SOP BUNTUT

1064 Words
Vania mengingat masa kecilnya dahulu. Ketika ini masih berumur 7 tahun kelas 1 SD.Ia pernah tersesat di rumahnya yang lama saat masih di pinggiran kota. Saat ia bermain petak umpet dengan teman-temannya di sore hari. Tanpa sadar ia bersembunyi terlalu jauh, hingga saat menyadari ia tidak mengenal daerah tersebut. Ia mencoba memanggil teman-temannya dan meminta pertolongan dari orang disekitarnya. Tetapi tidak ada yang menyahut. Vania coba melihat sekeliling, ada beberapa rumah-rumah yang non permanen, seperti gubuk sawah. Ia mencoba mendekati salah satu rumah, dan mengintip ke dalam rumah tersebut melalui celah dinding yang sudah lapuk. Ia pun kaget, ada seorang memakai mantel hitam yang entah laki-laki atau perempuan yang sedang menggali tanah yang akan digunakan untuk mengubur anak kecil usia 4-5 tahunan yang pingsan ataupun sudah meninggal yang tergeletak di sebelah lubang tersebut. Vania mundur beberapa langkah dengan perlahan. Ia tidak ingin tertangkap oleh orang tersebut. Tetapi malangnya ia tidak melihat ada toples plastik dibelakangnya. Kakinya menginjak toples tersebut dengan suara keras dan ia pun terjatuh. Ia mencoba bangkit sendiri, tetapi Vania merasakan sakit sekali di pergelangan kakinya. Sepertinya kakinya terkilir. "Aaah sakit sekali" Tanpa sadar ia berkeriak. "Kreek" Suara pintu seng yang telah usang berderit dan terbuka. Sosok bermantel hitam keluar dari rumah itu. Hanya berjarak kira-kira 10 meter dengan Vania. "Tolooong, Tolooong" Vania berteriak sekuat-kuatnya. Ia berusaha bangkit, tetapi tidak bisa. Dan sosok itu semakin mendekat. Tiba-tiba dari belakang, ada seorang yang mengangkat dan menggendong Vania. Ia pun berlari dengan menggendong Vania di tangannya. "Tenang saja, jangan menangis aku akan membawamu ke tempat yang aman" Kata penolong Vania. Dari suaranya, sepertinya ia seorang pemuda berusia 16-17 tahunan. Ia terus berlari di antara rumah-rumah reyot tersebut. Vania melihat ke belakang sosok bermantel hitam itu masih mengejarnya tetapi tidak secepat lari pemuda tersebut. Mungkin karena pakaiannya yang membuat dia tidak bisa bergerak bebas. Saat itu Vania berhasil memandang sekilas wajah dari sosok bermantel hitam tersebut. Tetapi saat itu Vania terlalu takut untuk mengingatnya. Setelah berlari ke tempat yang aman, pemuda tersebut menurunkan Vania. Dan melihat sekitarnya, ada beberapa tanaman cocor bebek yang tumbuh liar. Ia mengambil beberapa helai daun cocor bebek, dan menumbuknya dengan batu sampai menjadi bubur. Dengan hati-hati, ia memegang kaki Vania. "Aduh sakit" Vania mengerang. "Coba tahan ya, ini bisa meringankan rasa sakit dan juga mengurangi bengkaknya." Sahut pemuda tersebut sambil mengolesi pergelangan kaki Vania dengan bubur daun tersebut. Setelah selesai mengolesi pergelangan kaki Vania, pemuda itu melepas bajunya dan menyobek lengan bajunya untuk digunakan sebagai pengganti perban di kaki Vania. "Biarkan dulu sampai kering, nanti baru bisa di basuh dengan air." Katanya "Vania.. Vania.. Kamu dimana?" Terdengar suara Virna memanggil putrinya. "Aku disini ma!" Teriak Vania sambil melambai ke Virna yang kebingungan mencarinya. Virna berlari dan langsung memeluk anaknya "Alhmadulillah kamu tidak apa-apa nak, mama daritadi mencari kamu. Teman-temanmu sudah pulang semua, mama khawatir takut kamu kenapa-kenapa" "Maaf ya ma, tadi aku main petak umpet sama teman-teman. Ternyata aku kejauhan sembunyinya, sampai aku ke tempat asing yang kumuh gitu ma." Vania mencoba menjelaskan, takut ia dimarahi Virna. "Ini kaki kamu kenapa sayang? kok diperban gini?" Tanya Virna saat melihat kaki Vania. "Tadi aku lari karena tidak tau arah ma. Lalu aku terjatuh dan kesleo. Untung ada kakak yang nolongin aku.Eh iya, mana ya dia?" Jawab Vania sambil melihat ternyata di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa selain dia dan Virna. Vania memilih untuk tidak menceritakan perihal peristiwa mengerikan yang ia lihat di gubuk tadi agar Virna tidak bertambah khawatir. Dan ia juga belum tahu peristiwa sebetulnya bagaimana dan siapa yang ia lihat. Daripada membuat kegaduhan yang tak berdasar. Ia memilih untuk diam saja. "Kakak siapa? Mama kesini tadi kamu sendirian kok. Dia bukan orang jahat kan? Aduh Van, lain kali kalau ditolong siapapun yang gak dikenal jangan mau ya. Mama takut kamu kenapa-kenapa." Tanya Virna yang semakin khawatir karena tau kalau Vania baru bertemu dan ditolong orang tak dikenal. "Iya ma, maafin Vania ya ma. Vania janji akan hati-hati" Jawab Vania. Ia tidak mau berdebat dengan ibunya. Dan hanya ingin segera menjauh dari tempat mengerikan tersebut. "Ya sudah, ayo pulang. Mama sudah masakin sop buntut buat kamu." Kata Virna. "Kok sop buntut sih ma, namanya lucu ya. Hehehe" Vania terkekeh karena kata buntut-nya. "Coba aja nanti, pasti kamu suka." Kata Virna sambil berjalan menggendong Vania karena takut kakinya yang kesleo masih sakit. "Udah lama ya gak di gendong mama. Sekali-sekali dong ma gendong gini walaupun aku nggak kesleo." Minta Vania. "Huuhhh kamu ini, kan kamu udah gede Van. Lumayan berat tau." Kata Virna sambil tersenyum tidak mengabulkan permintaan Vania. Sesampainya di rumah, Vania langsung menuju dapur dan membuka tudung saji di meja makan. Bau harum masakan langsung menyeruak. "Wahh laper, mau makan dong ma." Selera makan Vania memuncak karena lelah berlari tadi. Melihat itu Virna berteriak "Vania, kebiasaan deh kalau baru pulang main, cuci tangan dulu dong. Jangan biasain begitu, jorok tau. Tangan kamu kan banyak kumannya. Kalau kamu sakit perut, ntar yang di salahin masakan mama." Vania melengos, "oke ma." Ia pun mencuci tangan di wastafel sampai bersih. Lalu Vania bergegas mengambil piring dan lauk pauknya. Ada sop buntut, tempe goreng, pepes tahu plus sambel terasi (yang ini di skip). Ia mencoba sop buntutnya, "Hmmm rasanya enak ya ma, daging sapinya empuk banget" "Cara bikinnya bagaimana ma?" Tanya Vania. "Okee mama spill resepnya ya" Sahut Virna. Resep Sop Buntut Ala Mama Virna Bahan: ½ kg buntut sapi 4 siung bawang putih ½ sdm merica putih utuh 2 iris pala 3 biji cengkeh 3 siung bawang merah rajang 3 siung bawang putih rajang 1 tangkai seledri 2 tangkai daun bawang 1 buah tomat belah 2 Wortel potong dadu, rebus 2 Kentang potong dadu, rebus gula pasir dan garam secukupnya Cara membuat : 1. Langkah pertama untuk membuat sop buntut adalah didihkan air lalu masukkan buntut sapi, rebus hingga setengah mendidih, kemudian angkat dan tiriskan. 2. Setelah setengah direbus baru cuci dan bersihkan buntut sapi dengan air dingin mengalir. Setelah dicuci bersih, tambahkan air dingin secukupnya untuk merebus buntut sapi dengan api kecil. Rebus sampai mendidih kembali. 3. Sambil menunggu, haluskan bawang putih dan merica, setelah halus tumis dengan minyak secukupnya. Jika warna bumbu sudah agak cokelat muda, tuangkan dua gelas air lalu didihkan hingga mendidih. Kemudian masukkan dengan cara disaring ke dalam kuah buntut yang sudah mendidih. Tips : untuk mendapatkan kuah sop buntut yang jernih, sebaiknya daging buntut sapi yang mentah tidak dicuci saat akan direbus pertama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD