NUGGET TAHU

1018 Words
"Huuhhh dasar Ziva, malu kan dilihatin Ravel" Batin Vania sambil kembali ke tempat duduknya. Saat jam makan siang, teman sekelasnya ke kantin semua, termasuk Ziva. Vania sengaja tidak ke kantin karena sudah bawa bekal sendiri. Ia pun mulai buka bekalnya. Tanpa tahu di sudut kelasnya ada Ravel yang ternyata juga masih dikelas. Diam-diam ia memperhatikan Vania saat makan. Vania pun menoleh karena merasa ada yang memperhatikan. Pandangan mereka saling bertemu. Ravel pun tersenyum manis sekali. "Deg, deg, deg" Suara detak jantung Vania terasa semakin kencang. Baru pertama kali ini Ravel tersenyum kepadanya. Vania pun salah tingkah, mencoba untuk bersikap natural dan membalas senyum Ravel. "Kamu gak ke kantin?* Kata Ravel sambil berjalan mendekat dan duduk di kursi depan meja Vania dan membuat Vania semakin berdebar kencang. Batin Vania " Gila nih cowok, dari deket makin ganteng banget, wajahnya putih mulus cuma ada beberapa noda bekas jerawat tapi malah semakin kelihatan macho. Hidungnya yang berkomedo tapi tidak mengurangi ketampananannya, ah senangnya bisa sedeket ini" " Eh, enggak. Aku bawa bekal dari rumah. Jadi jarang jajan di kantin. Kamu sendiri kenapa gak ke kantin?" Kata Vania bertanya balik. "Lagi males aja, kayaknya jajanan di kantin gitu-gitu aja. Km bawa bekal apa nih?" Tanya Ravel yang tertarik dengan bekal Vania. "Ee,, ini tadi pagi aku bikin sama mamaku, namanya rendang ayam. Cobain deh enak kok. Ini aku punya sendok cadangan" Vania pun menawarkan bekalnya untuk dicoba Ravel. "Emang boleh? Nanti jatah kamu berkurang dong?" Kata Ravel basa-basi. Padahal daritadi ia ingin coba bekal Vania yang menggoda itu. "Boleh lah, aku tadi pagi udah makan banyak. Jadi gak terlalu laper banget. Nih cobain aja silahkan." Jawab Vania sambil mendorong kotak bekalnya ke arah Ravel. Ravel pun mencoba bekal Vania satu suap. "Wah enak banget ya, gak nyangka rendang ayam rasanya gak kalah sama rendang daging aapi" Ucap Ravel memuji bekal Vania. "Mama kamu pinter masak ya, keren" Tambahnya. Vania tersipu-sipu mendengar pujian Ravel. Beberapa temannya sudah ada yang kembali dari kantin, Ravel pun kembali ke twmpat duduknya semula. Setelah sebelumnya berterima kasih ke Vania. Ziva pun juga kembali dari kantin. Vania masih senyum-senyum sendiri dan pipinya memerah. Ziva menyadari ada yang gak beres sama sahabatnya tersebut. "Kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri? aku jadi takut ada yg gak beres nih" Katanya. "Ah enggak siapa juga yang gak beres. Memang kan wajahku vibes nya positif gitu. Hahaha" Kata Vania. "Gak jelas deh, nih aku bawain nugget tahu kesukaan kamu." Kata Ziva sambil memberi Vania 1 nugget tahu sisa dia jajan di kantin tadi. "Yahh kok cuma satu sih. Nanggung nih kalau mau ngasih" Kata Vania "Yaelah beb, untung-untungan aku kasih. Itu aja tadi karena aku makan kekenyangan. Hehe" Sahut Ziva sambil nyengir. "Dasar, aku dikasih nugget sisa dong. Gitu ya namanya temen?" Canda Vania yang dijawab tertawa saja sama . Walaupun bicara begitu dia tetap gigit nugget pemberian sahabatnya itu. "Enak juga nih nugget tahu ya. Nanti coba bikin ah pulang sekolah" Batin Vania Bel sekolah berbunyi, menandakan sudah waktunya pulang sekolah. Semua siswa antusias lagi untuk persiapan pulang sekolah. Begitu juga dengan Vania dan Ziva. Mereka membereskan bangku mereka dan bersiap untuk pulang. Saat sudah bersih dan akan pulang. Tidak lupa Vania mencuri pandang ke Ravel yang tetap bersinar walaupun seharian di sekolah. Ternyata pandangan mereka bertemu, dan Ravel pun tersenyum. Sungguh senyum yang sangat membuat hati Vania berdebar. Vania pun membalas senyum itu dengan antusias. Lalu Ia berjalan keluar kelas, melewati pintu gerbang. Dan menuju pedagang sayur sebelah sekolah. Ia membeli bahan-bahan untuk nugget tahu yang rencana akan ia bikin. Sampai dirumah, ia disambut mama Virna. "Ma, Aku mau bikin nugget tahu dong" Katanya. "Tumben-tumbenan sih, ada angin apa nih?" Ujar Virna heran. Biasanya Vania hanya membantunya saja saat akan masak. Tidak pernah ia inisiatif ingin memasak sendiri. "Gak ada apa-apa kok ma, memang Vania kan udah mulai dewasa. Jadi harus bisa masak walaupun sederhana" Kata Vania menyembunyikan keinginannya memasak untuk supaya bisa disanjung Ravel. Ia pun mulai mempersiapkan tahu yang tadi dibelinya, dan bumbu-bumbunya sudah tersedia di dapur rumahnya. Lalu searching di googl* untuk resepnya. Bahan nugget tahu 2 kotak tahu putih 1 buah wortel, parut 2 butir telur ayam 3 sdm tepung terigu 3 sdm tepung tapioka 5 siung bawang merah 4 siung bawang putih 1/2 sdt lada bubuk Daun bawang secukupnya, iris Kaldu bubuk secukupnya Garam secukupnya Bahan pelapis nugget 4 sdm tepung terigu, campur air sampai kental Tepung roti (tepung panir) secukupnya Cara membuat nugget tahu Masukkan tahu, wortel, bawang merah, bawang putih, lada, telur, garam, dan kaldu ke dalam blender. Haluskan sebentar. Jangan terlalu halus agar nugget bertekstur. Masukkan adonan ke dalam wadah, campur dengan daun bawang. Aduk rata. Kukus selama 15-20 menit. Bungkus panci pengukus pakai lap bersih agar uap air tidak menetes ke adonan nugget. Dinginkan nugget di suhu ruang. Potong kotak atau sesuai selera. Balut dengan tepung terigu dan air, kemudian gulingkan di atas tepung roti. Lakukan sampai adonan habis. Goreng nugget sampai kuning keemasan. Angkat dan tiriskan. Setelah hampir 1 jam di dapur, jadi juga Nugget Tahu ala Vania. Sebagian Ia goreng, sebagian lagi ia taruh di freezer kulkas untuk dijadikan bekal (ps: untuk Ravel) Ia pun mengagumi hasil karyanya sendiri "Wahhh jadi juga masakan aku. Ternyata kalau niat bisa juga ya bikin masakan kayak gini" Virna yang penasaran pun mengintip ke dapur. "Kamu masak apa sih Van? Kok antusias banget dari tadi sampai belum istirahat dan makan siang." "Hehe, ini ma kebetulan tadi siang aku dikasih Ziva nugget tahu dari kantin. Jadi pengen bikin sendiri buat bekal besok. Cobain deh ma, lumayan enak kok." Jawab Vania Virna mengambil satu nugget dari piring dan mencobanya. "Hmm, lumayan nih rasanya, keren kamu Van bisa bikin masakan sendiri juga sekarang." Pujinya. Vania tersenyum puas dengan hasil masakannya hari ini. Lalu membersihkan meja dapur dan membuang sampahnya ke tempat sampah besar depan rumah. Saat keluar rumah untuk membuang sampah, ia melihat ada mobil sport keren parkir di seberang jalan. Ia mengamati mobil tersebut "Keren sekali mobilnya, siapa yang punya mobil semahal ini di komplek ini ya?" Batinnya. Lalu ia masuk lagi kerumah dan ke kamar untuk beristirahat. Sambil tiduran di kasur, ia mengingat masa kecilnya dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD