Chapter 16

1744 Words
Yoon termenung sedih memandang layar ponselnya. Barusan Ben menelepon. Ia sudah sangat senang karena akhirnya Ben menghubunginya lebih dulu. Tetapi kenyataannya Ben marah. Menanyai Yoon kenapa tidak menghubungi Ben dan menuduh Yoon bersama laki-laki lain di sini. Apa yang salah dengan Ben? Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa hubungan mereka tak kunjung membaik? Yoon hanya ingin segalanya menjadi baik-baik saja. Salahkah mengharapkan hal itu? Yoon melempar pandangan ke luar balkon. Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat. Tiga hari lagi Ben akan datang ke New York. Yoon sangat mengharapkan kehadiran laki-laki itu dengan seluruh hidupnya. Tapi ia tidak ingin hubungan mereka masih seburuk ini saat bertemu nanti. Dua minggu lalu Yoon berharap bisa menenangkan diri di New York. Ia menyadari mungkin memang ia yang salah dan tidak bisa memahami Ben. Lalu setelah ia mejadi lebih tenang, mereka bisa kembali bertemu dan hubungan mereka kembali seperti dulu. Dulu... Jauh sebelum Ben menggantikan posisi sang ayah dalam pekerjaannya. Yoon selalu berusaha mengerti. Pada saat itu mungkin Ben begitu tertekan. Kuliahnya ikut terganggu karena tuntutan sang ayah. Yoon selalu ada di sisinya setiap saat. Ia rela melakukan apa pun untuk Ben. Namun kenyataan hanya memberinya kesadaran, sebesar apa pun pengorbananmu kau tetap tidak akan bisa merubah perasaan seseorang. Ia termenung lagi. Setiap saat ia selalu mencari letak kesalahan dirinya. Masih kurang, kah? Lantas ia harus bagaimana lagi? Yoon sudah kehabisan ide. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk. Dari Tadashi, mengingatkannya untuk makan. Yoon tersenyum samar. Di saat seperti ini Tadashi selalu ada untuknya. Tadashi, bukan Benedict Carl. Seseorang yang kini terasa asing tapi begitu ia cintai. Yoon bangkit dan meletakkan ponselnya di meja. Berjalan ke dapur. Membuka kulkas dan takjub pada apa yang ia lihat. Tadashi belanja banyak sekali bahan makanan. Termasuk sayuran dan buah-buahan. Juga ada beberapa puding cokelat dan puding buah. Sebagai seorang teman Tadashi terlalu baik, kan? Kenapa mendadak ia mempertanyakan hal itu? Entahlah. Yoon mengeluarkan bacon dan beberapa telur. Ia akan membuat sarapan yang mudah saja. Ia meringis. Sarapan di tengah hari begini masih bisa disebut sarapan? Tentu bukan hal yang sulit membuat telur mata sapi dan menggoreng bacon. Yoon menimbang-nimbang ingin memberikan sesuatu pada Tadashi. Sebagai ungkapan terima kasih. Apa kira-kira? Tadashi bukan tipe orang yang mudah terkesan pada sesuatu. Yoon mendudukan dirinya pada kursi. Mengunyah potongan bacon sambil berpikir. Mungkin mengajaknya ke suatu tempat boleh juga. Tapi ia sudah biasa pergi ke mana-mana dengan Tadashi. Oh. Ia jadi teringat Alice juga. Kalau pergi mengajak Alice dan Goto sekalian mungkin akan bagus. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Nah, sekarang ia tinggal memikirkan ke mana tujuan liburan mereka. Pantai, Yoon teringat. Sua suka pantai. Sayang sekali. Jika Sua dan Yuta ikut juga pasti akan sangat menyenangkan. Hei, kenapa ia jadi teringat semua orang begini? Eh, ia jadi teringat masa lalu juga. Di mana Yoon menghabiskan waktu bersama mereka. Sua, Han, Yuta dan tentu Ben. Masa-masa itu menyenangkan... Renungnya. Tapi, sesuatu seperti itu tak akan terjadi dua kali. Terkadang Yoon merasa, apa yang ia alami tidak semenyakitkan apa yang Han alami. Begitukah? Tiap orang memiliki batas kekuatan masing-masing dalam menghadapi masalah. Dan membandingan diri dengan masalah orang lain bukan sesuatu yang etis Yoon rasa. Yah, lagi-lagi ia hanya berharap semua akan baik-baik saja. Han juga, jauh di sana. Tanpa sadar, ia kini sudah melupakan rasa sakitnya karena Ben. *** Goto nyaris tidak memercayai apa yang dilihatnya. Alice sendirian. Benar. Alice sedang duduk sendirian saat ini. Tapi kenapa? Di mana si tengil Yoon? Goto menimbang-nimbang cukup lama. Duduk di bangku yang berseberangan seperti biasa atau mencoba mengobrol