Tadashi menyadari di akhir hari itu, bahwa semua hal yang ia lakukan tak lebih dari sebuah kebodohan. Langit gelap di atas kota New York saat itu, seolah mengejek dirinya yang dipaksa menyerah. Menyerah pada kenyataan. Menyerah pada sesuatu yang menolak ia perjuangkan.
Tadashi mencengkeram besi pembatas jembatan sampai buku-buku tangannya memutih. Ia berteriak entah pada apa. Pada takdir, ia rasa. Yang tak henti-hentinya menjatuhkan Tadashi sampai ke dasar keputus asaan.
Jantungnya berdetak gila-gilaan. Ia tersengal, nyaris tersedak. Kemudian saat langit mulai menumpahkan kepedihannya, ia merosot. Lututnya beradu keras pada kayu jembatan. Ia menunduk sementara gerimis berubah cepat menjadi hujan deras membasahi seluruh tubuhnya.
Menyerah. Hanya satu pilihannya. Sejak awal ia tidak memiliki pilihan lain selain menyerah. Bahwa mungkin seharusnya, sejak awal ia tidak perlu memerdulikan gadis itu dan tidak menyia-nyiakan dua tahun yang ia lalui bagai di neraka.
Tadashi merasa sisa tenaganya menguap. Seolah mendadak ia terserang kantuk luar biasa yang sulit sekali untuk ia lawan.
Ia mengerjap. Sesaat kegelapan menenggelamkan dunianya. Hingga kemudian ia merasa, hujan telah berhenti di atas kepalanya. Ia mendongak, mengernyit tak mengerti melihat sebuah payung merah yang melindunginya dari hujan
Tadashi memutar kepala cepat sampai lehernya serasa nyaris patah. Tapi ia tidak peduli, tidak setelah melihat wajah gadis itu yang samar. Tadashi tak mengerti kenapa, apa penglihatannya bermasalah? Ia tidak bisa melihat jelas pada wajah gadis itu yang kini menunduk memandangnya.
Yoon, ia menyebut nama gadis itu bersamaan sisa napasnya yang tersengal menyakitkan.
"Tadashi, kau bisa sakit jika terus begini."
"Eh?" Tadashi yakin benar ia mengerti apa yang dikatakan Yoon meski tidak dapat mendengar suaranya.
Apa ini? Apa pendengarannya juga bermasalah? Namun ia tak terlalu memikirkannya sekarang. Seluruh perhatian yang ia miliki tertuju pada Yoon.
Tadashi bangkit sekaligus mengangkat payung itu tinggi-tinggi.
"Tadashi," Yoon tersenyum begitu payung itu menaungi mereka berdua.
Untuk sesaat Tadashi dapat dengan jelas melihat wajahnya. Tapi tepat pada saat itu, sekilas cahaya aneh muncul membutakan pandangannya.
Tadashi tersentak bangun dan ia kini berada di sebuah tempat asing yang sama sekali berbeda dengan tempat tadi.
Terdengar sebuah benda berdentang jatuh. Ia menoleh ke arah suara dan melihat Goto yang melotot ke arahnya. Nampaknya ia baru saja akan mengupas apel sebelum akhirnya malah menjatuhkan pisaunya ke lantai.
"Kau sudah sadar?" Ia bangkit dari kursinya dan bergegas mendekati Tadashi yang masih kebingungan.
"Apa yang-" Tadashi tak bisa menyelesaikan kalimatnya karna Goto memandangnya marah bercampur cemas.
"Kau pikir apa yang kau lakukan?" Ia menunjuk Tadashi dengan marah, meski begitu jelas ia sedang susah payah menahan diri.
Tadashi bergeming tak mengerti.
"Kau tak makan apa pun selama dua hari! Lalu kehujanan di Brooklyn Bridge dan pingsan! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau bisa mati!"
Tadashi tersentak. Benarkah? Jadi yang barusan itu hanya mimpi? Tadashi menjatuhkan pandangan pada sebelah tangannya yang memegang payung itu dalam mimpi tadi. Tak ada bekas. Jelas. Memangnya apa yang ia cari? Sebuah bukti pada kejadian yang sebenarnya tak pernah ada?
Goto berjalan mondar-mandir sekarang. Ia bisa meledak kapan saja karna terlalu memaksakan diri menahan amarahnya. "Coba saja," ia berhenti melangkah dan menatap Tadashi lurus-lurus. "Coba saja jika seseorang tidak menemukanmu! Kau pasti sudah mati! Dan hari ini seharusnya aku kencan dengan Alice dan malah datang ke pemakamanmu!"
Tadashi tahu Goto tak benar-benar marah karna kencannya yang gagal. Justru karna ia semarah itulah Tadashi jadi mengerti. Betapa Goto mencemaskan dirinya.
Tadashi mengangguk dan menggumamkan maaf dengan suara lemah yang dirasanya datang dari tempat yang jauh sekali.
Goto mengulurkan apel di tangannya pada Tadashi. "Makanlah!" Perintahnya. Kemudian dengan sangat terpaksa mendudukan dirinya lagi. Mengambil pisau di lantai, membersihkannya dengan tisu dan mengambil sebuah apel baru. Ia mengupas kulitnya dan memotong apel itu menjadi empat bagian. Menatanya di piring dan menyerahkannya juga pada Tadashi tanpa berkata apa-apa lagi.
"Kau tahu," Goto memulai dengan lambat. "Kita bisa memikirkan jalan keluarnya dengan otak yang waras," ia masih agak marah.
Tadashi memerhatikan dalam diam sambil terus mengunyah. Ia sadar ia lapar sekali. Dua hari tak makan? Betulkah? Sekuat itu dirinya? Ia sendiri bahkan tidak benar-benar ingat apa saja yang tengah ia lalui selama beberapa hari ke belakang.
Ia menunduk sedih. Merasa bersalah pada dirinya sendiri. Tapi jalan keluar? Tak ada jalan keluar, Goto. Ia memandang Goto sedih. Aku bukan orang yang Yoon pilih, pikirnya tersiksa.
"Apa pun yang terjadi, jangan seperti ini lagi. Atau..." Goto mencari-cari alasan. "Atau Yoon akan membencimu setengah mati!"
Antara Yoon membencinya atau tidak, Tadashi rasa tak ada bedanya. Dan melihat Tadashi tak menunjukkan reaksi apa pun, ia segera mengubah arah pembicaraan.
"Alice akan datang sebentar lagi," ujarnya. "Demi Tuhan! Makanan di sini rasanya hambar semua, kau tahu. Alice bisa memasak. Ya, dia memang luarbiasa. Sehebat itu. Jangan khawatir, masakanya enak."
Tadashi masih diam. Memandang potongan apel yang tersisa di tangannya. "Maaf," kata Tadashi setelah keheningan panjang. "Aku jadi menyusahkan semua orang."
"Tentu saja!" Gerung Goto begitu kerasnya. Kemudian terdengar ketukan di pintu dan Goto berdeham dan memelankan suara. "Karna itu jangan bertindak bodoh lagi," ia melempar pandangan ke luar jendela yang terbuka, tak berniat ingin mengobrol lagi dengan Tadashi.
Lebih dari rasa bersalahnya terhadap diri sendiri, ia teringat pada kata-kata Yoon dalam mimpinya. Meski dalam kenyataan Yoon tidak memilihnya. Tapi mereka selalu bisa menjadi teman, kan? Bukankah Tadashi sudah menerima kenyataan itu? Ia telah sempat berpikir, bahwa tak apa-apa tetap berteman dengannya sampai Yoon kembali ke Seoul. Dengan begitu Tadashi akan lebih siap dan tidak merasa kehilangan yang sedrastis ini.
"Habiskan itu juga!" Kata Goto keras.
Tadashi mengangkat wajah menatapnya tapi Goto sudah lebih dulu memandang keluar jendela lagi. Keningnya berkerut dalam dan bibirnya terkatup rapat.
Yoon, pikirnya. Ikut memandang keluar jendela. Angin bertiup pelan membelai kain gorden tipis di sana. Tadashi tahu betapa menyakitkannya semua ini. Tetapi bisakah ia, sekali lagi saja, bertemu dengan Yoon untuk memastikan gadis itu baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja ke depannya?
Tadashi bertanya-tanya sudah sembuhkah ia dari lukanya? Ia tak terluka lagi, kan? Tadashi mengernyit sambil menekan kepalanya yang mendadak terasa sakit. Sadar ia tidak bisa memaksa diri berpikir terlalu keras. Jadi, tubuhnya sudah bertahan selama ini. Ia bergeming lagi.
Terdengar suara ketukan di pintu, kali ini jauh lebih halus dari suara sebelumnya. Goto tersentak bangun dan menyeberangi ruangan. Meraih kenop pintu dan mengayunnya terbuka, berusaha keras memaksakan seulas senyum dengan ujung bibirnya yang berkedut berbahaya.
"Selamat datang, Alice," ujarnya, tapi suaranya masih memendam kemarahan.
Alice tersenyum dan entah sengaja atau tidak -Tadashi tidak tahu- ia meraih lengan Goto yang terjulur untuk mengambil alih barang bawaannya, berhenti sesaat dan mengusap lengan Goto masih dengan senyuman itu.
Goto terlihat terkejut. Lalu ia membuang muka ke arah lain dan nampak merasa bersalah. Ia mengembuskan napas dan melanjutkan apa yang akan dilakukannya. Alice memberikan kotak makan siang besar itu padanya. Sebelah tangannya yang memegang tongkat mulai bergerak ke arah ranjang Tadashi.
Goto sampai di meja dan menyiapkan makanannya. Tadashi sempat melihat apa yang ada dalam kotak makan itu, rupanya omelet sederhana. Buatan Alice sendiri, kan?
Seketika Tadashi merasa seolah diguyur air sedingin hujan kemarin malam. Ia merasa sangat bersalah pada mereka. Pada Alice dan Goto. Dan jelas, ia tidak boleh bertindak bodoh lagi. Karna pada kenyataannya, Yoon juga pasti akan mencemaskan dirinya. Rasa-rasanya Tadashi dapat melihat kemarahan Yoon yang dua kali lebih parah dari Goto.
"Sudah merasa lebih baik, Tadashi?" Alice tersenyum ramah seperti biasanya.
Tadashi mengangguk dan ikut tersenyum. "Terima kasih."