Antara Ratu vs Gendhis.

1027 Words
Happy reading. "Aku pulang," sapa Kalingga pelan, senyum lelahnya tak sampai ke mata. Rumah ini, yang dulu terasa seperti pelukan hangat, kini terasa asing. Namun, yang paling asing adalah Gendhis. Ratu aka Gendhis menyambutnya di depan pintu, wajahnya yang cantik dan matanya yang dulu penuh binar cinta, kini terasa seperti topeng. Gendhis yang dulu akan menyambutnya dengan pelukan erat dan ciuman di pipi, Gendhis yang sekarang hanya tersenyum tipis dan menawarkan teh hangat. Gerakannya, caranya berbicara, bahkan caranya memandang Kalingga, semua terasa berbeda. Malam itu, Kalingga melihat Gendhis duduk di depan cermin. Rambutnya yang dulu tergerai alami, kini diikat rapi. Kalingga memperhatikan jemarinya. Gendhis yang dulu memiliki jari-jari lentik dengan luka kecil bekas mengupas bawang atau mencabuti rumput di kebun, sekarang jemarinya halus, tanpa noda, seolah tak pernah menyentuh pekerjaan kasar. "Ada apa, Mas?" tanya Gendhis, membalikkan badan. Suaranya lembut, tapi tidak hangat. Kalingga tak menjawab. Ada kekosongan di mata Gendhis, kekosongan yang membuat hatinya bergetar. Gendhis yang dulu adalah Gendhis yang melukis bunga di cangkir tehnya, Gendhis yang akan tertawa lepas hingga air mata membasahi pipinya. Gendhis yang ada di hadapannya sekarang adalah wanita lain, dengan wujud yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Gendhis menatapnya, ada ketidaknyamanan di matanya. "Kenapa Mas melihatku seperti itu?" tanyanya lagi. Kalingga tak bisa menahan air matanya. "Kamu siapa?" gumamnya, suaranya tercekat. Gendhis yang di hadapannya membeku, topeng di wajahnya retak sejenak, memperlihatkan kilatan emosi yang tidak dikenal Kalingga. Kilatan itu bukan kemarahan, bukan kesedihan. Itu adalah kekosongan, seperti cermin yang memantulkan ketiadaan. Kalingga mundur perlahan, seolah berhadapan dengan hantu. Wujud Gendhis di hadapannya terlihat sempurna, tapi Kalingga bisa merasakan dinginnya. Gendhis yang dulu adalah rumahnya, namun wanita ini hanyalah bangunan kosong dengan pintu yang sama. Kalingga tak bisa masuk, tak bisa menemukan jalan pulang. Karena rumahnya, Gendhis-nya, sudah tidak ada. "Katakan, Kamu siapa? Kamu bukan istriku Lembayung Gendhis Nastiti." Deg. "Aku, aku-" "Gendhis ku nggak seperti kamu, Gendhis ku itu-" Cup. "Mas Kalingga, aku Gendhis mu. Aku istrimu, Mas." Kalingga tersentak, wajahnya pucat pasi. Pertanyaan yang ia lontarkan menggantung di udara. Gendhis yang baru hanya menatapnya, ada ketidaknyamanan di matanya, seperti cermin yang memantulkan kekosongan. Kilatan emosi yang tidak dikenal Kalingga, itu adalah kilatan ketiadaan, seperti cermin yang memantulkan kekosongan. Kalingga mundur perlahan, seolah berhadapan dengan orang lain bukan Gendhis. Gendhis yang dulu adalah rumahnya, namun wanita ini hanyalah bangunan kosong dengan pintu yang sama. Kalingga tak bisa masuk, tak bisa menemukan jalan pulang seperti dulu. "Kamu bukan Gendhis istriku, kamu orang lain. Tapi, siapa yang ada di dalam tubuh istriku sekarang?" *** Kalingga berdiri mematung di ambang pintu, menatap Gendhis istrinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tak tahu harus berbuat apa. Namun, Ratu yang berada dalam wujud Gendhis, menyadari perubahan Kalingga. Ia merasakan keraguan dan kecurigaan di mata Kalingga. "Ada apa, Mas?" tanya Ratu dengan nadanya terdengar khawatir, mencoba memancing Kalingga agar kembali percaya padanya. Kalingga tak menjawab. Ia hanya menatap kosong, tak berani berucap. Ratu bangkit, berjalan mendekatinya dengan langkah anggun yang pernah Gendhis miliki. Ia memegang tangan Kalingga, jemarinya terasa dingin, tidak seperti Gendhis yang hangat. Namun, Ratu tidak menyerah. Ia tahu, untuk mengambil alih hati dan hidup Kalingga, ia harus mengambil alih semua yang Gendhis miliki, termasuk ingatan Kalingga tentang Gendhis yang asli. "Mas, Mas Kalingga kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi. Dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Kalingga menepis tangan Ratu. "Aku tidak tahu siapa kamu," bisiknya, suaranya bergetar. Ratu terkejut, ia menarik napas dalam, dan kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Ia mulai bercerita, bukan tentang Gendhis yang ada di depannya, tetapi tentang masa lalu Gendhis. Ia bercerita tentang kebun teh yang pernah mereka kunjungi, tentang bagaimana Gendhis tertawa saat melihat Kalingga tersandung saat memetik buah, tentang puisi yang pernah Kalingga bacakan untuknya, dan tentang ciuman pertama mereka di bawah hujan. Semua cerita itu benar, setiap detailnya. Kisah-kisah yang hanya Kalingga dan Gendhis yang tahu. Kalingga terkejut. Bagaimana bisa tahu semua itu? Bagaimana bisa ia tahu setiap detail yang hanya ia bagikan dengan Gendhis yang asli? Kalingga mulai goyah. Ia melihat ke dalam mata Sekar, mencari-cari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kilatan kebenaran yang mengerikan. "Bagaimana kamu tahu semua itu?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar. "Karena aku Gendhis, Mas. Aku istrimu," jawab Sekar, air mata mulai mengalir di wajahnya. Itu adalah air mata yang sangat meyakinkan, penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. "Aku tidak tahu mengapa Mas tiba-tiba meragukan ku, tetapi aku akan melakukan apa saja agar Mas kembali percaya padaku." Kalingga terjebak di dalam hatinya mengatakan bahwa wanita di depannya adalah penipu, tetapi otaknya tidak bisa membantah semua bukti yang diberikan Ratu. Kisah-kisah itu, kenangan-kenangan itu, semua itu adalah bagian dari hidupnya. Ia tak bisa menolak kenyataan bahwa wanita yang ada di depannya, dalam wujud istrinya, benar-benar tahu semua tentang dirinya dan Gendhis. Kalingga tak berdaya, semua kenangan itu, setiap detail yang hanya ia dan Gendhis yang asli tahu, kini keluar dari bibir wanita yang memiliki wujud Gendhis. Ratu melihat keraguan di mata Kalingga, ia tahu ini adalah kesempatan emasnya. Perlahan, ia mendekat. Tangan yang tadi ditepis, kini kembali menggapai. Kali ini, ia memegang tangan Kalingga dengan lembut, menautkan jari-jari mereka. Rasanya masih dingin, tapi Kalingga tak lagi merasakan keganjilan. Ia terlalu bingung, terlalu lelah untuk berpikir jernih. "Mas, aku tidak tahu apa yang membuat Mas meragukan diriku. Tapi, aku akan membuktikannya," bisik Ratu. Ia tidak berhenti pada kata-kata. Malam itu, ia kembali melakukan hal-hal kecil yang dulu sering dilakukan Gendhis. Ia memasak makanan kesukaan Kalingga, yang dulu hanya Gendhis yang tahu resepnya. Aromanya memenuhi dapur, menghadirkan nostalgia yang kuat. Kalingga mencicipi hidangan itu, rasanya persis seperti buatan Gendhis. Ratu juga merapikan buku-buku Kalingga, menempatkan setiap buku di posisi yang benar, persis seperti yang sering Gendhis lakukan. Kalingga menemukan catatan kecil di antara halaman-halaman buku, ditulis dengan tulisan tangan Gendhis. Isinya adalah kutipan dari puisi favorit Kalingga, atau hanya ucapan "Aku cinta kamu" yang sederhana. Semua itu, sekali lagi, adalah sesuatu yang hanya Gendhis yang tahu. Kalingga tak bisa lagi membedakan kenyataan dan ilusi, ia merasa terombang-ambing di lautan kenangan, di mana setiap gelombang membawa ia kembali pada Gendhis sekarang. "Aku akan tetap cari tahu siapa wanita ini, apa benar-benar Gendhis istriku atau orang lain. Tapi, aku sudah mulai nyaman dengan kehadirannya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD