti sedang mengejeknya. "Nah, kan namamu kan Lei, jadi kupanggil Lei." Cibir Haruna sambil menjulurkan lidahnya pada si lelaki. "Berhenti mengejek Rei, Haruna." Si lelaki berkacamata segera menahan Haruna untuk melanjutkan ejekannya. "Ah, kau selalu membela si cadel ini, Yuuki, apa jangan-jangan kalian berdua....saling mencintai, ya?" Haruna kembali tertawa terbahak. Sontak, Rei dan Yuuki mencubit pipi wanita itu sampai ia kesakitan. Mereka lalu berjalan bersama sambil terus meledek dan bercanda satu sama lain. *** "Kau tahu, akhir-akhir ini banyak kejadian aneh," ucap Haruna sambil menggigit roti yang baru saja dibelinya. Sedangkan Rei dan Yuuki asyik menikmati kopi hangat. Mereka tengah mengobrol sambil memperhatikan layar televisi di sudut mini market. "Ah, maksudmu pembunuhan berantai yang terkesan tidak wajar itu?" Rei mengangkat gelas kopinya dan mulai meneguknya. Ya, di layar televisi yang mereka tonton sedang disiarkan kasus pembunuhan berantai yang tidak wajar. Korban selalu berada di ruang tertutup atau  berada di sebuah tempat yang sangat ramai. Anehnya lagi, kematian korban tidak terlihat seperti pembunuhan, tapi lebih terlihat seperti bunuh diri atau mati karena serangan jantung. "Ya, aku harap kasus pembunuhan itu bukan ulahnya." Yuuki mengepalkan tangannya seakan menahan amarah. Seketika Rei dan Haruna berwajah muram dan datar. Perkataan Yuuki ingin sekali dibenarkan oleh mereka, tapi bagaimana kalau 'orang itu' memang terlibat? Jika iya, Satu-satunya tujuan dari pembunuhan berantai ini adalah mencari Rei. "Ah, kau membuat mood kita jelek, Yuuki. Padahal, kan kau sudah berjanji akan melindungi Lei." "Berhentilah memanggilku begitu, Runa, atau aku akan meminta Yuuki menulis kutukan untukmu!" "Hei, kemampuanku bukan untuk hal konyol begitu tahu!" Mereka serentak tertawa. Suasana muram tadi entah hilang kemana. Saat mereka masih asyik megobrol, sesosok pria berjaket dan bertopi hitam masuk ke dalam mini market. Pria tersebut sangat mencurigakan. Ia berjalan ke arah rak peralatan dapur. Yuuki sekilas memperhatikannya, namun belum ada rasa curiga dalam hatinya. "Rei, Yuuki, aku pulang duluan, ya," Haruna mengambil tas dan belanjaannya. "Tunggu, kami juga sudah mau pulang, bareng saja." Jawab Rei sambil mengambil tas dan modul kuliahnya. Mereka berdiri dari kursi, hendak pergi keluar mini market. "REI, AWAS!" Teriak Yuuki. Sontak Rei mengalihkan perhatiannya, pria mencurigakan tadi sudah ada di depannya sambil memegang pisau. Dengan cepat ia menghunuskan pisaunya ke arah Rei. Namun, belum sampai pisau itu menikam perut Rei, ia berhenti bergerak. Bukan hanya dia, tapi semua orang di sana, di dalam mini market bahkan di luarnya. Bahkan jarum jam pun ikut berhenti. Tas Haruna yang hampir terjatuh juga berhenti. Semua berhenti bergerak. Hanya satu yang masih bergerak; Yuuki. Ia menaruh pena dan buku catatan kecilnya ke dalam saku. Lalu dengan cepat, berjalan ke arah pria berjaket hitam yang tengah menghunuskan pisau ke arah Rei. Pisau diambilnya dan dilemparkan ke lantai. Sekarang posisi Yuuki tepat di antara Rei dan pria itu. Seketika semua kembali bergerak. Yuuki menghantam si pria dan menubruknya ke lantai. Kacamatanya terlempar, tapi ia tak peduli. Pria itu meringis. "Siapa kau? Apa maumu?!" hardik Yuuki sambil menarik paksa kerah baju si pria. Rei dan Haruna masih berdiri mematung dengan wajah terkejut. Siapa pria itu? Apakah dia pelaku kasus pembunuhan berantai yang tadi disiarkan di televisi? Rei mengamankan pisau yang tadi dilempar Yuuki ke lantai.  Pria itu terdiam, tak menjawab pertanyaan Yuuki. Matanya tampak kosong. Makin geram, Yuuki mengangkat kepalan tangannya hendak memukul si pria. "Apa-apaan ini? Kenapa kau menarik kerahku? Lepaskan!" ucapan pria itu menghentikan kepalan tangan Yuuki. Wajah pria itu terlihat takut dan bingung. Kenapa pria ini?  Seperti lupa dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Rei, Yuuki dan Haruna menatap pria itu dengan wajah penuh tanda tanya. Tangan Yuuki yang sedari tadi menarik kerah baju pria itu dilepasnya. Ia pun memakai kembali kacamatanya yang diambil Rei dari lantai. Pria itu pun berdiri, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia amat tampak kebingungan. "Kenapa aku di sini? Bukannya ini mini market? Kenapa aku ada di mini market?" Pertanyaan-pertanyaan pria itu hanya terjawab dengan tatapan heran semua orang di dalam mini market itu.  ***  New York, 2042 Bulir-bulir air membasahi kaca jendela di sebuah kamar hotel yang mewah. Gemerlap lampu kota New York ikut mewarnai jendela itu. Seorang pria, penyewa kamar itu tengah berdiri memandang layar televisi di depannya. Tubuh tinggi dan kekarnya masih diselimuti baju handuk berwarna putih. Rambut coklat gelapnya masih sedikit basah. Tatapan matanya layaknya elang, tapi entah mengapa terlihat lebih dingin dari malam itu. "Seorang pria setengah baya ditangkap karena menghunuskan pisau ke arah seorang pemuda di mini market Yoshidahonmachi, Perfektur Kyoto, Jepang. Pria berinisial MK tersebut diduga sebagai pelaku pembunuhan berantai yang sedang buron. Pelaku masih diinterogasi...," Suara penyiar berita tersebut terhenti saat layar televisi mati. Seorang wanita berpakaian minim menaruh remote televisi yang tadi ia matikan. Lantas wanita itu memeluk si pria yang masih terpaku. "Sudah kubilang jangan nonton berita, kan." Si wanita menyenderkan badannya manja. Tubuh langsing dan wajah mungilnya tertutup oleh badan pria tinggi nan kekar itu. Tatapan si wanita tampak sedih dan khawatir, sedangkan si pria hanya diam seribu kata. "Jangan mencari anak itu, jangan dengarkan berita apapun, jangan pedulikan orang lain yang membicarakanmu. Kau hanya perlu di sini, bersamaku, dan kita akan baik-baik saja." Wanita itu mengeratkan pelukannya. Setetes air mulai jatuh dari mata birunya yang indah.  *** Shizuoka, 2042 "Sayang, buka pintunya, nak. Ayo makan, kau belum makan sejak siang tadi. Ayo buka pintunya sayang." Seorang ibu muda tengah mengetuk kamar putrinya. Di tangannya terdapat nampan dengan sepiring makanan lengkap dengan minumannya. Di dalam kamar itu tampak sangat berantakan. Mainan-mainan berserakan, boneka-boneka bergaun cantik terjatuh di lantai dan lampu kamar itu dimatikan. Hanya sinar dari televisi yang menyala sedikit menerangi kamar itu. Di sana, di atas kasur di kamar itu, seorang gadis kecil duduk sambil memeluk erat gulingnya. Selimutnya pun menutupi sebagian tubuh kecilnya. Gadis kecil berambut ikal itu gemetar ketakutan. Dia terus menggumamkan kata yang sama sambil terisak. "Tolong aku, tolong aku, tolong aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD