Chapter 19

1536 Words
Goto menghela napas tanpa suara. Lantas membuka matanya yang terpejam dan menunduk memandang Alice. Guratan kekhawatiran dalam wajah cantik itu, yang ia harap bisa ia singkirkan. Benar. Untuk beberapa alasan, banyak hal menjadi rumit sekali pun keadaan terlihat baik-baik saja. Ia membungkukkan badan dan melipat kedua tangan untuk sandaran dagu. Berapa kali pun ia pikirkan, selalu berujung pada satu jalan buntu yang sama. Tak ada apa pun yang bisa ia lakukan untuk mengubah situasi ini. Untuk mengubah perasaan seorang Tadashi Hamada. Ia sudah mengenal laki-laki itu cukup lama. Keras kepala, cuek, menyebalkan, kadang tidak berperasaan, namun terlepas dari semua itu. Ia adalah salah satu teman terbaik yang ia miliki. Salah satu orang paling berharga dalam hidupnya. "Aku harap bisa melakukan sesuatu," Alice memulai lagi setelah keheningan panjang di antara mereka. Ia juga sedang memikirkan hal yang sama. Goto tersenyum nanar. "Aku sangat mencemaskan Yoon, sejujurnya," Alice menunduk memainkan ujung syal yang ia kenakan. "Aku tidak terlalu memercayai Ben. Entah kenapa." Goto bergeming sesaat sebelum akhirnya memberi jawaban singkat. "Aku juga." Alice menghela napas panjang. "Tentu aku juga mencemaskan Tadashi," kerutan dalam keningnya makin dalam, menandakan kesedihan. Goto berharap sekali bisa menghibur Alice. Setidaknya ia bisa mengatakan sesuatu agar membuat Alice tidak begitu merasa bersalah. Tapi kenyataannya ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Menjengkelkan sekali. "Sampai sekarang aku belum bisa menghubungi Yoon. Padahal biasanya dia sering sekali meneleponku. Aku merindukannya..." Goto tersenyum menyakitkan. Membenarkan posisi duduk dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi. "Aku bahkan tidak bisa mencoba menghubunginya. Setahuku Ben itu posesif, kan?" Alice mengangguk. "Aku jadi makin merasa aneh. Sebenarnya aku tidak ingin terlalu berpikir buruk pada Ben. Tetapi Yoon yang biasanya muncul di mana-mana mendadak hilang semenjak kedatangannya membuatku curiga juga." Alice terkesiap. Tapi tidak mengatakan apa-apa. "Kemungkinannya Ben melarang Yoon menghubungiku dan Tadashi, namun jika sampai melarang menghubungimu rasanya aneh sekali." Alice mengangguk setuju. "Jika terjadi sesuatu pada ponselnya pun. pasti dia akan mendatangimu, kan, Alice. Dia pasti sudah menangis histeris dan merengek padamu jika ponselnya rusak." Alice mengangguk lagi. Terlihat begitu lemah. Goto memejamkan mata. Sudah tidak tahan lagi. Ia tidak ingin melihat Alice sedih juga. Cukup sudah ia menyaksiakan dengan kedua matanya sendiri Tadashi yang berubah seperti mayat hidup. Hidup tapi mati. Ia benar-benar muak. "Alice," ujar Goto sungguh-sungguh. "Aku berjanji akan melakukan sesuatu, aku akan memastikan keadaan Yoon. Jadi kumohon, jangan bersedih lagi." Entah bagaimana caranya, Goto tidak tahu saat tiba-tiba tangan lembut Alice menyentuh tangannya dan tersenyum lembut. "Terima kasih, Goto. Aku harap dengan begitu, keadaan Tadashi juga membaik." Goto bergeming. Sentuhan Alice, meski sebentar, membuatnya melupakan cara untuk bernapas dalam sesaat. Dan senyuman di wajah Alice itu, membuat ia merasa dua kali lebih bersemangat. "Dan pastikan tindakanmu tidak membuat kesalahpahaman, ya, Goto," Alice mengingatkan dengan wajahnya yang bak malaikat itu. Goto bertanya-tanya apa wajahnya memerah? Ia mengangguk. "Tentu, Alice. Aku tidak akan membuatmu mencemaskanku juga." *** Yoon tersenyum cerah memandang pantulan dirinya dalam cermin. Kapan ya ia terlihat sebahagia ini? Ia bertanya-tanya dalam hati. Ah, kasa yang menutup sebelah pelipisnya ini cukup mengganggu juga. Tapi Yoon tidak masalah. Ia mengedikkan bahu, seolah hal itu bukan masalah besar. Karena saat ini, Ben kembali menjadi Ben yang dulu. Benedict Carl yang pertama kali ia kenal. Meski sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan waktu untuk dirinya. Merawat lukanya. Yoon mengambil sebuah lipstik merah kesukaan Ben dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang ia bawa. Ia terus tersenyum teringat pada sikap manis Ben. Pagi ini, Ben bahkan membuatkan sarapan untuknya. Siang tadi Ben juga memesankan makanan sehat untuk Yoon. Dan sekarang. Sesuai janji yang Ben buat, mereka akan membeli ponsel baru untuk Yoon. Bukan karena akan mendapat ponsel baru yang membuatnya bersemangat seperti ini. Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak Ben datang. Akhirnya mereka berdua bisa keluar dan berjalan-jalan. Yoon ingin berteriak saking senangnya. Lukanya makin membaik. Ia akan segera sembuh. Yoon yakin itu. Ia juga tidak memikirkan lagi hari di mana ia mendapatkan luka ini. Bagaimana pun Ben sudah meminta maaf. Bahkan menangis. Dan yang terpenting. Sikapnya berubah menjadi lebih baik. Jadi Yoon tidak mempermasalahkan luka ini lagi, sama sekali tidak. Pun Yoon tidak menyadari ia telah melupakan Tadashi. Melupakan Goto. Melupakan Alice. Hanya ada Ben di matanya. Hanya ada Ben dalam dunianya. "Kau sudah siap, Sayang?" Ben mengusap bahunya dan mengecup singkat puncak kepala Yoon. Yoon mengangguk sambil tersenyum. Memandang mata biru Benedict Carl yang begitu indah dalam cermin. "Baiklah, kita berangkat sekarang," Ben melipat sebelah tangan, sengaja memberi ruang untuk Yoon agar menggandengnya. Yoon tersenyum ceria. Menggenggam lengan laki-laki yang paling ia cintai di dunia. Dalam perjalanan mereka menggunakan mobil Ben. Segalanya terasa begitu cepat. Yoon terus tertawa-tawa, Ben menceritakan banyak hal tentang pengalamannya selama tinggal di New York. Ketika mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan pun, Yoon tidak pernah melepas lengan Ben dalam genggamannya. Hanya ketika Ben menerima telepon dan mengatakan Yoon untuk menunggu di restoran yang akan mereka masuki. Yoon mengangguk setuju tanpa menanyakan apa pun dan berjalan masuk menuju restoran yang Ben tunjuk. Sepanjang perjalanan singkatnya Yoon memikirkan ingin makan steak. Sampai tiba-tiba ia menghentikan langkah karena mendengar seseorang memanggil namanya. Yoon menoleh, mungkin hanya perasaannya saja. "Yoon!" "Eh," Yoon menoleh ke lain sisi dan melihat Goto berlari ke arahnya. Yoon terbelalak. Tidak! Bukannya ia tidak ingin bertemu Goto. Hanya saja jika Ben melihat, ia bisa salah paham. Yoon ingin segera masuk ke dalam restoran. Tapi ia sudah terlanjur melihat Goto. Goto pasti juga menyadari Yoon telah melihat dirinya. "Ah, Yoon," Goto sampai di tempatnya sambil terengah-engah. "Ternyata benar di sini," ia bergumam sendiri. Yoon tergagap. Bingung harus bicara apa. Goto mengatur napas. Kemudian menegakkan punggung. Barulah saat itu menyadari kain kasa yang menutupi pelipis Yoon. "Yoon, kau kenapa? Apa ini?" Ia menunjuk benda itu. Yoon tersenyum gugup. Mengambil selangkah mundur. "Aku hanya tidak sengaja terjatuh." Goto memandangnya curiga. Jelas tidak percaya. "Kau tidak seperti dirimu yang biasanya." "Tidak, Goto," sahut Yoon cepat, mungkin terlalu cepat dan justru membuat Goto makin mencurigainya. Ia langsung menyesal. "Aku baik-baik saja, sungguh." "Begitu," sebelah alis Goto terangkat, terlihat tidak senang dengan penjelasan Yoon. "Lalu kenapa kau menghilang? Alice mengatakan padaku kau bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Padahal Alice sangat mencemaskanmu." "Eh, itu... Ponselku rusak," Yoon berharap bisa menyembunyikan ketakutan dalam raut wajahnya. Tapi sepertinya Goto tidak bisa dibohongi. Ia mencengkeram lembut bahu Yoon. "Ini sama sekali bukan seperti dirimu yang biasanya, Yoon. Kau kenal aku dan kenal Tadashi seratus kali lebih baik. Jika terjadi sesuatu kau bisa mengatakannya padaku, atau Tadashi jika menurutmu itu lebih mudah." Yoon terenyak. Sesaat melupakan cara untuk bicara. "Goto," ujarnya sungguh-sungguh. "Aku bahagia, ada Ben bersamaku. Aku tidak mengerti kenapa kau mencurigainya begini. Aku sangat-" "Mencintainya?" Goto memandang langsung ke dalam mata Yoon. Seolah bisa membaca segala rahasia di balik matanya. "Lantas jika begitu, membuatmu tak masalah meninggalkan kami? Apa kau tahu bagaimana keadaan Tadashi?" Yoon menjatuhkan pandangan. Ia tidak boleh menangis. Tadashi. Ia teringat. Tadashi Hamada. Ia tidak bermaksud seperti ini. Sama sekali tidak... Detik berikutnya Yoon tidak tahu apa yang terjadi. Goto melepas dirinya dan terhuyung. Nyaris terjatuh. Yoon tidak menyadari kapan Ben datang di antara mereka. "Apa yang kau lakukan?" Suara Ben dalam penuh kemarahan. Yoon langsung gemetar. Apa yang harus ia lakukan? Sesaat Goto masih terkejut dengan apa yang barusan ia terima. Sebelah tangannya masih memegangi pipi kanannya yang ditinju Ben. "Wah, apa-apaan kau b******k?!" Tidak! Tidak seharusnya Goto bicara kasar begitu... "Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu, sialan! Apa yang kau lakukan pada pasangan orang lain? Memangnya kau apa? Tidak memiliki harga diri?" Wajah Goto menggelap. Ia marah sekali. Tanpa berteriak pun suaranya dua kali lebih keras dari Ben. "Persetan denganmu," ia maju dan melayangkan tinju pada Ben. Yoon memekik tertahan. Ben berhasil menangkis tinju Goto tapi tidak dengan tendangannya yang langsung mengarah ke perut. Di saat itu lah Goto menjambak rambut Ben dan memukulkan wajahnya pada lutut. Yoon langsung menangis. "Tidak, Goto kumohon hentikan." Goto langsung tersadar dan melepaskan Ben. Tapi Ben malah menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Goto. Sebuah tinju mengenai pipi Goto yang lain. Goto tidak bergeming, meski masih begitu marah ia hanya mencengkeram bahu Ben dan mendorongnya menjauh. Yoon bergerak maju, berusaha menarik Ben menjauh. Goto segera melepasnya. Lagi-lagi Ben justru ingin menyerang. Sampai secara tidak sengaja menyikut perut Yoon. Yoon jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. Goto terkesiap. Dengan begitu mudah sekali bagi Ben meninju wajahnya lagi. Goto ingin sekali langsung membunuh Ben saat itu. Tapi ia mengabaikan rasa sakitnya dan berangsur mendekati Yoon. "Yoon, kau baik-" "Menjauh kau sialan!" Goto berhasil menangkis tendangan Ben. Mencengkeram kakinya, berkeingingan kuat untuk mematahkan tulang sialan itu, tapi pada akhirnya mendorongnya hingga Ben tersungkur. "Kau menyebut dirimu laki-laki?" Suaranya lirih sarat kebencian. Napas Ben memburu. Balik memandang Goto sama bencinya. "Kau sudah melukai seseorang yang kau bilang kekasihmu. Bahkan kau mau menendangku, kau terlalu bodoh atau apa? Tendanganmu bisa mengenainya juga." "Goto, kumohon," Yoon berkata lirih. Masih memegangi perutnya. Ia mendongak, wajahnya basah. Memandang Goto dengan tatapan memohon. "Kumohon pergilah." Goto tidak bereaksi. Hanya memandang Yoon tanpa ekspresi. "Alice merindukanmu," hanya itu yang ia ucapkan sebelum akhirnya berbalik pergi. Yoon menunduk. Menangis lagi. Sampai di rasakannya Ben memeluk tubuhnya yang begetar sambil meminta maaf. Ia tidak bisa berhenti menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD