Seorang perempuan bekerja sendiri, agak jauh dari para pekerja lain. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya cekatan mencabut rumput liar. Pakaian kerjanya sederhana, rambutnya diikat rendah. Ia membelakangi Maxim. Namun entah mengapa, jantung Maxim berdegup keras. Terlalu keras. Ada tarikan yang tidak masuk akal bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih naluriah. Seolah tubuhnya mengenali perempuan itu sebelum pikirannya sempat mengejar. Tanpa komando, kakinya bergerak mendekat. Semakin dekat, rasa penasaran itu berubah menjadi sesak. Penampilannya biasa saja, tidak mencolok, namun ada ketenangan yang begitu akrab, begitu menyakitkan. Saat jarak tinggal beberapa langkah, Maxim akhirnya bersuara, berusaha terdengar tenang meski dadanya bergetar. “Permisi,” k

