3. Pak Reynald masih aneh!

901 Words
Sinar fajar yang samar-samar mengganggu tidur Tari hari ini. Jam dinding menunjukan pukul 05.00 subuh. Segeranya Tari bangun untuk bersih-bersih dan menunaikan sholat subuh. Setelahnya, dia langsung berjalan menuju kamar Reynald untuk mengecek keadaan suaminya itu. Pintu kamar Reynald malam ini tidak dikunci jadi Tari bisa langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Reynald masih tertidur dengan pulas. Tari semakin mendekat ke arah suaminya kemudian duduk di samping Reynald yang masih tertidur. Diusaplah dahi Reynald. Panasnya sudah turun. Tanpa disadari, selama beberapa detik Tari menatap wajah Reynald. "Aku akui Pak Reynald emang tampan. Pantes aja mahasiswi pada tergila-gila. Tapi tetep aja. Tampan tapi galak kek gorila." "Oh? Saya kaya gorila?" Siapa lagi kalau itu bukan suara Reynald. Tari kaget sejadinya. Jadi, kalimatnya tadi pasti didengar Pak Reynald. "Ahahaha. Bapak. Gak. Saya ga bilang begitu, Pak Reynald." Jawab Tari yang tidak perlu ditanya lagi dia sudah panik setengah mati. Pasti setelah ini dia disemprot habis-habisan. "Kamu bilang saya ganteng?" "Ha?" "Kamu ngakuin kalau saya ganteng?" Dengan cepat, Tari langsung berdiri. Niatnya ingin lari dari percakapan yang akan mempermalukan dia. Tapi, secepat-cepatnya Tari masih lebih cepat Reynald. Baru juga berbalik arah, Reynald langsung menahan tangan kiri Tari dan menariknya. Kini posisi mereka sangat dekat. Tari kini duduk di paha Reynald. Tangannya pun masih dicekal dengan kencang. "Kamu bilang saya ganteng?" Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Reynald. "Kenapa diam? Hmm?" "Aduh! Pak Reynald ini tangan saya sakit. Lepasin dulu." "Saya gak mau lepasin sebelum kamu bilang apa yang tadi kamu bilang." "Saya gak bilang apa-apa, Pak." "Oh ya? Kamu tau kan konsekuensinya kalau berbohong sama saya?" Cecar Reynald kepada Tari. Tanpa disadari Pak Reynald kini semakin mendekatkan wajahnya ke Tari. Kini jarak antara keduanya hanya sepanjang jari kelingking. Sangat dekat. Cup Cup Tari membelalakan matanya setelah dia mencerna apa yang terjadi barusan. Benda kenyal tersebut mendarat persis di bibirnya. Reynald menciumnya. Dua kali. Catat. Dua kali. Tari memasang wajah yang benar-benar tidak bisa dijelaskan. Antara kaget, bingung, dan takut. Namun bagi Reynald, ekspresi Tari yang seperti itu sangat menggemaskan. Reynald tersenyum sangat tipis sampai Tari pun tidak sadar kalau Reynald tengah tersenyum. Tari memegang bibirnya dengan wajah yang masih melongo. "Kenapa? Kamu kaget?" Pertanyaan Reynald membuat Tari selesai dengan ketidak fokusannya. Buk. Buk. Pukulan Tari mendarat tepat di perut Reynald. Benar-benar pukulan yang sangat keras dan tidak sengaja. Reynald yang mendapat pukulan dadakan dari istrinya langsung merintih kesakitan. "Aw! Kamu kenapa mukul saya, Tari! Berani kamu?!" Teriak Reynald yang membuat Tari terkejut untuk kedua kalinya. Baru saja Reynald bersikap manis, sekarang nadanya sudah meninggi seperti biasanya. Teriakan itu membuat Tari memasang wajah ketakutan. Reynald yang menyadarinya langsung menenangkan istrinya. "Tar. Maaf. Maaf saya tadi kelepasan. Maafin saya." Ha? Maaf? Pak Reynald minta maaf setelah bentak-bentak? Biasanya aja gak pernah ngomong kata maaf. Ini gorila kenapa sih? Mana tadi dia malah cium lagi. Bibir aku udah gak perawan. Huaaaaa. "Pak. Sa-saya mau itu ee-anu-apa. Saya mau ke dapur, masakin bubur buat Pak Reynald. Ya. Ya, saya mau masak dulu." "Kamu maafin saya?" "Iya saya maafin. Maaf, Pak. Boleh dilepasin gak ininya?" "Cium saya dulu baru saya lepasin." Huaaaaa! Kumat lagi. Ini mah Pak Reynald bukan gorila galak lagi tapi gorila m***m. Bunda, tolongin Tari ngapa. Siapapun tolongin. Autor tolongin, Tor. Huaaa! "Gak. Saya gak mau. Lepasin kalau gak saya teriak minta tolong. Pak Reynald lupa sama perjanjian kita?" "Saya gak lupa." "Bagus. Jadi, saya minta sekarang juga lepasin!" "Diperjanjian ga ada larangan sentuhan fisik." Lah. Bener juga. Diperjanjian gak ada larangan sentuhan fisik. Aduh mati. Bisa-bisanya hal sepenting itu kelupaan gak ditulis. Bego banget sih, Tar. Begonya ngalir sampai jauh. "Saya gak akan maafin Pak Reynald." "Jangan. Oke, saya lepasin. Tapi, kamu harus buatin saya bubur yang persis kayak tadi malem tiga mangkok." "Saya buatkan. Tapi, lepasin dulu, Pak." "Iya. Saya lepasin. Tuh." Setelah perdebatan panjang tersebut akhirnya Reynald melepaskan Tari dan membiarkannya untuk mengerjakan perintah yang ia tugaskan tadi. Tari langsung berlari kencang keluar kamar dan menuju dapur untuk membuatkan sarapan. Selama Tari memasak, Pak Reynald terlihat bersiap-siap untuk pergi mengajar. Padahal dia sedang sakit. Begitulah orang matematika. Kata orang, hujan badai gempa bumi tanah longsor tidak akan menghambat orang matematika untuk mengajar. Terlihat Reynald sedang memakai kemeja berwarna abu-abu. Selama itu, Reynald mesem-mesem sendiri seperti orang gila. "Lucu banget ekspresinya tadi. Jadi gini rasanya jatuh cinta sama istri sendiri? Gak salah kan kalau aku jatuh cinta sama Tari?" Pertanyaan-pertanyaan konyol itu terus muncul di otak Reynald. Mana ada orang yang melarang seorang suami jatuh cinta dengan istrinya sendiri? Sedangkan di sisi bagian rumah lain, Tari terlihat sedang sibuk memegang alat-alat masak. "Udah mateng, nih." Ucap Tari sambil mematikan kompor dan menuangkan bubur ke dalam mangkok. Selain itu, dia juga menyiapkan minuman maupun roti untuk suaminya. Tari yang sedang sibuk menyiapkan makanan dikejutkan dengan Reynald yang sudah rapih. "Pak Reynald mau ke kampus? Lagi sakit begini masih ngajar?" Tanya Tari yang terheran-heran dengan kelakukan suaminya. "Iya. Saya mau ngajar. Sudah siap buburnya?" "Sudah, Pak. Silakan." Duduklah mereka berdua berhadap-hadapan. Tidak ada obrolan yang terdengar antara mereka, hanya suara alat makan yang berdentingan. Keheningan itu akhirnya berakhir ketika Tari menanyakan suatu hal kepada laki-laki yang tengah duduk di depannya. "Pak. Setelah pulang kuliah, saya ada kerja kelompok dengan teman kampus. Saya izin pulang telambat." "Siapa aja?" "Berdua. Saya dengan Rendi." "Laki-laki?" Tanya Reynald dengan sedikit memasang muka yang sinis. "Ya namanya juga Rendi, Pak. Ya laki-laki, lah." "Boleh. Jam 7 malam sudah harus sampai rumah." Next>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD