“Se-serius?” tanya Jeje gugup. Lee menatapnya serius. Mana mungkin pria itu bercanda masalah beginian? Apa dia sudah siap? Jeje bertanya pada dirinya sendiri. “Menurutmu?” Lee balas bertanya. Nah lho, Jeje mesti menjawab apa? Mengapa Dokter Lee menyerahkan keputusan padanya? Jeje bingung sekali. Antara cinta atau mempertahankan prinsip ... mana yang harus dipilihnya? Apalagi beberapa kali mengalami kasus bersama Dokter Lee, beberapa kali diselamatkan oleh pria yang dicintainya ini ... Jeje tak bisa mengelak bahwa dia menginginkan selamanya berada di samping prianya. “Terserah, Dokter,” sahutnya dengan pipi memanas. Lee mendekat dengan mata berbinar senang, bibirnya nyaris menyentuh bibir Jeje, matanya menatap lekat pada mata kekasihnya. Merasa sangat malu, Jeje memejamkan

