Sinar matahari mulai menelisik Tari membuat ia mengedipkan matanya berkali-kali. Setelahnya dia merasa berat di bagian perutnya seperti ada balok kayu yang menindih. Setelah sadar, Tari melihat ternyata itu bukan balok kayu tapi tangan Reynald yang semalaman memang tidak pernah pindah posisi, memeluknya erat. Lekaslah Tari cepat-cepat melepaskan eratannya. Bukan karena ana, Tari merasa risih dengan sentuhan yang dilakukan oleh Reynald akhir-akhir ini. Tari mengibaskan selimutnya dan hendak berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka. Baru berdiri, tangannya sudah ditahan oleh Reynald. Ternyata Reynald sudah bangun juga. Reynald menarik Tari dengan cepat. Posisi mereka sama persis seperti tadi malam. Tanpa ba-bi-bu Reynald kembali mencium Tari. Sesekali Reynald memberi kesempatan Tari untuk bernafas, setelah dikiranya cukup, Reynald kembali mencium bibir istrinya.
"Mas, Rey. Mpphh. Ber-mpphhh-henti. Saya harus bangun. Mphhhh. Saya harus siap-siap pergi ke kampus."
Mpphhhh
Mpphhhh
Rengekan Tari tidak diperdulikan oleh Reynald. Dia masih setia dengan aktivitasnya.
Woi gila! Masih pagi ini bibir gua udah diserang aja. Bener-bener ini orang m***m banget. Mana harus cepet-cepet ke kampus lagi ada kelas pagi.
"Berhenti."
"Saya gak akan berhenti kalau kamu gak membalas ciuman saya."
"Saya gak bisa dan saya juga gak tau caranya." (Lebih tepatnya gak mau tau caranya gimana, sih).
"Ikuti saya."
Gila apa. Pagi-pagi begini malah udah m***m. Aghhhh! Kenapa sih Pak Reynald jadi kek gini. Aneh banget.
Akhirnya Tari pun mengalah. Dia mengikuti kemauan suaminya. Kembalinya Reynald melumat habis bibir istrinya. Dia melakukannya dengan gerakan yang pelan diikuti dengan Tari yang melakukannya dengan sangat terpaksa. Tapi, Tari akui perbuatan Reynald membuatnya sangat nyaman. Reynald melumat terus dan sesekali mengecup-ngecup bibir Tari. Sungguh, kini bibir istrinya menjadi candu. Setelah beberapa saat kemudian, Reynald berhenti dan mengusap bibir Tari yang sudah bengkak karena ulahnya. Cukup lama mereka terbuai satu sama lain dengan aktivitas itu. Reynald pun tidak mudah menyudahinya. Dia sekarang masih sesekali mengecup-ngecup kembali bibir Tari.
"Sudah? Kalau sudah, lepasin saya. Saya ada kelas pagi. Harus siap-siap."
"Belum. Saya masih mau mencium kamu terus." Tari sangat jengah mendapat jawaban itu. Dia pikir Reynald sudah selesai dengan aktivitasnya ternyata tidak. Reynald kembali melanjutkan melumat bibirnya. Kali ini hanya sebentar. Namun, tangan-tangan Reynald sudah bergerilya sampai ke bagian atas. Tari yang kaget dengan sentuhan itu langsung tersentak.
"Mas Rey. Please tangan kamu jauhin dulu."
Mpphhhh
Mpphhhh
Ahh..
Rey tersadar ketika Tari melenguh. Membuatnya makin menjadi-jadi.
"Mas Rey. Lepasin. Saya gak nyaman."
Ahhh
Ahhh
Reynald tetap bebal. Dia tidak mengindahkan perintah Tari yang sedari tadi sudah meminta dilepaskan. Sesaat kemudian, Reynald melepas beberapa kancing piayama Tari. Tari sudah memberontak ketakutan namun, kekuatannya tidak cukup untuk mengehentikan laki-laki berotot itu. Namun, Reynald mengerti batasan. Dia tidak sampai melepas piayama Tari. Hanya membukanya sedikit agar dia lebih leluasa menikmati setiap inci tubuh istri kecilnya. Sesekali dia meremas sesuatu yang menonjol itu hingga membuat Tari mendesah beberapa kali. Dia juga mengecup leher Tari hingga tanda merah itu membekas.
"Pak! Pak Rey, cukup!"
Kini panggilan Tari berubah seperti semula. Membuat Rehynald terkaget dan menghentikan aktivitasnya. Di bawahnya, Tari sedang menatap Reynald dengan penuh amarah. Setelahnya, Reynald kembali melakukan aktivitas tersebut.
"Pak Reynald! Berhenti! Lepaskan saya!"
"Saya gak akan lepasin kamu kalau kamu masih memanggil saya dengan kalimat itu." Sambung Reynald yang diikuti aktivitas mesumnya pagi hari ini.
"Mas Rey. Stop. Berhenti. Saya harus siap-siap sekarang ada kelas pagi. Lagian ada Mamah di luar. Gak enak."
"Saya boleh melakukan hal itu hari ini?"
What the f**k? Melakukan hal itu apa? Bener-bener nih gorila galak. Jangan-jangan yang dia maksud hubungan selayaknya suami istri? Oh my God. Gua gak mau. BIG NO. Bunda. Anakmu mau dimakan gorila.
"Maksudnya? Saya gak ngerti." Tanya Tari dengan penuh kebingungannya.
"Gak. Lupain aja. Sekarang kamu siap-siap pergi ke kampus." Reynald bangun dari posisinya dan mengambil handuk untuk pergi ke kampus. Hari ini ia ada jadwal kelas pagi juga. Tanpa sepatah kata lagi, Reynald meninggalkan Tari yang masih melongo kaget dengan apa yang barusan terjadi. Hampir saja ia dan Reynald melakukan hal itu. Bagi Tari, pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang didasari oleh cinta. Berulang kali dia mengingatkan diri sendiri tentang ucapan Reynald dulu. Tapi, Tari tidak tahu bahwa Reynald sudah mengingkari ucapannya. Reynald telah jatuh cinta dengannya dan menyanyanginya selayaknya kasih sayang suami kepada istri.
Kini tiga orang tersebut sedang sarapan dengan sesekali berbincang tentang obrolan-obrolan kecil. Tari dan Reynald sudah rapi yang sebentar lagi akan pergi ke kampus. Tak butuh waktu lama, keduanya kini selesai melahap sarapan dan berjalan ke arah luar.
"Mah. Mamah pulangnya kalau Bi Darmi sudah datang ya biar rumahnya gak sepi." Ucap Reynald sambil menyibukan diri dengan menyiapkan kendaraannya.
"Iya, Rey." Jawab singkat Mamah Sari.
"Rey sama Tari berangkat dulu, Mah."
"Hati-hati."
Kendaraan roda empat tersebut melaju semakin jauh hingga sudah tidak terlihat dari pandangan Mamah Sari.
"Pak. Eh, Mas. Saya turun di sini saja. Saya tadi sudah janjian sama temen." Ucap Tari yang meminta Reynald untuk berhenti dan menurunkannya di perempatan dekat perumahan mereka.
"Sama siapa?" Tanya Reynald.
"Rendi." Nama itu kembali keluar dari mulut Tari membuat Reynald kaget dan mengerem secara mendadak.
"Kamu suka sama dia? Temen kamu di kampus cuma dia? Gak ada yang lain apa?"
"Bapak ini kenapa sih? Sebelum-sebelumnya juga saya kalau berangkat ke kampus sama Rendi dan Bapak juga gak pernah ngomel-ngomel kan? Kenapa sekarang jadi sensitif banget? Lagian kalau saya ketauan berangkat bareng Pak Reynald, pasti bakalan jadi gosip. Saya gak mau orang-orang kampus sampai tau status saya dengan Pak Reynald. Saya juga ogah jadi amukan fansnya Pak Rey." Terang Tari panjang kali lebar
"Bukannya kita memang suami istri?" Tanya Reynald yang sudah pasti jawabannya memang IYA. "Biarin aja kan, nyatanya juga kamu itu istri saya." Lanjut Reynald yang tak ingin kalah.
Next>>>