Tadashi membereskan barang-barangnya di meja dan bergegas keluar sementara Goto terus mengikuti. Seharian ia terus membicarakan daun laminating itu. Memamerkannya hampir pada semua orang di kantor.
Hari ini, sejak pagi Yoon selalu mengiriminya pesan. Menyampaikan bahwa ia sudah makan. Padahal biasaya Tadashi yang menanyainya lebih dulu. Dan hal itu membuat perasaan jadi tak enak. Ia malah menduga Yoon sedang tidak baik-baik saja. Ia sempat memikirkannya beberapa kali untuk menanyakan keadaan Yoon yang sebenarnya lewat telepon. Tapi pada akhirnya Tadashi memutuskan untuk menemui Yoon langsung. Ia takut Yoon lupa mengunci pintu apartemennya lagi.
Saat ini memang terlalu dini untuk makan malam. Matahari bahkan belum terbenam. Namun Tadashi begitu mengharapkan pesan baru dari Yoon.
Sampai di depan gedung kantor. Tadashi ingin memastikan lebih dulu Goto tidak terus mengikuti. Belum sempat ia menasihati Goto, Yoon mendadak muncul entah dari mana. Ia tersenyum ceria dan penuh semangat. Tangan mungilnya membawa dua tas kertas berukuran cukup besar.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" Tanya Goto heran.
"Tentu bisa, kau seperti tidak mengenalku saja," Yoon tersenyum bangga. Lalu memberikan dua tas kertas itu masing-masing pada Goto dan Tadashi.
"Apa ini?" Tanya Goto lagi, tidak memberi kesempatan Tadashi untuk bicara. Tanpa sadar membuatnya kesal. "Oh, jangan-jangan kau akan kembali ke Seoul? Ini semacam kenang-kenangan untuk kami."
Jantung Tadashi serasa diremas. Mana mungkin! Yoon pernah mengatakan pada Sua akan pulang setelah perayaan hallowen. Mustahil Yoon mendadak pergi tanpa mengatakan apa pun padanya. Tadashi memandang Yoon tanpa bisa menyembunyikan ketakutannya. Gadis itu masih tersenyum cerah.
"Enak saja! Aku hanya iseng, kok."
Goto mengangguk-angguk. "Kalau begitu mau lihat ini tidak?" Ia berseru bangga. Lagi-lagi memamerkan daun laminating pemberian Alice.
Tadashi berharap Goto memberinya kesempatan untuk bicara dan berhenti pamer. Ia jadi muak sekali.
"Wah, aku ikut senang. Selamat, Goto! Kau sudah mengambil selangkah maju. Untuk selanjutnya dokter cinta Yoon akan membimbingmu," Yoon menunjuk-nunjuk dirinya dengan antusias.
Goto mencibir. "Sejak kapan kau jadi dokter cinta. Sad girl."
Tadashi meletakkan kedua tangannya pada bahu Yoon. Memalingkan posisinya menjadi berhadapan dengan Tadashi. "Kenapa kau bisa tiba-tiba di sini? Apa terjadi sesuatu?"
Yoon memiringkan kepala ke satu sisi. Heran. "Tidak ada yang terjadi. Dan aku baik-baik saja, kok," mendadak Yoon menyipitkan mata. "Ah... Kau pasti mencurigaiku karna membawa ini, kan? Tenang saja aku juga membaginya pada Alice. Tadi aku mampir ke apartemennya."
"Kau datang lagi ke sana?" Suara Goto melengking.
Yoon langsung menutup telinga.
"Aku baru ingat! Kau bilang akan mengajakku ke apartemen Alice juga, kapan?"
"Itu-"
Tadashi menarik Yoon lagi. "Kau sungguh baik-baik saja?"
Yoon mendesah lelah. "Iya, Tadashi. Aku hanya ingin berterima kasih padamu karna terus membantuku selama ini," ia mencodongkan tubuh mendekati Tadashi. "Dan aku memasukan cokelat spesial yang tidak kuberikan pada Goto," bisiknya.
Kenapa kedengarannya seperti salam perpisahan? Perasaan Tadashi jadi makin tidak karuan.
"Jadi sebenarnya kenapa kau tiba-tiba muncul di sini?" Tanya Goto tanpa dosa.
Tadashi heran. Apa Goto benar-benar tidak peka? Ia bisa saja langsung pergi setelah menerima hadiah dari Yoon. Saat ini ia ingin berdua saja dengan gadis itu.
"Tidak ada tujuan spesial sebenarnya. Kebetulan aku melihat banyak permen lucu saat belanja. Jadi aku membelikan untuk kalian," jeda sejenak. "Dan juga, aku sekalian akan menjemput Ben di bandara."
Tadashi dan Goto terkesiap bersamaan. Sama-sama begitu terkejut seolah mendengar kabar yang buruk sekali.
Yoon ikut diam. Sesekali menunduk. Berpura-pura memeriksa gaunnya.
"Oh, si kunyuk itu-"
Tadashi langsung menyiku lengan Goto. Membuat ia diam.
"Jadi, dia datang hari ini?" Tadashi berharap suaranya tidak terdengar menyakitkan. Karena itulah yang saat ini ia rasakan. Sakit sekali.
Yoon mengangguk. "Mmm, dulu aku sudah pernah memberitahumu, Tadashi."
Tadashi bergeming. Goto menahan diri untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah yang serasa akan meledak dalam mulutnya.
Jadi, sudah berakhir ya? Pikir Tadashi. Hanya sampai di sini ia bisa sedekat itu dengan Yoon. Setelah ini pasti Ben tidak akan membiarkan Yoon bertemu dirinya. Jika tahu begini, maka ia akan membuat lebih banyak kenangan bersama Yoon. Kenapa ia bisa melupakan hal ini? Memang benar Yoon pernah memberitahunya Ben akan datang. Kenapa ia bisa lupa? Kenapa segalanya terasa begitu tiba-tiba? Bisakah kedatangan Ben diundur meski hanya sehari saja?
Sehari saja, Tadashi memohon. Hanya untuk melihat senyuman Yoon lebih lama.
Entah bagaimana caranya Yoon kembali bersikap ceria dan tersenyum lebar. "Kalau begitu aku pergi dulu, Ben akan segera datang. Sampai jumpa!" Ia melambai sambil lalu. Pergi dengan senyuman berharga itu.
Tadashi masih bergeming. Tidak mampu mengucapkan apa pun atau melakukan sesuatu. Ia diam saja memandang Yoon pergi. Bahkan sampai gadis itu masuk ke dalam taksi yang menunggunya di seberang jalan. Ia tetap diam. Memang seperti ini lah dirinya. Pengecut. Yang bahkan tidak bisa mencegah Lee Yoon pergi.
"Meski tersenyum selebar itu, tapi Yoon terlihat sedih," ujar Goto muram.
"Menurutmu," Tadashi mendapati suaranya terdengar serak dan lehernya sakit sekali. "Apa aku perlu mengejarnya?"
Goto memandang Tadashi sedih. Terpaksa menggeleng. "Kau tidak bisa membantu seseorang yang tak ingin dibantu."
Goto benar. Lantas setelahnya. Mereka berpisah. Tadashi menyetir muram menuju apartemen. Ia terus memikirkan ucapan Goto sepanjang jalan. Berusaha memaksa diri menerima kata-kata itu.
Ia tahu benar betapa Yoon mencintai Benedict Carl. Tadashi tak ingin Yoon terus disakiti, itu benar. Tetapi berusaha menyadarkan Yoon dan memisahkan mereka, sama saja dengan menoreh luka dalam pada Yoon. Sama berarti melukainya juga. Tadashi tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinyalah yang melukai gadis itu. Tidak bisa...
Lantas apa yang harus ia lakukan? Ia ingin menyelamatkan Yoon. Tapi jalan mana yang bisa ia tempuh tanpa menyakiti gadis itu?
Tadashi menginjak pedal rem mendadak karna nyaris menabrak mobil di depannya. Membuat beberapa pengendara mobil di belakang marah.
Ia memejamkan mata sesaat. Berusaha menenangkan diri.
Kenyataan memang tidak bisa. Ia tidak bisa melakukan apa pun.
Menyakitkan sekali.
***
Yoon memandang sedih ke luar jendela taksi yang membawanya. Ia terus berpikir ia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Tadashi, dengan Goto, dengan Alice. Tapi kehadiran Ben akan menghambat banyak hal. Yoon yakin Ben tidak akan membiarkan ia bertemu Tadashi. Apalagi Goto yang baru dikenalnya. Alice mungkin masih bisa walau kecil kemungkinannya.
Ia mendesah lelah. Membenarkan posisi duduk. Ia mulai pegal terus duduk dengan posisi itu. Padahal ketika pertama kali menginjakan kaki di New York. Kehadiran Ben lah yang paling ia inginkan. Sekarang terasa berbeda. Bukannya ia tidak ingin Ben datang. Hanya saja mungkin bukan sekarang. Yoon juga terkejut ketika Ben memberitahunya akan datang. Tiga hari lebih cepat dari rencana semestinya.
Ia mendesah lagi. Memangnya apa yang bisa ia lakukan selain berharap segalanya akan baik-baik saja?
Taksi melambat. Kini ia sampai di bandara internasional John F. Kennedy. Yoon turun dan sambil terus memantau ponsel. Ben bilang akan mengabarinya saat sampai. Memberitahu Yoon di mana ia akan menunggu. Sebuah pesan masuk dari Ben. Tanpa pikir panjang ia segera mendatangi tempat yang Ben sebut. Ia melangkah melewati begitu banyak orang.
Perasaan itu hadir lagi. Rasa kosong dan sepi.
Itu dia. Yoon menghentikan langkah memandang Ben yang menunduk memandang layar ponsel. Tentu Yoon merindukan laki-laki itu. Ia mempercepat langkah dan menyapanya, membuat Ben terkejut. Meski begitu Ben tersenyum dan memeluk Yoon.
Yoon berharap seluruh kerinduannya bisa terbayar. Yoon berharap tidak merasa sendirian lagi.
Tetapi kenyataannya. Meski berada dalam dekapan laki-laki yang paling ia cintai di dunia. Ia tetap merasa sendiri. Entah apa yang sebenarnya ia rindukan. Kenapa perasaan aneh itu tidak mau pergi juga?
"Kau terlihat makin cantik, Yoon," Ben memandang ke dalam mata Yoon, masih tersenyum.
Yoon balas tersenyum. Tidak memberi jawaban. Ia tidak tahu apa yang perlu ia katakan.
"Aku sangat merindukanmu."
Yoon cukup terkejut Ben mengatakan hal itu. Ia tidak semarah yang Yoon bayangkan. Bahkan tidak terlihat marah sama sekali.
"Aku juga, sangat..."