episode 19

1086 Words
Ku pandangi paras tampan yang berada didepanku, ingin ku utarakan apa yang dalam relung hati, tapi apakah dia akan setuju jika aku memintak bantuan darinya. Aku adalah seorang wanita yang memiliki impian menjadi penulis novel dan bekerja sama dengan Maula Group, tapi hatiku selalu ragu apakah aku bisa masuk kenasa? Persaingan ketat dalam Maula group sudah tidak asing lagi, tidak mudah untuk menjadi penulis Maula Group, apakah diriku yang belum seberapa ini bisa masuk? Atau baru daftar saja sudah di keluarkan? Hah, rasanya otakku stres jika memikirkan novel karangan ku yang nganggur, hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna, setidaknya itu yang ibuku katakan. "aku memang tampan, tapi haruskah kau memandangiku terus? " pertanyaan yang keluar dari mulut kekasihku itu membuat lamunanku tersadar kalau dari tadi aku terlalu banyak berpikir tanpa bertanya lebih dulu. "kak, Lana. Apakah di Maula Group masih membuka lowongan untuk seorang penulis?" Jantung ku berpacu dengan cepat hanya karena menanyakan hal itu, heh, mirip seperti orang menunggu jawab cinta, sungguh bodoh dan tidak masuk akal. Mata elang namun sangat meneduhkan saat menatapku itu kini terlihat penuh tanda tanya, tentu saja mungkin karena diriku tidak pernah mengatakan kalau aku adalah seorang penulis novel meski masih amatiran. "kenapa kau menanyakan hal itu?" Jantungku semakin berdebar, bagaimana caranya aku harus mengatakan bahwa diriku ingin menjadi penulis novel di Maula Group, tapi berdiam diri dengan sebuah rasa takut tidak akan membuatku menjadi berhasil dalam menggapai mimpi, selagi ada kesempatan maka pergunakanlah dengan baik. "aku ingin mendaftar jadi penulis novel di sana," jawabku berusaha tidak gugup. **** Ivan Maulana Rizky ( Mizuruky Ivan) Apa? Gadis ku ingin menjadi penulis di Maulana Group? Apa telingaku tidak salah dengar? Mataku bahkan tidak pernah melihat dia menulis, bagaimama ia bisa memiliki keingan untuk jadi penulis Muala Group? Aku harap ini bukan karena dirinya ingin dekat dengan Gino Hernandez, Presdir dingin yang sok berkuasa itu. "Fira, kenapa kau ingin menjadi seorang penulis disana? Memangnya kau pernah membuat sebuah novel?" tanyaku hati-hati jangan sampai ucapan ku menyinggung perasaannya. Fira mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan ku, apakah dia jujur? Ya, Tuhan, kenapa sekarang aku menjadi orang yang suka mencurigai kekasihku sendiri. Haruskah aku mengajukan pertanyaan lagi, mengenai perasaannya pada Hernandez? Mungkin tidak perlu, lagi pula ia hanya ingin menjadi penulis bukan ingin menjadi istri heheheh. "Nanti aku antarkan kau kesana, akan lebih mudah masuk dalam Maula Group jika aku yang menemanimu." Mata keibuan miliknya menatapku berbinar, dia memang sang mudah bahagia dengan apapun yang ku berikan padanya tapi terkadang aku melihat mata itu menyiratkan kesedihan yang sangat dalam. "benarkah, kak, Lana? " tanyanya penuh harap. Hanya sebuah anggukan kecil dan senyuman yang kuberikan padanya dan mata itu semakin menunjukkan sinar penuh kebahagiaan. Tok... Tok... Itu pasti asisten pribadi ku, hari ini aku pergi kekantor memang karena ada rapat penting, taukah? Biasanya aku hanya mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah, ehehehe meski diriku ini memiliki perusahaan besar bertaraf internasional tapi menurut ku lebih enak berada dibalik layar dan meminta orang lain menduduki kursi presdir. ****** "Masuk! " Terlihat seorang pria bertubuh tegap berjalan menghampiri Maulana, pria itu sedikit menunduk hormat terhadapnya," Presdir, anda sudah ditunggu di ruang rapat." "hn," balas Maulana tanpa menoleh pada pria itu, ia kembali tersenyum pada kekasihnya. "sayang, aku pergi dulu. Kalau kau butuh sesuatu tinggal bilang pada paman ini. " Maulana menunjuk pada pria yang masih menundukkan kepalanya. Gadis itu hanya mengangguk meski dalam hati ia sangat tidak nyaman. "Iya. Kak, Lana, hati-hati. Aku akan menunggumu disini," jawab Firanda. Setelah itu Maulana membalikkan tubuhnya, ia menatap pria tadi dingin sangat berbeda saat memandang kekasihnya. "Menejer, Shin. Aku harap kau tidak membuat gadis ku menangis, jadi berbuatlah baik padanya! " perintahnya sebelum kemudian ia melangkah kakinya meninggalkan ruang kerjanya. Shin Asuka adalah direktur personalia perusahaan Mizuruky, tapi terkadang berhadapan dengan pemilik perusahaan itu membuat jabatan tinggi itu tiada artinya bahkan seluruh jajaran direktur dibuat ketakutan oleh pemilik perusahaan Mizuruky tersebut. Pria itu mengamati Firanda, dalam hati dia bertanya-tanya, apa bagusnya gadis kampung itu? Dilihat dari sudut manapun gadis itu tidak terlihat dari keluarga bangsawan malah terkesan dari keluarga rendahan tapi kenapa bossnya itu begitu mengistimewakannya, bahkan menyebutnya gadisku. Fira merasa tidak nyaman dipandangi oleh Shin Asuka, ia tidak tau kenapa pria itu terus memperhatikan dirinya dan memberikan tatapan merendahkan, "dasar orang kaya, yakin dalam hatinya merendahkanku, "batinnya. Dia bukanlah tipe gadis yang perduli pandangan orang lain terhadapnya, ia memilih untuk kembali duduk di kursi kebesaran kekasihnya, tangannya mulai membuka isi tas yang ia bawa lalu mengeluarkan pena dan kertas polio bergaris, matanya melirik singkat pria itu, ternyata masih memperhatikannya, "Paman, jika kau tidak suka satu ruangan dengan ku, sebaiknya kau keluar! Aku tidak butuh apapun." Shin Asuka terkejut, baru kali ini ada orang yang berani mengusirnya selain Mizuruky Ivan tentunya, ia memperhatikan sekelilingnya sepertinya bossnya itu memang sudah pergi keruang rapat, biasanya rapat jika dipimpin langsung oleh Mizuruky Ivan akan berlangsung lama paling 4 sampai 5 jam. Pria itu berdiri angkuh, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku dan tatapannya semakin merendahkan," aku tidak tau cara apa yang kau gunakan untuk bisa mendekati presdir, Mizuruky. Tapi aku sarankan kau segera meninggalkannya, kau tidak pantas untuknya. " Tubuh Fira gemetar mendengar ucapan menghina itu, jantungnya berdebar tidak menentu tapi ia berusaha untuk tetap tenang, "memangnya kau siapa bisa menentukan pantas atau tidaknya aku dengannya. " Shin Asuka menggeram dalam hati, dia tidak menyangka gadis ini memiliki mulut tajam juga, tidak seperti seorang gadis yang lemah lembut seperti saat bersama bossnya tadi," Shin Asuka, direktur personalia. Itu artinya aku orang penting diperusahaan ini. Tidakkah kau merasa bersalah telah bersikap sombong padaku? " Fira tersenyum sinis mendengar ucapan pria itu, sombong? Memangnya siapa tadi yang menghinanya? Mengatakan bahwa dirinya tidak pantas untuk bersama kekasihnya. Gadis itu merasa tidak ada urusan dengan pria itu, ia juga tidak kenal dan tidak butuh padanya, lalu alasan apa lagi yang harus membuatnya takut. "apakah kau tau paman, sombong itu seperti apa? " sinisnya. Shin Asuka mengeratkan rahangnya tidak pernah ia bertemu dengan wanita terlihat bodoh namun suka bersilat lidah. "sombong itu seperti dirimu, paman. Kau menghina orang lain hanya karena status mu di perusahaan ini tinggi, kau bilang aku tidak pantas bersama kekasihku dan harus meninggalkannya. Asal kau tau paman, pantas dan tidak pantas aku dengannya itu bukan urusanmu, kau juga tidak berhak menentukannya, bisa jadi kedudukan mu sangat tinggi di perusahaan ini, tapi sangat rendah dihadapannya. Sedang aku jauh lebih tinggi dihadapannya dibandingkan dengan mu. " gadis itu berusaha menahan air mata yang bisa jatuh kapan saja, ia tidak boleh terlihat lemah didepan orang yang suka merendahkan orang lain hanya karena harta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD