"Nah, seperti itu tadi Van cara bikinnya. Mudah kan?" Kata Virna. Kebetulan kemarin Arsa (papa Vania) diberi pelanggannya buntut sapi. Alhamdulillah bisa sedikit makan yang agak mewah.
Vania masih mengingat rasa sop buntut yang pertama kali ia rasakan itu. Beningnya kuah, empuknya daging dan gurihnya bawang goreng yang menggoyang lidah. Jarang-jarang ia merasakan makanan seenak itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, banyak polisi lalu lalang di tempat itu. Vania yang penasaran bertanya ke Virna. "Ada apa sih ma, di daerah sana kok ramai sekali?"
"Di daerah sana ditemukan mayat anak kecil dikubur di sekitar tempat yang kamu tersesat kemarin Van. Alhamdulillah kamu kemarin tidak apa-apa ya" Ucap Virna bersyukur sambil memeluk Vania. "Deg! Berarti yang aku lihat kemarin beneran anak kecil itu sudah meninggal" Batin Vania.
"Pelakunya sudah ketemu ma?" Tanyanya.
"Sudah Van, pelakunya pamannya sendiri. Karena orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa bulan lalu, ia hidup berdua sama pamannya di gubuk itu. Tapi pamannya merasa dia jadi beban. Yah, akhirnya seperti itu. Semoga dia bahagia di sana dan berkumpul dengan orang tuanya." Cerita Virna panjang lebar.
Setelah kejadian itu, Vania selalu diawasi kemanapun oleh Virna kemanapun ia pergi.
Virna tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap putri semata wayangnya tersebut.
Vania ingat beberapa malam setelah kejadian itu, ia hampir setiap malam tidak bisa tidur. Ia teringat akan kejadian menyeramkan tersebut.
Seringkali Vania mencoba mengingat-ingat wajah pemuda yang menolongnya dahulu. Yang dia ingat hanya pemuda misterius tersebut mempunyai seperti tanda lahir berwarna hitam kehijauan agak besar sekitar 10cm di belakang lehernya. Vania sempat melihat sekilas tanda lahir itu saat ia membungkuk saat membalut kaki Vania dengan kaosnya.
Vania belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Ia berhutang nyawa kepada pemuda misterius tersebut. Bagaimana tidak, jika dia saat itu tidak ditolong oleh siapa-siapa. Bisa jadi nasibnya sama dengan anak kecil yang seperti akan dikubur itu.
"Van, Van.. Ayo bangun, sudah jam 4 sore lho" Kata Virna menggoyang kaki Vania.
Vania mengerjapkan matanya beberapa kali, ternyata ia tertidur sambil mengingat-ingat kejadian saat ia masih berumur 7 tahun tersebut.
"Jangan dibiasakan sebelum ashar ya, tidak baik buat kesehatan. Lebih baik tidur siang setelah sholat duhur saja. Atau nanti setelah sholat isya' kamu tidur duluan tidak apa-apa." Kata Virna.
"Iya ma, maaf tadi aku capek habis bikin masakan. Niatnya cuma rebahan sebentar, eh ketiduran." Ucap Vania berdalih.
Vania pun segera ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat ashar.
Setelah sholat, ia mandi supaya segar dan tidak mengantuk lagi.
Selesai mandi, ia tergoda dengan bau enak sesuatu yang familiar dihidungnya. "Wah, mama bikin tumisan rebung?" Ucapnya.
"Iya, mama mau bikin lumpia rebung sendiri. Mau bantuin nggak?" Kata Virna
"Mau dong, aku yang bantuin lipat aja. Kulitnya mana ma?" Tanya Vania
"Kulitnya kita bikin sendiri Van, ayo kamu belajar cara bikinnya." Jawab Virna.
"Kok gak beli aja sih ma? kan enak tinggal lipat-lipat terus goreng, hehe" Kata Vania
"Mama lebih suka bikin sendiri sih Van. Selain lebih hemat, kalau kita beli kulit yang sudah jadi, kita tidak tahu kebersihannya dan bahan-bahan yang digunakan. Karena sekarang lagi musim pancaroba seperti ini, kita harus selalu menjaga diri kita dan keluarga dari berbagai macam hal yang dapat menjadikan penyakit. Apalagi makanan ini untuk kita makan sendiri, jadi harus dengan bahan dan cara yang betul-betul higienis." Jelas Virna panjang lebar.
Mendengar itu Vania antusias ingin belajar memasak. Supaya bisa membuat masakan dan camilan yang enak, murah dan higienis seperti kata mamanya.
"Sip deh, aku belajar bikin kulitnya sekalian kalau gitu" Ucap Vania tertarik
Resep kulit lumpia
Bahan:
150 gram tepung terigu
15 gram tepung sagu
1 butir telur
350 ml air, santan, atau s**u (pilih satu jenis cairan saja)
1 sendok makan margarin atau minyak
Cara membuat kulit lumpia:
1. Campurkan semua bahan kulit lumpia, kecuali margarin aduk sampai rata. Masukkan air sedikit demi sedikit.
2. Panaskan teflon anti lengket dengan api sedang. Oleskan dengan sedikit margarin atau minyak. Tuang adonan kulit lumpia, kira-kira setengah sampai satu sendok sayur. Miringkan teflon dengan cepat, agar adonan menyebar rata.
3. Masak kulit lumpia dengan api kecil. Biarkan matang merata, tetapi jangan sampai terlalu kering. Angkat dan taruh di piring.
4. Ulangi proses sampai adonan habis.
Setelah pembuatan kulit selesai, Vania berkata "Ternyata tidak sulit ya ma membuatnya. Jadinya banyak juga"
"Iya, nanti kita bisa bikin sekalian banyak. Lalu sebagian disimpan di freezer untuk stok jika suatu saat ingin makan camilan. Tinggal goreng aja, praktis kan?" Kata Virna
"Siap ma, sekarang lanjut gulung isiannya ya. Eh tadi resep isiannya apa aja ma?" Tanya Vania.
Bahan Isian Lumpia Rebung
400 gram rebung, iris tipis memanjang
4 butir telur ayam, kocok lepas
200 gram daun bawang iris
6 siung bawang putih, haluskan
3 sdm minyak goreng
2 sdm kecap manis
Bahan Saus
200 ml air
50 gram gula merah
2 siung bawang putih
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan 2 sdm air
garam dan lada bubuk secukupnya
lada bubuk, kaldu bubuk, gula, dan garam secukupnya
Cara Membuat
Rebung yang diiris tipis memanjang, disangrai sampai tidak berair. Sisihkan.
Untuk membuat isian, panaskan minyak. Tumis bawang putih hingga harum. Masukkan telur, orak-arik, aduk rata. Masukkan irisan rebung dan daun bawang. Tambahkan garam, gula, lada, kaldu, dan kecap manis. Masak hingga air menyusut. Sisihkan dan biarkan dingin di suhu ruang.
Untuk membuat saus, rebus air. Masukkan bawang putih halus, gula merah, garam, dan lada bubuk. Tuang larutan maizena. Masak hingga mengental dan meletup-letup. Matikan api.
"Gak sulit kan masaknya? enak lagi dimakan saat suasana apa pun." Kata Virna
Vania melanjutkan memberi isian lumpia dan melipat kulitnya dengan rapi. Setelah itu ia sendirikan yang akan digoreng dan sisanya ditaruh food container plastik untuk ia simpan di frezzer. Saat baru selesai menggoreng lumpia, terdengar suara pintu ruang tamu dibuka.
"Assalamualaikum." Ujar Arsa, papa Vania baru pulang dari tempat kerjanya. Vania dan Virna langsung menyambut dan membawakan perkakas yang dibawa pulang papanya.
"Papa pas banget datangnya, aku sama mama barusan selesai bikin lumpia nih. Pasti enak pa dimakan sambil minum kopi." Kata Vania.
"Wah untung tadi papa cepet pulang, memang daritadi sudah kecium aromanya sampai bedak tempat papa kerja. Hahahaha.." Ucap Arsa bercanda.
Virna membawa nampan berisi lumpia dan secangkir kopi panas ke ruang tamu. Vania masuk ke kamarnya sambil bawa beberapa lumpia goreng yang masih panas. Ia memberi kesempatan orang tuanya untuk berduaan.