4. Pak Reynald kelewatan!

2028 Words
Jam menunjukan pukul 19.30 malam namun, tidak ada tanda-tanda Tari pulang juga. Reynald sedari tadi sudah menunggunya dengan perasaan cemas. Apalagi sekarang rintik hujan sudah mulai turun. "Kamu kemana sih, Tar? Sudah saya bilang jam 7 malam harus sudah di rumah. Ini sudah jam berapa? Sudah mulai hujan lagi. Mana dia juga pergi kelompok cuma berdua dengan teman laki-laki. Telpon gak diangkat." Terlihat Reynald mondar-mandir di depan pintu sambil memegang benda pipih. Wajahnya yang diliputi kecemasan tercetak sangat jelas. Selang beberapa menit kemudian, suara motor mengakhiri lamunanya. Terlihat seorang perempuan yang diantar pulang oleh laki-laki. Perempuan itu Tari dan laki-laki tersebut sudah pasti anak yang bernama Rendi. Jarak antara Pak Reynald dan mereka cukup jauh sehingga Rendi maupun Tari tidak sadar akan kehadiran Pak Reynald yang sedari tadi memerhatikan mereka berdua. Sebenarnya awalnya Tari menolak untuk diantarkan sampai rumah dan berniat turun di perempatan karena takut ketahuan kalau rumah yang dituju adalah rumah Pak Reynald. Namun, Rendi memaksa dengan alasan sudah malam hari sehingga Rendi tidak mungkin menurunkan Tari di tengah jalan. Saat itu Rendi menyadari bahwa jalan yang diarahkan Tari bukan jalan menuju rumahnya. Tari terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa rumah yang dituju adalah rumah saudaranya. Dia sedang menginap untuk beberapa hari karena ayah dan ibunya sedang pergi keluar kota. Tari terlihat mengucapkan kata terimakasih sambil tersenyum dan kemudian melambaikan tangannya sampai laki-laki tersebut mulai menjauh tak terlihat. Tari yang tidak menyadari bahwa ada Reynald yang melihat kejadian tersebut terkejut sampai mengusap dadanya. "Baru inget pulang? Saya sudah bilang jam 7 malam harus sudah sampai rumah. Ini jam berapa? Hah! Jawab!" Bentak Reynald. "Bapak kalau mau marah-marah ayo di dalam rumah aja, Pak. Jangan di sini gak enak didengerin orang." Balas Tari yang tidak kalah ketus sambil meninggalkan Reynald yang kemudian ia mengikuti Tari masuk ke dalam. "Tari! Jawab! Ini jam berapa?" "Ya, Pak. Saya salah. Ini sudah lewat jam 7 malam." "Bagus kamu sadar kalau kamu salah. Seneng jalan sama cowo lain sampai lupa pulang? Lupa kalau di rumah ada suami? Ngapain aja kamu sama cowo itu? Hah?!" "Apaan si, Pak. Saya baru pulang langsung dimarahin. Saya sama Rendi gak ngapa-ngapain selain ngerjain tugas. Saya memang salah karena pulang telat tapi, saya ada alasannya. Lagian Bapak lupa tentang perjanjian kita? Bukannya saya gak boleh ikut campur urusannya Bapak dan sebaliknya? " Ucapan Tari tersebut berhasil membuat Reynald berada di puncak kemarahannya. Dengan cepat, Reynald tiba-tiba menarik tangan Tari dan menyeretnya masuk ke kamar. Kini Tari sangat ketakutan dengan raut wajah kemarahan Reynald. Raut wajah yang setiap hari ia tunjukan kepadanya. Tari dihempaskan dengan keras di atas kasur kemudian Reynald menindihnya. Sempatnya Tari memberontak untuk menjauh namun tenaganya kalah dengan Reynald. Kedua tangan Tari ditahan oleh Reynald. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke Tari. Mpphh Benda kenyal tersebut mendarat tepat di bibir Tari. Tidak hanya sebatas mencium, Reynald melumat habis bibir ranum istrinya sangat lama. Mpphhhh "Pak. Pak. Cukup. Mmpphh.. Saya. Mphhhh. Gak bisa. Nafas." "Jangan panggil saya Pak. Saya bukan Bapak kamu. Saya suami kamu." Reynald kembali melumat bibir Tari. Kali ini ia lakukan dengan lebih kasar dari sebelumnya. Mppphhh "Pak Rey. Sadar. Mpphhhh." Tari yang masih memberontak dengan susah payah. "Balas ciuman saya." Setelahnya Reynald kembali mencium bibir tari yang baginya akan menjadi candu. Setelah beberapa menit, ciuman tersebut berganti menjadi sangat lembut. Tari merasa terhina dan jengkel kepada dirinya sendiri. Tidak dapat dipungkiri, ciuman Reynald kali ini membuatnya nyaman. Hingga beberapa menit kemudian, Reynald melepaskannya dan menatap Tari yang sudah ngos-ngosan. Ditatap istrinya, sesekali dia tersenyum sangat tipis dan kembali mencium bibir Tari. Hanya sebatas kecupan. "Jangan panggil saya Pak. Saya bukan Bapak kamu. Saya suami kamu." Tegas Reynald mengucapkan kata itu sekali lagi. Buk. Suara pukulan yang sangat keras. Tari menendang perut Reynald menggunakan lututnya. Di luar dugaan. Pukulan tersebut tidak cukup untuk membuat Reynald kesakitan. Justru kini Reynald malah semakin mengeratkan pelukannya. "Gak akan sakit, Tar. Pukul saya silakan kalau kamu mau." "Pak Reynald kenapa sih? Kenapa lakuin hal ini ke saya?" Tanya Tari dengan kekesalan yang sudah memuncak di ubun-ubun. "Sekarang saya tanya. Suami mana yang gak marah kalau liat istrinya pulang telat sama cowo lagi? Hmmm?" "Pak Rey cemburu sama Rendi?" "Saya gak cemburu. Saya cuma marah karena kamu melanggar aturan. Saya bilang jam 7 malam sudah sampai rumah." Bohong. Padahal sebenarnya ia sudah terbakar api cemburu sejak di depan gerbang tadi. "Bagus deh kalau Pak Reynald gak cemburu. Saya jadi bebas ketemu Rendi kapan aja. Udah ganteng, pinter, gak bikin beban di kelompok." Ucap Tari yang memang disengaja. Pikirnya, mengerjai gorila galak di depannya sepertinya akan seru. "Saya lebih ganteng dari dia. Kamu sendiri kan yang bilang kalau saya ganteng. Saya juga lebih pintar dari dia. Gak perlu dibuktikan juga orang-orang tau mana yang lebih pintar." What? Narsis banget sih gorila galak ini. "Dan satu lagi. Jangan panggil saya Pak. Saya bukan Bapak kamu." Entah sudah keberapa kali Reynald mengucapkan kalimat itu hari ini. "Ya terus saya manggil Bapak pake kata apa lagi? Bapak kan dosen di kampus saya, jadi saya panggil Pak Reynald." Tegas Tari. Alasannya memanggil Reynald dengan sebutan Pak memang karena dalam pandangannya, Reynald adalah dosennya. Jadi, sudah sewajarnya ia memanggil Reynald dengan kata itu. "Saya bukan bapak kamu." Gila. Pak Reynald selain galak ternyata ngeselin juga. Sabar, Tari. Sabar. Dia itu suami kamu sekaligus dosen di kampus. Dia bisa aja nekat bocorin tentang pernikahan lu. Lu gak mau kan diserbu para fansnya Pak Rey. "Oke. Saya gak akan panggil Bapak pake kata itu lagi. Tapi, tolong ini dilepasin. Saya susah gerak. Lagian berat." Rengek Tari sambil mengusik-usik tangan suaminya dan beberapa kali mencoba menjauhkan tubuh Reynald dengannya namun, sia-sia. Reynald masih tetap memeluknya erat. Kali ini, Reynald kembali mendekatkan wajah mereka. Sudah kudugong pasti gorila m***m ini gak mau lepasin. Ini lagi dia malah ngedeketin mukanya. Huaaaa Bunda tolong! Semakin Reynald mendekatkan wajahnya, semakin Tari menutup matanya karena takut. Takut hal yang barusan terjadi antara mereka sampai lanjut part 2. Benar saja part 2 terjadi. Belum sempat menghindar, Reynald kembali melakukan apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu. "Mas. Mpphhhh. Lep-Mphhh-as. Mas. Rey." Tidak disangka Tari mengubah panggilannya untuk Reynald. Sontak hal tersebut membuat Reynald kaget dan berhenti. "Apa tadi? Kamu tadi bilang apa?" "Lepasin." "Kamu manggil saya apa tadi?" "Lepasin, Mas Rey. Berat. Sudah malam, saya mau istirahat." Lanjut Tari. Terlihat wajah Reynald yang berbinar-binar dan salting ketika Tari memanggilnya dengan kata itu. Bocah tengil itu ternyata menuruti keinginannya untuk tidak memanggilnya dengan kata Pak Reynald. Panggilan sangat manis sama seperti bibir ranumnya. "Kamu malam ini tidur sama saya mau?" What? Kedua kali dia minta tidur bareng. Apa mungkin gorila galak ini suka sama gua?Tapi, gak mungkin. Secara kita nikah karena paksaan dan dulu Pak Rey terang-terangan bilang kalau dia gak akan jalanin pernikahan ini dengan cinta. Aghhhh! Aneh. Reynald yang tidak mendapat jawaban apapun dari Tari pun mengerti. "Saya tau kamu gak mau. Ya sudah, sana keluar." Ucapannya itu tidak seperti kemarin yang dilontarkan dengan nada tinggi. Kali ini pakai nada pasrah dan kecewa. Reynald akhirnya bagun dan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sudah dipastikan, Reynald akan pergi mandi. Setelah bayangan suaminya menghilang, Tari cepat-cepat berdiri dan berniat keluar dari kamar itu. Ketika baru berjalan beberapa langkah, dia dikagetkan dengan ponselnya yang bedering. Terlihat nama Sari Dwijaya pada layar ponsel tersebut. Ya! Itu adalah mamah mertuanya, Ibu Reynald. "Halo, mah. Ada apa? Tumben telpon." "Mamah nanti jam 9 mau main ke rumah kalian. Sekalian rencananya mau nginep juga. Mamah kesepian di rumah. Papah kan lagi di luar kota. Boleh ya?" Mati gua. Segala mamah mertua mau nginep lagi. Bentar, barang-barang Mas Rey sama gua kan masih kepisah. Aduh! Berabe ini urusan kalau sampe ketauan Mas Rey sama gua pisah kamar. "Tari? Kok diem?" "Ah. Iya, Mah. Boleh. Gapapa Mamah kesini aja." "Ya uda, mamah tutup dulu telponnya yah. Mamah mau siap-siap dulu. Dah." "Dah, Mah." Setelah obrolan telpon tersebut berakhir, cepat-cepat Tari berlari ke arah kamar mandi dan menggedor-gedor pintunya. Reynald pasti akan terkejut. Brak. Brak. Brak. "Pak Rey, eh salah. Mas Rey. Buka." "Apa sih, Tar? Saya lagi mandi. Belum selesai masa disuruh buka pintu? Kamu mau m***m ke saya?" Balas Reynald dengan sedikit meninggikan volumenya karena suaranya bertabrakan dengan suara air. Beberapa menit kemudian, pintu tersebut terbuka dengan seorang laki-laki yang mengenakan handuk di bagian pinggang dan tidak memakai baju. Hal tersebut membuat Tari kaget karena ini pertama kalinya dia melihat suaminya telanjang d**a. "Gawat. Mamah Sari mau menginap." "Menginap tinggal menginap. Apanya yang gawat sih?" "Pak Rey, eh. M-Mas lupa kalo barang-barang kita masih pisah? Kalau mamah sampe tau gimana? Pasti jadi masalah besar." "Ya sudah sana kamu pindahin barang-barang kamu ke sini." Jawabnya sambil berjalan melewati Tari. "Saya? Mindahin barang sendirian?" "Ya sudah nanti saya bantu. Kamu duluan sana. Saya juga mau ganti baju dulu." Akhirnya setelah drama panjang, pemindahan barang selesai. Barang-barang Tari memang tidak terlalu banyak tapi, tetap saja dia butuh bantuan. Kini Tari sedang duduk dilantai dengan kakinya yang diluruskan. Melihat Tari yang terlihat kelelahan, Reynald menyodorkan segelas air putih dan ikut duduk di sampingnya. "Minum dulu." Gelas tersebut langsung berpindah tangan ke Tari kemudian dia meminumnya sampai tak tersisa. "Mas Rey. Malam ini dengan sangat terpaksa, saya tidur di kamar ini dulu. Gak mungkin juga kita tidur pisah sementara Mamah Sari mau nginep. Tapi inget, jangan macem-macem." Raut wajah Tari menunjukan keseriusan sekarang. Dia memang sangat takut sebenernya harus satu kamar dengan Reynald secara beberapa hari ini sikap Reynald berubah yang sedari sebelumnya ia anti bersentuhan dengan Tari, sekarang jadi sebaliknya. Bahkan sudah beberapa kali Reynald menciumnya. "Terserah kamu saja. Tapi, saya gak mau kalau disuruh tidur di sofa." "Terserah Pak Rey. Saya yang tidur di sofa juga gak papa." "Saya sudah bilang, saya bukan bapak kamu." Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Reynald langsung berdiri dan keluar. Dia memasang wajah yang seperti dulu. Dingin, penuh kemarahan, dan sengit. Entahlah, gorila galak itu memang sikapnya gampang berubah. Sebentar baik, sebentar galak. Sebentar perhatian, sebentar cuek. Kini jam menunjukan pukul 20.55. Mamah Sari yang sedari tadi ditunggu oleh Tari baru saja sampai. "Tari. Rey mana?" Tanya Mamah mertuanya yang memang Reynald tidak terlihat batang hidungnya. "Ada, Mah. Di kamar. Kecapean mungkin." Jawab Tari. "Oh, ya. Mamah tidur di sini, ya. Malam ini aja, kok. Mamah juga ga akan ganggu waktu kalian lama-lama." Timpal Mamah Sari sambil senyum-senyum mengejek Tari. Tari sudah tau arah pembicaraan mertuanya setelah ini. Pasti membahas momongan. Dengan cepat, Tari mengantarkan mamahnya ke kamar. Dia melakukan hal itu semata-mata untuk menghindari pembicaraan yang tidak akan pernah mrnjadi kenyataan. "Mamah tidur aja di sini. Tari juga ingin istirahat, maaf ya Mah. Besok Tari ada kelas pagi-pagi takut kesiangan." "Iya gak papa, Tari. Kamu istirahat, ya. Jangan lupa pintunya ditutup lagi." "Iya, Mah." Tari berjalan menuju ke arah kamar Reynald. Setelahnya dia melihat Reynald yang masih meladeni laptopnya. Dia duduk di atas ranjang dengan secangkir teh hangat yang sesekali ia minum. Reynald tidak sadar kalau Tari sudah menatapnya lama. Dengan perasaan yang sedikit takut dan canggung, Tari naik dan tidur di kasur itu. Posisi tidurnya membelakangi Reynald. Tak butuh waktu yang lama, Tari sudah terlelap dalam tidurnya. Sekarang jam menunjukan pukul 22.00. Reynald memutuskan untuk menyudahi kesibukannya. Tanpa disadari, Tari telah tertidur dengan sangat nyenyak di sampingnya. Ditatapnya wajah Tari dengan senyum yang tidak pernah ia tunjukan di depan istrinya itu. Setiap inci wajahnya membuat Reynald dimabuk kepayang. Hidung mungil, bibir merah muda, kulit putih, rambut hitam panjang membuatnya terpaku dan tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Reynald tidak menyangka dia akan mengingkari ucapannya dulu. Kini keadaan sudah berbeda, dia jatuh cinta. Pernikahan yang ia jalani selama tiga bulan dengan keterpaksaan dan kebencian, kini berubah dalam sekejap setelah Reynald mengetahui jati diri Tari. Sikapnya yang baik dan ceria walaupun sikap itu hanya ia tunjukan selain ke Reynald tapi, ia tidak mempermasalahkan. Terlebih lagi, Tari sekarang sudah merubah panggilan untuk Reynald. "Kalau saya gak sabaran, sudah saya makan kamu malam ini." Terang Reynald. Setelah kejadian menatap istrinya yang berlangsung sekitar 5 menit, Reynald menguap merasa kantuknya sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya, Reynald membaringkan tubuhnya di samping Tari. Dia tertidur sambil memeluk Tari dari belakang. Posisinya itu membuatnya merasa sangat nyaman. Ternyata ada untungnya juga Mamah Sari menginap di sini. Next>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD