7 HUJAN BADAI

902 Words
12 tahun yang lalu… Cimut tengah bergelung di dalam selimutnya sambil meringkuk ketakutan. Malam itu hujan deras sekali dan terdengar bunyi petir serta suara guruh yang saling bersahutan tanpa henti. Dari dulu, Cimut paling takut dengan suara-suara keras. Apalagi bunyi petir yang suka datang mendadak dengan suara sekencang-kencangnya. Setelah beberapa saat, ia tak tahan lagi. Dibukanya selimut dan ia langsung turun ke bawah untuk mencari papa mamanya. “Paaaaaaaaa………” “Maaaaaaaaa…….” “Temenin Cimuttttttttttt….. takuttttttttttt……” Nafasnya terengah-engahnya begitu kakinya sampai di lantai bawah. Tapi, pemandangan berikutnya, membuat lehernya tercekat. Ayahnya baru saja masuk ke dalam ruangan sambil membawa seorang anak remaja laki-laki masuk ke dalam rumah mereka. Matanya kuyu tanpa gairah. Tubuhnya basah kuyub. Pertanda kalau pemuda tersebut baru saja hujan-hujanan barusan. Badan papa Adrian juga basah tapi tidak separah remaja di sebelahnya. “Cimut, malam ini kamu ditemani oleh papa dulu ya? Mama harus menemani Ragata. Kasihan, kedua orangtuanya baru meninggal dunia…” Cimut hanya mengangguk lemah. Dengan patuh, ia kembali melangkah ke atas bersama papa Adrian sementara ibunya sibuk menyiapkan baju ganti untuk Kak Raga. Pertemuan malam itu, mengubah cerita mereka berdua selamanya. ………………………………………………………………………………………………………………………. #CIMUT POV# Gue baru tahu kalau kedua orangtua Kak Raga meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat saat mereka sedang dalam perjalanan dinas ketentaraan. Ayah Kak Raga adalah seorang prajurit militer berpangkat mayor jenderal sementara ibunya bertugas sebagai perawat di rumah sakit militer. Saat itu, mereka berdua dalam perjalanan menuju ke sebuah daerah pedalaman untuk menyalurkan bantuan medis dan obat-obatan untuk para penduduk local di sana. Sayangnya, terjadi sebuah kesalahan membaca arah dari pilot pesawat yang mereka tumpangi serta mengakibatkan seluruh penumpang tewas seketika akibat pesawat menabrak sebuah gunung batu yang tertutup kabut. Kak Raga menghadapi kedua peti mati orangtuanya dengan tegar. Matanya berkaca-kaca tapi tak ada satupun air mata yang jatuh menetes ke pipinya. Ketika kedua peti mati itu pun sudah terkubur dengan lapisan tanah merah di atasnya, ia tetap diam tak bersuara. Aku masih berusia 8 tahun saat itu. Kak Raga berusia 14 tahun. Kami berdua hanya berbeda 6 tahun tapi nasib kami jauh berbeda. Papaku mengenal keluarga Kak Raga karena keluarga kami tinggal di kompleks yang sama. Keluarga Kak Raga baru pindah ke area kompleks kami dari sejak 2 tahun yang lalu dan karena papaku bertugas sebagai ketua RT, ia sangat akrab dengan semua warga. Terutama keluarga Kak Raga yang berasal dari dunia militer. Kak Raga sendiri sering ditinggal dengan pembantunya yang sudah tua. Bi Enna namanya. Tapi kelihatannya ia sudah cukup terbiasa dengan hal tersebut. Dibandingkan denganku, ia sangat mandiri dan bertanggungjawab untuk mengurus semua keperluannya tanpa bantuan siapapun. Ia menaiki sepedanya setiap kali pergi bersekolah, ia belajar sendiri tanpa bantuan les privat dan juga sesekali membantuku belajar di rumah kalau ada pelajaran yang tidak kumengerti. Terutama matematika, fisika dan kimia. Kami cukup dekat dan setiap kali kedua orangtua Kak Raga pulang dari tugas dinasnya, mereka selalu berkunjung ke rumah kami untuk mengobrol panjang lebar sambil memberikan oleh-oleh. Terus terang, kematian kedua orangtua Kak Raga sangat mengejutkan bagi kami semua tapi kami juga sadar kalau hidup dan mati semua orang berada di dalam tangan Tuhan semata. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Awalnya, Kak Raga direncanakan untuk tinggal bersama salah satu kerabatnya tapi karena ia bersikeras untuk tetap tinggal di Bandung sampai selesai ujian nasional jadilah ayahku membuat kesepakatan dengan pihak kerabatnya untuk bertindak sebagai wali sementara bagi Kak Raga sampai ia lulus SMU dan cukup dewasa untuk menentukan langkah hidupnya sendiri di depan nanti. Setelah kesepakatan tersebut, rumah keluarga Kak Raga lalu dijual dan hasilnya dibagi dua di hadapan notaris. Yang sebagian diberikan untuk pihak kerabat tapi yang setengahnya lagi digunakan untuk membiayai sekolah dan biaya hidup Kak Raga selama di Bandung seperlunya sampai ia berusia 17 tahun dan mengklaim sendiri sisa uang warisan kedua orangtuanya. Beberapa hari kemudian, Kak Raga pindah ke rumah kami. ………………………………………………………………………………………………….. Gue berharap kalau hari ini tak pernah selesai. Genggaman tangan Kak Raga terasa begitu hangat dan nyaman. Meyakinkanku kalau bersama dengannya, aku pasti aman terlindungi. Gue menutup mata. Berusaha untuk merekam momen ini. . #ENRICO POV# Gue tersenyum sinis saat melihat Raga dengan santainya menggenggam tangan tunangan gue saat berada di dalam bioskop. Ha! Masih mencoba untuk mencari kesempatan di saat Cimut sudah ditakdirkan untuk menjadi milik gue, Ga? Gue tertawa dalam hati. Silakan! Silakan nikmati momen kalian bersama sebelum beberapa bulan lagi Cimut menjadi milikku sepenuhnya! Dan, gue bisa menikmati keindahan tubuhnya ketika ia menjerit-jerit keras di bawah tindihan tubuhku ketika pernikahan kami sudah selesai. Dan, Cimut tak mungkin bisa lepas dari genggaman tanganku karena aku menyimpan aibnya. Senjata rahasia yang akan kugunakan kalau-kalau ia menolak menikahiku. Haha…. . #NICOLE POV# Hati gue menjerit perih ketika aku melihat kedua tangan Raga dan Wina saling bertautan dengan erat di sebelahku. Gue ingin mengamuk sejadi-jadinya tapi tak berdaya. Ini tempat umum. Di dalam bioskop pula. Gue hanya bisa menghela nafas panjang dengan berat hati. Gue menggigit bibir bawahku sekeras mungkin. Berusaha untuk menahan pedih dan panas yang teramat sangat. Cemburu. Sia-siakah perjuanganku selama ini? Gue udah memendam rasa sama Raga dari 7 tahun yang lalu. Tanpa dia tahu dan sadari, gue udah menjadi salah satu penggemar rahasianya. Kepala gue terfokus ke layar bioskop di depan gue. Tapi otak gue ngga. Kepala gue sibuk memutar ulang memori ke sebuah momen di masa lalu. Sebuah masa dimana akhirnya aku menyadari apa arti kata cinta di hidup gue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD