Devan sepulang dari tempat karaoke langsung menemui kakaknya yang sudah berada di kamarnya.
‘’Kak, apakah aku boleh masuk?’’ tanya Devan sembari mengetuk pintu.
‘’Masuklah, pintunya tidak dikunci,’’ jawab Yuta.
Begitu Devan masuk langsung terkejut, sebab meskipun kakaknya berada di kamar tapi tetap masih membawa laptopnya untuk mengurus pekerjaan.
‘’Ada apa?’’ tanya Yuta menutup laptopnya.
‘’Kak, bisakah mulai besok aku ikut bekerja?’’ tanya Devan sudah yakin.
‘’Kamu kalau butuh uang tinggal bilang saja, dan sebaiknya kamu fokus sekolah terlebih dahulu,’’ jawab Yuta tegas.
‘’Tapi aku ingin membantu kakak, setidaknya aku ingin mneghamburkan uang dari hasil jerih payahku sendiri,’’ balas Devan tak kalah keras kepalanya.
Yuta terkejut, sebab ini sama sekali tidak seperti adiknya yang biasanya sangat pemalas.
‘’Kakak senang kamu bisa berubah pikiran seperti ini, tapi kamu sebentar lagi mau ujian. Jadi sebaiknya setelah lulus SMA kamu bisa kuliah sambil membantu kakak bekerja,’’ ucap Yuta.
‘’Tapi kak…’’
Belum sepat melanjutkan ucapannya Devan sudah dibantah oleh kakaknya.
‘’Tidak ada tapi-tapian Devan, kamu harus patuh pada kakak. Semua ini demi kebaikan kamu juga. Sebaiknya fokus belajar agar bisa lulus, lihatlah nilaimu itu hancur semua. Bahkan kakak ragu apakah kamu bisa lulus apa tidak,’’ sergah Yuta tak bisa diganggu gugat.
‘’Baiklah, Kak,’’ jawab Devan tak mampu berkutik lagi.
Devan kembali ke kamarnya, dan memikirkan cara lain untuk mencari pekerjaan yang tidak mengganggu sekolahnya.
*******************************
Pagi harinya seperti biasanya, jika Desty menginap di kontrakannya maka sebelum berangkat sekolah mereka akan mampir ke rumah Desty terlebih dahulu untuk mengambil buku pelajara dan berganti seragam sekolah.
‘’Des, bisakah cepat sedikit? Aku takut kita terlambat lagi,’’ pinta Lintang.
‘’Santai saja, jam pertama kita kosong karena gurunya sedang absen menunggu istrinya yang mau lahiran,’’ jawab Desty santai.
‘’Kamu kok tahu?’’ tanya Lintang yang baru saja mendengar kabar tersebut.
‘’Kemarin sore Adit yang bilang, kamu kan sedang di luar,’’ jawab Desty.
‘’Oh,’’ balas Lintang tersenyum sendiri.
Setelah selesai mereka segera berangkat sekolah, sesampainya di parkiran mereka mendengar Devan dan Adit yang tengah mengobrol berduaan.
‘’Dit, bisakah kamu mencarikan pekerjaan untukku?’’ tanya Devan.
‘’Kamu bekerja?’’ pekik Adit terkejut.
‘’Iya, aku ingin Bunga berhenti dari pekerjaannya dan aku akan memberinya uang bulanan. Tapi sayangnya dia tidak mau menerima uang yang bukan dari jerih payahku sendiri,’’ jawab Devan.
‘’Wah, kamu sudah dimabuk cinta rupanya. Tapi Bunga itu hebat juga ya mampu merubah sifat pemalasmu,’’ujar Adit.
‘’Jangan banyak bicara lagi, cepat carikan aku pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku!’’ sergah Devan kesal.
‘’Kakak kamu kan bos besar, kenapa tidak bekerja di perusahaan kalian saja?’’tanya Adit heran.
‘’Niatnya sih begitu, tapi kakak sama sekali tidak mengizinkan karena sebentar lagi ujian,’’ balas Devan resah.
‘’Apa yang kakakmu bilang itu benar, sebaiknya kamu fokus belajar biar lulus sekolah,’’ bujuk Adit.
‘’Tapi harga diriku mau ditaruh di mana? Aku sudah terlanjur janji pada Bunga,’’ sela Devan tak ingin menyerah.
‘’Tapi kalau aku pikir dia tidak serius padamu, pikirkan saja! Gadis yang bekerja sebagai pemandu lagu kebanyakan mata duitan, asal dapat duit dia tidak akan peduli asalnya dari mana. Lah ini malah dia ingin menantang kamu untuk menghasilkan uang sendiri, ini bukti jika dia hanya menolak kamu secara halus,’’ duga Adit.
‘’Kamu salah, justru karena dia serius padaku jadinya dia ingin memastikan apakah aku sosok pemuda yang tanggung jawab atau tidak,’’ balas Devan tidak terima.
‘’Terserah kamulah, ayo kita ke kelas dulu,’’ jawab Adit yang sudah malas berdebat.
Setelah Devan dan Adit meninggalkan terpat parkiran, Lintang dan Desty baru muncul dari tempat persembunyian di balik mobil kepala sekolah.
‘’Wah, aku tidak salah dengar kan? Ternyata Devan sudah jatuh cinta beneran padamu,’’ ucap Desty senang.
‘’Bukan padaku, melainkan pada Bunga,’’ balas Lintang tertawa.
‘’Tapi kan Bunga juga kamu,’’ sergah Desty.
‘’Baiklah, ayo kita masuk ke kelas. Dan bagaimana sikap Devan padaku yang berpenampilan seperti ini,’’ ucap Lintang.
Dan benar saja, baru saja mereka berdua masuk ke dalam kelas Sudha mendapat sambutan kehormatan dari Devan.
‘’Ya ampun, kenapa tiba-tiba mataku pedih begini? Padahal tadi biasa-biasa saja,’’ sindir Devan.
‘’Hey, Devan. Apa maksudmu bicara seperti itu?’’ bentak Desty.
‘’Apanya yang maksudmu? Aku juga tidak berbicara denganmu. Aku hanya sedang mengeluh melihat sesuatu yang merusak pemandangan,’’ sergah Devan.
‘’Kamu menyindir Lintang kan?’’ tanya Desty dengan nada kasar.
‘’Kalau iya kenapa? Salah sendiri jadi cewek kok norak dan jelek seperti itu. Lihatlah kelas kita, semua tampak cantik, hanya dia sendiri yang merusak keindahan kelas kita,’’ jawab Devan.
Seisi kelas tertawa, apalagi suara murid perempuan. Mereka begitu bangga dikatakan cantik oleh Devan.
‘’Devan, aku pastikan suatu saat nanti kamu akan menyesal dengan ucapanmu ini!’’ ancam Desty sudah emosi sampai ubun-ubun.
‘’Menyesal? Maksudmu aku akan jatuh cinta pada Lintang? Haha… Tunggu sampai hujan berlian ya, hal itu baru akan terjadi,’’ ejek Devan.
‘’Baiklah, kita lihat saja nanti. Dan seisi kelas yang akan menjadi saksinya, jika suatu saat kamu akan menelan ludahmu sendiri,’’ balas Desty.
‘’Des, sudahlah. Jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak penting. Sebaiknya kita ke kantin saja sarapan,’’ bujuk Lintang menahan rasa malu.
‘’Kamu benar, yuk abaikan orang yang tidak penting,’’ jawab Desty.
‘’Kalian tuh yang sok penting,’’ balas Devan.
Lintang segera menyeret Desty keluar dari kelas.
‘’Sumpah ya, rasanya aku tuh ingin menyobek mulut Devan. Coba kalau dia tahu jika Bunga adalah kamu pasti dia akan bunuh diri menyesalinya,’’ ujar Desty.
‘’Iya, akupun juga lebih kesal karena yang ditargetkan adalah aku. Hanya saja untuk saat ini identitas aku tidak bleh sampai terbongkar. Kecuali setelah selesai ujian setidaknya aku sudah aman,’’ balas Lintang.
‘’Kamu kok sabar banget sih menghadapi orang seperti Devan, tanganku saja sangat gatal ingin menamparnya,’’ ucap Desty heran.
‘’Mau bagaimana lagi, aku melawan juga akan semakin dipermalukan. AKu bukanya sabar, hanya saja memang aku tidak bisa lari dari kenyataan ini,’’ balas Lintang.
Desty sangat kasihan pada sahabatnya, padahal Lintang bukan seseorang yang suka mengganggu orang lain.
Sesampainya di kantin beberapa teman sekelas perempuan masih saja memandang Lintang hina karena ejekan Devan tadi. Apalagi Lita, gadis itu tampak begitu puas.
‘’Lintang, aku sarankan kamu berdandan sedikitlah dan memakai seragam yang bagus. Kata Devan itu benar, semua tanpak cantik dan indah. Hanya kamu saja yang membuat kelas kita terlihat aneh,’’ ujar Lita kalem tapi menyakitkan.
‘’Iyakah? Tapi setahuku kelas kita justru terkenal paling terbelakang karena otak seperti Devan dan kamu yang sering mendapat peringkat rendah. Aku sarankan juga kamu seger belajar, walaupun kau ini tidak cerdas seperti Kintang tapi setidaknya nilaiku tidak separah kamu dan Devan,’’ balas Desty menyeringai.
Lintang hanya menahan tawa, sebab Lita memang pandai berdandan tapi soal pelajaran masih kalah dibanding Desty.
‘’