6 DOUBLE DATE (2)

1542 Words
Mall Atlas Mata Cimut kerayapan mencari seseorang. Duduknya gelisah sementara salah satu tangannya sibuk memainkan sedotan dari minuman dingin yang dipesannya tadi. Dari bahasa tubuhnya, terlihat jelas kalau gadis itu sedang menunggu seseorang. Sedangkan pria tampan berpenampilan menarik yang duduk di sampingnya hanya duduk santai sambil bersiul-siul kecil menyaksikan kelakuan tunangannya tersebut. “Tenang saja, Sayang. Mereka berdua pasti datang koq…” “Iya, ok. Gue santai koq…” balas Cimut sambil tersenyum simpul sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia berusaha untuk tetap rileks padahal jantungnya sudah berdebar tak keruan. Enricolalu memberikan kecupan kecil di dahinya sebagai tanda sayang untuk menenangkan gadis tersebut. Hhhh… Cimut menghela nafas panjang. Tak biasanya Kak Raga telat begini. Ia adalah orang yang sangat disiplin dan tepat waktu. Cimut lalu melihat ke arah jam tangannya. Sudah lewat 20 menit dari waktu perjanjian mereka. Mungkinkah? Sebuah bayangan liar mulai menari-nari di dalam benak Cimut. Cimut langsung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir fantasi liarnya. Tidak! Tak mungkin! Kak Raga bukan orang seperti itu pikirnya. “Hai hai… “ Sebuah suara lembut sejernih kristal menyapa Cimut dan Enrico yang sedang duduk dengan sabarnya di Wings Paradise. Sepasang pria dan wanita berpenampilan sempurna lalu duduk di hadapan mereka. Melihat kehadiran Nicole di hadapannya, Cimut langsung tercekat. Bibirnya mendadak terasa kering. #CIMUT POV# SEMPURNA!!! Hanya satu kata itu yang terpikirkan olehku saat melihat kehadiran gadis ini di sebelah Kak Raga. Memang tepat seperti apa yang dirumorkan oleh semua orang. Penampilan gadis ini benar-benar tanpa cacat cela! Ia tinggi semampai dan cantik sekali! Sangat pas ketika berada di samping Kak Raga saat mereka berdua berdiri berdampingan. Kulitnya yang putih berbanding kontras dengan bibirnya yang berwarna merah muda dan wajahnya yang terlihat oriental dengan campuran dari ibunya yang berdarah Prancis, berpadu sempurna membentuk kontur mukanya. Seorang gadis Asia dengan sentuhan indo. Sementara Kak Raga hari ini tampak tampan sekali padahal ia hanya berpakaian kasual dengan kemeja lengan pendek biasa dan celana jeans biru yang gue tahu pasti ia beli dengan harga obral di Pasar Kemanggi. Tempat favorit kami berdua kalau berburu baju-baju murah tapi berkualitas bagus saat kami sedang cekak. Saat ini, di mataku, Kak Raga benar-benar terlihat seperti seorang calon pengusaha muda yang sukses. Ya Tuhannnn… kenapa gue jadi ingat masa lalu?? ……………………………………………………………………………………….. Mata Cimut langsung berkaca-kaca. Tapi ia berusaha menahan dirinya dan memaksakan senyum. Dengan segera, ia langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan. “Hai, namamu Kak Nicole ya? Gue sudah banyak mendengar berita tentang kakak. Dan, benar…kakak memang ternyata cantik sekali…” Nicole langsung tersenyum manis saat mendengar pujian dari mulut Cimut. “Ah, terima kasih. Kamu yang bernama Wina bukan? Raga sering banget cerita soal kamu. Seperti dugaanku, kamu memang manis dan menggemaskan…” Wina hanya tersipu malu saat mendengar pujian balik yang dilontarkan oleh Nicole. “Ah, kakak bisa saja….” Sementara Raga tidak banyak bicara dan hanya melihat-lihat buku menu. “Sooo.. kita jadi mau pesan makan apa sekarang?” tanya Enricotanpa basa basi kepada Raga dan Nicole. Enrico sendiri tampak lebih akrab dengan Nicole karena mereka berdua berasal dari almamater SMP yang sama dulu. “Ehmmm….” Mata Cimut sibuk membaca dan mulai memilih menu dari daftar yang terpampang di hadapannya. Sebelum Enricotiba-tiba menyela, “Gimana kalau kamu pesan Caesar salad aja, Win? Kita kan bentar lagi mau nikah. Jadi kamu juga harus jaga penampilan. Tuh, lihat.. pipi kamu udah mulai tembem lagi…” “Uh… oh…” Wina gelagapan. Akhir-akhir ini sejak ia pulang ke Indonesia, mamanya selalu memasak makanan kesukaannya akibatnya berat badannya sedikit banyak mulai bertambah cukup drastis. Untuk gadis tipe Wina yang memang gampang naik berat badannya, indikasi paling jelas biasanya langsung terlihat di pipinya. Sementara 5 bulan dari sekarang, ia akan segera menikah dengan Dion. “Ok, gitu aja ya? Biar gue pesankan untukmu…” Tapi sebelum Enrico memanggil pelayan dan mengangkat tangannya, Raga tiba-tiba menyela. “Sebaiknya jangan deh…” “Gue menyarankan kamu untuk memilih menu steak atau potato steamed cheese rendah lemak untuk makan siang kalau memang tujuannya menjaga berat badan…” kata Raga lagi sambil matanya tak lepas membaca setiap detil baris menu yang ada di tangannya. Ketiga orang yang ada di meja langsung melotot lebar ke arah Raga, tapi pria itu terlihat tak peduli sama sekali. “Cimut alergi telur.” katanya lagi dengan acuh sambil menaruh buku menu di atas meja. “Kau kan tunangannya. Masa begitu saja tak tahu sih?” tuduh Raga bernada sewot. Matanya dengan tajam memandang ke arah Enrico yang sedang tersenyum dengan santainya. Nicole dan Cimut gelagapan. Mereka berdua bisa merasakan hawa perang testoteron yang sedang terjadi saat ini. “Uh… iya, benar. Gue alergi telur. Maaf gue tidak memberitahukanmu sebelumnya..” kata Cimut sambil menepuk pundak Enrico untuk mencairkan suasana. “Begitu? Maaf gue tak tahu..” balas Enrico sambil mengacak rambut Cimut dengan gemas. Sepenuhnya mengabaikan Raga yang tengah memandang ke arah mereka berdua dengan tatapan sepanas Dewa Neraka. Nicole langsung menggigit bibir bawahnya dengan gugup. …………………………………………………………………………………………… #RAGA POV# BANGSAT!!!! Begitu gue dan Nicole sampai serta ketemu Cimut dan pasangannya, darahku langsung mendidih ke ubun-ubun. KAMPRET!!! Itu Enrico Saputra!! Idola cowok paling popular semasa Cimut waktu SMU dulu!!! Ketua OSIS, kapten regu basket serta salah satu siswa teladan di SMU Purna Bangsa. Raga masih ingat benar betapa Cimut dulu memuji dan memuja pria itu sebagai satu-satunya cowok yang dianggap paling keren di matanya. Mulut gadis itu penuh dengan sanjungan dan pujian tanpa henti yang dialamatkan pada seorang Enrico Saputra. Dulu, Raga tak pernah ambil pusing dengannya karena ia menganggap kalau perasaan Cimut pada Enricohanyalah sebatas cinta monyet saja. Cinta anak remaja yang masih labil. Masih bisa termakan rayap dan usia. Tapi, kini di hadapannya, mimpi buruk terbesarnya malah menjadi kenyataan. Cimut dan Enrico malah bertunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah!! Raga menggeram kesal dalam hatinya. Pernikahan ini sudah diatur oleh kedua orangtua mereka. Tepatnya oleh almarhum papa Adrian sebelum ia meninggal dulu serta Oom Sasongko yang merupakan teman baik dari papanya Cimut. Lalu, keduanya sama-sama berasal dari keluarga berada. Jika Papa Adrian memiliki bisnis yang bergerak di bidang perkebunan dan ekspor agrobisnis, keluarga Oom Sasongko memiliki bisnis di bidang kontraktor bangunan. Istilahnya, batu berlian yang bertemu dengan cincin emasnya. Kalau Raga dengar dari cerita Cimut sewaktu ia makan siang bersama saat menjemput Cimut pulang dari bandara dulu, sebenarnya ia sendiri tidak menyukai perjodohan ini. Hanya saja, pernikahan ini adalah salah satu keinginan papa Adrian sebelum ia meninggal