Berubah nama.
Happy reading.
Malam itu, Ratu Anandita artis muda dengan berita kontroversial akhir-akhir ini merasakan euforia yang tak tertahankan. Ratu dan kawan-kawannya mabuk-mabukan di sebuah diskotik. Selama ini Ratu selalu menjadi langganan berita di media sosial, Ratu juga selalu menjadi bahan gosip di seluruh media sosial. Bahkan, berita seputar Ratu pernah menjadi trending topik media di seluruh Indonesia.
"Ratu, malam ini kamu tidur di hotel milikku saja. Sudah, aku persiapkan untukmu."
"No, aku mau pulang ke apartemen. Besok, kekasihku akan pulang dari Bandung. Kalau aku menginap di hotelmu, reputasi ku semakin hancur di mata keluarganya."
Beberapa jam kemudian.
Ratu Anandita terbangun di ruangan yang serba putih, dengan aroma disinfektan yang menusuk hidung. Perlahan ia menoleh, melihat seorang dokter pria yang sedang memeriksa detak jantungnya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara serak.
Dokter itu menatap Ratu dengan wajah kaget. "Anda sudah bangun Nyonya Gendhis?"
"Gendhis?" Beo Ratu dalam hatinya.
Tidak berselang lama, ada seorang pria tampan datang dengan memakai pakaian kerja. Pria itu memeluk Ratu dan memberikan ciuman di seluruh wajah Ratu.
"Akhirnya, kamu bangun juga sayang. Doaku selama ini diijabah sama Allah," ucap pria itu.
Degh.
"Apa-apaan ini? Siapa pria ini? Kenapa sepertinya bahagia sekali melihatku?"
"Sayang, aku bahagia kamu sudah bangun kembali. Aku janji akan menjadi suami siaga, dan nggak akan meninggalkan kamu sendirian lagi di rumah?"
"Kamu siapa? Aku nggak kenal-"
Cup.
"Kamu lupa sama suamimu sendiri?"
"Suami? Apalagi ini?"
Ratu menatap wajah pria tampan yang saat ini sedang memeluknya, ia ingin menolak akan tetapi tubuhnya masih lemah dan ia tidak kuasa menolak pelukan pria itu.
Deg.
"Loh, kenapa wajahku berbeda? Apa yang terjadi denganku?"
Ratu begitu kaget dengan wajahnya, ia melihat di kaca yang berada di sekitarnya. Wajahnya sangat berbeda dengannya, bahkan wajah Ratu saat ini memiliki bentuk oval berwarna kuning keemasan tidak seperti dulu.
"Bunda, aku bahagia akhirnya Bunda bangun dari tidur yang sangat panjang."
"Ya, Tuhan. Siapa lagi putri kecil ini, kenapa panggil aku Bunda."
Ratu mencoba mencerna semua informasi itu, ia sekarang bukan lagi Ratu Anandita, melainkan seorang wanita yang telah mempunyai kehidupan bahagia.
"Selamat buat Nyonya Lembayung Gendhis Nastiti, sudah siuman setelah mengalami koma beberapa tahun ini."
"Astaga! Aku ada ditubuh seorang wanita yang telah mempunyai suami dan putri kecil?"
***
"Lembayung Gendhis Nastiti?" Beo Ratu.
Nama itu sangat asing bagi Ratu, ia memandang bayangan wajahnya di cermin. Wajah seorang wanita yang tidak dikenal, sangat berbeda dengan matanya sesaat sebelum semuanya menjadi gelap. Aku tak lagi seorang Ratu Anandita artis terkenal dengan kontroversial yang sudah tertanam di diriku.
Entah kebaikan apa yang pernah Ratu lakukan , sehingga ia bisa terbangun dalam raga orang lain. Kecelakaan itu, suara decitan ban yang melengking, benturan keras, dan rasa sakit yang menyayat, seharusnya mengakhiri segalanya. Tapi di sini aku, dalam kehidupan kedua yang tak pernah ku minta.
Semua terasa janggal, bau kamar yang berbeda, pakaian yang bukan milikku, dan tatapan penuh tanya dari orang-orang yang memanggilku Gendhis. Mereka mengenalku, tapi aku tidak mengenal mereka.
"Gendhis."
Dengan wajah penuh kasih yang asing, membelai rambutku dan berkata, "Syukurlah kamu sudah siuman, Nak."
"Maaf, anda siapa?"
"Aku ibumu, lebih tepatnya ibu tiri mu."
"Oh, maaf. Aku masih belum mengingat semuanya," ucap Ratu.
"Tidak masalah, setelah ini kamu akan terbiasa dengan kehidupan sebagai Gendhis seperti dulu. Jadi, siap-siap kamu akan merasakan-"
"Sayang, aku bawa sesuatu untukmu."
Seorang pria tampan masuk ke dalam kamar, pria yang ternyata suami dari Gendhis. Wajahnya sangat tampan, Ratu merasa sungguh beruntung seorang Gendhis yang mempunyai suami seperti Kalingga Rajaksa Narendra.
Aku hanya bisa mengangguk, lidahku kelu. Aku harus berakting, berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku. Aku harus mempelajari setiap detail kehidupan Gendhis siapa sebenarnya Gendhis, apa kesukaannya, bahkan bagaimana caranya tersenyum.
Di balik semua kepura-puraan itu, ada rasa hampa yang menusuk. Aku merindukan menjadi Ratu Anandita. Merindukan orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan impian yang telah kutinggalkan.
Semalam aku berbaring di ranjang Gendhis, menatap langit-langit yang tak kukenal, dan bertanya-tanya, apakah ini hukuman? Atau justru kesempatan? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, aku harus menjalani hidup ini. Sebagai Gendhis, aku belajar untuk mencintai hal-hal baru, menemukan kebahagiaan kecil di tengah keasingan, dan perlahan-lahan, membangun kembali diriku. Aku tidak lagi sebagai Ratu Anandita, tapi aku membawa kenangan dan pelajaran darinya. Ini adalah kesempatan kedua. Dan kali ini, aku akan menjalaninya dengan lebih baik.
Hari-hari berganti, dan aku mulai terbiasa dengan nama Gendhis. Senyum yang dulu terasa aneh di bibirku, kini mulai terasa wajar. Aku mulai menemukan potongan-potongan kehidupan Gendhis. Dia adalah seorang istri dari CEO terkaya bernama Kalingga Rajaksa Narendra, ibu dari seorang putri cantik berusia 5 tahun.
Gendhis juga seorang pelukis yang karyanya penuh warna, kontras sekali dengan Ratu Anandita seorang artis terkenal dengan banyak masalah kontroversial, Ratu benar-benar harus berusaha untuk mengikuti alur kehidupan seorang Lembayung Gendhis Nastiti.
"Bun, ayo kita ke studio lukis milik Bunda. Sudah lama sekali Bunda nggak lihat lukisan-lukisan indah milik Bunda."
"Ya, Tuhan. Aku harus melakukan hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan di kehidupan sebelumnya."
Di studio lukis, Ratu bertemu teman-teman Gendhis. Mereka ramah dan menerima kehadiranku, meskipun mereka sering bertanya mengapa aku seperti "berbeda". Aku hanya menjawab bahwa kecelakaan itu sedikit mengubah caraku memandang dunia. Kata-kata itu tidak sepenuhnya bohong. Kecelakaan itu memang mengubah segalanya. Pandanganku terhadap hidup, terhadap waktu yang singkat ini, menjadi lebih dalam. Aku menyadari bahwa setiap detik adalah anugerah.
Suatu sore, aku membuka laci meja belajar Gendhis. Di dalamnya, ada sebuah buku harian. Aku ragu, apakah pantas aku membacanya? Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguanku. Aku mulai membaca, dan perlahan, aku mengenal Gendhis lebih dari sekadar nama dan wajah. Aku membaca tentang mimpinya, ketakutannya, dan rahasia-rahasia yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Aku menemukan bahwa Gendhis punya beban yang berat. Aku merasa ada kesedihan mendalam yang ia sembunyikan. Dan, ia menuliskan tentang seorang laki-laki bernama Adimas, yang Gendhis cintai, tapi hubungan mereka tidak disetujui.
Membaca buku harian itu, aku merasa seperti melihat puzzle yang tak lengkap. Aku tahu aku tidak bisa menjadi Gendhis sepenuhnya. Aku adalah Ratu Anandita, yang sekarang harus hidup sebagai Gendhis.
Kehidupan kedua ini bukan hanya tentang meneruskan hidup, tapi juga tentang memahami, dan mungkin, menyelesaikan apa yang belum selesai dari Gendhis. Aku harus memecahkan masalah Gendhis sebelumnya.
Aku juga harus mencari tahu apa yang terjadi pada Gendhis sebelum kecelakaan koma. Aku harus menemukan kepingan terakhir dari puzzle ini, agar aku bisa benar-benar menjalani kehidupan kedua ini, tidak hanya sebagai Ratu Anandita yang menyamar, tapi sebagai Lembayung Gendhis Nastiti yang utuh.
"Aku akan merubah kehidupan Gendhis menjadi lebih sempurna, wanita itu memang pantas menjadi yang terbaik untuk seorang Kalingga Rajaksa Narendra."