Ziva terpana melihat proses masak maklor. Ia belum pernah makan jajanan sederhana itu.
Saat mereka masih mengamati proses pembuatan maklor, tiba-tiba...
Ada motor yang melaju kencang "Awaaasssss.!!" Kata pengendaranya.Motor itu melaju dengan kencangnya ke arah ZIva. Vania berteriak "Awas beb."
Ziva yang kaget tidak sempat untuuk menyelamatkan diri. Brak!
Suara tabrakan itu terdengar cukup keras.
Ziva yang memejamkan mata mulai bingung, Ia tidak merasa tertabrak dan kesakitan.
Setelah ia berani membuka mata, ia melihat ceceran minyak dimana-mana. Sepeda terguling dan rombong maklor sudah pecah.
Ternyata yang tertabrak adalah gerobak penjual maklor. Untung bapak penjualnya tidak terkena tumpahan minyak panasnya.
Pengendara motor yang menabrak malah melarikan diri. Ia segera memacu kencang motornya dan meninggalkan semua kekacauan itu.
Beberapa orang yang disekitar itu mulai berdatangan. Bapak penjual maklor sepertinya masih bingung dengan keadaan tersebut. Ia duduk di tepi jalan sambil menenangkan diri.
Vania dan Ziva yang masih terkaget-kaget diberi minum oleh warga sekitar yang bergerombol disitu.
"Alhamdulillah tidak ada yang menjadi korban. Tetapi kasihan bapak penjual maklor itu Van." Kata Ziva.
"Iya Zi, sepertinya bapak itu masih syok. Ayo kita bantuan." Kata Vania sambil mendekati bapak penjual maklor.
"Bapak tidak apa-apa?" Tanyanya.
"Saya sih tidak apa-apa neng, tetapi saya jualan bagaimana. Padahal sekarang istri dan anak-anak saya yang masih kecil dirumah menunggu hasil saya jualan." Kata bapak itu sambil menahan tangis.
Ia melihat sepeda motornya dan gerobak jualannya yang rusak dipinggirkan oleh beberapa warga.
Mereka berdua pun merasa kasihan dengan bapak itu. Mereka memutuskan untuk bertanya-tanya lebih lanjut dengan bapak penjual. Vania mendapat ide untuk membuat konten open donasi untuk bapak itu.
Mereka menanyakan biodata lengkap bapak dan ingin mencoba ke rumah bapak tersebut sambil di video.
"Nama saya Sujani, umur 45 tahun. Saya punya istri dan 3 orang anak. Yang paling besar masih SD kelas 5. Yang 2 orang kembar masih umur 7 bulan." Kata Bapak penjual maklor yang ternyata bernama Sujani.
Vania dan Ziva mengantarkan pak Sujani pulang, ternyata rumahnya tidak jauh. Hanya 10 menit jalan kaki dari sekolah mereka.
Mereka masuk sebuah g**g sempit yang hanya bisa dilewati satu motor, mereka melihat lingkungan yang padat penduduk, rumah-rumah yang tidak tertata rapi. Dengan jalan yang becek dan berbau tidak sedap.
"Nah itu rumah saya nak." Kata pak Sujani.
Di dekat ujung jalan tersebut, terlihat rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Atapnya dari seng yang sudah berlubang di beberapa bagian dan lantainya masih tanah.
Rumah tersebut mempunyai lebar 3 meter dan panjang 5 meter. Hanya seukuran kamar Ziva. Ada satu kamar, dan ruangan lain yang difungsikan sebagai ruang tamu dan dapur juga. Ruang tamunya hanya beralaskan tikar yang sudah lusuh.
Mereka berdua tertegun dibuatnya, dan segera Vania mengambil video semua keadaan di rumah tersebut.
Dari dalam kamar, istri pak Sujani yang tahu ada tamu langsung menyambut. "Eh ada tamu, silahkan masuk nona-nona cantik. Mohon maaf ya rumahnya kotor." Katanya sambil membersihkan tikar yang agak terlipat serta membereskan mainan kecil bekas anaknya mainan tadi. Lalu bergegas menyalakan kompor untuk membuatkan minum.
"Iya bu jangan repot-repot." Jawab Ziva sambil duduk di tikar.
"Ini tadi bapak Sujani baru kena musibah bu. Gerobaknya di tabrak orang tidak bertanggung jawab." Lanjutnya.
"Astaghfirullah hal adzim, bapak tidak apa-apa?" Kata bu Sujani ke suaminya.
"Tidak ada apa-apa bu, alhmdulilah. Tetapi motor sama gerobak bapak rusak." Kata pak Sujani sambil berkaca-kaca.
"Maksud kami kesini, kami berupaya mengusahakan penggalangan dana untuk pak Sujani bu. Semoga ada donatur-donatur yang terbuka hatinya dan dapat membantu bapak dan ibu." Kata Vania setelah selesai merekam semuanya.
"Terima kasih banyak ya nak. Saya tidak tahu lagi akan bagaimana jikasaya tidak bisa jualan lagi. Seenggaknya buat kami membetulkan gerobak yang rusak saja."Kata Pak Sujani.
"Bismillah ya pak, kita usahakan dahulu. Ya sudah saya dan Vania pamit mau pulang dulu pak." Kata Ziva sambil berdiri.
"Belum saya buatkan minum kok sudah pulang neng?" Kata bu Sujani.
"Tidak apa-apa bu terima kasih, sudah sore nanti orang tua kami khawatir." Kata Vania.
Mereka pulang setelah bersalaman dengan bapak dan ibu Sujani. Ziva menyelipkan uang lembaran 100 ribuan saat bersalaman dengan bu Sujani. "Untuk anak-anak ibu." Bisiknya.
Mereka pun pulang dengan harapan semoga setelah ini banyak yang membantu mereka.
"Nanti aku edit-edit dulu ya Van videonya. Trus kita coba upload ke sosmed kita. Siapa tau banyak yang terketuk hatinya dan mau membantu kita." Kata Ziva.
"Oke deh, Makasih ya beb." Kata Vania
Mereka pun berpisan di tengah jalan, Vania meneruskan perjalanan ke rumahnya.
Sampai rumah, Ia mencium bau harum yang menggoda perutnya. Ia baru sadar kalau jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB dan dia belum makan siang.
"Assalamualaikum, bikin apa nih ma?" Tanya Vania.
"Waalaikum slm wr wb. Ini bikin telur balado Van. Kan papa kemarin beli telur dari bedak banyak banget. Alhamdulillah bisa di masak dan sebagian bisa buat pesanan besok." Jawab Virna.
"Aku mau bantuin dong ma." Kata Vania. Ia tertarik untuk belajar memasak telur balado.
"Boleh-boleh, sana ganti baju dulu, terus cuci tangan, lalu bantuin mama ya."
"okee maa." Ia pun segera masuk kamar untuk ganti baju dan ke dapur lagi untuk mencuci tangannya.
"Ini cara bikinnya gimana ma?" Tanya nya.
Bahan :
Telur 6 butir
Daun jeruk 2 lembar
Tomat 1 buah
Cabe rawit 5 buah
Cabe keriting 5 buah
Bawang putih 2 siung
Bawang merah 4 siung
Kemiri 2 butir
Terasi instan, bakar (opsional) 1 buah
Minyak secukupnya
Gula secukupnya
Kaldu bubuk secukupnya
Cara Membuat :
1. Rebus telur sampai matang lalu kupas kulitnya.
2.Goreng telur yang telah direbus hingga semua permukaan terlihat kecoklatan, lalu angkat dan tiriskan.
3.Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, tomat, cabe rawit, cabe keriting, dan terasi bakar.
4.Panaskan minyak secukupnya, kemudian tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan daun jeruk, gula, garam, dan kaldu bubuk.
5.Koreksi rasa. Jika sudah pas, masukkan telur hingga bumbu balado matang dan tercampur dan meresap ke telur. Matikan kompor.
6.Telur balado pedas khas padang siap dinikmati.
"Nahh gitu Van caranya, mudah kan? Sekarang coba kamu makan sekalian pakai nasi deh, kayaknya kamu udah lapar." Kata Virna.
"Ternyata masaknya gak sesulit yang aku bayangkan ya ma." Kata Vania.
Ia segera mengambil nasi dan lauk yang baru dimasak mamanya.
..................................................................................................................................................