2. Pak Reynald aneh!

862 Words
"Pak Reynald? Kok basah kuyup? Kehujanan? Kok bisa kehujanan? Bukannya tadi pagi Bapak bawa mobil?" Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Reynald. Malah Reynald langsung berlalu masuk ke dalam rumah. Sesegera mungkin, Tari kembali menutup pintu dan menguncinya. Dilihatnya Reynald berjalan menaiki tangga. Sudah dipastikan dia berjalan menuju kamarnya. Melihat Pak Reynald seperti tadi, Tari berinisiatif untuk membuatkan jahe hangat. Pikirnya, minuman itu bisa membantu Pak Reynald untuk menghatkan badan. .... Tok. Tok. Tok. Tari mengetuk pintu kamar suaminya sambil memegang nampan yang di atasnya terdapat satu gelas minuman jahe hangat. Setelah itu, Tari langsung masuk dan melihat suaminya sedang berbaring di kasur. "Pak, saya buatkan jahe. Barangkali bisa membantu menghangatkan badan." "Hmm." Balasan singkat dari Reynald yang masih berbaring membelakangi arah Tari. Tari mencoba membaranikan diri menyentuh dahi suaminya untuk mengecek suhu badannya sebab tak seperti biasanya, Pak Reynald diam tidak banyak berbicara. Padahal setiap hari, kalau Pak Reynald pulang pasti ada saja hal yang diributkan olehnya. Terlebih lagi keadaannya yang pulang dengan badan yang basah kuyup membuat Tari sedikit merasa khawatir. Tari sangat terkejut ketika suhu badan Pak Reynald terasa sangat panas. Pasti demam gara-gara tadi kehujanan. "Pak? Pak Reynald sakit, yah? Saya buatkan sup atau bubur mau? Sekalian saya ambilkan obat juga." Jangan ditanya sekarang keadaan Tari sekhawatir apa. Walaupun Tari sadar bahwa pernikahan mereka karena terpaksa dan tanpa cinta namun, Tari tetap merasa bahwa dia adalah seorang istri dan sudah menjadi kewajibannya melakukan hal tersebut. Tari yang sebelumnya pada posisi duduk di kasur kini cepat-cepat berdiri menuju dapur. Namun, langkah Tari terhenti ketika tangan kirinya dicekal kuat oleh Reynald hingga membuatnya kembali duduk. "Pak Reynald mau dibuatkan sesuatu?" Tanya Tari dengan nada yang sangat lembut. Reynald tidak menjawab sepatah katapun. Dia tetap diam dengan wajah yang benar-benar terlihat pucat. Sedetik kemudian, Tari dikagetkan dengan gerakan Pak Reynald yang tiba-tiba memeluk perutnya. "Temenin saya di sini mau? Sebentar saja. Setelah itu, saya akan minum jahenya." Ucap Reynald sambil memerpertahankan pelukannya. Ucapannya itu benar-benar membuat Tari kaget + kebingungan. Tari masih mencerna apa yang dikatakan suaminya tadi. "Tari?" "Ha? Oh. Iy-iya, Pak. Saya gak kemana-mana." Lima menit berlalu tanpa obrolan apapun diantara mereka. Pelukan Reynald masih tetap dalam posisinya hingga suasana hening itu pecah oleh suara Reynald. "Saya ingin makan bubur. Kamu mau buatin?" Tanya Reynald dengan suara pelan khas orang sakit. "Boleh, Pak. Tapi, boleh gak pelukannya dilepas dulu. Saya gak bisa gerak." "Gak mau." Pak Reynald kenapa sih? Kok tiba-tiba kek gini. Pegel banget ini gak bisa gerak. Malah gak mau dilepasin lagi. Lagian katanya tadi suruh bikin bubur, ini mau ke dapur disuruh lepasin malah gak mau. Menguji kesabaran banget. "Saya mau ke dapur, Pak. Bikinin bubur buat Pak Reynald. Kan tadi Pak Reynald minta dibikinin bubur." "Saya gak mau, Tar." "Terus gimana bikin buburnya kalo saya gak ke dapur? Buburnya masak dirinya sendiri gitu?" Jawab Tari dengan nada yang sedikit kesal. "Cium saya dulu." What the f**k! Apa-apaan malah minta cium. Bener nih gorila emang lagi sakit. "Gak. Saya gak mau." Tolak Tari. "Saya lagi sakit, Tar." "Nah makannya. Pak Reynald kan lagi sakit, saya mau ke dapur bikinin bubur sama ambil obat. Ini pelukannya dilepasin dulu." Balas Tari sambil mengusik tangan Pak Reynald yang memeluk perutnya kencang. Bahkan sesekali Pak Reynald menyembunyikan wajahnya tepat di perut Tari. Sikapnya itu membuat Tari sedikit risih. Setelah beberapa kali Tari membujuk, akhirnya Pak Reynald mau melepaskan tangannya. "Jangan lama-lama." Perintah Reynald dengan sedikit muka masamnya. Setelahnya, Tari berjalan keluar dan menuju ke arah dapur untuk membuat bubur. Di sela-sela kegiatannya, Tari masih speechless dengan kelakuan Pak Reynald hari ini yang menurutnya sangatlah aneh. "Pak Reynald aneh banget. Biasanya galak selalu marah-marah. Jangankah meluk, disentuh sepatunya aja dia ogah banget. Lah ini? Malah minta cium segala. Gorila aneh." Tak butuh waktu lama, Tari kembali ke kamar Reynald untuk memberikan bubur dan obat. Reynald tampak sama seperti sebelumnya. Berbaring sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit dan pusing. "Pak. Ini bubur sama obatnya. Bapak kepalanya pusing? Mau saya pijitin?" Tari merasa iba melihat Reynald sekarang yang terlihat kelelahan dan wajahnya yang masih pucat. "Suapin saya boleh?" Tari menjawab pertanyaan Reynald hanya dengan menganggukan kepalanya. Mangkok bubur berwarna putih itu diambil oleh Tari. Ia meniup-niup bubur yang masih panas kemudian menyendoknya dan menyuapi suaminya yang sedang sakit itu. Di tengah-tengah kegiatan tersebut, Reynald kembali memberikan pertanyaan kepada Tari. "Malam ini temenin saya tidur mau? Saya sedang sakit. Kalau saya memerlukan sesuatu, kamar kamu jauh. Saya janji gak akan macam-macam. Kalau perlu, saya yang tidur di sofa." Sumpah. Yakali tidur sekamar. Malu banget lah. Ini gimana nolaknya, ya. Mau nolak tapi Pak Reynald kasian lagi sakit. Gak nolak tapi masa tidur sekamar. Agh! Bunda Tari mau pulang ke rumah Bunda! Huhu. "Ah. Kalau saya menolak?" "Ya sudah. Kamu boleh keluar, sana!" Jawab Reynald dengan nada yang biasanya ia lontarkan, ketus dan galak. Setelah kata itu keluar dari mulut Reynald, dia memposisikan tubuhnya berbaring dengan membelakangi Tari. Mendengar jawaban Reynald itu, Tari langsung berdiri untuk berjalan menuju ke arah kamarnya. Sebelum meninggalkan kamar Reynald, dia meminta Reynald agar istirahat lebih cepat dari biasanya. Reynald tidak menjawab apapun. Pikir Tari, mungkin Reynald sudah akan tidur. Tari sesegera mungkin keluar agar tidak mengganggu waktu istirahat suaminya. Next>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD