Lanjutan ...
Virna membawa nampan berisi lumpia dan secangkir kopi panas ke ruang tamu. Vania masuk ke kamarnya sambil bawa beberapa lumpia goreng yang masih panas. Ia memberi kesempatan orang tuanya untuk berduaan.
"Bagaimana tadi di bedak pa? Ramai?" Tanya Virna.
Arsa yang sedang menyeruput kopinya mulai berwajah muram, beberapa hari ini omset penjualannya bahkan tidak mencapai 100.000 rupiah. "Sejak kenaikan BBM kemarin, bedak makin sepi pembeli ma. Harga sembako hampir semuanya naik 20%, karena itu telur yang papa beli 1 peti 3 hari lalu sama sekali tidak ada yang membeli. Sepertinya kita harus mulai memikirkan untuk usaha lain untuk menambah penghasilan kita. Maaf ya ma, papa belum bisa bahagiakan mama sama Vania." Ucapnya.
"Sabar pa, mungkin belum rejekinya kita. Kalau memang ingin usaha yang lain tidak apa-apa mama selalu mendukung dan mendoakan papa. Rencananya pap ingin usaha apa?" Sahut Virna menenangkan Arsa.
Arsa menjawab."Kemarin aku kepikiran untuk terima laundry ma. Nanti bisa papa kerjakan sambil jaga bedak. Tetapi kita tidak ada modal untuk beli mesin cucinya. Ya nanti dipikir-pikir lagi aja ya ma, kira-kira usaha apa yang tidak membutuhkan modal banyak."
"Besok telur yang tidak laku di bedak bisa kita buat lauk saja pa, mama tidak perlu belanja. Kita bikin olahan telur buat beberapa hari aja. Supaya papa gak kuatir tentang belanja mama." Ucap Virna menenangkan suaminya itu biarpun dalam hati ia juga kuatir tentang kedepannya.
Vania tidak sengaja mendengar obrolan tersebut saat akan ke kamar mandi. Ia kaget mendengarnya, karena selama ini orang tuanya tidak pernah menyinggung masalah uang jika bersamanya.
Setelah kembali ke kamar, Vania pun merenung. Ia ingin membantu sedikit-sedikit ekonomi keluarganya. Tetapi untuk bekerja, ia tentu belum bisa.
"Apa aku jualan kue aja ya ke sekolah, tapi kue apa yang aku bisa bikin sendiri dan gak ada di sekolah?" Vania berfikir.
Ia pun ingat dahulu saat SD ia sering jajan telur gulung di depan sekolah. Dan semua temannya pasti suka dengan jajanan itu. Ia jadi ingin mencoba berjualan telur gulung di sekolah.
Supaya lebih mudah, ia berfikir untuk mencoba membuat status Whats*pp dahulu.
'Open order Telur gulung buat besok, Hanya Rp 1.000 per tusuk, rasa dijamin enak, beli 5 free sambal'
Dengan latar belakang foto telur gulung yang ia comot dari google.
"Tring, Tring, Tring.." Hanya dalam waktu 30 menit. Orderan yang masuk sudah 100 telur gulung, rata2 pesan 5 telur gulung per anak.
"Wahhh lumayan nih buat kesempatan aku untuk bantuin papa jual telur. Daripada tidak laku dijual gitu aja, mending diolah jadi telur gulung." Batin Vania.
Ia pun keluar kamar, dan mencari mamanya. "Maaa.. mama.." Teriak Vania.
Virna yang masih di ruang tamu mendengar Vania memanggilnya. "Iya Van, mama masih disini." Jawabnya.
"Ma, aku kan pingin jualan telur gulung, terus aku tadi coba-coba bikin status Whats*pp, ternyata banyak yang pesen nih ma, gimana ma ayo bantuin. Vania kan belum bisa bikinnya." Kata Vania menggebu-gebu.
"Wah keren juga ide kamu ya, mama gak kepikiran sih untuk jual telur dalam olahan gitu. Eh, tapi emang gakpapa kamu jualan di kelas? Gak ganggu pelajaran kan?" Kata Virna.
"Enggak lah ma, kan aku cuma jualan aja dan itu pun sistemnya pre-order. Jadi paginya udah di plastikin per pesanan gitu. Nanti aku tinggal ngambilin sama nerima uangnya aja. Gimana ma? mau nggak?" Vania berusaha meyakinkan mamanya.
"Ya udah, kita coba bikin dulu ya van. Itu sekarang kamu ada pesanan berapa?" Tanya Virna.
"Sampai sekarang sih ada 100 tusuk ma" Jawab Vania.
Virna pun kaget."Wahh banyak dong, berarti papa harus ambil telur dari bedak sekarang pa. Supaya mama tidak perlu beli di toko. Sekalian kita bisa jual telurnya papa ya. Alhamdulillah, makasih ya Van. Kamu beri jalan mama sama papa. Eh tapi, kamu kok tiba-tiba ingin jualan sih?"
"Iya ma, di sekolah ada pelajaran kewirausahaan. Jadi Vania mikir-mikir mau jualan apa. Trus kan Vania inget, kalau papa jualan telur. Ya udah bikin aja jajanan yang bahannya telur." Ucap Vania tanpa memberitahu Virna kalau ia mendengar pembicaraan orang tuanya tadi.
Tanpa banyak bicara Arsa lalu pergi ke bedak untuk mengambil telur dan sambal sachet sebanyak yang diperlukan. Serta membeli tusuk sate dan plastik untuk tempat telur gulung.
Tak lama, adzan maghrib berkumandang, mereka bertiga menunaikan ibadah sholat maghrib bersama.
Setelah itu, mereka makan malam bersama. Keluarga ini selalu mengedepankan kebersamaan saat makan malam. Karena saat makan pagi dan siang jarang bersama-sama. Setidaknya mereka bisa berkumpul untuk bercerita di saat makan malam.
Vania membantu mamanya membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.
Setelahnya, Vania dan Virna mulai mencoba membuat telur gulung yang pas dan sesuai dengan keinginan pembeli. Karena walaupun terlihat mudah, saat membuat telur gulung harus teliti supaya adonan telur mudah digulung. Jika tidak, telur akan menggumpal dan tidak dapat digulung.
"Bagaimana sih ma cara membuatnya?" Tanya Vania.
RESEP TELUR GULUNG
2 butir telur
1/2 sdt penyedap rasa
1/2 sdm garam
50 ml air
Cara membuat :
Pecahkan telur, tambahkan penyedap rasa, garam dan sedikit air. Kocok sampai berbusa. Setelah itu diamkan sampai busa menghilang.
Panaskan minyak, suhu minyak harus betul-betul panas supaya telur bisa menyebar saat dituang.
Tuangkan 2 sdm adonan telur ke minyak. Tunggu sebentar dan gulung dengan tusuk sate setelah dirasa matang.
"Naah seperti ini nih Van jadinya. Mudah kan?" Kata Virna.
"Iya ternyata gak sulit ya ma. Alhamdulillah, besok bisa deh kita penuhin semua pesanan yang masuk." Ucap Vania.
"Ya sudah, sekarang kamu belajar dulu gih, dan bawa telur gulungnya buat camilan ya. Jangan sampai ada PR yang terlewat." Kata Vania yang selalu mengutamakan pendidikan putri tunggalnya itu.
"Siap ma." Jawab Vania. Ia memang selalu bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya baik di sekolah maupun di rumah. Vania selalu di ingat nasihat orang tuanya, kalau apapun yang saat ini ia kerjakan, harus dikerjakan sebaik mungkin tanpa mengeluh. Karena dengan mengeluh, akan semakin memperberat pekerjaan dan pikiran kita.
Paginya, Virna bangun pukul 04.00 WIB untuk membuat pesanan yang sampai kemarin malam mencapai 150 tusuk telur gulung. Pukul 06.00 pesanan sudah siap dan sudah di packing per pesanan.
Vania berangkat dengan berjalan kaki dengan membawa kotak berisi telur gulung pesanan teman-temannya.
Sampai di sekolah ternyata ...