Happy reading. Lampu gantung kristal di restoran memantulkan cahaya ke wajah Fabian Januarius, membuatnya tampak semakin dingin. Matanya yang tajam mengamati Ratu yang baru saja memasuki restorannya. Aroma parfum mahal Ratu menguar, bercampur dengan aroma aglio e olio yang menjadi andalan restoran Fabian. Ratu berjalan anggun di antara meja-meja yang ditata apik, namun Fabian tahu, di balik senyumnya, ada badai yang siap meletus. "Selamat datang Ratu," sapa Fabian dengan nada datar, nyaris tanpa emosi. "Aku tahu selama ini kamu bukan Gendhis, melainkan Ratu Anandita kekasih ku." Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk keheningan malam itu, bagaimana tidak Fabian sudah mengenali dirinya yang sebenarnya. Ratu berhenti di depan Fabian, tatapannya setajam belati. "Fabian," balasnya, suaranya