dulu sehingga Cimut sama sekali tidak bisa mengatakan tidak ketika Enrico dan Oom Sasongko sempat menemuinya di Harvard waktu ia berkuliah serta menceritakan masalah ini kepadanya. Enrico malah memberikan sebuah surat perjanjian yang ditandatangani oleh kedua orangtua mereka sebagai bukti sah atas kesepakatan tersebut. Setelah melihat dan membaca surat lalu mengamati tanda tangan ayahnya, Cimut hanya bisa diam seribu bahasa dan mengangguk pasrah. Pernikahan ini…. adalah keinginan terakhir dari ayahnya dan ia akan merasa sangat berdosa kalau tidak bisa memenuhi janji tersebut. Gue sendiri tidak bisa berbuat apa-apa saat mendengar cerita tersebut. Gue hanya berusaha untuk bersikap tenang sebisa mungkin, padahal hatiku sudah menggelegak panas tak keruan. Setelah pertemuan di café pada hari itu, gue segera pamit pulang dan menutup diri. Tidak kuhiraukan ajakan serta rayuan Cimut untuk menemaninya menjajal berbagai kuliner kesukaan favorit kami berdua ataupun berbelanja barang obralan yang seringkali kami lakukan dulu. Setiap kali gue memandang wajahnya. Hanya ada satu perasaan di hatiku. Cemburu dan cinta. Tapi mengingat fakta kalau ia akan segera menjadi milik orang lain, gue berusaha keras menahan diri. Apalagi calon suaminya adalah Enrico Saputra. Seseorang yang ia idam-idamkan sejak dulu. …………………………………………………………………………………………………… #CIMUT POV # Makan siang hari itu berlangsung dengan situasi yang aneh dan sedikit tegang. Enrico masih berusaha untuk mencairkan suasana dengan cara melemparkan jokes dan cerita-cerita nostalgia seputar teman-teman lama kami. Nicole, gue, dan Enrico sesekali tertawa kecil sambil saling bercerita. Hanya Kak Raga saja yang dari tadi diam seribu bahasa serta menyantap makanannya dengan wajah kaku. Seperti patung batu. Sorot matanya tajam dan sesekali melirikku dengan sinis. Membuatku merasa tak nyaman. Apalagi di samping Kak Raga ada Kak Nicole yang sangat mempesona. Apalah artinya diriku? ……………………………………………………………………………………… Cimut cepat-cepat menyelesaikan makan siangnya serta mengajak mereka bertiga untuk menonton bioskop bersama. Ada film action baru yang diputar dan kebetulan Cimut dapat 4 voucher giveaway dari kartu kreditnya. Jadi, untuk merayakan double date mereka, Cimut berbaik hati untuk mengajak mereka berempat menonton bersama. Di dalam bioskop, Enrico yang paling antusias untuk memilih kursi dengan posisi paling strategis disusul oleh Cimut, Raga dan Nicole. Nicole sendiri memilih kursi yang paling ujung karena kebetulan yang duduk di sebelah kanannya adalah seorang wanita dan Raga agak risih kalau ia harus duduk bersebelahan dengan seorang wanita asing. Jadilah formasi tempat duduknya adalah Enrico, Cimut, Raga, dan Nicole. Satu persatu, lampu bioskop mulai dimatikan dan tayangan iklan mulai memenuhi layar bioskop. Sampai kemudian film yang mereka nantikan pun mulai diputar. Dari awal adegan, suasana tegang berlangsung dengan sangat intens. Cimut memegangi sandaran kursi di sebelah kanannya sementara matanya tak lepas dari layar raksasa di hadapannya. Tanpa sengaja, jarinya menyenggol tangan Raga sedikit dan pemuda tersebut dengan sigap langsung menggenggam tangan mungilnya dengan sangat erat. Mata Cimut langsung melotot kaget dan menoleh ke arah pemuda tersebut saat Raga melakukannya. Tapi di saat yang sama, kehangatan dari genggaman tangan Raga mulai merayapi hatinya. Jantungnya berdebar kencang tak terkendali. Senyum lebar menghiasi wajahnya sementara pikiran Cimut kembali membayang ke masa lalu. Saat mereka berdua bertemu pertama kali…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD