Chapter 9

1881 Words
Tadashi baru akan duduk di meja kerja di kantornya ketika Goto memanggil. Dengan suaranya yang luar biasa keras membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka. Goto terengah-engah begitu sampai di tempatnya. Sepertinya ia sudah mengejar Tadashi sejak di tempat parkir. "Ada apa?" Goto mendecak kesal. "Ada apa denganmu? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Ia menunjuk wajah Tadashi seolah ada yang aneh dengan wajah itu. "Aku memanggilmu sejak melihatmu turun dari mobil. Tapi bahkan kau tidak menungguku, aku sedang parkir saat itu." Tadashi termenung. Benarkah, kenapa ia tidak menyadarinya? Yah, ia memang merasa kesal karena semalam. Seharusnya ia sudah terbiasa. Ia juga tidak tahu hal itu tiba-tiba begitu menyakitinya lagi. Membuatnya jengkel. "Nah... Nah... Kau mulai lagi." "Jadi ada apa?" Seolah baru teringat pada hal yang akan disampaikannya Goto menepuk kening. "Kemarin aku bertemu dengan Yoon di Central Park. Tebak bersama siapa dia saat itu?" Oh, tidak. Kenapa Tadashi harus mendengar hal itu sepagi ini? Lagipula sudah berapa kali ia menjelaskan pada Goto bahwa ia hanya berteman saja dengan Yoon. Mata Goto berkilat-kilat. "Dia bersama Alice!" "Eh?" Tadinya Tadashi mengira Goto akan mengatakan Yoon sedang bersama Ben dan mengira gadis itu berselingkuh atau apa. "Aku mengerti, kau pasti sama terkejutnya denganku. Aku tak habis pikir bagaimana bisa mereka duduk bersama dan terlihat akrab sekali," jelas Goto berapi-api. "Dan kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Yoon pamer padaku dan bertingkah seperti tokoh antagonis." "Antagonis?" Tadashi mengernyit. Goto tidak menghiraukannya. "Bahkan aku harus mentraktirnya agar dia mau bicara," Tadashi menepuk pundak Tadashi seolah iba. "Sekarang aku mengerti bagaimana bebanmu selama ini." Kerutan dalam kening Tadashi bertambah dalam. Apa maksudnya? "Oh, ya!" Mendadak Goto berapi-api lagi. "Kenapa kau bahkan tidak menjawab telepon dari Yoon semalam? Aku hampir gila hanya berdua saja dengan Yoon! Dia itu benar-benar menyeramkan!" Goto mengguncang-guncangkan pundak Tadashi dengan kedua tangan dengan kekuatan penuh. Segera saja Tadashi menepis tangan Goto. "Semalam?" Tadashi sampai memiringkan kepalanya ke satu sisi saking terkejutnya. "Kau makan malam bersama Yoon semalam? Jadi semalam itu... Oh, astaga," Tadashi mengusap wajah. Merasa benar-benar bodoh. "Kenapa?" Alis Goto bertaut penuh tanya. Seketika itu penyesalan menghujam Tadashi bertubi-tubi. Ia menghela napas dalam. Ia harus menemui Yoon sepulang kerja, gadis itu bisa salah paham karna ia tidak membalas pesan dan menjawab telepon darinya. Sejak semalam sampai sekarang ia bahkan belum memeriksa ponselnya lagi. Baiklah, ia harus mulai kerja sekarang agar bisa pulang lebih awal. *** Ketika pulang di sore harinya, Tadashi mendapati Yoon berjongkok di depan pintu apartemen. Wajahnya murung sekali. Ia juga membawa sebuah kantong plastik besar dalam dekapannya. Tadashi berjalan mendekat tanpa suara. Begitu menyadari kehadirannya Yoon tersentak dan langsung bangkit. "Huaaa, Tadashi..." Ia menyongsong Tadashi dan menabraknya. Dan satu hal yang sama sekali tidak pernah ia duga. Yoon menangis. "Tadashi... Kenapa kau mengabaikanku? Apa kau akan meninggalkanku, Tadashi...." Sesuatu seolah menusuk jantung Tadashi saat itu. Yoon, menangis karena dirinya? Ia mendorong Yoon menjauh, meraih wajah gadis itu dengan kedua tangan dan memastikan apa ia salah dengar. Pipi Yoon basah, wajahnya lucu sekali dalam dekapan tangan Tadashi yang besar. "Kenapa kau menangis?" Yoon melepas tangan Tadashi dari wajahnya dan memandang curiga sekilas. "Aku takut karena kau mengabaikan pesan dariku, tidak menjawab telepon dariku, bahkan sampai sekarang kau tidak menghubungiku sama sekali. Aku jadi berpikir macam-macam." Untuk beberapa alasan Tadashi ingin terus menatap wajah itu. Yoon terlihat menggemaskan tapi Tadashi lebih suka saat ia tidak menangis. "Oh," mendadak Yoon teringat. "Aku juga membawa buah-buahan dan beberapa obat. Aku sempat berpikir kau sakit dan tidak bisa menggunakan ponsel." Tadashi tersenyum. "Sebegitunya kau mencemaskanku?" Yoon mendengus sebal. "Karena kau tahu betapa cemasnya aku, jadi jangan begitu lagi. Jangan membuatku mengkhawatirkanmu lagi." Tadashi mengusap puncak kepala Yoon dan berjalan melewatinya untuk membuka pintu. "Kau tahu," Yoon mengekor di belakang tubuhnya. "Saat aku datang dan kau tak ada, aku benar-benar mengira kau memang akan meninggalkanku." "Karena itu kau menangis?" Tadashi melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Yoon mengangguk enggan. Lantas ia memberikan kantong plastik besar itu pada Tadashi. Tadashi menerimanya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong bukankah kau bisa bertanya pada Goto apa aku sakit atau tidak." Yoon terkesiap. "Benar juga, bagaimana bisa aku melupakan itu." Tadashi terkekeh geli. Ia sangat bahagia Yoon mencemaskan dirinya, meski ia tidak suka melihat Yoon menangis tentu saja. "Jadi Tadashi kenapa kau mengabaikanku?" Yoon menatapnya lurus-lurus. Tepat ke dalam mata hijau Tadashi yang tak balik menatapnya. Tadashi bergeming sesaat. Lalu mengangkat pandangan lambat-lambat tepat pada mata cokelat cerah Yoon. "Sepetinya ponselku rusak. Aku tidak mendengar notifikasi apa pun." Yoon terpekur. Berpikir keras mencerna jawaban Tadashi. Tadashi merasa bersalah karena sudah berbohong, tapi ia tidak punya pilihan lain. Yoon mengedikan bahu, nampaknya sudah tak ingin memikirkan hal itu lagi. "Oh, ya, Tadashi. Kau pulang lebih awal hari ini, kenapa?" Yoon mengikuti Tadashi berjalan menuju dapur. Sementara Tadashi mulai membereskan bawaan Yoon, ia mendudukan diri di balik konter. "Tidak ada alasan, hanya ingin saja," lagi-lagi ia berbohong. Tadashi hanya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia mengeluarkan buah-buahan terlebih dulu. Mengambil beberapa apel, memotongnya dan menyajikannya di piring untuk diberikan pada Yoon. "Kenapa memberikannya padaku? Aku membawanya untukmu," protesnya. "Sudahlah, makan saja. Kau ingin menjadi sekurus apa lagi," itu bukan pertanyaan. Tadashi mengambil beberapa buah pisang dan anggur lalu memberikannya juga pada Yoon. Mata Yoon membulat. "Setidaknya makanlah juga bersamaku," rengeknya. Tadashi berhenti bergerak. Kemudian mengangguk dan mengambil sebuah potongan apel. Setelahnya ia kembali sibuk menyiapkan berbagai hal untuk memasak. "Kau akan memasak?" Tanya Yoon dengan mulut penuh. Tadashi mengangguk, masih sibuk dengan pekerjaannya. "Ngomong-ngomong aku berkenalan dengan Alice kemarin," ia mulai menjelaskan. Mengambil sebuah anggur, mengigitnya separuh, mengambil biji-bijinya dan memakannya lagi. Tadashi melangkah mendekat dan membelah semua anggur menjadi dua dengan pisau di tangannya. Yoon memandangnya takjub. "Untuk apa itu?" "Agar kau mudah memakannya." Yoon tersenyum dengan mulut penuh anggur. "Kau harus mencobanya juga ini enak sekali," Yoon mengulurkan sebelah tangannya, bermaksud menyuapi Tadashi. Tadashi bergeming menatap jemari Yoon di hadapannya. Yoon mulai menggoyang-goyangkan tangan, memberi isyarat ia mulai pegal. Lantas Tadashi membuka mulut dengan harapan wajahnya tidak terlihat aneh. Yoon tertawa kecil. Terlihat senang sekali. "Oh, sampai di mana tadi," ia teringat. "Kau berkenalan dengan Alice." Yoon mengangguk semangat. "Benar. Kau pasti sangat tidak menyangka aku bisa berkenalan dengan Alice. Dia gadis yang baik sekali..." Yoon seolah akan meledak saking senangnya. "Kami juga mengobrol banyak hal. Kau tahu, bahkan Alice bisa membuat daun yang dilaminating itu, aku tidak tahu pasti apa itu diawetkan lebih dulu atau tidak. Yang jelas Alice sudah berjanji akan mengajariku untuk membuatnya. Dan bahkan, Tadashi!" Yoon berseru penuh semangat. "Alice akan memberiku satu." Tadashi ikut senang dengan keceriaan Yoon. Melihat gadis itu begitu ceria membuat ia merasa begitu lega. "Tidak perlu khawatir, Tadashi, saat aku sudah bisa membuatnya, aku akan membuatkan satu khusus untukmu." Tadashi terdiam. Seolah terpaku ke dalam lantai. Hanya ada Lee Yoon satu-satunya orang di dunia. Hanya ada Lee Yoon. Yoon menjentik-jentikan jemarinya, bermaksud menyadarkan Tadashi dari lamunan. "Kenapa kau melamun? Apa kau mendengarkanku?" Tadashi mengangguk. "Kau akan membuatkan khusus untukku, aku senang mendengarnya." Yoon tersenyum bangga. "Tapi sayangnya aku batal bertemu Alice sore ini. Tadi pagi Alice meneleponku dan memberitahu keluarganya datang berkunjung." "Menelepon?" Yoon mengangguk. "Kau pasti tidak memercayainya. Meski memiliki kekurangan Alice itu spesial sekali. Dia bisa membaca buku biasa seperti layaknya kau dan aku, dia juga bisa menggunakan ponsel, meski agak terbatas untuk benda itu. Tapi singkatnya Alice seolah bisa melihat dengan menyentuh. Kau paham penjelasanku, kan, Tadashi?" Tadashi mengangguk. Menuangkan air mineral ke dalam gelas dan memberikannya pada Yoon. Yoon menegaknya sampai tersisa setengah. Lalu mendesah lega. "Alice benar-benar luarbiasa, kan?" Tadashi mengangguk lagi. "Hei, Tadashi!" Mendadak Yoon berseru kelewat keras. "Kemarin bahkan aku bertemu Goto dan makan malam di tempat kau pernah mentraktirku itu! Demi Tuhan kau harus melihat raut wajahnya saat pertama kali melihatku duduk bersama Alice!" Yah, kurang lebih Tadashi sudah mengetahui bagaimana reaksi Goto saat itu. "Sejujurnya aku masih agak kesal dengan semalam itu. Padahal aku ingin mengajakmu makan malam bersama juga. Dan kabar baiknya, aku yang traktir." Goto yang traktir, dalam hati Tadashi membenarkan. "Aku juga berencana akan mengajakmu bersepeda di Brooklyn Bridge setelahnya." Tadashi termenung. Menangkap kejujuran dari balik mata Yoon. "Kalau begitu ayo kita lakukan setelah ini." Wajah Yoon seketika berubah ceria lagi. "Baiklah!" "Tapi pastikan kau menghabiskan sayuran yang aku masak untukmu." "Tidak masalah," sahut Yoon penuh keyakinan. *** "Wah..." Yoon berseru lega sembari menjatuhkan dirinya di atas sofa. Tadashi hanya tersenyum kecil di belakangnya. Berjalan melewati ruang tamu menuju dapur. Mengambilkan air mineral untuk Yoon. Mereka baru selesai bersepeda di Brooklyn Bridge. Dan Yoon tidak hentinya mengeluh senang. Rasanya tidak seperti saat pertama kali ia menginjakan kaki di sana. Rasanya benar-benar menyenangkan. Sesekali ia juga membantu mengayuh sepeda bersama Tadashi, tapi laki-laki itu selalu mengomel. Ia bilang kaki Yoon terlalu pendek. Cih. Sombong sekali hanya karna ia begitu tinggi. Yah, meski begitu ia tetap senang. Tadashi kini duduk di meja kerjanya dan meneguk air dari botol air mineral yang diambilnya dari kulkas. Mendadak Yoon teringat. "Tadashi, kau sudah janji akan menggambarku. Kau tidak pura-pura lupa, kan?" Ia menyipitkan mata curiga. Tadashi menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau tinggal katakan kapan dan aku siap melakukannya." Senyum Yoon mengembang. "Kau memang terbaik," ia bangkit dan memberikan ponselnya pada Tadashi. "Aku sempat mengambil beberapa foto saat memboncengmu tadi," ia menunjukan foto-foto selfinya pada Tadashi. Tadashi mengernyit heran. Tapi ia senang karna dalam foto-foto itu Yoon terlihat bahagia. Sangat bahagia. "Kurasa ini yang terbaik, aku terlihat cantik sekali," Yoon berhenti pada sebuah foto. Tadashi langsung mengerti. "Baiklah, kau ingin aku menggambar foto yang ini?" Yoon mengangguk-anggukan kepala dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Membuat Tadashi mencibir kepalanya bisa lepas nanti. Beberapa menit berlalu Yoon menunggu sembari duduk di sofa. Tidak melakukan apa-apa membuatnya bosan juga. Tiba-tiba ponselnya berdering. "Dari Goto," ucap Tadashi sebelum ia sempat bertanya. Yoon mengambil ponsel itu segera. "Ada apa Goto?" "Hei, apa kau sudah gila? Kau memaksaku harus berkenalan dengan Alice hari ini. Aku sudah menunggu selama ini tapi kenapa kalian tidak muncul juga?" Yoon mejauhkan ponsel dari telinga. Suara Goto bisa saja merusak gendang telinganya. "Ah, ya... Aku lupa memberitahumu. Alice tidak datang hari ini karna keluarganya datang berkunjung," jelas Yoon hati-hati. Sekali lagi Yoon menjauhkan ponsel dari telinga. Sepertinya Goto mulai mengamuk dan menangis. "Maafkan aku, Goto. Aku benar-benar lupa memberitahumu." Tadashi memandangnya. Menunggu. "Sebagai permintaan maaf dariku aku akan mentraktirmu nanti. Dan juga, aku sedang sibuk saat ini, sampai nanti," Yoon segera memutus hubungan tanpa menunggu jawaban. Lalu nyengir pada Tadashi. Tadashi menggeleng-gelengkan kepala tanpa berkomentar. Yoon mengulurukan ponselnya kembali pada Tadashi. Mengambil sebuah buku sketsa dan pulpen di meja kerja Tadashi. "Untuk apa kau mengambilnya?" "Aku bosan tidak melakukan apa pun," jelasnya sambil lalu. Ia kembali duduk di sofa. "Kau bahkan belum mengganti buku sketsaku yang dulu." "Ish, baiklah... Baiklah... Besok aku akan menggantinya," ia mulai mencoret-coret buku sketsa itu, menggambar apa pun yang terlintas dalam pikirannya. "Kau juga akan mentraktir Goto besok, kenapa tidak mentraktirku sekalian? Kau pilih kasih sekali." Yoon memandang Tadashi tajam. Dengan wajah khas cemberutnya. "Baiklah, aku juga akan mentraktirmu." Tadashi tertawa, merasa menang. "Setuju, besok kita ke Times Square." "Kau tidak berniat merampokku, kan?" Tadashi hanya tertawa. Ia nyaris yakin yang terjadi besok adalah sebaliknya. Tetapi ia begitu senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD