Happy reading.
Tiga tahun lalu.
Di sudut restoran, tempat cahaya lampu temaram memeluk meja-meja bundar, Ratu duduk sendiri. Jantungnya berdegup tak beraturan, bukan karena cemas menunggu, melainkan karena getaran kenangan yang tiba-tiba menguasai dirinya. Tiga tahun lamanya ia merahasiakan hubungannya dengan Fabian karena Ratu tidak ingin reputasi Fabian jelek karena dekat dengannya.
Ratu akhirnya memutuskan untuk menutupi hubungannya dengan Fabian, awalnya Fabian tidak ingin seperti itu. Namun, ia menyadari bahwa Ratu adalah artis muda yang sedang naik daun.
"Abi, maafkan aku. Selama ini aku telah menutupi hubungan kita terhadap publik, aku janji secepatnya memperkenalkan kamu kepada semuanya setelah masalahku selesai."
"Kamu tahu, selama ini aku nggak mempermasalahkan itu. Tapi, aku akan menunggu waktu yang tepat."
Cup.
"Fabian, aku cinta kamu."
"Aku lebih dari itu Ratu, kamu akan menjadi istriku kelak."
Satu Minggu sebelum kejadian kecelakaan.
Ratu menghela nafas panjang, kejadian itu sudah lama sekali. Akan tetapi masih terngiang-ngiang dipikirannya, Ratu menyimpan rapat-rapat hubungannya dengan Fabian. Ia tidak ingin para wartawan membuat gaduh kehidupan Fabian, maka dari itu ia menutupi hubungan mereka begitu rapat bahkan seluruh keluarganya tidak ada yang mengetahui hubungan mereka.
Ketika pintu restoran terbuka dan siluet seorang pria muncul, Ratu tahu. Langkahnya yang mantap, senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya, dan tatapan matanya yang teduh itu.
Waktu seolah berhenti, Ratu merasa seperti kembali ke masa lalu, ke momen-momen indah yang pernah mereka bagi, ke tawa dan janji yang pernah terucap.
Fabian mendekat, matanya menatap Ratu yang duduk di bangku Restoran. Ia duduk berhadapan, ada yang aneh keduanya. Namun, Fabian seperti belum mengerti dengan situasi ini.
"Ratu, apa yang kamu lakukan sendiri disini?" sapanya, suaranya terdengar lembut dan akrab, seolah tidak ada waktu yang hilang di antara mereka.
"Aku, aku ingin berbicara denganmu mengenai hubungan kita," jawab Ratu, suaranya bergetar pelan.
"Memangnya ada apa dengan hubungan kita?" Beo Fabian.
Mereka duduk berhadapan, membiarkan keheningan berbicara. Keheningan yang tidak lagi canggung, melainkan dipenuhi dengan makna. Di antara hiruk-pikuk restoran, hanya mereka berdua yang ada penuh kecanggungan.
"Masalah tentang apa, Ratu? Katakan saja kepadaku, aku akan mendengarkan semua keluh kesah mu.”
"Aku ingin kita menikah secepatnya, dan bawa aku keluar negeri. Kita akan menjadi suami istri tanpa embel-embel pekerjaan aku.”
"Kamu serius?”
“Ya, aku serius. Dan, aku mau seminggu lagi kita meresmikan hubungan ini.”
Fabian mengangguk yakin, dan memang ia ingin hubungan mereka segera diresmikan. Ia ingin hidup normal bersama Ratu dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia.
“Baiklah, satu Minggu lagi kita akan bertemu. Dan, tunggu aku ya.”
“Memangnya kamu mau kemana? Kenapa sepertinya mau pergi?”
“Aku harus ke Bandung untuk mengurus restoran yang baru, dan sebelum Minggu depan aku sudah balik ke Jakarta.”
Namun, sayangnya ketika hari itu tiba. Ratu mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia. Fabian sama sekali tidak bertemu dengan Ratu sampai kapan pun.
Kembali ke masa kini.
Satu Minggu kemudian
Senja merayap, menyelimuti taman belakang restoran milik Fabian dengan warna jingga keunguan. Suara tawa renyah dari istri Kalingga, Gendhis, bercampur dengan tawa berat Fabian, sahabat Kalingga sejak SMA, memecah kesunyian. Kalingga hanya bisa melihat dari jauh, tangannya yang memegang cangkir teh mengerat. Pemandangan itu, yang seharusnya terlihat biasa, kini terasa menyesakkan di dadanya.
"Kenapa mereka begitu akrab? Padahal sebelumnya mereka sama sekali belum pernah bertemu?"
Kalingga memang sering bertemu dengan Fabian, mereka berdua kenal sejak bersekolah. Tapi baru kali ini Gendhis dan Fabian akrab, padahal mereka saling mengenal sejak Kalingga menikah dengan Gendhis.
Entah mengapa Kalingga merasa ada yang berbeda dengan istri dan sahabatnya, cara Gendhis memandang Fabian, senyumnya yang lebih lebar, atau percakapan mereka yang seolah memiliki dunianya sendiri. Kalingga mencoba menepis pikiran-pikiran buruk, meyakinkan dirinya bahwa itu hanya rasa cemburu yang tak beralasan.
Namun, setiap kali Gendhis aja Ratu menyentuh lengan Fabian sambil tertawa, atau ketika Fabian membetulkan anak rambut Kirana yang tertiup angin, sebilah pisau tak kasat mata terasa menusuk ulu hatinya.
"Kamu kenapa, Mas? Kok dari tadi diam saja?" tanya Ratu, menyadari perubahan ekspresi di wajah suaminya. Fabian menoleh, alisnya terangkat bingung.
Kalingga tersenyum masam. "Tidak apa-apa. Lanjutkan saja ceritanya," jawabnya datar.
Ratu dan Fabian saling bertukar pandang, mereka bisa merasakan ada ketegangan yang tiba-tiba muncul. Udara di sekitar mereka terasa dingin, tidak lagi sehangat tadi. Kalingga beranjak dari tempatnya, meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit kasar di meja.
"Aku ke dalam dulu," ucapnya singkat, lalu melenggang pergi tanpa menunggu jawaban.
Ratu menatap punggung Kalingga dengan heran, sementara Fabian hanya bisa diam, menundukkan kepalanya, menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Kalingga masuk ke dalam restoran, namun pikirannya masih tertinggal di taman.
Bayangan Gendhis dan Fabian tawa mereka, sentuhan mereka, terus berputar di benaknya. Cemburu yang selama ini ia tahan, kini meledak menjadi api yang membakar hatinya. Ia tahu, rasa ini tidak adil bagi Kirana maupun Fabian, namun ia tak bisa mengendalikannya. Yang ia rasakan hanyalah sesak, sebuah rasa sakit yang muncul karena takut kehilangan.
"Mereka begitu akrab, seperti sudah saling mengenal sebelumnya."
***
Kalingga melihat Gendhis keluar dari kamar, dan ia hanya bisa menarik napas. Sejak kemarin hawa di rumah terasa tegang dan dingin. Ratu tidak tahu apa yang salah. Kalingga hanya diam, menjawab sekenanya, bahkan tidak menoleh saat Ratu mencoba mengajaknya bicara.
"Mas Kalingga, kamu kenapa?" Ratu memberanikan diri bertanya. "Aku ada salah?"
Kalingga tidak menjawab. Ia hanya mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, dan pergi begitu saja dari hadapan Ratu.
"Mas Kalingga, kalau kamu nggak mau ngomong, aku pergi aja pagi ini." kata Ratu, berharap Kalingga akan merespons.
Mendengar istrinya ingin pergi, Kalingga langsung menoleh, matanya berkilat marah. "Pergi sana!" bentaknya.
Ratu terkejut, ini pertama kalinya Kalingga membentaknya. Walau ia baru saja menjadi Gendhis istri dari Kalingga, namun ia merasa bahwa Kalingga memarahinya. Hatinya sedikit kesal dengan Kalingga, lalu Ratu pergi begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Kalingga.
"Gendhis sudah berubah sejak siuman dari koma, seperti bukan Gendhis yang aku kenal."
Kalingga ingat betul, istrinya Gendhis adalah seorang wanita yang lemah lembut. Istrinya itu tidak pernah keluar rumah tanpa izin darinya, Gendhis juga selalu mematuhi apa yang sudah pernah Kalingga katakan. Tidak seperti sekarang.
"Aku harus mengikuti Gendhis sekarang juga, aku yakin Gendhis pasti bertemu dengan Fabian."
Kalingga mengikuti istrinya dari belakang, ia ingin mengetahui istrinya sampai dimana. Sejauh ini, mobil istrinya melaju lurus tanpa berhenti. Kalingga mulai berpikir, "Kemana dia akan pergi sepagi ini?"
Istrinya melewati jalan tol, dan Kalingga terpaksa ikut naik, sesekali melihat layar di ponselnya. Ia yakin, Gendhis belum menyadari apapun.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil istrinya mulai melambat. Kalingga segera mematikan lampu depan mobilnya dan memperlambat laju. Gendhis masuk ke sebuah area perumahan, lalu mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis dengan halaman yang asri. Gendhis keluar dari mobil dan disambut oleh seorang pria yang sedang menunggu di depan pintu. Pria itu tersenyum dan membuka pintu untuk Gendhis.
Hati Kalingga terasa hancur, mobilnya tetap terparkir di ujung jalan, ia hanya bisa menyaksikan. Rasanya seperti ada belati yang menancap di dadanya, lalu berputar. Pria itu menyambut istrinya dengan senyum yang ramah, dan mereka masuk ke dalam rumah.
Kalingga tidak melihat ada tanda-tanda kecurigaan atau keraguan pada diri istrinya.
Sejenak, Kalingga terpaku, memandangi rumah itu. Ia tidak ingin lagi berpikir bahwa istrinya berbohong padanya. Ia merasa bodoh karena harus menyaksikan ini semua. Kalingga kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya dan berbalik arah, meninggalkan area perumahan tersebut. Namun, baru beberapa detik ia menyalakan mesin mobilnya. Kalingga kembali mematikan mesin mobil dan ia mengurungkan niatnya untuk pergi dari area rumah itu.
"Aku harus menunggu Gendhis keluar dari rumah itu, dan melihat gerak-gerik Gendhis selanjutnya."