MAKARONI TELOR

1116 Words
Sampai di sekolah ternyata ... Baru saja Vania masuk kelas dan menaruh barang bawaannya, teman-temannya yang sebelumnya sudah pesan melalui chat kemarin langsung berkerumun. "Van telur gulung dong" Kata Sinta, yang memesan 10 tusuk telur gulung. "Oke sabar yaa, semua yang udah pesen kebagian kok" Jawab Vania. Dalam sekejap telur gulung yang dibawanya sudah berpindah tangan. "Alhamdulillah" Kata Vania bersyukur melihat uang 150.000 rupiah terkumpul di tangannya. Bahkan sudah ada lagi yang memesan untuk camilan besok. Ziva yang memperhatikan teman sebangkunya itu ikut senang. "Hebat ide kamu Van, hari gini semua orang pasti kangen makan telur gulung." Katanya. "Hehe iya beb, aku kasian lihat papaku telurnya belum laku. Kamu tahu sendiri kan keluargaku gak sekaya kamu. Jadi harus sering-sering putar otak." Kata Vania. Memang Ziva terlahir di keluarga kaya dan berada, ayahnya mempunyai showroom mobil bekas yang cukup besar dan terkenal di kotanya. Ibunya sebagai akuntan di kantor konsultan pajak . Dia mempunyai seorang adik perempuan dan kakak laki-laki. Sungguh kehidupan yang amat sempurna di mata siapapun. Ziva hanya tersenyum penuh arti dan menjawab. "Kata seorang pengusaha, menjadi miskin itu previllage Van. Hahaha. Tapi memang keren sih kamu dan rasa telur gulungnya mantap. Eh aku besok pesan lagi ya jangan lupa di catat 10 tusuk." "Beresss bos." Jawab Vania senang dan tertawa mendengar istilah previllage dari sahabatnya itu. Bel istirahat berbunyi. Semua teman-teman sekelas Vania bergegas ke kantin seperti biasanya. Vania membuka bekal yang sudah disiapkan oleh mamanya. Ia memandang sekeliling, mencari sosok yang daritadi belum sempat ia perhatikan karena dari pagi ia sudah sibuk dengan jualannya. Ternyata di kelas hanya dia sendirian, Ravel yang biasanya di kelas ternyata juga pergi entah ke mana. "Hmm, ya sudah aku makan sendiri aja." Batinnya. Padahal ia membawa beberapa nugget tahu dan lumpia yang telah dibuatnya kemarin siang. Ditengah-tengah ia menyantap bekalnya, tiba-tiba bahunya di tepuk dengan lembut. "Hai Van, gak ke kantin?" Ravel menyapanya dengan membawa jus buah jambu dari kantin. Vania yang kaget tersedak dan terbatuk-batuk."Uhuk,uhuk" "Eh maaf kaget ya, ini minum dulu." Ravel menyodorkan jus jambunya untuk diminum Vania. Entah karena keselek dan salah tingkah atau memang haus, Vania menyeruput jus jambu Ravel hampir setengahnya. "Aduh maaf ya Vel. Jus jambunya mau habis, kamu sih ngagetin." Katanya menutupi detakan jantungnya yang berdebar kencang sejak mendengar suara Ravel. "Hahaha, haus nih kayaknya. Gakpapa habisin aja, aku udah minum kok tadi." Kata Ravel yang geli melihat tingkah Vania. "Hah, jadi aku minum bekas Ravel nih. Aduhhh semoga muka ku gak terlalu kelihatan merah banget. Ndredeg banget sumpah." Batinnya yang membayangkan drama di cerita-cerita novel yang menganggap kalau minum bekas cowok lain berarti ciuman secara tidak langsung. Untuk menyamarkan groginya, Vania menawarkan bekalnya. "Oh iya ini Vel, aku bawa bekal banyak. Nih cobain, aku bawa sendok 2 kok. Itung-itung buat gantiin jus kamu. Hehe." Seperti kemarin, Ravel duduk di depannya. Wajahnya yang kuning langsat, pipinya yang agak pink, garis matanya yang tegas, rambutnya yang belah dua tetapi tidak norak serta bibirnya yang pink kecoklatan tersaji di depan Vania. Membuat Vania ingin waktu terhenti saat ini juga supaya bisa memandangi wajah sempurna yang ada di depannya ini selama yang ia mau. Ravel mengambil sendok dari Vania, dan mencoba bekal Vania. "Yang ini apa Van, kok enak ya?" Katanya saat mencoba nugget tahu yang dibuat Vania. "Oh itu namanya nugget tahu Vel. Enak ya, aku yang bikin sendiri lho." Jawab Vania senang karena masakannya kemarin dipuji Ravel. Tanpa mereka sadari, dari jauh ada beberapa pasang mata mengamati. Sera, Risa dan Devi. Tiga orang sahabat yang selalu bersama dimanapun. Mereka teman satu angkatan Vania dari kelas sebelah. Risa, si cantik dan kaya raya ini mempunyai perasaan khusus kepada Ravel. Tentu saja Sera dan Devi mendukungnya. Tetapi segala upaya Risa dalam mendekati Ravel tidak berhasil. Beberapa cara yang pernah ia lakukan untuk mendekati Ravel antara lain : 1. Menulis surat yang ditaruhnya di meja Ravel di pagi-pagi buta. Ia sengaja datang pukul 05.30 ke sekolah. Bahkan pak satpam yang bertugas jaga malam pun belum pulang saat ia datang. Tetapi saat Ravel melihat surat itu, hanya dibaca sebentar dan malah dibuat mainan pesawat lipat. 2. Direct message ke i********: Ravel, tapi hanya di baca saja tanpa di balas. Padahal ia sering tau Ravel sering online. 3. Setelah tanya beberapa teman dan akhirnya ia mendapat nomor Ravel, Ia coba chat Ravel. Tetapi jawabnya hanya seperlunya dan to the point saja. Sehingga Risa kehabisan kata-kata untuk berbasa basi dengannya. 4. Ia pernah titip salam ke teman sekelas Ravel, tetapi hasilnya juga nihil. Ravel hanya membalasnya dengan senyuman. Sampai sekarang, ia tidak pernah bosan untuk mencari cara di notice oleh Ravel. Sering ia mengamati Ravel mulai kelas 1 SMA dahulu. Ia tahu Ravel tidak pernah punya cewek yang dekat dengannya. Sebetulnya Risa termasuk cewek yang terkenal di kalangan cowok-cowok angkatanya, wajahnya yang cantik dan rambutnya yang panjang bergelombang ala Anggun di iklan shampoo pant*ne. Banyak cowok yang mendekatinya tetapi hanya ia anggap teman saja. Karena itu, melihat Vania yang tiba-tiba bisa makan bersama dengan Ravel dikelasnya ia pun heran dan cemburu. Sera dan Devi membandingkan Risa dengan Vania. "Eh, tuh cewek siapa sih. Cantik juga enggak, kok bisa-bisanya deket sama Ravel. Cakepan juga elu Ris." Kata Devi. "Gue juga penasaran guys. Kok Ravel bisa gampang banget ketawa bareng dan cerita-cerita sama itu cewek. Padahal aku aja gak di-notice sama sekali." Kata Risa menimpali ucapan Devi. Mereka pun mengamati sambil bercakap-cakap sampai jam istirahat selesai. Ravel dan Vania terlihat sangat akrab. Pulang sekolah, Vania mengajak Ziva untuk jajan makaroni telor atau yang disingkat maklor di depan sekolah. "Aku lagi pengen maklor nih. Beli yuk beb." Ziva yang belum pernah jajan maklor heran. "Maklor apa sih Van? Yang biasanya ada abang-abang depan sekolah itu?" Tanya Ziva. "Iyaa, maklor itu singkatan makaroni telor. Bahannya memang dari makaroni sama telor trus dikasih bumbu. Abangnya yang pakai gerobak ada kompor nya itu, yang cetakannya kayak cetakan apem tapi agak kecil. Ayo cobain deh, enak kok. Eh itu abangnya pas mau bikin maklor. Lihat yuk?" Ajak Vania. Resep Makaroni Telor (Maklor) Bahan : 1 Ons makaroni rebus 2 butir telur ayam 10 butir telur puyuh Garam dan penyedap rasa Bumbu tabur Cara Membuat : Didihkan air beri 1/2 sdt garam lalu rebus makaroni hingga empuk. Setelah empuk angkat tiriskan kemudian beri margarin aduk rata dan biarkan uap panasnya hilang. Kocok telur, penyedap rasa dan garam hingga bumbu menyatu kemudian satukan degan makaroni, aduk rata. Panaskan cetakan yang bertutup, olesi dengan margarin tata makaroni dalam cetakan masak dengan ditutup biarkan hingga setengah matang lalu masukan telur puyuh satu persatu kemudian masak dengan ditutup kembali hingga telur puyuh dan bagian bawah makaroni matang. Ziva terpana melihat proses masak maklor. Ia belum pernah makan jajanan sederhana itu. Saat mereka masih mengamati proses pembuatan maklor, tiba-tiba... >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD