Goto melongok Tadashi dari meja kerjanya. Jelas ia tidak bisa menyembuyikan wajahnya yang penuh memar. Dan dipastikan juga tidak bisa menghindari pertanyaan dari mana ia mendapat luka-luka ini. Tapi meski begitu. Ia tetap harus memberi tahu Tadashi.
Goto mengambil keputusan cepat. Ia bangkit dan berjalan menuju meja kerja Tadashi. Semalam, sesuai dugaannya. Yoon ada di pusat perbelanjaan itu. Sebenarnya kemarin malam Goto sudah berkeliling di beberapa tempat yang memiliki kemungkinan akan Yoon kunjungi. Ia juga datang ke bar saat memergoki Yoon sendirian. Ia sudah membulatkan tekad untuk menyusuri tempat-tempat dalam dugaannya hanya untuk memastikan keadaan Yoon. Karena jelas saja ia tidak bisa langsung menemui gadis itu di apartemennya. Dan benar saja, Goto tidak bisa membayangkan akan separah apa jadinya jika ia sampai menemui Yoon di apartemennya.
Goto meringis kesakitan. Mengalihkan pandangan pada Tadashi lagi. Sosok yang masih terlihat seperti mayat hidup. Goto menghela napas sedih. Setidaknya jika merasa tertekan, bisakah Tadashi memberitahunya? Mereka bisa berbagi luka. Jangan menanggungnya sendirian begitu.
"Tadashi," Goto mendudukkan diri di meja Tadashi tanpa permisi. Sudah kebiasaannya begitu.
"Hmm," Tadashi tak menoleh. Menyibukkan diri pada pekerjaannya. Selalu saja.
Goto menimbang-nimbang. Ia ingin menceritakan hal ini, tapi kalau bisa tanpa membuat Tadashi makin cemas. Mustahil. Jawabannya mustahil. Sebagai teman saja, ia sudah marah sekali pada Ben dan ingin membunuhnya saat itu juga. Bagaimana bisa ia tidak merasa bersalah sudah memukul Yoon seperti itu. Nah, ia jadi mencemaskan gadis itu lagi. Ia juga merasa bersalah di lain sisi. Semoga keadaannya baik-baik saja dan perutnya tidak mengalami masalah.
"Ada apa? Kenapa diam-" Tadashi terperangah melihat wajah Goto.
Goto nyengir dan langsung menyesalinya. Ia mengusap pipi, mengaduh kesakitan.
"Ada apa denganmu? Kau berkelahi?"
Tadashi terlihat galak sekali, Goto baru ingat ia juga merindukan kegalakan Tadashi. "Lupaka soal wajahku, ada hal lebih penting yang ingin kusampaikan."
Tadashi baru akan memprotes jika Goto tidak mengangkat sebelah tangan, menghentikannya.
"Aku bertemu Yoon kemarin."
Raut wajah Tadashi langsung berubah. Goto mengalihkan pandangan. Ke mana pun asal tidak melihat sepasang mata menyedihkan itu. Hatinya ikut terasa sakit.
"Dia baik-baik saja?"
Goto tidak langsung menjawab. Ia tidak tega. "Iya, tapi tidak, sejujurnya tidak."
"Apa yang terjadi?" Kekhawatiran itu tidak bisa ia sembunyikan dari suaranya.
"Untuk pastinya aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi," sebisa mungkin Goto tidak memandang mata Tadashi. "Pelipis Yoon terluka, ditutup kasa. Dan, dan..." Ia takut untuk melanjutkan.
"Terluka? Kenapa? Bagaimana bisa?"
Orang-orang mulai memerhatikan mereka. Pun Goto tidak bisa sekedar memberitahu Tadashi untuk lebih tenang sedikit.
"Aku tidak tahu, tapi benar apa yang kalian, kau dan Alice katakan. Si b******k itu posesif sekali. Aku berkelahi dengannya semalam," Goto menjatuhkan pandangan serendah-rendahnya. Ia sangat merasa bersalah. Jika saja ia bisa menahan diri dan tidak berkelahi dengan Ben, Yoon tidak akan kena sikut.
"Bagaimana bisa?" Tanpa sadar Tadashi mengulangi pertanyaan yang sama.
"Aku hanya bertanya kenapa pelipis Yoon terluka. Tiba-tiba dia muncul dan meninjuku. Lalu, dalam perkelahian kami. Perut Yoon, tidak sengaja disikut oleh si b******k itu."
Tadashi terdiam. Tubuhnya membeku. Goto bergerak cemas. Bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Ia harus menyadarkan Tadashi.
Tiba-tiba Tadashi meraih tas kantornya. Mencari ponsel dan mencoba menelepon. Pasti Yoon.
"Nomornya tidak aktif," gumamnya. Tapi tidak menyerah dan mencoba menelepon Yoon lagi.
Tadashi pasti sudah menahan diri selama ini untuk tidak menghubungi gadis itu. Pasti menyakitkan sekali.
"Goto cepat gunakan ponselmu, tolong telepon Yoon."
"Tidak, Tadashi. Alice sudah mencoba menghubunginya selama ini. Yoon memang tidak bisa dihubungi."
Tadashi terhenyak lagi. Goto menyesal. Tidak menyangka reaksi Tadashi akan semenyakitkan ini.
"Harusnya aku memastikannya lebih awal," Tadashi memandang menerawang. Melupakan keberadaan Goto di sisinya.
Maaf. Goto harap bisa menyuarakan permintaan maafnya.
"Aku harus menemuinya."
Perang dunia ke tiga! Goto tersentak bangun. Tidak, Tadashi tidak boleh dibiarkan. "Tidak, Tadashi, tenang dulu," ia meraih lengan Tadashi yang kini bangkit. Belum pernah dilihatnya Tadashi semarah ini.
"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang jika Yoon terluka?"
Semua orang serentak menoleh. Pasti sama terkejutnya melihat Tadashi yang marah. Sosok yang bahkan tidak berperasaan bisa terlihat semarah ini. Pasti pemandangan yang langka.
"Aku mengerti kau khawatir," Goto masih berusaha mencegahnya.
"Tidak! Kau tidak mengerti, Goto!"
"Aku mengerti!" Goto tanpa sengaja mengeraskan suaranya. Membuat suasana dalam ruangan itu makin menegangkan saja. "Aku mengerti," ucapnya jauh lebih lirih. "Tapi coba kau bayangkan apa yang akan terjadi jika kau sampai datang. Kau akan berakhir sepertiku, dan itu tidak membuat Yoon menjadi lebih baik. Bahkan kemungkinan Yoon bisa terluka lagi. Dia bodoh berusaha memisahkan aku dan Ben. Kau dengar? Aku dan Ben. Hanya aku. Kau pikir apa yang akan terjadi jika posisinya menjadi kau dan Ben?"
Ketegangan dalam tubuh Tadashi menguap. Sorot matanya berubah menjadi sedih lagi.
"Aku punya rencana," ujar Goto yakin. Berharap bisa meyakinkan Tadashi yang selalu keras kepala.
"Rencana apa?"
"Kita akan mengantar Alice sampai ke apartemen Yoon. Biar Alice saja yang menemuinya. Kita menunggu dalam mobil. Dengan begitu Alice bisa memastikan keadaan Yoon. Dan kabar baiknya tanpa ada keributan macam ini lagi."
Butuh waktu begitu lama bagi Tadashi untuk berpikir sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Sore ini ikut denganku menemui Alice," tentu Goto tidak akan membiarkan Tadashi menyetir dengan keadaan seperti ini.
Nah, sekarang. Bagaimana caranya menceritakan hal ini pada Alice tanpa membuatnya cemas? Setidaknya Alice tidak akan mencemaskan dirinya karena tidak bisa melihat memar di wajahnya, kan.
Tapi kenyataannya tidak. Sore itu. Hal pertama yang Alice lakukan begitu Goto datang adalah menyentuh wajahnya. Goto tidak menyangka Alice bisa terlihat seterkejut itu.
"Apa yang terjadi padamu, Goto?" Ia memekik cemas.
Terkadang. Goto lupa betapa spesialnya Alice. "Maaf, Alice. Jangan mencemaskanku. Aku baik-baik saja, yang terpenting. Aku membutuhkanmu," Goto menjelaskan rencananya pada Alice.
Alice langsung setuju dan bersemangat sekali. Meski tidak sepenuhnya bisa mengenyahkan kekhawatiran dari wajahnya. Ia bertekad akan membantu Yoon bagaimana pun caranya.
Sementara itu. Tadashi. Laki-laki itu masih diam. Ke mana perginya jiwa laki-laki ini? Seolah hanya tubuhnya saja yang hadir di antara mereka.
Goto jadi menyadari. Sebegitu besarnya cinta Tadashi pada Yoon. Gadis bodoh yang bahkan tidak peka sama sekali. Jika jadi Yoon, Goto bertanya-tanya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari perasaan Tadashi yang sebegini besarnya?
Yah, benar. Jawabannya hanya satu. Yaitu karena Yoon bodoh. Sangat bodoh.
***
"Berjanjilah padaku apa pun hasilnya kau tidak akan melakukan hal bodoh," kata Goto pada Tadashi yang duduk bersandar seolah tak bernyawa di sisinya.
Tadashi tak menyahut. Goto juga tak terlalu mengharapkan jawaban. Ia sudah menduga hal ini. Ia memerhatikan Alice yang menjauh. Alice bersikeras meyakinkan mereka akan baik-baik saja jika masuk sendiri. Ia sudah terbiasa, katanya. Jika tidak mengingat betapa spesialnya Alice, ia pasti sudah mengikutinya diam-diam.
Begitu Alice menghilang dari jangkauan pandangannya, Goto mendesah lelah dan ikut menyandarkan punggung. Satu-satunya hal yang begitu ia harapkan saat ini, tidak akan ada keributan antara mereka dan Ben. Antara Tadashi dan Ben terutama.
Goto bergerak tak nyaman. Bagaimana bisa Yoon bertahan dengan cecunguk itu, sih? Ia tidak habis pikir. Kalau dibilang tampan, memang iya, tapi Tadashi juga tampan. Dengan satu kelebihan tak terelakkan, Tadashi begitu mencintai Yoon. Mungkin ada yang salah dengan kepala gadis itu.
Ia melirik Tadashi dari ujung matanya. Laki-laki ini bahkan nyaris tak terlihat bergerak. Seperti patung. Goto tidak menyangkal ia mulai merasa takut. Ia yang tergolong kuat di kelasnya saja takut pada kemarahan Tadashi. Seharusnya Ben juga begitu.
"Kapan Alice akan menelepon?"
"Eh," Goto menoleh. Cukup terkejut dengan suara Tadashi yang dingin itu. "Aku tidak tahu, kita tunggu saja."
"Jika Alice tidak kunjung menelepon, kau telepon saja dia."
Goto baru saja akan mengatakan agar Tadashi bersabar. Tapi ia mengurungkan niatnya. Karna percuma saja. Di saat seperti ini Tadashi tidak akan mendengarkannya. Jadi ia memilih untuk diam saja.
Goto mengerti. Waktu yang mereka habiskan memang terasa lama sekali. Terasa begitu lama. Ia memandang ke depan. Ke langit gelap tanpa bintang. Semoga Alice baik-baik saja. Si b******k itu tidak mungkin meyakiti perempuan secara sengaja, kan?
Ah, tidak. Goto mengusap wajah gelisah. Ia jadi mencemaskan Alice. Rasanya ingin berlari keluar dan menghentikan Alice. Benar! Ben terlalu berbahaya. Apa yang ia pikirkan? Membiarkan Alice pergi sendirian ke tempat laki-laki b******k itu?!
Tetapi... Jika Ben berani memukul perempuan tentu Yoon sudah menceritakan semuanya pada mereka, kan? Ia melirik Tadashi lagi. Benar. Tenang dulu. Tarik napas. Yoon memang bodoh, tapi tidak sebodoh itu untuk mempertahankan laki-laki kasar macam itu, kan?
Goto menyandarkan punggung lagi. Menghela napas panjang. Ia harus tenang. Jika tidak, Tadashi akan berlari mendahuluinya menemui Yoon dan segalanya akan bertambah rumit.