Goto memerhatikan Alice melalui ujung matanya. Gadis itu diam sepanjang perjalanan pulang mereka. Tidak biasanya begini. Alice yang biasanya selalu ceria dan bertanya banyak hal.
Sebenarnya, sejak awal Alice kembali dari apartemen Yoon. Goto merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Senyum Alice terlihat berbeda. Pasti Tadashi tidak menyadarinya. Tapi ia berbeda. Ia yang sudah menghabiskan waktu begitu lama memerhatikan Alice.
"Alice," akhirnya Goto membuka suara.
Anehnya. Alice sangat terkejut. Jelas ia sedang memikirkan sesuatu.
"Ya, Goto, ada apa?"
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu, kan?"
Wajah Alice memucat. Dugaannya benar. "Aku tidak bermaksud tidak memercayaimu, Alice. Justru karna aku sangat memercayaimu."
Alice menunduk. Goto tidak tega melihat Alice sedih begitu. "Tidak apa-apa, Alice. Aku yakin kau tahu apa yang terbaik untuk Yoon."
Rupanya ucapannya itu membuat Alice makin merasa bersalah.
"Maafkan aku, Goto."
Goto mengangguk. Ia memang cemas. Ia juga tidak ingin mengkhianati Tadashi. Jika menurut Yoon dan Alice menyembunyikan yang sebenarnya adalah pilihan yang terbaik, maka kali ini ia akan membiarkannya. Dengan catatan, hanya kali ini saja. Ia tidak mau Yoon terluka lagi.
"Mmm, Goto, menurutmu di antara Ben dan Tadashi siapa yang lebih mencintai Yoon?"
Goto mengalihkan pandangan dari jalan ke Alice. "Tadashi," sahutnya langsung.
Alice mengangguk kecil. "Tetapi Yoon mencintai Ben."
"Benar," ia meringis kesakitan.
"Apa kau pernah mendengar, bahwa seseorang yang sedang mencintai akan menjadi tuli? Ia tidak akan mendengarkanmu walau apa pun yang kau katakan."
Benar lagi. Goto hanya mengangguk.
"Begitulah, Yoon. Aku hanya menyadari... Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berharap ia akan baik-baik saja. Dan apa pun pilihan yang ia pilih, semoga menjadi pilihan terbaik untuknya."
"Aku juga berharap begitu padamu, Alice. Kuharap kau mengambil pilihan yang tepat. Untuk saat ini hanya kau yang bisa menjaganya."
Alice baru menyadari kenyataan itu. Sesaat ia terlihat takut.
"Dan aku, akan selalu menjagamu."
"Eh?"
Goto tersenyum dan mengalihkan perhatiannya kembali pada jalan. Setelah waktu yang begitu lama ia lewati hanya memerhatikan Alice diam-diam. Ia tidak menyangka bisa menjadi sedekat ini dengan Alice. Bahkan bisa mengatakan hal-hal semacam itu. Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Goto begitu ingin menjaga Alice dari apa pun.
"Goto," panggil Alice lirih.
"Ya?" Goto menoleh singkat. Mereka memasuki jalanan yang ramai. Ia harus lebih fokus sekarang.
"Jika aku mengambil keputusan yang salah, maukah kau memaafkanku?"
Alice mengatakannya sungguh-sungguh. Membuat Goto khawatir. "Aku jelas memaafkanmu, tapi tidak akan memaafkan Ben," ujarnya jujur. Ia bahkan masih ingin meninju wajah laki-laki itu hingga hancur sampai sekarang.
"Aku," Alice mulai ragu. "Aku tidak bisa membuatmu berjanji agar tidak berkelahi lagi, kan?"
"Jika berkelahi untuk melindungi orang-orang yang berharga untukku, tidak. Kau tidak bisa," Goto memandang wajah lembut Alice yang lagi-lagi terlihat cemas.
"Goto, sejujurnya... Aku takut telah mengambil keputusan yang salah. Tapi aku tidak bisa membuat Yoon kecewa. Ah, aku... Padahal aku sudah mengecewakan kalian. Aku sangat egois..."
"Tidak apa-apa, Alice," sahut Goto serius. "Apa pun yang akan terjadi, aku akan melindungimu. Sekarang kita tinggal memikirkan cara agar apa pun kemungkinan buruk itu tidak terjadi. Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama."
"Aku sangat memercayaimu, Goto."
Rasanya ingin melompat saking senangnya. Tapi situasi sedang serius saat ini. Pun Goto bersungguh-sungguh tidak ingin membuat Alice kecewa.
"Oh, ya," Alice teringat. "Apa Tadashi akan baik-baik saja setelah ini?"
Goto tidak bisa mengabaikan tatapan rasa bersalah Alice. Pasti ia sangat tersiksa saat ini. "Alice, pertama-tama kau tidak perlu merasa bersalah seolah mengkhianati kami. Kita tidak pernah membuat perjanjian harus mengatakan yang sebenarnya. Hanya untuk memastikan keadaan Yoon sudah baik-baik saja, dan itu cukup. Mengenai rahasia yang kau jaga bersama Yoon. Aku memercayakannya padamu. Asal sikap Ben tidak kelewat batas saja."
Setelah itu Alice tak lagi bicara sepanjang perjalanan mereka sampai ke apartemen Alice. Hanya satu yang Goto harapkan di atas segalanya saat itu. Semoga Ben bukan tipe laki-laki yang berani memukul perempuan. Apa pun alasannya.
***
Yoon memandang layar ponsel barunya. Alice sudah pergi dan Ben belum kembali. Ia sendirian. Sepi sekali.
Di ponsel barunya ini ia bahkan tidak bisa menghubungi Sua. Ia harus meminta nomor Sua pada Ben saat ia sudah pulang nanti. Tapi apa? Apa yang bisa ia ceritakan padanya? Bagaimana jika Sua melihat pelipisnya yang terluka? Sua sama dengan Alice. Akan tahu jika ia berbohong.
Yoon menyeret tubuhnya bangun. Meletakkan ponsel itu di meja dan berjalan menuju balkon. Ia merindukan Tadashi. Tanpa sadar membayangkan dirinya kini sedang menikmati makan malam dalam apartemen kecil Tadashi, dengan Tadashi yang tidak hentinya menambahkan sayuran pada piringnya.
Yoon mendengus tersenyum. Bersamaan setitik air mata yang jatuh melewati pipinya. Yang ia harapkan segalanya bisa baik-baik saja. Ini mungkin sudah separuh baik-baik saja. Tapi jika harus menukarnya dengan Tadashi dan teman-teman yang ia miliki di sini, Yoon setengah tidak rela.
Egoiskah jika ia berharap hubungannya berjalan baik dengan Ben, dengan kata lain kembali seperti semula dan mengharapkan pertemanannya baik-baik saja di saat yang sama? Egoiskah? Yoon mendongak. Ke mana bintang-bintang pergi? Ia merindukan langit malam yang cerah di atas Brooklyn Bridge, sambil bersepeda dan tertawa lepas.
Yoon ingin, menghabiskan waktu sore bersama Alice. Menunggu Goto dan Tadashi pulang. Membicarakan banyak hal tanpa arah dan bersenang-senang dengan hal-hal sederhana itu.
Lebih lagi. Ia merindukan Tadashi. Merindukan omelannya. Merindukan masakannya. Merindukan caranya tersenyum dan mata hijaunya yang indah.
Yoon mencengkeram besi pembatas balkon. Mulai terisak. Ia ingin Ben dan Tadashi bisa berteman baik. Dan mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Tadinya harapan itu masih ada, masih Yoon simpan selama ini. Tetapi karena kejadian itu. Harapan itu telah hilang. Ben tidak akan membiarkan dirinya dekat-dekat lagi dengan Tadashi.
Kenapa? Kenapa dari awal Ben dan Tadashi tidak berteman saja? Seperti Ben dan Yuta. Pasti segalanya tidak akan jadi semenjengkelkan ini jika mereka berteman.
Ah, apa yang salah dengan dirinya? Apa yang salah dengan hidupnya. Kenapa begitu berat hanya untuk menjadi baik-baik saja...
***
Tadashi memandang setumpuk kertas yang diikat sebuah pita. Kertas-kertas itu yang Yoon bilang akan ia bawa saat pulang ke Seoul. Tadashi menyentuh ujung pita itu. Rasanya menyakitkan.
Tengah malam sudah terlewati. Jelas ia tidak bertemu Yoon di mana pun. Kenapa? Kenapa bukan dirinya yang bertemu Yoon di pusat perbelanjaan? Seharusnya ia berinisiatif melakukan ini sejak awal. Tapi tidak. Ingat? Ia tidak bisa. Ia bertekad untuk melupakan Yoon lagi meski hasilnya sia-sia. Terlebih setelah begitu banyak hal yang telah ia lewati di sini.
Benar. Yoon jelas-jelas sudah mengambil keputusan. Ia memilih Ben. Persis seperti lima tahun terakhir selama ini. Ia tidak pernah ada dalam daftar pilihan gadis itu. Ia hanya seorang pengecut yang mencintai diam-diam.
Tadashi bangkit membawa kertas-kertas itu. Ia berjalan menuju kotak sampah di dapur. Diam sesaat memandang kertas-kertas lagi. Bersiap untuk membuangnya.
Ia tidak bisa. Tidak pernah bisa. Tadashi kembali ke meja kerjanya dan meletakkan kertas-kertas itu di tempat semula.
Apa pun yang ia lakukan. Sekeras apa pun ia berusaha. Ia tidak pernah bisa melepas Lee Yoon. Mungkin jika ia tidak pernah tahu Yoon terluka, ia tidak akan merasa semakin tersiksa seperti ini. Dan ia, bisa perlahan membiasakan diri lagi. Setidaknya membutuhkan waktu dua tahun untuk itu. Tidak apa-apa, Tadashi tidak masalah. Tapi kenyataan justru mentertawakannya lagi dan lagi. Kabar Yoon malah muncul dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Membuat ia tersiksa setengah mati.
Apa yang harus ia lakukan? Hanya satu. Besok Tadashi akan menghabiskan waktu sepanjang hari untuk berkeliling. Dengan satu harapan bisa bertemu Yoon secara tak sengaja.
Tadashi menunduk. Ia nyaris putus asa. Ia ingin mengakhiri ini segera.