Disana mereka mengantri lagi untuk mendapat informasi siapa yang telah tansfer uang 25jt tersebut.
Ziva mengambil nomor antrian dan Vania duduk di tempat tunggu yang telah disediakan.
Suasana di bank tidak terlalu ramai, hanya ada 4 orang yang antre sebelum Ziva.
Sampai dimana nomor antrian Ziva disebutkan, Ia pun menuju meja teller dan menyampaikan keperluannya.
Teller bank mempersilahkan ZIva menunggu dan mencermati rekening koran yang dibawa Ziva untuk mencari informasi yang diperlukan.
Vania melihat dari tempat duduknya, mereka bercakap-cakap sebentar dan lalu Ziva pun ke tempat Vania dan duduk disebelahnya. Wajahnya tidak menunjukkan kepuasan.
"Gimana Zi ?" Tanya Vania penasaran.
Ziva menggelengkan kepalanya. "Gak bisa Van, dia setor tunai dan di keterangan penyetornya hanya ditulis HAMBA ALLAH. Jadi malah bikin penasaran."
"Ya mungkin aja dia memang ikhlas bantuinnya. Zaman sekarang masih ada ya orang bantu tanpa berharap timbal balik seperti itu." Kata Vania.
***
Di sekolah
Jam istirahat telah berbunyi. Ravel seperti biasa tidak ke kantin, ia mengeluarkan komik yang dibawa dari rumah dan membacanya.
Vania curi-curi pandang kearahnya sambil membersihkan tempat telor gulung yang sudah habis tak bersisa. Ia menghitung uang hasil dagangannya dan bersyukur hari ini telur gulungnya laku 130ribu.
Ia membawa bekal lumpia rebung yang telah dibuat di episode sebelumnya. Tetapi ia malu untuk mendekati Ravel.
Belakangan ini, sikap Ravel tidak lagi ramah ke Vania.
Ia jadi sering diam, cuek dan misterius seperti sebelumnya.
Saat ingin menawarkan bekalnya ke Ravel, tiba-tiba Risa masuk kelasnya dan duduk di depan bangku Ravel dengan dandanan yang sangat wah.
Rambutnya dipanjangkan menggunakan Hair extension culry warna coklat tua. Poninya di atur sedemikian rupa sehingga pas dengan model rambutnya. Make upnya cukup mencolok dengan cushion beige dan lipstik warna coral. Cukup menambah kecantikan wajahnya yang sebetulnya tanpa make up pun juga sudah cantik.
"Haiiii Ravel, lagi ngapain niih?" Katanya dengan keceriaan yang dibuat-buat. Tangannya disembunyikan di belakang punggungnya.
Ravel tidak menjawab, hanya melihat sekilas lalu membaca komik lagi.
"Kemarin mamaku pulang dari Perancis, nih aku bawain oleh-oleh buat kamu." Katanya sambil menyodorkan kotak coklat yang sebelumnya disembunyikan di belakang punggungnya.
"Oke makasih ya." Jawab Ravel cuek sambil menerima kotak coklat yang di berikan Risa.
"Cobain dong vel, enak lho."
"Masih kenyang"
"Kan coklat gak bikin kenyang, hmm, padahal aku udah bawain khusus untuk kamu lho." Desak Risa.
"Ya kan aku nggak minta. Lain kali gak usah dibawain" Ravel mulai risih karena Risa mengganggu kegiatan baca komiknya saat seru-serunya.
Ia sedang membaca komik Detective Conan karya Gosho Aoyama yang terkenal. Saat conan yang sedang bersembunyi dan hampir ketahuan oleh kawanan baju hitam.
Risa pun mulai berkaca-kaca karena keinginannya tidak terpenuhi, malah dijawab dengan ketus oleh Ravel.
Dari pintu kelas masuk teman-teman Risa, Devi dan Sera.
Ia menenangkan Risa yang sedih, "Jangan gitu dong ke cewek, tega banget sih." Kata Devi.
"Ayo Ris, kita keluar aja. Percuma disini ada cowok s*nting!" Kata Sera nyolot sambil menggandeng tangan Risa.
Risa melirik sekilas ke arah Vania yang masih kaget dengan kejadian tersebut.
Ia ingat kalau Vania adalah cewek yang beberapa hari lalu dekat dengan Ravel. Lalu ia mendekat ke bangku samping Ravel yang kosong.
Risa menganggap kalau cueknya Ravel karena ada Vania.
"Apaan sih, kok malah disini?" Ujar Ravel sebal.
Cup.. Tanpa aba-aba Risa berani mencium pipi Ravel.
"Hei !! lu ngapain barusan ?" Ravel yang kaget marah sekali ke Risa.
"Hahaha, jangan cuek-cuek dong. Lain kali boleh dong jalan bareng." Kata Risa sambil tertawa.
"Ogah ! awas lu berani kayak gitu lagi."
Risa hanya tertawa sambil berjalan keluar kelas dengan Devi dan Sera.
Diluar kelas mereka heboh "Ris lu berani banget sih sampai cium Ravel. Lu tau kan Ravel orangnya kayak gimana." Kata Sera.
"Guys, kalian tau kan tadi di kelas ada siapa? Si cewek yang kapan hari kita intipin sedang berduaan sama Ravel. Dan dia ramah banget sama tuh cewek. Makanya tadi gue penasaran gimana jadinya kalau Ravel gue cium. Ya lumayan sekalian dapetin pipi mulusnya Ravel. Hahaha." Jelas Risa sambil tertawa.
"Ooohh iya gue inget, itu cewek yang waktu itu ya." Devi baru sadar kalau Vania cewek yang dimaksud Risa.
"Hahaha, lumayan juga ide lu Ris. Pasti tuh cewek sekarang ilfeel sama Ravel. Dan saingan kita berkurang deh." Lanjutnya.
Di kelas, Ravel masih kaget Risa seberani itu. Tangannya masih memegang pipinya dan wajahnya merah padam.
"Dasar cewek gak jelas." Gumamnya. Lalu ia meneruskan membaca komiknya yang sempat terganggu.
Tanpa disadarinya, Vania memendam amarah melihat semua kejadian itu.
Ia ingin memarahi Risa, tetapi ia tidak mempunyai hak untuk itu. Dan itu membuatnya semakin marah dan tanpa terasa matanya berair.
'Dasar cewek gat*l, aku aja belum pernah pegang-pegang Ravel. Dia malah berani-beraninya cium pangeran aku.' Batin Vania memendam amarah.
Ia pun membuka kotak bekalnya dengan tanpa berselera. Padahal tadi ia lapar sekali.
Mau diberikan kepada Ravel, Vania juga minder. Karena tadi Ravel sudah dapat coklat dari Perancis. Jelas kalah jauh lumpia rebungnya.
Akhirnya ia memutuskan membawa kotak bekalnya ke kantin.
Ia berjalan keluar kelas.
Saat melewati bangku Ravel. "Hei, kayaknya kamu butuh ini" Kata Ravel sambil menyodorkan saputangannya. Sepertinya ia sadar kalau Vania menangis.
Vania pun malu dibuatnya, "Jangan salah paham ya, ini gak ada hubungannya dengan kamu."
Lalu ia berlari keluar kelas, ia memikirkan kata-katanya tadi.
"Ngapain aku ngomong kayak gitu sih, bod*h kelihatan banget kalau salting jadinya" Katanya sambil memukul kepalanya sendiri.
Ia melanjutkan ke kantin untuk menenangkan pikirannya. Sambil masih menyesali kebodohannya.
***
Di rumah Vania
Pulang sekolah, ia mencium bau harum dari dapur rumahnya.
Waahh, ia kenal aroma itu. Masakan yang selalu membuatnya ingin menghabiskan nasi satu magic com.
Ia pun langsung menuju dapur untuk melihat masakan ibunya.
"Mama,, aku tahu aroma masakan ini. Rawon kan?" Katanya.
"Betul Van, hari ini mama masak Rawon telur dan labu siam." Kata Virna.
"Kok bukan pakai daging ma?" Tanya Vania.
"Iya, soalnya stok telur masih banyak, trus mama inget kalau kamu suka rawon, yaudah mama bikinin rawon telur aja. Cobain deh, gak kalah sama rawon daging kok."
Setelah cuci tangan, Vania langsung mengambil nasi dan mengambil rawon telur yang sudah matang.
iya makan dengan agak terburu-buru karena lapar. "Hmmmm enak banget, bumbunya meresap, gak kalah sama rawon daging. Mau dong spill resepnya."
Gampang Van, jadi gini resepnya.
Rawon Telur ala Mama Virna
10 butir telur ayam
1 buah labu siam
2 cm lengkuas
2 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1 batang serai, dimemarkan
1 1/2 sendok makan gula
2 sendok teh garam 600 ml air untuk merebus
1 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Bumbu Halus
2 sendok teh ketumbar disangrai
3 buah keluak
5 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 cm kunyit
Cara membuat :
1. Tumis bumbu halus, lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan serai hingga harum. Masukkan labu siam dan telur yang sudah direbus.
2. Tambahkan garam, gula, dan air. Masak dengan api kecil sampai bumbu meresap ke dalam telur. Siap disantap.
"Sudah gitu aja cara masaknya Van." Jelas Virna.
Vania mendengarkan sambil melahap habis makanannya. Gurihnya kuah rawon berpadu dengan rasa manis dari telur dan labu siam. membuat Vania melupakan sejenak kekesalannya tadi di sekolah.
Tring, notif di hapenya berbunyi. Ada chat di aplikasi chat hijau...