Hatiku benar-benar bahagia, impianku terkabul Tuhan mengirimkan seorang pria yang begitu baik dan sayang padaku, aku berharap ini tak akan berakhir selamanya dia akan mencintai ku dan tak akan meninggalkan ku.
Angin malam yang dingin terasa hangat saat aku memeluk kekasihku dari belakang, aku sandarkan kepalaku di punggungnya, rasanya sangat nyaman, meski dia orang sangat kaya raya tapi dia terlihat sangat sederhana.
Jras...
Ah, hujan. Bagaimana ini? Aku khawatir padanya bagaimana pun juga dia baru bangun dari pingsan.
"Fir." Dia memanggilku. Suaranya terdenganr sangat berat seperti mendesah, aku yakin dia pasti kedinginan, aku semakin mengeratkan pelukanku.
"Mampir kerumahku dulu, ya? " Suaranya yang terdengar seperti menggigil membuat ku tak tega juga, meski ragu aku mengangguk dalam diam dan memilih percaya padanya bahwa dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan mengecewakan ku.
******
Motor Honda supra x 125 berhenti didepan gerbang sebuah rumah bak istana, mata gadis itu tak sedikitpun berkedip saat melihat pemandangan didepanya, keindahan dan kemewahan hunian bernuansa gold itu membuatnya terhipnotis.
Grek....
Dua orang pria memakai jas hitam berdasi dan kemeja putih membukakkan pintu gerbang hunian tersebut, pengendara motor supra itu langsung melajukan motornya dan berhenti tepat didepan pintu hunian itu.
Maulana memperhatikan Firanda yang masih duduk di atas motornya, ia memperhatikan arah pandang gadis itu, bibirnya membentuk senyum tipis melihat ekspresi kekaguman dari kekasihnya," Fir. Apa kau mau terus memperhatikan rumahku? "
Pertanyaan pria itu membuat Firanda tersentak, ia tersenyum canggung karena ketahuan menatap keindahan dan kemewahan hunian sang kekasih dengan penuh pesona," Ayo! Kita masuk, kau akan kedinginan jika terus disini. Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan pakean untukmu. "
Fira mengangguk lalu Maulana kembali meraih tangan gadis itu dan menggandengnya masuk kedalam rumahnya, Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap keatas, dia berfikir biasanya kalau dalam rumah mewah itu ada wanita yang suka marah-marah karena kedatangan tamu dari rakyat jelata.
"Paman." Maulana segera memanggil kepala pelayan. Seorang pria paruh baya datang menghampirinya.
"Ya, Tuan muda, "jawabnya.
"Paman, tolong siapkan baju untuk kekekasihku! Suruh, Mayko, menunjukkan kamar untuknya menginap malam ini! " perintah Maulana. Firanda terkejut mendengar pria itu berkata bahwa dirinya akan menginap, padahal dia sama sekali tidak ada niatan untuk menginap. Pikiran buruk mulai menghinggapinya.
"Kak, Lana. Aku tidak usah menginap, aku pulang saja, " tolaknya halus. Maulana terkekeh melihat reaksi gadisnya yang terlihat menggemaskan, ia yakin pasti gadis itu berfikir ia akan melakukan aneh aneh padanya.
"Fir. Aku akan mintak izin pada orang tuamu, dan... Aku pasti menjagamu," bisiknya.
Deg....
Deg...
Deg...
Jantung Fira berdetak sangat cepat membuat wajahnya bersemu merah, "Sudah tidak usah banyak mikir! Ikutlah dengan paman, Yosi!" perintahnya lembut. Gadis itu hanya mengangguk lalu pergi mengikuti langkah pelayan itu.
Maulana melangkahkan kakinya menuju kamarnya, rasanya dia benar-benar kedinginan kepalanya juga pusing, dia harus mandi dan istirahat. Pria itu meletakkan ponselnya diatas meja kecil disebelah tempat tidurnya, saat dia hendak berdiri ia merasakan sebuah getaran pada ponselnya, Maulana mengambilnya dan membukanya, ia menghela napas melihat pesan dari ibunya.
Ivan...!
Apa yang kamu lakukan?
Ibu mendengar kau membawa seorang wanita pulang kerumah mu.
Kau harus ingat! Jangan pernah sembarangan dalam memilih pasangan.
Kau itu pria yang memiliki masa depan yang menjajikan....
Bukannya menjawab Ivan maulana Rizky justru mematikan ponselnya, ia malas rasanya diceramahi urusan pasangan hidup, baginga wanita yang baik tidak harus dari kalangan bangsawan, tapi wanita yang baik yang dia cari adalah yang memiliki ketulusan dalam mencintainya, bukan karena harta.
Maulana bangkit dan segera masuk kekamar mandi, tak lama kemudian dia sudah segar setelah tubuhnya bersih, pria itu mengelap rambutnya dengan handuk yang masih menggantung dilehernya hingga suara pintu kamarnya diketuk.
Tok...
Tok...
Tok...
Matanya beralih memandang pintu itu, dalam hati dia berfikir siapa yang mengetuk pintu kamarnya malam-malam begini, dengan santai ia melangkahkan kakinya menghampiri pintu itu dan mengulurkan tangannya untuk membukanya.
Clek...
Dia hanya diam ditempat tanpa ekspresi melihat siapa tamu yang datang malam-malam.
Reyhan memandang adiknya dengan alis bertaut, ia heran kenapa didepannya adiknya itu selalu berwajah datar mirip tokoh komik yang memiliki karakter dingin tapi kalau didepan gadis kampung itu adiknya itu seperti pria sempurna yang ramah dalam bertutur bahasa, "Katakan! " Perintah Ivan singkat.
Reyhan menghela napas, tuh, 'kan. Adiknya itu selalu saja bersikap dingim dan galak padanya, hanya ramah kalau ada perlunya, tapi dia sama sekali tidak perduli baginya Ivan Maulana Rizky atau Mizuruky Ivan tetaplah adik kecilnya yang selalu menggemaskan, "Setidaknya persilahkan dulu kakakmu ini masuk! " balasnya santai.
Maulana menatap bosan kakaknya itu, bisa-bisanya bersikap seakan tak akan masuk jika tak dia izinkan padahal biasanya juga masuk sendiri meski sudah diusir, "Baiklah. Dokter, Reyhan, yang terhormat silahkan masuk! " katanya dengan senyum dibuat-buat.
Reyhan terkekeh geli melihat sikap adiknya yang bersikap sok ramah padanya, "Van. Kau membawa wanita pulang? " tanyanya sambil berjalan. Matanya terus memperhatikan isi kamar adiknya, siapa tau menemukan wanita yang dimaksud ibunya.
Maulana mengikuti langkah sang kakak, dia tau pria itu pasti diberitahu oleh ibunya, tapi dia masih belum tau darimana wanita kesayangannya itu tau, "Kau kesini atas perintah ibu? " tanyanya penuh curiga.
Reyhan tidak langsung menanggapi pertanyaan sang adik, dia lebih memilih menaruh peralatan medisnya diatas meja lalu berbalik dan memandang sang adik, "Berapa lama kau mengidap penyakit itu? " tanyanya serius.
Maulana menaikkan sebelah alisnya, dia tidak mengerti maksud pertanyaan kakaknya itu, penyakit apa? Dia sama sekali tidak sakit. "Penyakit apa yang kau maksud?" balasnya bingung.
"Tentu saja penyakit suka mencurigai kakakmu sendiri," balas Reyhan santai. Rasanya Maulana ingin menghajar pria berprofesi seorang dokter itu.
"Keluar! Kau menganggu ku, " usirnya. Reyhan terkekeh penuh kepuasan melihat ekspresi kesal dari adiknya, siapa suruh adiknya tidak sopan padanya.
"Ya, ia. Aku keluar, tapi jawab dulu siapa wanita itu? " tanyanya masih penasaran. Maulana masih kesal, dia tidak ingin menjawab pertanyaan kakaknya. Mendadak rasa nyeri diperutnya kembali terasa, ia pun menyentuh bagian kiri perutnya, membuat Reyhan khawatir pada sang adik.
"Kau kenapa, Van? " tanyanya khawatir. Maulana berusaha menyembunyikan rasa sakitnya pada sang kakak, dia tidak ingin pria itu meledeknya atau malah mengira dia punya penyakit serius.
"Tidak apa, sudah cepat keluar!" Usirnya sambil mendorong bahu sang kakak keluar dari kamarnya.
Bamg...
Maulana langsung menutup pintunya setelah berhasil mengeluarkan sang kakak, setelah itu ia berjalan tertatih sambil memegangi perutnya kirinya mendekati ranjang King Size miliknya. Pria itu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur lalu memejamkan matanya, "Aku tidak akan minum kopi lagi kalau tau rasanya sangat sakit seperti ini, padahal biasanya aku baik-baik saja, " gumamnya.