Hidup baru

1077 Words
Happy reading. Beberapa hari yang lalu. “Telah terjadi kecelakaan tunggal yang menewaskan artis muda Ratu Anandita, Ratu meninggal di tempat dan dimakamkan di TPU pondok Rangon-” Degh. "Ratu Anandita.” Gumam Ratu. Ratu menatap namanya di dalam salah satu karangan bunga, tidak hanya itu saja. Sebuah foto seorang wanita tersenyum cerah muncul di layar. Ratu sangat mengenali wanita itu, tidak lain adalah dirinya sendiri. Jantung Ratu berdegup kencang, ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa lemas. Lalu, Ratu melihat berita itu lagi, kali ini dengan rekaman mobil yang hancur. “Itu Mobilku. Aku ingat, aku sedang dalam perjalanan pulang dari diskotek, entah mengapa mengantuk, dan tiba-tiba ada cahaya yang menyilaukan. Setelah itu hanya kegelapan. Sebuah foto besar, dengan pita hitam di sudutnya. "Ratu Anandita telah dimakamkan di TPU Pondok Rangon." Aku melihat kerumunan orang berbaju hitam, mata yang sembap, dan wajah-wajah yang kukenal. Mereka menaburkan bunga di atas peti mati. Peti mati itu berisi dirinya sendiri. Mereka menangis, mereka berbicara tentangku. Mereka mengatakan aku adalah orang yang baik, berani, dan berdedikasi. Air mata jatuh di pipiku, bukan karena sedih, tapi karena kebingungan. Aku masih di sini. Aku masih hidup. Aku melihat ibuku memeluk foto diriku dengan erat, bahunya bergetar. Ayahku berdiri tegar di sisinya, tapi matanya dipenuhi kesedihan. Adikku dia hanya bisa menunduk, tidak mampu melihat pemakaman itu. Aku ingin memanggil nama mereka. Aku ingin mengatakan, "Aku di sini! Aku masih hidup dengan wujud yang berbeda!" *** Di TPU pondok Rangon. Ratu lalu menatap wajah seluruh keluarganya, mereka sangat sedih kehilangan dirinya. Namun, Ratu merasa ada yang aneh dengan kesedihan mereka semua. Seperti sedang bersandiwara. Setiap kata dan gambar yang menjelaskan kematiannya, pemakamannya, dan bahkan kenangan orang-orang tentang dirinya terasa seperti pisau yang menusuknya. Ia melihat air mata ibunya yang mengalir tanpa henti dan wajah sedih ayahnya yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitnya. Ratu melihat adiknya yang menutup diri dari dunia, seolah-olah kematiannya telah merenggut separuh jiwanya. Ia ingin berteriak, ia ingin mengatakan, "Aku di sini! Aku masih hidup!" Tapi suaranya hanya terdengar seperti bisikan angin. Malam harinya, Ratu datang kembali ke rumahnya, ia tidak bisa melupakan wajah-wajah yang menangis, yang berduka untuknya. Tapi, saat ia mendekati pintu rumahnya, ia melihat sesuatu yang aneh di dalam rumahnya. Di balik pintu rumahnya, ia melihat keluarganya, ibunya, ayahnya, adiknya mereka semua duduk bersama, tapi bukan dalam keadaan berduka. Mereka tertawa, berbicara, dan bahkan minum sampanye. Ibunya bersorak, "Akhirnya, kita bisa mengambil alih kekayaan itu!" Ayahnya mengangguk, "Ya benar, dan semua warisan Ratu akan jadi milik kita." Adiknya hanya bisa tersenyum sinis, "Ya, aku tidak sabar untuk membeli mobil baru dengan uangnya." Ratu terdiam, ia tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar. Air mata mengalir di wajahnya, tapi bukan karena sedih, melainkan karena amarah. