Lili benar-benar mengajak Samuel untuk ikut dengannya, pria itu terlihat sangat antusias saat melihat tempat yang akan dijadikan ujian nanti. Lili mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang sahabat, ia meneliti lautan manusia satu per satu barangkali ada Margrit di sana.
"Sister, kau mencari siapa?" Tanya Samuel yang agak mengencangkan suara, karena riuhnya suasana.
"Sahabatku, dia yang akan berlaga di ujian kali ini." Sahut Lili.
Sebenarnya rencana untuk datang lebih awal harus tersendat saat ia menerima tamunya tadi, siapa lagi jika bukan Wiliam dan Samuel, butuh waktu tiga puluh menit untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Namun, Lili juga tidak merasa keberatan apalagi karena itu Samuel sekarang menemaninya, daripada ia kebosanan duduk sendiri di tribun.
"Ohh begitu." Samuel mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tampak terlihat antusias melihat banyak orang yang datang. Pada dasarnya Samuel yang jarang sekali membaur pun menjadi takjub, ia merasa bebas untuk saat ini. Tidak ada peraturan Wiliam, tidak ada larangan ini itu dari Wiliam, serta ia bisa menikmati kesempatan untuk beradaptasi dengan dunia luar.
Ia menatap Lili dengan pandangan senang, tak ia sangka keberadaan gadis itu mampu membuat Wiliam luluh dan membolehkannya untuk ikut bersosial. Dalam hati Samuel ia merasa beruntung telah bertemu dengan Lili, penyelamat baginya, kakak perempuan terbaik untuknya.
Lili sibuk mengetik pesan di layar ponselnya, Margrit menanyakan apa dirinya sudah sampai atau belum. Lili pun mengatakan bahwa dirinya sudah stay di tribun, hingga meminta Margrit untuk mendatanginya sebelum ujian dimulai.
Send.
Lili menghela napas panjang, keduanya duduk di tribun paling atas, disamping kanan kirinya pun ada penonton lain.
"Sam, nanti ada sahabatku yang datang ke sini, aku akan mengenalkanmu padanya. Namanya Margrit, dia gadis baik yang juga bisa kau ajak berteman." Ujar Lili pada Samuel.
Samuel mengangguk antusias, ia ingin memiliki banyak teman. "Boleh, aku mau. Tapi.. dia baik sama sepertimu 'kan?"
Lili tersenyum sembari mengangguk. "Ya, dia baik kok."
Samuel terlihat nyaman-nyaman saja berkumpul di tempat terbuka seperti ini. Selang beberapa menit kemudian, Lili melambaikan tangannya mengarah pada seorang gadis yang memakai
Dobok berwarna putih, itu Margrit.
"Jils, ku kira kau akan terlambat." Ujar Margrit pada Lili dari kejauhan. Ia memakai dobok berwarna putih serta rambut yang dikuncir kuda.
Lili meringis kecil, kebiasaan Margrit yang suka berteriak-teriak heboh masih saja tidak hilang. Setibanya di tempat Lili berada, sesampainya disebelah Lili, Margrit mengedarkan pandangannya ke arah Samuel, membuat pria itu kikuk karena ditatap seperti bak makhluk asing.
"Dia adikku, namanya Samuel." Jelas Lili pada Margrit sebelum gadis itu bertanya terlebih dulu.
Margrit sempat menautkan keningnya kebingungan, sejak kapan Lili memiliki adik, oh atau adik sepupu?
"Lebih lengkapnya akan aku ceritakan nanti." Lili berbisik di telinga gadis itu.
Detik selanjutnya Margrit mengangguk mengerti, ia mengembangkan senyumnya pada Samuel lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat. "Hai, namaku Margrit."
Samuel menatap ke arah Lili dengan takut-takut, Samuel tetaplah Samuel, jika sudah berhadapan dengan orang asing secara langsung membuat nyalinya menciut, ia menelan ludah susah payah. Lili menepuk pelan bahu Samuel, memberi kode untuknya agar menerima jabat tangan dari Margrit.
Mendapat anggukan dari kakak perempuannya membuat Samuel berani, ia membalas jabat tangan Margrit dengan tangan bergetar serta dingin, Margrit tersenyum maklum.
"A- aku Samuel, sister biasa memanggilku Sammy." Ucap Samuel.
"Baiklah, Sammy. Senang bertemu denganmu." Balas Margrit setelahnya. Keduanya pun melepas jabat tangannya.
"Sudah menyiapkan mentalmu?" Lili menaik turunkan kedua alisnya bergantian, membuat Margrit mengangguk semangat.
"Of course, aku sudah berlatih sepenuh tenaga, menyiapkan diri serta mental agar bisa naik ujian sabuk ini." Margrit menyenderkan tubuhnya pada kursi tribun. Di bawah sana sudah ada beberapa anggota yang akan melakukan ujian sabuk juga, tak ada raut cemas dari wajah gadis itu, Margrit bersungguh-sungguh.
"Bagus, jangan patah semangat! Jika kau bertanding melawan musuhmu nanti, fokuskan titik penyerangan pada area vitalnya, tendang atau pukul sekeras mungkin." Ucap Lili menggebu-gebu.
Margrit mendengarkannya dengan seksama. "Baik, akan ku ingat tipsmu ini."
Margrit terlihat meminum air mineral yang ia bawa di botolnya, menenguk dengan perlahan lalu setelahnya mengusap sisa-sisa air yang mengalir.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Namaku akan dipanggil sebentar lagi." Ujar Margrit.
Lili pun menunjukkan jempol ke atas, ia sesekali menatap Samuel untuk memastikan bahwa pria itu masih anteng ditempatnya. Benar saja, Samuel memang bersikap manis layaknya anak kecil. Pria yang berkebutuhan khusus, autisme itu hanya diam melihat suasana sekitar, untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Setelah dari sini kau mau apa?" Tanya Lili pada Samuel.
Samuel mengalihkan tatapannya, ia menatap Lili sembari mengetuk-ngetuk dagunya pelan guna memikirkan apa yang ia inginkan. "Eumm, aku ingin jus jambu dan sehelai roti bakar."
"Baiklah, kau akan mendapatkannya nanti. Kita menonton ujian Margrit terlebih dulu, ya." Lili bagaikan seorang ibu yang mengiming-imingi anaknya.
"Ya, sister." Samuel mengangguk setuju.
"Good job." Balas Lili
Di sekitar tribun sana sudah banyak penonton serta supporter yang duduk menghadap ke satu titik, yakni tengah-tengah aula yang dilapisi matras puzzle untuk ujian sabuk para anggota, Lili menanti nama Margrit dipanggil. Satu persatu para anggota dipanggil, mereka membentuk garis lingkaran di sana. Pun ada Margrit yang berdiri dengan santainya, seperti tak ada keraguan dalam hatinya. Lili tersenyum senang melihat perkembangan Margrit yang sudah ada kemajuan, dulu saat pertama kali mereka bertemu, Margrit merupakan gadis jutek dan egois yang selalu ingin didengarkan, tapi tak ingin mendengar pendapat orang lain. Lili bahkan sudah berkali-kali berdebat dengan gadis itu sampai berbusa, tapi ia selalu kalah.
Margrit adalah gadis keras kepala melebihi Lili sendiri, namun setelah bertambahnya waktu semakin hari Margrit semakin bisa terkontrol, ia berubah menjadi gadis baik, periang serta mau mengalah demi kepentingan banyak orang. Kedatangan Lili dihidup Margrit membuat dampak baik, Lili bersyukur karena hal itu. Sudah beberapa kali Lili bermain ke rumah Margrit yang merupakan keluarga terpandang itu, keluarganya bahkan selalu mengatakan terimakasih padanya karena Lili telah membuat perubahan positif bagi Margrit.
Suara riuh penonton memenuhi aula karena yang ditampilkan bukan hanya seni saja. Namun, ada juga pertunjukkan tanding antar anggota. Para pelatih yang melakukan penjurian ada dua, mereka duduk didepan para anggota.
"Itu disana Margrit kan?" Tanya Samuel sembari menunjuk posisi dimana Margrit berdiri.
"Ya, ayo beri dia dukungan." Ujar Lili.
Samuel mengangguk semangat, ia menepuk-nepukkan tangannya sambil meneriakkan nama Margrit. Bahkan beberapa orang di samping mereka nampak mengernyit aneh dengan antusiasme Samuel, biarlah anak itu bahagia dengan caranya sendiri.
Nama Margrit telah dipanggil, gadis itu berjalan menuju tengah aula. Margrit melakukan posisi Joochoom Seogi, yakni kuda-kuda dengan posisi kedua kaki sejajar kearah samping, posisi telapak kaki lurus ke depan, kedua lutut agak ditekuk, posisi badan tegak lurus ke depan.
Margrit melakukannya dengan serius, matanya hanya fokus ke depan. Ia melakukan gerakan demi gerakan dengan baik.
Hingga pada puncaknya adalah ketika mereka diadu kekuatan, Margrit mendapat lawan yang tubuhnya agak mungil dari dirinya. Margrit terlihat menyeringai, Lili yang melihatnya pun geleng-geleng kepala.
Tanpa babibu, Margrit langsung menyerangnya tanpa ampun. Ini bukan seperti ujian, tapi bak pertandingan sungguhan. Margrit kelewat semangat sampai menyerang titik-titik vital lawannya hingga terkapar. Lili melongo dibuatnya, entah kerasuka setan apa sahabatnya itu. Jika tidak dipisahkan oleh salah satu pelatih, maka Margrit akan terus menyerang lawannya.
"Margrit sangat mengerikan, bahkan melebihi dirimu, sister." Gumam Samuel yang langsung menciut tatkala melihat Margrit yang menyerang habis lawannya.
Lili kali ini mengangguk setuju, tapi dibalik itu ia senang karena Margrit bisa melakukan ujiannya dengan baik. Lawan Margrit dibopong ke pinggir arena, napasnya nampak tersengal-sengal. Sedangkan Margrit, gadis itu masih mengembangkan senyumnya karena telah menumbangkan lawan.
"Tapi dia hebat 'kan?" Tanya Lili pada Samuel yang berniat meredakan ketakutan pria itu.
"Emm, iya sih." Balas Samuel agak ragu-ragu. Tangannya bergetar pelan saat melihat Margrit menendang-nendang kaki lawannya tadi.
Oh tidak! Memori tentang masalalunya yang sering disiksa mulai merangsek masuk dalam otak, Lili dengan sigap langsung menggenggam tangan Samuel, memberinya ketenangan. Bahkan Lili merangkul tubuh lebar Samuel, ia tidak ingin Samuel mengingat hal buruk tersebut.
"Sam, lupakan! Sekarang hidupmu sudah jauh lebih baik, jangan memikirkan masa lalu buruk itu. Jadi lah Samuel yang kuat dan pemberani, dihidupmu sekarang hanya ada orang-orang baik yang mengasihi serta menyayangimu, ya."
"Sister..." Gumam Samuel ditengah-tengah rengkuhan Lili.
"Jangan takut, lawan semua ketakutanmu itu." Lili mengusap-usap pundak Samuel dengan pelan.
Tak mereka sadari bahwa sedari tadi Wiliam mengikuti keduanya secara diam-diam, tadi ia tidak benar-benar pulang, ia sengaja menunggu kendaraan Lili di persimpangan jalan dan mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Bagaimana pun juga Wiliam tidak bisa membiarkan Samuel pergi dengan orang lain begitu saja, sebagai kakak ia tentunya kahwatir. Namun, sepertinya kekhawatirannya tak terbukti tatkala melihat Samuel dan Lili yang terlihat sangat akrab meski baru beberapa kali bertemu.
Wiliam duduk di bangku paling ujing dan masih sederet dengan mereka, hanya saja ia memakai hoodie kebesaran untuk menutup mukanya. Wiliam melihat interaksi antara Samuel dan Lili, adiknya terasa nyaman dekat dengan gadis itu, Wiliam merekahkan senyumnya refleks. Ia tidak pernah melihat Samuel yang sebahagia ini meskipun ia selalu memberikan apapun kebutuhan Samuel, tapi Situ bukan yang diinginkan Samuel.
Samuel hanyalah pria kesepian yang butuh teman mengobrol, berbagi suka dan duka. Dan semua itu bisa didapatkannya melalui Lili, gadis baik yang berjiwa sosial tinggi.