Firanda tidak biasa di tatap banyak orang, ia hanya seorang gadis desa yang berasal dari keluarga sederhana dan sekarang diajak kekasihnya datang keperusahaan Mizuruky Corporation, sebuah perusahaan berlian yang sudah bertaraf internasional. Sepanjang jalan gadis itu terus menggenggam tangan Maulana dengan erat membuat pria itu tersenyum dalam hati, "pagi, pak. " sapaan dari para staf karyawan hanya ditanggapi dengan gumaman tak jelas olehnya.
Gadis itu mengintip dari balik tubuh pria itu memperhatikan setiap wanita yang sepertinya mencari perhatian, Maulana membawanya masuk kedalam lift pribadi khusus presiden direktur. Fira yang tidak pernah naik lift dan hanya lihat di tv atau baca komik menjadi heboh sendiri, ia bahkan meraba-raba dinding lift tersebut,"Kak, Lana. Aku tidak menyangka bisa naik lift ahahaha. Biasanya aku hanya lihat di tv atau saat baca komik."
Pria itu tersenyum simpul menanggapi sikap norak dari gadisnya, ia bisa memaklumi karena memang gadis itu bukan dari kalangan bangsawan atau menengah melainkan kelas bawah, "Sayang. Minggu depan ada pameran perhiasan, apa kau mau ikut bersamaku?" tanyanya.
Gadis itu memandang sang kekasih penuh minat, matanya yang berkilau membuat pria itu semakin gemas melihatnya, "jangan menatapku begitu! Kau mau aku kehilangan kendali? " kata Mualana.
Fira mengaitkan lengannya pada lengan sang kekasih,"Apa aku pantas datang ketempat seperti itu? Apa tidak akan membuat kak Lana malu? "tanyanya khawatir. Bagaiamana pun dia tau diri, pastinya disana akan banyak orang -orang kelas atas yang hadir.
Maulana melepaskan kaitan lengan kekasihnya lalu menariknya kedepan dan memeluk pinggangnya, ia menatap gadis itu penuh kasih tak pernah sedikitpun dalam hatinya merasa malu jika ada gadis itu disekitarnya, dia bahkan tidak akan ragu untuk mengatakan pada siapapun kalau gadis itu adalah kekasihnya, satu-satunya wanita yang paling dicintainya," Kenapa harus malu? Kau cantik, hanya sedikit di dandani pasti mengalahkan wanita tercantik didunia ini, " pujinya. Gadis itu bersemu merah mendengar pujian dari kekasihnya.
Gklek....
Akhirnya pintu lift terbuka, gadis itu semakin terkesima melihat luas dan besarnya kantor perusahaan sang kekasih," Wah... Kantor ini luas sekali, mewah pula. Seperti hotel berbintang." ia berlari keluar dari lift, tak memperdulikan para karyawan yang menatapnya jijik karena mengira dirinya adalah orang gila.
Maulana segera menghampiri sang kekasih, dia tidak suka bila kekekasihnya diberikan tatapan menghinakan seperti itu. Pria memeluk pinggang gadisnya posesif, matanya memancarkan sorot ancaman bagi siapa saja yang menatap gadisnya dengan pandangan merendahkan. Firanda tidak sadar bahwa perubahan sikap karyawan padanya yang awalnya menatapnya merendahkan berubah jadi penuh hormat adalah karena pria disamping.
Maulana membawa gadis itu keruang kerjanya yang lebih, pria itu mendudukkan gadisnya dikursi kebesarannya. Firanda menatap sang kekasih bingung, ia tak enak kalau duduk dikursi yang harusnya diduduki presiden direktur,"kak, Lana. "
"Kau disini dulu, aku ada meeting penting," ucap Maulana. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya, ia takut kalau nanti akan ada yang marah jika melihat dirinya duduk dikursi milik kekasihnya.
"Bagaimana kalau nanti ada yang marah? Biasanya tempat seorang presdir itu harus terjaga, ruangannya pun tidak boleh dimasuki sembarang orang. " Fira mendongak menatap sang kekasih yang duduk diatas meja dengan kaki menjulur kebawah. Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadisnya, ia bahkan sampai meteskan air mata.
Nyut..
"ais... "
Fira merengut melihat pria itu tertawa sampai meneteskan air mata, alhasil ia pun mencubitnya, " Apa yang kau tertawakan? Aku bicara apa adanya. Aku sering baca komik, yang namanya presdir itu, dingin, ganteng dan tidak suka tertawa. "
Maulana menghentikan tawanya, matanya memandang gadis itu lembut, kekasihnya itu selalu saja membuatnya tersenyum, kesepian yang selama ini ia rasakan rasanya telah hilang setelah mengenal gadis itu. Pria itu bersukur setidaknya sekarang ada seseorang yang mencintainya bukan karena harta, ia melompat dari tempat duduknya lalu berjalan memutar dan berdiri dibelakang gadisnya, tubuhnya sedikit membungkuk saat ia memeluk leher gadis itu dari belakang," Sayang. Aku adalah pendiri perusahaan ini, aku juga yang memimpin perusahaan ini. Tidak akan ada orang yang berani memarahimu apalagi berlaku tidak baik padamu, kalau itu sampai terjadi maka orang itu harus keluar dari perusahaan Mizuruky, baik perusahaan berlian ataupun Maula group, "katanya lembut.
Firanda mendongakkan kepalanya menatap sang kekasih, matanya nampak penasaran saat mendengar nama Maula Group, yang ia tau perusahaan itu merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang penerbitan buku novel, bahkan sudah banyak novel dari Maula Group jadi film layar lebar,"Kak, Lana. Bukankah Maulan Group itu milik Presdir, Gino Hernandes?" tanyanya memastikan.
Maulana menegakkan tubuhnya, ia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, bagaimana mungkin gadis itu mengira kalau orang yang sengaja ia tunjuk menjadi presdir perusahaan Maula Group itu adalah pendirinya. Fira memalingkan wajahnya kebelakang melihat apa yang dilakukan kekasihnya, gadis itu terlihat bingung melihat sang kekasih menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, ia pun bangkit lalu mendekati pria itu, "Kak, Lana, kenapa?"
Maulana menurunkan tangannya lalu memegang kedua bahu gadis itu lalu menariknya kedalam pelukannya,"Aku mencintaimu, ku harap kau tidak jatuh hati pada, Gino Hernandez. "
Fira tersenyum haru, baru kali ini ada seorang yang takut dirinya jatuh hati pada orang lain yang artinya takut kalau dirinya akan pergi meninggalkan pria itu, "Tentu tidak, Kak, Lana. Aku hanya mencintaimu, hanya kakak saja. "
Drrt..
Drrt...
Maulana mengambil ponselnya yang ia taruh disakunya, ia pun melihat siapa yang telvon, terlihat nama Andrian tertera dilayar ponselnya, "Ada apa manusia sok kaya ini menelponku? " batinnya.
Maulana mengangkat telvonnya tanpa melepaskan pelukannya pada kekasihnya," Ada apa? "
" Kere. Kamu sudah baik-baik saja, 'kan? "
Maulana menyerngit, sejak kapan teman sekelasnya itu perhatian padanya, "Iya, lalu kenapa? "
"Jangan GR dulu, kamu tau, 'kan? Pukul dua nanti ada ospek. Terakhir besok, karena itu sebagai ketua Group kau tidak akan meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabmu,'Kan? "
Rasanya Mualan ingin menyumpel mulut temannya itu, bisa-bisanya dia meragukan dirinya, "Kau tidak usah khawatir orang kaya. Aku pasti datang, sebentar lagi aku ada meeting penting, jadi ku tutup dulu. "
Tut....
Tut...
Andrian menatap layar ponselnya kesal, bagaimana mungkin pria kismin itu berani menutup panggilan telvon darinya, lagi pula kenapa ketua groupnya itu bilang meeting penting? Dia tidak ingin ambil pusing, lebih baik ia segera bersiap untuk keperluan ospek nanti, dari pada kenak marah lagi oleh seniornya.
****
Fira menarik dirinya dari pelukan sang kekasih, ia menatap pria itu penuh tanda tanya,"Dari siapa? "
"Andrian. Dia hanya ingin memastikan bahwa aku tidak akan lari dari tanggung jawab sebagai ketua kelompok," Jawab Maulana. Gadis itu terkikik, pasti tadi temannya itu memanggil sang kekasih dengan sebutan kere, padahal kalau saja Andrian tau kalau Ivan Maulana Rizky itu adalah Mizuruky Ivan pengusaha muda terkaya di Asia mungkin tidak akan lagi memanggilnya kere.