episode 16

1046 Words
"Ivan...!! " Reyhan berteriak didepan kamar adiknya, selain dia kesal ia juga khawatir, meski pun tiap enam bulan sekali pria itu selalu cek up rutinan dan hasilnya sehat tapi tetap saja melihat adiknya terlihat kesakitan rasa khawatir itu hingga dalam hatinya. Dok... Dok... Dok... Pria itu menggedor-gedor pintu kamar adiknya tapi tetap saja tidak respon dari sang adik. ***** Firanda sudah menyelesaikan mandinya dan mengenakan baju yang disiapkan oleh pelayan sang kekasih, baju warna biru laut yang terlihat indah dan elegan merek terkenal membuatnya terlihat sangat cantik. Samar ia mendengar suara teriakan seseorang memanggil nama kekasihnya, dia pun berjalan kearah pintu lalu membuka pintunya, gadis itu menolehkan kepalanya kesana dan kemari hingga matanya melihat seorang dokter yang berteriak sambil menggedor pintu kamar entah kamar siapa. Fira berjalan menghampiri pria itu, sejenak ia memperhatikan pria itu yang terlihat sangat khawatir,"Dokter. Anda kenapa? " tanyanya bingung. Reyhan mengalihkan perhatiannya pada gadis itu, sejenak ia memperhatikan kekasih adiknya dari atas hingga bawah terlihat sangat cantik membuatnya tersenyum sendiri," Fira. Nama kamu Fira, 'kan? " tanyanya memastikan. Gadis itu mengangguk membenarkan. Pria itu merasa lega karena sekarang ada yang menolongnya untuk membujuk adiknya agar keluar dan membukakkan pintu kamarnya. "Fira. Ivan, sakit. Tadi dia muntah-muntah wajahnya pucat, aku takut terjadi sesuatu padanya. Tolong bujuk dia agar mau membukak pintunya! " Katanya dibuat sepanik mungkin. Reyhan diam-diam memperhatikan ekspresi gadis itu, ia yakin pasti gadis kampung itu akan menolongnya apa lagi dirinya sedikit mengarang cerita tentang kondisi kesehatan adiknya. Fira terkejut, ia panik dan khawatir mendengar ucapan dokter tersebut, dia tau kalau sang kekasih memang sedang tidak sehat, tapi apakah sekarang semakin parah. Gadis itu berjalan beberapa langkah kearah pintu lalu mengetuknya. "Kak, Lana...! Kak, Lana...! Bukak pintunya! " panggilnya sambil terus mengetuk pintu kamar tersebut. *** Maulana menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, wajahnya pucat karena sedari tadi menahan sakit dalam perutnya yang semakin parah, tapi mendengar suara sang kekasih yang terdengar putus asa membuatnya tidak tega. Pria itu berjalan menghampiri pintu kamarnya kemudian mengulurkan tangannya untuk membuka pintu tersebut. Cklek... Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum," Fira. Ada apa? " tanyanya lembut. Fira tidak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya, ia memperhatikan wajah sang kekasih yang terlihat pucat dan ekspresi yang kesakitan,"Kak, Lana, sakit? " tanyanya khawatir. Pria itu hanya tersenyum lemah menanggapi pertanyaan kekasihnya, ia yakin pasti sekarang gadisbitu berpikir yang tidak-tidak lagi. "Tidak, semalam aku hanya terlalu banyak minum kopi dan seharian aku belum makan, jadi mungkin asam lambung ku sedikit naik, "jawabnya. Pria memejamkan matanya saat rasa sakit itu semakin terasa. Melihat ekspresi sang adik yang terlihat kesakitan membuat Reyhan semakin khawatir, dalam hati ia mengutuk kebodohan adiknya yang selalu ceroboh dalam menjaga kesehatan. "Dasar bodoh! Aku sudah melarang mu minum sesuatu yang mengandung kafein, kau masih saja melanggarnya. Sekarang lihat! Ayo! Aku akan membawamu kerumah sakit." Reyhan langsung menyambar tangan sang adik dan siap menggeretnya, tapi Ivan menghentikannya. "Berhenti! Kenapa kau ini selalu bersikap seenaknya?! Aku ini hanya sakit perut biasa, tidak usah kau bawa kerumah sakit segala. Istirahat sebentar juga hilang, " tolaknya sambil marah-marah. Dokter itu tidak menyerah begitu saja untuk membawa sang adik untuk kerumah sakit. "Kau jangan meremehkan sakit perut, Van! Kita harus segera memeriksakannya, siapa tau kau terkena penyakit rabies, " Balasnya. Perempatan kesal tercetak di pelipis Maulana, bisa-bisanya kakaknya yang seorang dokter itu mengira dirinya terkena penyakit anjing gila hanya karena sakit perut. Pltak... "Ouch... Sakit tau?! " Reyhan memegangi kepalanya yang tekena jitakan adiknya itu. Saat ia ingin membalas perlakuan sang adik, dia memgurungkan niatnya dan justru langsung memeluk adiknya. "Kau jangan sampai mati, Van! Atau kekasihmu akan ku jadikan istriku, " katanya berbisik ditelinga sang adik. Ivan menggeram dalam hati, ingin rasanya dia menendang wajah kakaknya itu kesamudra antartika, tapi rasa sakit yang ia rasakan membuat pandangannya memburam, tubuhnya lemas dan dia pun tak sadarkan diri. Rayhan terkejut melihat tubuh adiknya merosot dalam dekapannya, ia pun kembali menangkap tubuh lemah itu agar tidak terjatuh kelantai . Fira terkejut juga sock melihat sang kekasih pingsan, ia sangat panik dan khawatir,"Kak, Lana. " Reyhan menoleh sejenak pada gadis itu, "Bantu aku membawanya ketempat tidur! " pintanya sambil berusaha memapah tubuh sang adik. Gadis itu mengangguk lalu membantu dokter itu membawa tubuh pria itu keatas ranjang. Reyhan segera mempersiapkan peralatan medisnya lalu mulai memeriksa sang adik sedangkan Fira, gadis itu hanya duduk disamping sang kekasih sambil menggenggam jemarinya. Matanya menatap khawatir pria itu, ia takut kalau kisah cintanya akan jadi seperti novel sad romance,"Kak, Lana. Kau jangan sakit! Kalau kakak sakit, siapa yang nanti akan menjagaku, yang mencintai ku. Aku tidak mau kalau,Andrian, terus menganggu ku kalau kakak tidak ada, "ungkapnya. Air matanya sudah turun tanpa bisa dibendung, dadanya terasa sesak, otaknya selalu berpikir negatif. "Hmmp. Aku baik-baik saja, jangan selalu berfikir aku sakit parah!" Balas Maulana lemah. Perlahan pria itu mulai membuka matanya, ia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata gadis itu. "Beberapa bulan ini aku memang sering mengalami ini, nanti juga hilang sendiri rasa sakitnya. Tenanglah! "ucapnya menenangkan. Reyhan mengerut keningnya, ia memandang sang adik yang masih pucat tapi tidak sepucat tadi. "Sudah berapa lama? " tanyanya. Maulana menoleh pada sang kakak, ia menatap bosan pria itu. "Apanya?! " tanyanya balik. Reyhan menghela napas melihat sang adik yang mulai lemot. "Sudah berapa lama kau sering mengalami rasa sakit yang seperti ini?! Bahkan sampai pingsan,"jelasnya berusaha menahan emosi. "Baru sekarang aku pingsan, emmm.... Tadi siang juga, "jawab Maulana. "Besok kau harus datang kerumah sakit! Aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadapmu, "perintah Reyhan. "Besok aku sibuk, lagi pula enam bulan yang lalu aku sudah cek up rutinan. Sudalah, Rey. Aku baik -baik saja, "Tolak Maulana. "Aku tidak menerima penolakan, besok kau harus datang! Istirahatlah! Aku pulang dulu," ucapnya. Setelah itu ia mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan kamar adiknya. Maulana mengalihkan perhatiannya pada sang kekasih yang masih menggenggam tangannya, ia tau gadis itu pasti sangat khawatir padanya. Pria itu berusaha untuk bangkit dan mendudukkan dirinya diatas ranjang, "Fir. " matanya memandang sang kekasih penuh perhatian dan ketulusan. Bruk... Fira sudah tidak tahan lagi membendug rasa sesak dalam dadanya saat melihat sang kekasih terbaring lemah tak berdaya, ia langsung menubruk tubuh sang kekasih menumpahkan segala kesedihan ketakutan juga kekhawatiran yang dia rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD