Ratu jadi Gendhis.

1022 Words
Happy reading. Senja hari di beranda rumah, Kalingga menyesap teh hangatnya. Matanya terpaku pada Gendhis yang tengah menyirami bunga mawar di taman. Sudah hampir enam tahun mereka menikah, setiap hari Kalingga melihat wajah yang sama, senyum yang sama, dan sorot mata yang sama. Namun, hari ini berbeda. Seolah ada kabut yang menutupi pandangannya. Kalingga bangkit dari kursinya, mendekati Gendhis. Ditatapnya lekat-lekat wajah istrinya. Ada senyuman yanh selama ini Kalingga suka dengan Gendhis, lesung pipitnya muncul saat dia tertawa. Semua detail itu sangat familiar, Kalingga hafal setiap lekuknya. Namun, ada sesuatu yang hilang dan Kalingga menyadari hal itu. Sesuatu yang tak bisa Kalingga definisikan, mata itu sorotnya terasa asing. Bukan mata Gendhis yang selalu memancarkan kehangatan dan kelembutan, dan Kalingga merasakan perubahan aneh dengan istrinya. "Mas Kalingga, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ratu, menghentikan kegiatannya. Ratu tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Kalingga merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Ada rasa aneh yang menjalari tubuhnya. Ada perasaan takut yang menyergap, seolah-olah ia sedang berdiri di hadapan orang asing. Gendhis yang ia kenal adalah Gendhis yang selalu menatapnya dengan penuh cinta, bukan dengan sorot mata tajam dan kuat seperti ini. "Kamu benar Gendhis istriku?" tanya Kalingga, suaranya bergetar. Ratu mengerutkan keningnya, kebingungan. "Tentu saja aku Gendhis. Ada apa, Mas?" Ratu mencoba menggapai tangan Kalingga, tapi Kalingga mundur selangkah. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, ini bukan Gendhis. Ini bukan wanita yang ku nikahi, semua masih seperti biasanya. Akan tetapi mengapa terasa asing, Gendhis yang ini seperti orang lain bukan Gendhis istriku." ucap Kalingga dalam hatinya. "Mas, kenapa diam saja? Apa ada masalah denganku-" "Sepertinya aku butuh istirahat, Gendhis aku masuk dulu." Kalingga meninggalkan Ratu seorang diri di taman, ia masuk ke dalam ruang baca seperti biasa jika sedang mempunyai masalah dalam pikirannya. "Dia, dia bukan Gendhis ku. Dia orang lain yang menyamar jadi istriku," gumam Kalingga pelan. *** Di hadapan Kalingga yang menatapnya dengan penuh keraguan, Gendhis yang palsu, yang sebenarnya adalah Ratu, tersenyum pahit. Ide-ide mulai berputar di kepalanya, Ratu harus membuat Kalingga percaya, ia harus memainkan peran ini dengan sempurna. "Mas Kalingga, Mas kenapa?" Ratu maju selangkah, menatap Kalingga dengan sorot mata yang dibuat-buat sendu. "Apa Mas tidak ingat saat kita pertama kali bertemu di bawah pohon kenanga? Mas mengutip puisi Rumi dan memberiku bunga kenanga. Mas bilang, 'Aroma bunga ini tidak akan pernah seharum dirimu, Gendhis ku.'" Kalingga tertegun, ingatan itu, kenangan itu, terlalu kuat dan terlalu pribadi. Hanya mereka berdua yang tahu. Kalingga melangkah mendekat perlahan seolah ragu. "Dan saat itu, aku bilang, aku tidak tahu kenapa Mas, tapi aku merasa puisi itu adalah takdir kita. Takdir yang akan membuat kita selalu bersama, seperti wangi bunga kenanga yang abadi," lanjut Ratu, suaranya bergetar, menirukan intonasi Gendhis . Ratu lalu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kalingga dengan lembut. "Mas, ini aku. Gendhismu. Aku tidak tahu kenapa Mas tiba-tiba meragukan ku, tapi aku mohon, jangan takut. Aku di sini selalu untukmu." Kalingga menarik napas dalam, memejamkan mata. Semua detail itu, kata-kata itu, sentuhan itu semuanya terasa nyata. Ia membuka mata dan melihat Gendhis. Senyumnya, tatapannya, kini kembali seperti semula. Sorot dingin yang tadi ia lihat seolah tak pernah ada, Kalingga merangkul Gendhis, memeluknya erat-erat. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak tahu apa yang merasuki ku, sampai aku meragukan kamu." "Tidak apa-apa, Mas," jawab Ratu, membalas pelukan Kalingga. Di balik punggung Kalingga, senyum kemenangan terukir di wajah Ratu. Dia telah berhasil, Ratu yakin semua kenangan dan detail pribadi adalah kunci. Kalingga tidak akan pernah bisa membedakan dirinya dengan Gendhis yang asli. Sambil membalas pelukan Kalingga, Ratu tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia membatin mudah sekali Kalingga percaya dengannya. Ratu bahkan tidak harus membuka semua kejadian-kejadian yang pernah Gendhis dan Kalingga lakukan, Ratu hanya membaca buku harian milik Gendhis yang ia temukan di dalam lemari Gendhis dan ia bisa membuat Kalingga percaya kepadanya. Ratu menepuk punggung Kalingga dengan lembut. "Sekarang, ayo kita masuk, Mas. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Kalingga melepas pelukan dan menatap Gendhis, wajahnya masih diselimuti rasa malu. "Maafkan aku sekali lagi, Sayang. Entah mengapa aku meragukan mu," jawab Kalingga. Ratu terkejut, namun dengan cepat ia menyembunyikan ekspresinya. "Ah, Mas mungkin hanya lelah. Seharian bekerja pasti membuat pikiran jadi kacau. Jangan dipikirkan, ya?" katanya sambil menggandeng tangan Kalingga, mengajaknya masuk. "Aku harus menjadi Gendhis dengan baik, untuk membuat Mas Kalingga percaya denganku." *** Senja berganti malam, di dalam kamar Kalingga dan Ratu duduk di ranjang. Kehangatan yang dulu terasa canggung kini kembali seperti semula. Ratu, yang berperan sebagai Gendhis, duduk di hadapan cermin, menyisir rambutnya yang panjang. Kalingga memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Ratu. "Aku masih merasa bersalah kepadamu Gendhis," bisik Kalingga, suaranya dipenuhi penyesalan. "Rasanya aneh sekali tadi sore." Ratu menghentikan gerakannya, ia menoleh dan menatap pantulan wajah Kalingga di cermin. Tatapannya penuh dengan kepura-puraan, seolah-olah ia benar-benar merasa kasihan pada Kalingga. "Aku mengerti, Mas. Mungkin Mas terlalu lelah. Tapi jangan khawatir, aku di sini. Kita akan melewati semuanya bersama," ujarnya sambil mengusap pipi Kalingga dengan lembut . Kalingga memejamkan mata, merasakan sentuhan itu. Ini adalah sentuhan yangs selama ini ia rindukan, sentuhan yang selama beberapa jam terakhir terasa asing. Semua keraguan yang sempat muncul kini sirna sepenuhnya. Ratu berhasil. Ia telah meyakinkan Kalingga bahwa dirinya adalah Gendhis. . "Kalung ini untukmu Gendhis, kalung ini adalah pengikat janji kita. Selama kalung ini ada padamu, aku tahu kamu adalah istriku. Kamu adalah cintaku," ucap Kalingga, suaranya tulus. "Terima kasih Mas, ini sangat indah untuk ku." "Maafkan aku, Gendhis," bisiknya. "Aku tidak tahu apa yang merasuki ku tadi." Ratu tersenyum, senyum penuh kemenangan yang tersembunyi dari pandangan Kalingga. "Aku sudah memaafkan mu, Mas. Jangan pikirkan lagi." Kalingga melepas pelukannya, menangkup wajah Gendhis dengan kedua tangannya. Ditatapnya lekat-lekat mata Gendhis. Ia melihat kehangatan di sana, kehangatan yang telah ia rindukan. Perlahan Kalingga memajukan wajahnya, dikecupnya kening Ratu dengan lembut, lalu turun ke kelopak mata, ke pipi, dan terakhir ke bibirnya. Ciuman itu terasa manis, penuh kasih, dan sarat akan kerinduan. Kalingga merasa telah menemukan kembali Gendhis nya kembalikan, dan ia yakin kali ini Kalingga tidak akan salah untuk menyadari bahwa wanita yang sedang menatap wajahnya adalah Gendhis istrinya. "Gendhis, aku mau ajak kamu Honeymoon. Aku mau quality time setelah kamu bangun dari koma," ucap Kalingga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD