“Papi! Mami!” Jeje menjerit dalam tidurnya. Dia terbangun dalam keadaan duduk. Peluh membasahi tubuhnya, matanya nyalang menatap keremangan dalam kamarnya. “Ada apa? Kau bermimpi buruk?” Suara berat itu menyadarkan Jeje. Dia memeluk Lee yang ikut duduk di sampingnya. Wajahnya ditempelkan ke d**a bidang Lee. Mendengar degup jantung Lee yang teratur berhasil menenangkan Jeje. “Dok, Jeje memimpikan Papi dan Mami Jeje. Ngeri. Ada yang mencelakai mereka. Hati Jeje tak enak.” Jeje bercerita dengan terisak pelan. Lee memeluk hangat kekasihnya, dan merebahkannya kembali ke ranjang. Dia menatap Jeje dengan pandangan teduh, sesuatu yang dulu tak bisa dilakukannya oleh pemilik mata dingin ini. “Kau ingin menemui mereka?” “Tapi, bukannya Dokter masih terluka?” “Sudah baikan. Kuras