dengan Alice? Rasanya sudah lama sekali ia berdiri tanpa melakukan apa pun. Yoon benar, ia mengingat. Sampai kapan ia akan diam saja tanpa mengambil tindakan? Ia menyukai Alice, tentu benar. Hanya saja, ia takut Alice akan membencinya. Goto takut Alice tidak menyukai sikapnya. Tapi dicoba atau tidak, kemungkinan-kemungkinan itu tetap akan ada. Jadi, Goto memutuskan. Ia mengambil langkah menghampiri Alice. Luar biasa gugup. Berusaha tersenyum senormal mungkin saat akan menyapa. "Hai, Alice," Goto yakin suaranya bergetar. Alice mengangkat wajah dari buku. Sesaat kemudian ia tersenyum. Seolah melihat Goto. "Hai, Goto." Goto yakin jantungnya sudah jatuh ke perut. Ia sangat takjub Alice langsung mengenali suaranya. Dan senyuman Alice jelas tidak bagus untuk kesehatan jantungnya. "Kau sering datang ke sini juga, ya?" Tanya Alice karena Goto tidak kunjung bicara. "Eh, itu, ya... Begitulah," seolah tertangkap basah Goto merasa malu sekali. "Aku tidak melihat Yoon hari ini. Apa kau tahu di mana Yoon sekarang? Aku hanya sedikit khawatir padanya." "Mmm, itu, aku juga tidak tahu, Alice. Dia tidak menghubungiku." Kening Alice berkerut. Nampak jelas ia merasa cemas. "Tapi tidak perlu khawatir, Alice, aku yakin Yoon baik-baik saja. Biasanya ada Tadashi yang menjaga dia." Alice mengangguk setuju. "Mmm, bolehkah aku duduk di sampingmu?" Goto takjub pada dirinya sendiri. Karna berani menyampaikan pertanyaan itu. Alice tersenyum dengan cara paling menakjubkan yang Goto tahu. "Tentu saja, Goto," sahutnya, seolah heran saja kenapa mesti menanyakan hal itu. Goto mendudukan diri malu-malu. Sekarang ia harus memikirkan topik pembicaraan mereka. Ia tidak ingin diam saja atau suasananya akan menjadi canggung. "Kudengar dari Yoon, kau mengajarinya membuat hiasan itu... Mmm, daun laminating. Itu, cantik sekali. Yoon memamerkannya padaku." Alice tertawa kecil. "Benarkah? Aku senang Yoon menyukainya." Goto berharap Alice tidak mendengar detak jantungnya. Ia jadi cemas. "Tentu saja, hiasan itu sangat cantik." "Jika kau mau, aku bisa memberimu juga," Alice senang orang-orang menyukai karya buatan tangannya. Goto terperangah. "Sungguh? Bolehkah?" Mata Alice membulat. 'Tentu saja, Goto. Aku tidak keberatan," ia meraih tas selempangnya. Mengeluarkan sebuah daun laminating dan memberikan itu pada Goto. Goto terpana. Berharap tidak kehilangan kesadaran saat itu. "Kau bisa menggunakannya untuk pembatas buku," jelas Alice, masih dengan senyum memukau itu. "Aku senang sekali," rasanya Goto ingin menangis saking senangnya. "Terima kasih, Alice, aku akan menjaganya sepenuh jiwa!" Alice mengangguk. "Sama-sama, Goto." "Oh, ya, kau tahu, Yoon juga membuat satu untuk Tadashi. Sekarang aku mengerti kenapa Tadashi terlihat sesenang itu waktu Yoon memberinya." "Itu... Bukankah karna Tadashi menyukai Yoon?" Goto terperangah lagi. "Kau tahu itu?" Alice tersipu. "Maaf, aku malah membicarakan ini." "Tidak apa-apa, Alice. Aku juga merasa begitu, kok. Tapi dari mana kau tahu?" Alice berpikir sejenak. "Dari seluruh cerita Yoon. Ia menceritakan banyak hal padaku. Dan kurasa, dari cerita-cerita itu, Tadashi memiliki perasaan lebih padanya. Hanya saja Yoon tidak menyadari itu." Goto mengangguk setuju. "Aku sudah dua tahun berteman dengan Tadashi, memang belum terlalu lama. Tapi aku cukup dekat dengannya. Dan selama itu tidak pernah sekali pun aku melihatnya beramah tamah dengan seorang gadis. Dia tipe orang yang dingin sekali. Awalnya aku bertanya-tanya kenapa. Lalu saat Yoon datang, seolah semua pertanyaanku terjawab sudah. Meski Tadashi tidak mau mengakuinya, orang bodoh pun tahu ia menyukai Yoon." Alice tersenyum sedih. "Sayang sekali harus jadi seperti ini, ya. Sebagai teman Yoon, aku berharap yang terbaik untuknya. Hubungan ia dengan Ben begitu menyiksa kurasa. Eh," Alice segera menutup mulut. "Apa aku kelepasan bicara lagi?" Goto menggeleng. "Tidak, aku juga tahu tentang Ben. Aku pernah memergoki Yoon di sebuah bar sendirian. Lalu dia menceritakan semua tentang Ben. Saat itu Yoon kacau sekali. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika aku tidak kebetulan bertemu dengannya di sana." Alice mengernyit sedih. "Aku tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang begitu besar. Sebesar perasaan Yoon pada Ben. Tapi sejujurnya aku sangat kesal pada laki-laki itu." Goto tersenyum. "Kau jadi seperti Tadashi." "Tapi aku sungguh bingung, kira-kira kenapa Tadashi tidak mencoba untuk mengatakan perasaannya pada Yoon? Padahal mereka sudah berteman sejak SMP, kan?" Goto bergeming. Ia jelas tahu alasan kenapa Tadashi menyimpan perasaannya sendirian. Pertama, ia bertanya-tanya apa bahkan Alice belum pernah menyukai seseorang sebelumnya? Kedua, mungkin Alice juga tidak mengerti bagaimana takutnya kehilangan orang yang dicintai. "Kurasa aku sedikit mengerti tentang itu." Alice menoleh padanya. Menunggu. "Justru karna mereka sudah berteman selama itu, Tadashi takut akan merusak pertemenan mereka. Tadashi takut kehilangan Yoon." Alice termenung sedih. Membuat Goto ingin sekali menyingkirkan kesedihan itu dari wajahnya. "Aku belum pernah memiliki teman sebelumnya. Yoon adalah teman pertamaku, jadi aku tidak tahu tentang hal itu." "Eh?" Sudah berapa kali Goto terperangah karna Alice. Gadis ini penuh dengan kejutan-kejutan yang tak disangka. "Maaf, Alice, aku... Aku..." "Kenapa meminta maaf, Goto? Aku sangat senang memiliki Yoon sebagai temanku. Begitu juga denganmu, aku sangat senang kau mau menjadi temanku," Alice tersenyum. Kejujuran itu tidak bisa disembunyikan sama sekali. "Kau belum tahu ya, Alice, aku juga sangat senang bisa mengenalmu!" Alice nampak terkejut meski begitu ia senang sekali mendengarnya. *** Yoon terbangun karena suara notifikasi dari ponselnya. Ia sudah tidur seharian. Ia berguling ke sisi lain ranjang. Menggapai-gapai meja dengan sebelah tangan. Matanya masih terpejam. Siapa? Siapa? Ia bertanya-tanya. Mungkin Tadashi mengingatkannya untuk makan lagi. Jam berapa sekarang? Ia terpaksa membuka mata dan duduk. Tidak kunjung berhasil menemukan letak ponsel menyebalkan itu. Oh, di sana rupanya. Yoon mencodongkan tubuh meraih ponsel di sudut meja. Sebuah pesan dari Goto. Hm, Goto? Ia membuka mata lebar-lebar. Goto mengirimkan sebuah foto daun laminating. Sudut-sudut bibir Yoon membentuk lengkungan senyum. Cih, rupanya kau mau pamer padaku. Ia ikut senang Goto akhirnya mengambil satu langkah maju. Yoon mengerjap-ngerjap lagi. Ruangan gelap. Matahari sudah terbenam. Lantas ia menyibakkan selimut dan menyalakan lampu di seluruh ruangan. Setelahnya ia melangkah keluar menuju balkon. Langit mendung tanpa bintang-bintang. Yoon terpekur. Andai saja kisahnya sesederhana Goto dan Alice. Bukan berarti ia iri. Hanya saja, meski Goto selalu ragu untuk mengambil tindakan, tapi ia benar-benar tulus. Yoon mendongak memandang menerawang. Mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia merasakan ketulusan semacam itu dari Ben. Kenyataan bahwa ia tidak bisa mengingatnya cukup menyakitkan juga. Sudahlah. Sebaiknya ia memasak agar Tadashi tidak cemas. Tepat ketika Yoon akan berbalik mendadak Tadashi muncul. Raut wajah laki-laki itu terlihat cemas dan takut. Tapi saat menangkap Yoon dalam pandangannya ia terlihat lega. "Astaga, Yoon, bagaimana bisa kau membiarkan pintu depan terbuka? Kukira kau diculik atau semacamnya." Yoon terkesiap. "Benarkah?" "Kalau tidak benar bagaimana aku bisa masuk ke sini?" Yoon menggaruk pipinya yang tak gatal dan meringis. Ia tidak ingat belum mengunci pintu. Bahkan saat menyalakan lampu ia juga tidak menyadari pintu depan terbuka. Tapi syukurlah karna Tadashi yang datang. Maksudnya bukan orang asing atau orang yang berbahaya. Tadashi menunjukkan kantung plastik yang dibawanya. "Aku membawakan makan malam untukmu." Yoon langsung tersenyum sumringah. "Wah, Tadashi, kau pengertian sekali." Lagi-lagi tanpa pernah Yoon sadari. Tadashi selalu berhasil mengalihkan kesedihannya. Berhenti membuat ia memikirkan seorang Benedict Carl.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD