Rasa lelah dan letih tidak akan membuat seseorang untuk merasa malas saat bertemu dengan orang yang dicintainya, itu juga yang dirasakan presdir Mizuruky, pria itu baru saja keluar dari ruang rapat setelah 4 jam berada disana, entah apa yang mereka bahas hingga selama itu. Langkah panjangnya menggema di sepanjang koridor, matanya yang tajam menatap lurus kedepan hatinya sudah tidak sabar untuk menemui pujaan hatinya.
Maulana berhenti didepan pintu ruangannya, ia sengaja tak membukanya lebih dulu, pria itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya setelah itu mengulukan tangannya mendorong pintu ruangannya, bibirnya tersenyum saat mata tajamnya menangkap sosok gadis pujaannya duduk sambil menaruh lipatan tangannya di atas meja dan kepalanya diletakkan diatasnya.
Ivan melangkahkan kakinya menghampiri sang kekasih, tanganya terulur untuk mengusap lembut rambut kekasihnya,"Sayang. "
Fira tersentak saat telinganya mendengar suara bariton milik kekasihnya memanggil namanya, ia pun segera menghapus air matanya lalu mengangakt keplanya, dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Kak, Lana. Sudah kembali?" pertanyaan bodoh yang biasa di lontarkan orang, padahal sudah jelas berdiri di depannya masih harus bertanya.
Maulana bukan pria bodoh yang mudah di tipu, ia melihat dengan jelas mata gadisnya sembab karena kebanyakan menangis, tapi lihatlah! Gadis itu bahkan memaksakan bibirnya untuk tersenyum," apa, shin. Sudah mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu? "
Firanda menunduk, ia tak takut menatap mata kekasihnya, entah kenapa? Pria itu memiliki aura yang sangat berbeda antara di kampus dan di perusahaannya, dia bahkan merasakan aura membunuh pada pria itu hingga membuatnya takut untuk mengatakan yang sesungguhnya. Maulana menghela napas, ia melupakan satu hal bahwa gadisnya itu sangat sensitif tidak terbiasa dengan kehidupan disekitarnya yang keras, pasti pertanyaannya tadi membuatnya takut, bukan pertanyaannya melainkan perasaan marah yang ada dalam dirinyalah yang membuat gadis itu ketakutan. Pria itu memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan agar gadisnya sedikit melupakan kesedihannya.
"Fir, ayo! Aku akan menemanimu ke Maula group. "
Firanda mengangkat kepalanya, ia menatap mata sang kekasih penuh binar seakan ia telah melupakan apa yang dikatakan Shin Asuka tadi. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan reflek memeluk tubuh kekasihnya,"kak, Lana. Terimkasih, ayo! " ucapnya girang.
Maulana membalas pelukan sang kekasih, ia tersenyum melihat perubahan emosi yang begitu cepat dari gadisnya, "apapun asal kau bahagia,"balasnya. Firanda tersenyum penuh haru, seumur hidup yang ia jalani tak pernah sedikitpun ada yang perduli padanya, bahkan kedua orangtuanya juga seakan menulikan telinga dengan setiap tetes air mata yang menetes mewakili hatinya, apa lagi tentang impiannya menjadi seorang penulis, mereka sangat menentang karena menurut mereka, menulis itu tidak ada manfaatnya.
Perlahan Maulana melepaskan pelukannya, ia memandang wajah gadisnya, meski bibirnya tersenyum tapi entah mengapa perasaannya mengatkan kalau gadis itu menyimpan sejuta kepedihan dalam hatinya.
Drrt...
Drrt...
Jantungnya terasa berhenti berdetak saat ponselnya bergetar, Fira mengambil ponsel yang ia taruh di saku celananya, ekspresinya berubah jadi takut bahkan wajahnya pucat pasi saat melihat panggilan layar ponsel itu berasal dari adiknya yang artinya sang ibulah yang menyuruh adiknya untuk menghubungi dirinya.
Maulana kambali di bingungkan dengan ekspresi kekasihnya yang berubah jadi raut ketakutan, ia heran, apa yang sebenarnya membuat gadis itu ketakutan,"Sayang. Ada apa? Siapa yang telpon? " tanyanya penasaran.
Fira mendongak memandang wajah Maulana yang lebih tinggi darinya, ia kembali memaksakan bibirnya untuk tersenyum, tidak mungkin bagi dirinya kalau dia takut menerima telpon dari orang tuanya, karena setiap ibunya telpon pasti mengatakan hal yang membuatnya sedih. Adakah yang akan percaya kalau hatinya sering terluka dengan ucapan dan sikap ibunya terhadapnya?.
"Ibuku telpon, aku jawab dulu, ya, kak?"
Maulana mengangguk memberikan izib pada kekasihnya.
"Hallo, Ibu. "
"Semalam kau tidak pulang, pacarmu telpon dan bilang kau menginap dirumahnya. Kau tidak tidur bersama, 'kan? " tanyanya sang ibu penuh curiga. Firanda tidak langsung menjawab, meski semalam mereka memang tidak tidur bersama tapi dari kebiasaannya ibunya itu tidak akan percaya dengan apapun yang dia katakan.
"I-ibu, aku tidak.-"
"Kau ini kebiasaan sekali berbohong! Kau pikir ibu ini orang bodoh yang bisa kau tipu?! Sejak dulu kau selalu membuat ibu malu. Dengar! Sebaiknya kau tidak usah pulang, karena aku tidak mau punya anak yang membuat aib bagi keluarga! "
Tut...
Tut...
Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, tidak bisakah ibunya mendengarkan dulu penjelasannya? Tidak bisakah ibunya untuk percaya sekali saja padanya?.
Maulana terus memperhatikan gadis itu, melihat orang yang dikasihinya menangis membuatnya merasa kalau pasti tadi dia dimarahi. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati sang kekasih, tangannya terulur untuk menyentuh bahunya. Firanda berbalik saat merasakan sebuah sentuhan lembut di habunya, matanya menangkap sosok sang kekasih yang tersenyum tulus padanya, "kak, Lana. "
Greb...
Pria itu menarik Fira kedalam pelukannya, membiarkan gadisnya menangis untuk meluapkan rasa sesak dalam dadanya,"menangislah! "
Berulang kali Firanda menarik napas dalam lalu menghembuskannya, ia tidak ingin terlihat lemah didepan orang yang selalu perduli padanya, meski pun pria itu menyuruhnya untuk menangis tapi dia tetap tidak ingin melakukannya,"Kak, tadi ibu kira kita tidur bersama, karena itu ibu marah. Aku mengerti pasti ibu merasa malu karena punya anak tidak bisa jaga diri seperti ku, tapi kakak tau, 'kan? Kita tidak tidur bersama, jangankan bersama bahkan kita tidak tidur sekamar. Tadinya aku ingin menjelaskannya pada ibu, tapi keburu ibu marah. Aku takut kalau kakak akan dipaksa menikahi ku, " katanya masih dalam dekapan kekasihnya.
Memikirkan orang lain, selalu lebih perduli pada kebaikan orang lain tidak pernah perduli pada dirinya, Maulana hafal betul kebiasaan gadis itu, kenapa juga harus takut dipaksa menikah? Ia bahkan akan sangat senang hati untuk melakukannya.
"Fir, tenanglah! Kau tidak perlu mencemaskan apapun, jika memang karena alasan itu orang tua mu ingin kita menikah, aku tidak keberatan sama sekali. Sayang, aku serius mencintaimu, "ucap Maulana sambil terus mengeratkan pelukannya. Hatinya terasa menghangat mendengar ucapan pria itu, Tuhan memang sangat adil, disaat dirinya merasa tidak akan ada seseorang pun yang bersedia bersamanya, mencintainya dan selalu mendukungnya, Ia mengirimkan seseorang yang sangat baik untuk mencintainya.
Setiap manusia akan diuji dengan berbagai macam hal di dunia ini, mulai dari rasa lapar, haus, kehilangan, kesakitan serta kemiskinan...
Namun dibalik semua itu, Tuhan telah merencanakan sesuatu yang sangat indah untuk hambanya yang selalu bersabar dan berserah diri terhadapnya, serta percaya bahwa Tuhan akan selalu melindunginya, karena kasih Tuhan itu nyata... Kasih sayang Allah itu sangat besar bagi hambanya yang selalu bertaqwa terhadapnya.