Gwen berdiri di sisi ranjang Don Lorenzo. Wajah pria itu tampak lebih tenang, seolah kehadirannya barusan sudah cukup menguatkan. “Kau mau pergi?” tanyanya pelan. Gwen mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangannya. “Aku harus kembali dulu, Papa. Ada beberapa hal yang perlu kuurus. Tapi aku janji … aku akan kembali.” Don Lorenzo menatapnya lama, seolah takut janji itu akan menguap seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Lalu ia mengangguk perlahan. “Kembalilah,” katanya, suaranya serak namun penuh harap. Ia menarik napas, lalu menambahkan dengan nada yang lebih kuat, hampir memerintah, “dan bawa cucuku kemari.” Gwen terdiam sejenak. Hatinya terasa hangat sekaligus perih. “Aku akan membawanya,” katanya akhirnya, lembut namun pasti. “Lucas a