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Orang-orang yang ia cintai, yang ia percayai, yang ia anggap keluarganya, ternyata tidak berduka atas kematiannya. Mereka hanya senang karena kematiannya akan memberikan mereka kekayaan. Ratu merasakan hatinya hancur , ia tidak hanya dikhianati, tapi juga dibohongi selama ini. Ia tidak percaya jika seluruh keluarganya bahagia atas kematiannya, bahkan tidak peduli dengan kehidupannya sekarang. “Aku akan membalas kalian semuanya, tunggu saja nanti.” Lalu, Ratu kembali ke rumah Gendhis dengan perasaan berbeda. Ia akan mencari cara untuk menghantui seluruh keluarganya, untuk menghancurkan mereka, dan untuk membuat mereka membayar atas apa yang mereka lakukan. Ratu tidak lagi peduli apakah ia akan menjadi hantu atau manusia. Ia hanya peduli satu hal yaitu balas dendam. "Sayang, kamu dari mana saja. Kenapa pergi nggak izin terlebih dahulu sama aku?" "Maaf, Pak Kalingga. Aku tadi izin-" "Kenapa panggil aku Pak? Aku ini suamimu, panggil aku Mas Kalingga." "I-iya Mas, maaf aku masih harus beradaptasi dengan kehidupan baru ini." Cup. Kalingga mencium bibir Ratu, sudah hampir lima tahun ia menunggu kehadiran Gendis kembali. Istrinya telah bangun dari koma, dan ia berjanji akan menjadi suami baik untuk Gendhis. "Mas Kalingga, aku-" "Aku rindu sama kamu Gendhis, sudah lama aku menunggu waktu kebersamaan kita seperti ini." Kalingga mencium kembali bibir Ratu dengan buas, ia juga mengendong Ratu menuju ranjang kamarnya. Kalingga merasakan kehidupan yang dulu menghilang kini kembali lagi setelah Gendhis bangun dari koma. "Gendhis sayang, aku mau kamu malam ini. Mari kita ulangi lagi apa yang pernah lakukan dulu-" Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, ditambah dengan teriakan putri kecil yang sebentar lagi akan berulang tahun ke lima. “Ayah, Bunda. Buka pintunya, aku mau masuk.” "Mas, ada Clara di luar." "Seharusnya, malam ini Clara di rumah Mama." "Dimana Bunda aku? Kenapa aku panggil nggak ada jawaban?" Clara putri kecil Kalingga dan Gendhis akhirnya muncul, Ratu mengucap syukur dalam hatinya dengan kedatangan Clara malam ini. Ratu terselamatkan dalam situasi yang belum pernah ia lakukan dengan pria dewasa seperti Kalingga. "Malam ini aku mau tidur sama kalian, aku nggak mau menginap di rumah Nenek." Kalingga menghela nafas panjang, sepertinya malam ini belum bisa terlaksana dengan baik. Ia harus mengalah dengan Clara malam ini, dan mereka harus tidur bersama dalam satu kamar tidur. "Besok Clara harus menginap di rumah Mama, agar nggak ada yang menganggu aku dengan Gendhis." "Akhirnya, malam ini terbebas dari Mas Kalingga. Semoga saja malam-malam kemudian akan seperti ini juga," ucap Ratu dalam hatinya. Tengah malam. Ratu terbangun dari tidurnya, ia baru saja bermimpi tentang keluarganya. Ayah, ibu dan adiknya yang ternyata jahat kepadanya. Dalam mimpi itu harta kekayaan Ratu telah berpindah alih waris kepada mereka semuanya, dan Ratu tidak setuju dengan itu. "Aku akan rebut harta kekayaan aku yang selama ini aku cari dari hasil jerih payahku, dan aku nggak mau mereka mendapatkannya begitu saja.” Ratu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kembali, ia akan membalas dendam pada keluarganya, dan ia akan memastikan bahwa mereka tidak akan pernah bahagia. Ratu tidak akan pernah melupakan wajah-wajah yang tidak bersedih, dan ia akan memastikan bahwa mereka akan menyesali perbuatan mereka. "Gendhis, kenapa kamu bangun sayang?" "Ah, Mas. Aku haus, jadi aku terbangun." "Kamu terbangun karena haus atau karena ingin melanjutkan apa yang kita lakukan semalaman?" Ratu buru-buru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut agar Kalingga tidak menyentuhnya kembali, bayangan ciuman yang mereka lakukan sebelum Clara datang masih terngiang-ngiang dipikirannya dan ia masih belum siap akan hal itu. "Aku ngantuk Mas, jadi nggak mau melakukan hal tadi." Kalingga tertawa kecil, melihat tingkah laku Gendhis istrinya yang menurutnya lucu. Kalingga tahu ia harus beradaptasi dengan Gendhis yang baru bangun dari koma, namun ia merasa janggal dengan Gendhis sekarang yang sangat berbeda sebelum koma. "Kamu itu memang Gendhis istriku dulu atau orang lain?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD