Sore mulai merunduk, bayangan pohon memanjang di atas tanah. Lucas menatap Maxim, matanya cerah, lalu berkata, “Iya, sudah sore. Aku harus pulang sama Ibu.” Maxim menatapnya lama, kemudian dengan hati-hati mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jasnya. “Ini … uang jajanmu. Hati-hati di jalan, ya.” Lucas menerima dengan mata berbinar-binar. “Terima kasih, Om!” Ia menggenggam uang itu erat, lalu berlari kecil kembali ke kebun, di mana Gwen sedang merapikan alat kerja. Maxim berdiri terpaku sejenak, menatap Lucas yang pergi. Lalu, tanpa sadar, air mata menetes dari matanya. Dadanya terasa hancur tidak bisa dijelaskan. Ada rasa kehilangan, rindu, penyesalan, dan kehangatan yang bercampur menjadi satu. Lima tahun terasa seperti detik saja. Nyonya Fedro, yang dari beranda melihat perub

