Happy reading.
Kalingga Rajaksa Narendra, seorang CEO yang karismatik dan juga tampan, melangkah masuk ke dalam ruang rias, ia menemukan Gendhis, sang Ratu di hatinya, sedang mematut diri di depan cermin. Gaun malam berwarna zamrud yang membalut tubuhnya terlihat begitu anggun, seolah dirancang khusus untuknya.
"Gendhis sayang," panggil Kalingga dengan suara lembut, "Kamu terlihat sempurna."
Ratu menoleh, senyumnya merekah indah. "Terima kasih, Mas Kalingga. Tapi aku sedikit gugup. Ini pertemuan penting, bukan?"
Kalingga menghampiri dan mengecup keningnya. "Ya, ini pertemuan penting. Para investor dan relasi bisnis utama akan hadir. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu bukan hanya istriku saja, kamu adalah wanita di kehidupanku, pendampingku, dan kekuatanku."
Ia mengulurkan tangannya, dan Ratu menyambutnya. "Tugasmu hanya satu duduk di sampingku dan tunjukkan pada mereka betapa beruntungnya aku memilikimu. Kehadiranmu saja sudah cukup untuk membuat mereka percaya, bahwa di balik segala kesuksesan ini, ada seorang wanita hebat yang menjadi pilar terkuat ku."
Ratu menatap mata Kalingga, merasakan ketulusan dan cinta yang terpancar untuk Gendhis. Kekhawatiran yang tadi sempat merayap kini sirna. Ia mengangguk yakin, siap melangkah mendampingi suaminya, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pasangan sejati yang saling menguatkan.
"Ayo, sayang. Sudah waktunya kita pergi," ajak Kalingga, menuntun Ratu keluar dari ruangan, menuju malam yang penuh dengan janji dan peluang, dengan keyakinan yang terpancar dari setiap langkah mereka.
"Sungguh beruntung Gendhis, mempunyai suami tampan, baik hati seperti Mas Kalingga."
***
Malam itu, ballroom hotel bintang lima yang megah itu dipenuhi oleh para pebisnis kelas atas. Lampu kristal berkelip memantulkan cahaya ke sekeliling ruangan, menciptakan suasana mewah dan formal. Ketika pintu utama terbuka, semua mata tertuju pada Kalingga Rajaksa Narendra dan Ratu Anandita aja Gendhis . Kalingga melangkah masuk dengan penuh percaya diri, aura kepemimpinan terpancar kuat darinya.
Namun, yang membuat para hadirin terkesima adalah sosok di sisinya. Gendhis, dengan gaun berwarna zamrud yang menyapu lantai, berjalan anggun di samping Kalingga. Senyumnya ramah, matanya memancarkan ketenangan dan kecerdasan. Ia bukan sekadar hiasan saja, ia adalah partner sejati yang memancarkan kekuatan tersendiri. Kalingga memperkenalkan Gendhis kepada para investornya, menyebutnya sebagai "inspirasi dan kekuatan terbesar di balik setiap keputusan penting saya."
Seorang investor senior, Pak Gunawan, menghampiri mereka. "Pak Kalingga, saya selalu tahu Anda adalah pria hebat. Tapi melihat Anda bersama Nyonya Gendhis malam ini, saya semakin yakin. Ada ketenangan yang terpancar dari anda berdua, sebuah harmoni yang sulit ditemukan."
Ratu tersenyum hangat. "Terima kasih, Pak Gunawan. Kami percaya, di balik setiap kesuksesan, ada kerja sama dan dukungan yang kuat."
Sepanjang malam, Ratu bukan hanya duduk diam. Ia ikut berbincang, memberikan tanggapan yang cerdas dan wawasan yang tajam tentang isu-isu bisnis yang dibicarakan.
Ia menunjukkan bahwa ia memahami visi Kalingga dan mendukungnya sepenuh hati. Para investor dan relasi bisnis Kalingga melihatnya, dan mereka tidak hanya melihat pasangan yang serasi, tetapi juga tim yang solid.
Momen puncak terjadi ketika Kalingga naik ke podium untuk memberikan pidato singkat, ia berbicara tentang masa depan perusahaannya, tentang inovasi dan ekspansi. Di akhir pidatonya, ia menatap Gendhis yang duduk di barisan depan.
"Dan untuk semua ini," katanya dengan suara lantang namun penuh emosi, "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada istri saya, Gendhis. Dialah yang mengingatkan saya untuk tetap membumi, dia yang memberikan saya keberanian untuk bermimpi lebih besar, dan dia yang menjadi alasan utama mengapa saya tidak pernah lelah untuk terus berjuang."
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, Ratu menatap Kalingga dengan mata berkaca-kaca, bangga, dan penuh cinta. Malam itu, Kalingga tidak hanya memenangkan hati para investornya, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa di balik kesuksesan seorang CEO, ada seorang istri yang kehadirannya tak ternilai harganya.
"Mereka semua tahu aku adalah Gendhis bukan Ratu Anandita," ucap Ratu dalam hatinya.
Ratu dan Kalingga berjalan keluar dari ballroom dengan tangan saling menggenggam. Wajah Ratu berseri-seri, masih terharu dengan pidato Kalingga. Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik ketika ia melihat sekelompok orang yang sedang berdiri di area lobi.
"Ayah, ibu, Bella." beo Ratu.
Mereka adalah keluarga Ratu, ayah, ibu, dan adik perempuan nya Bella. Wajah-wajah yang dikenalnya dengan baik, namun ternyata jahat kepadanya.
"Pak Kalingga, Ibu Gendhis senang sekali bisa bertemu dengan kalian malam ini. Perkenalkan saya Bambang Widjojanto, ini istri saya Winarti dan putri kedua saya Bella."
Kalingga menerima uluran tangan dari Ayah Ratu, mereka begitu akrab satu sama lain. Ratu baru menyadari bahwa selama ini Ayahnya dekat dengan Kalingga di dunia bisnis.
"Kenalkan ini istri saya Gendhis, akhirnya istri saya bisa menemani saya datang malam ini."
"Oh, ternyata ibu Gendhis sudah siuman dari koma. Padahal, saya mengira Pak Kalingga akan datang sendiri."
"Kalau begitu saya dan istri permisi dulu, selamat malam."
Ratu mengepalkan tangannya, ia ingin sekali menampar pipi seluruh keluarganya dengan tangannya. Ratu tidak habis pikir bahwa ternyata mereka semuanya jahat selama ini, dan ia sangat bodoh sekali tidak mengetahui akan hal itu.
"Pak, kenapa istri Pak Kalingga siuman? Bukankah dokter sudah menyatakan bahwa istrinya meninggal."
"Bapak nggak tahu kabar itu, padahal bapak mau menjodohkan Bella dengan Pak Kalingga."
Ratu tersenyum tipis, ternyata apa yang menjadi rencana ayahnya tidak terjadi. Dan, Ratu berjanji untuk tidak akan pernah menerima Kalingga menjadi suami dari Bella adik perempuannya yang sangat jahat itu.
***
"Kita kemana lagi? Kenapa masuk ke sebuah restoran mewah?"
"Aku mau makan malam di restoran ini sama kamu sayang, dan aku yakin kamu pasti suka."
Restoran mewah sudah siap untuk kedatangan mereka berdua, Kalingga sengaja menyewa restoran itu untuk mereka berdua. Satu lantai khusus untuk mereka berdua, dan tidak ada yang akan mengganggu keduanya.
Degh.
"Abi? Kenapa ada di restoran ini?" Tanya Ratu dalam hatinya.
"Selamat datang di restoran ini Kalingga dan istri, semoga jamuan makan malam ini akan berkesan bagi kalian berdua."
Kalingga memeluk pria yang ternyata menjadi kekasih Ratu sebelum kecelakaan yang membuat Ratu dinyatakan meninggal dunia, Fabian Januarius adalah sosok pria yang selama ini menjadi kekasih gelap Ratu.
"Maaf, Fabian. Aku nggak datang di pemakaman kekasihmu itu, karena istriku baru saja siuman dari koma."
"Ah, nggak masalah. Aku bisa menerimanya, dan kamu sungguh beruntung Kalingga. Mempunyai wanita cantik, baik dan juga sempurna seperti istrimu ini."
"Aku akan berdoa semoga kamu mendapatkan pengganti yang baik seperti kekasihmu, mungkin suatu saat nanti kamu akan dipertemukan dengan seorang wanita baik-baik."
"Kalau begitu silahkan menikmati, aku akan pergi meninggalkan kalian berdua."
Kalingga mengajak Ratu menuju meja, keduanya duduk bersama. Kalingga tersenyum menatap Ratu, dan memegang tangan Ratu seperti tidak ingin pergi jauh.
"Mas Kalingga, ceritakan tentang kekasih Fabian, kenapa seperti sedih sekali?" Tanya Ratu kepada Kalingga.
"Fabian baru saja kehilangan kekasihnya yang telah lama ia pacari, bahkan ia akan meresmikan hubungan percintaannya ke publik. Namun, naas kekasihnya itu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dan, kekasihnya itu adalah artis muda yang bernama Ratu Anandita."