Chapter 10

1170 Words
Alice tak keberataan saat Yoon mengatakan temannya akan datang. Ia juga menambahkan akan mengenalkan mereka pada Alice. Sore itu Alice juga memberikan daun laminating yang sudah ia janjikan pada Yoon. Dan berjanji akan mengajak Yoon ke apartemennya saat Yoon memiliki waktu luang lain, karna Yoon tidak bisa berkunjung hari ini. Ia sudah berjanji akan pergi bersama Tadashi. Yoon melambaikan tangan dengan semangat begitu melihat Tadashi dan Goto datang. Seketika itu wajah Goto berubah, seolah sesuatu baru saja memukul perutnya. Yoon langsung cekikikan membuat Alice di sampingnya bingung. "Teman-temanku datang, Alice," jelasnya. Alice mengangguk dan tersenyum. "Tadashi!" Yoon memanggil laki-laki itu dengan bersemangat. Tadashi balas tersenyum. Yah, ini saatnya. Ia melirik Goto lagi dan menyeringai. Membuat Goto langsung berpura-pura tidak mengenalnya. "Nah, Alice," Yoon memulai begitu keduanya sampai. "Perkenalkan dua temanku yang keren ini," ia memandang Goto dengan tatapan jahil. Lagi-lagi Goto langsung mengalihkan pandangan. Ia tidak sanggup memandang Yoon, memandang Alice juga tidak membuatnya lebih baik. Ia gugup sekali. "Tadashi, ini Alice. Alice, ini Tadashi." Alice mengangguk sambil tersenyum. "Senang berkenalan denganmu, Alice," ucap Tadashi. Dengan sebelah tangan menunjuk kening Yoon bermaksud agar ia berhenti menjahili Goto. Yoon langsung menatapnya tajam dan menepis tangannya segera. "Dan ini Goto, Alice." Goto ingin mengulurkan sebelah tangan, tapi tidak jadi. Sebagai gantinya ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Se-" "Senang berkenalan denganmu juga, Goto." Goto terkesiap. Seolah terkena serangan jantung memandang wajah cantik Alice yang tersenyum. Yoon cekikikan. Tadashi langsung membungkam mulutnya. Dan sebelum Yoon sempat memprotes ia meletakan jari telunjuk di bibir. Yoon memberengut. Walhasil Yoon menghabiskan sepanjang sore itu dengan menahan tawa. Sayang sekali ia tidak bisa menjahili Goto karena Tadashi selalu mengawasinya. *** Yoon menghela napas lega dan menyandarkan punggung dengan nyaman. Kini ia duduk di samping Tadashi dalam perjalanan menuju Times Square. Tadashi meliriknya sekilas. Masih berfokus pada jalanan di depan. "Kenapa kau jahil sekali pada Goto?" Setelah keheningan yang cukup lama ia membuka suara. Yoon tersenyum. "Tidak ada alasan, Goto itu tipe orang yang menyenangkan untuk dijahili. Menyenangkan sekali melihat reaksinya," ia memandang menerawang jauh ke depan. Tadashi tersenyum samar. "Mungkinkah," kata Yoon, masih dengan tatapan menerawang. "Ini yang kau rasakan selama ini, Tadashi? Kau selalu jahil padaku." Tadashi tidak bisa tidak tertawa. "Aku tidak sejahat itu." Yoon mencibir, tapi ikut tersenyum senang. "Ada apa? Ada hal yang kau pikirkan? Kau jadi diam beberapa menit ini." Yoon langsung menegakan tubuh dan mencodongkan tubuhnya pada Tadashi. "Kau mengejekku, ya?" Tadashi hanya tersenyum tanpa menyahut. Yoon kembali ke posisi semula sambil menggerutu. Meski yang ditanyakan Tadashi ada benarnya juga. Mendadak ia teringat pada gadis itu, yang datang larut ke apartemennya beberapa hari lalu. Rasanya menyebalkan sekali harus mengingat dia lagi. "Sebenarnya, Tadashi, aku ingin menanyakan pendapatmu," ujar Yoon serius. Tadashi mengangguk, masih fokus pada jalanan. "Tanyakan saja." Yoon mengatur napas, berharap hal ini tidak meyakitinya lagi. "Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang datang ke apartemenku." Tadashi menginjak pedal rem mendadak. Yoon memekik kaget. Tetapi untungnya Tadashi cepat menguasai diri. "Orang asing? Kenapa kau tidak menghubungiku? Apa terjadi sesuatu?" Yoon jadi khawatir. Mungkin tidak seharusnya ia menanyakan hal itu. Ia takut membuat konsentrasi Tadashi terganggu. Yoon cepat-cepat menyahut. "Tidak ada yang terjadi, yang datang seorang gadis." Tadashi menoleh, memandangnya heran. "Ish, fokus saja menyetirnya," Yoon segera mendorongnya. Tadashi langsung menurut. "Lalu?" "Masalahnya yang membuatku berpikir aneh, karena gadis itu datang larut malam. Dan anehnya lagi dia begitu terkejut saat melihatku." Tadashi termenung. Masih berusaha mencerna penjelasan Yoon. "Dan yang paling membuatku cemas. Saat aku menyebutkan nama Ben, dia terlihat ketakutan," jeda sejenak. "Atau mungkin ini hanya perasaanku saja," Yoon menunduk. Berpikir keras. Setengah dirinya berharap ia memang salah lihat. Tadashi tidak langsung menjawab. Ia tidak ingin mejadi kambing hitam dalam hubungan Yoon dengan Ben. Tapi di lain sisi kemungkian terburuk itu bukan sesuatu yang mustahil. "Apa Ben pernah datang ke New York sebelum ini?" Pertanyaan yang Yoon harap tak pernah ia dengar. Ia mengangkat wajah memandang Tadashi lambat-lambat. "Hmm, dia sering datang ke sini. Urusan bisnis." Lagi-lagi Tadashi memberi jeda cukup lama. "Dia tinggal di apartemen yang kau tempati sekarang?" Yoon sungguh menyesal sudah menceritakan hal ini pada Tadashi. Pemikiran laki-laki itu tajam sekali. "Ben mengatakan padaku ia tidak tinggal di sana sebelum ini." "Kau yakin?" Yoon terkejut karena Tadashi langsung menanyakannya. Tidak memberi jeda seperti sebelum-sebelumnya. Kalau boleh jujur Yoon tidak yakin, tapi apa yang bisa ia katakan pada Tadashi? Ia tidak bisa mengakuinya. "Lantas apa yang gadis itu lakukan?" Yoon langsung mendorong Tadashi lagi karna menoleh padanya. "Dia hanya mengatakan salah apartemen... Mencurigakan sekali bukan?" Yoon ragu-ragu di akhir kalimat. "Aku tidak mengajarimu untuk berburuk sangka pada orang-orang, Yoon. Aku hanya memberitahumu fakta yang sebenarnya. Terkadang kita harus lebih waspada. Dan dalam hidup, bahkan kemungkinan terburuk yang menjadi mimpi buruk terbesar dalam hidupmu sekali pun, bukan hal yang mustahil untuk menjadi nyata." Yoon terhenyak. Seolah terpasung pada tempatnya duduk. Ia memandang lurus dan pikirannya pergi jauh sekali. *** Ketika tiba di Times Square Yoon sudah jadi lebih ceria. Ia tidak ingin membuat Tadashi cemas. Lagipula itu hanya kemungkinan, bukan sesuatu yang pasti. Pokoknya Yoon tidak ingin memikirkannya lagi. Sebelum berkeliling, Tadashi mengajaknya makan terlebih dulu. Untuk mengisi tenaga, dalihnya. Tadashi juga menunjukan restoran yang bagus sekali. Membuat Yoon tidak berhenti memotret, meminta dirinya dipotret juga. Memaksa Tadashi ikut dan memotretnya sesekali. Mengatakan akan menunjukkannya pada Sua lagi. Di tengah suasana menyenangkan itu, Yoon tanpa sengaja menangkap bayangan seorang gadis yang serasa tak asing, tengah berjalan menuju toilet. Yoon langsung terdiam membuat Tadashi heran. "Ada apa?" Yoon menggeleng. "Tunggu sebentar," ia bangkit tanpa pikir panjang. Ia juga tidak tahu kenapa ia mesti melakukan hal ini. Ia terhenti di depan pintu masuk toilet. Tak terlalu jelas mendengar suara gadis itu dari sini. Lantas Yoon masuk dan bersembunyi dalam sebuah balik. Gadis itu tidak melihatnya saat menyelinap masuk. Sibuk menelepon sambil menyeka wajah dengan tisu basah. Yoon merasakan jantungnya berdegup begitu keras sampai-sampai yang hanya bisa ia dengar hanya suara jantungnya sendiri. Ia berusaha, sebisa mungkin untuk tenang. Memejamkan mata, mengatur napas. Untung toiletnya tidak bau. Ah, hal itu membuatnya lebih tenang. Bayangkan ia harus berada dalam toilet bau dengan keadaan macam ini. Yoon mendengus. Baiklah, serius sekarang. Ia membuka pintu bilik sedikit untuk mengintip. Meski hanya sekilas Yoon tahu dan yakin seratus persen. Ia gadis yang sama yang datang ke apartemennya malam itu. Yoon cepat-cepat merapatkan pintu kembali. Bersandar pada dinding. Merasakan jantungnya yang kembali berdegup liar. Gadis itu hanya marah-marah. Lalu menuntut macam-macam. Tidak terlalu jelas yang dibicarakannya. Sampai Yoon berharap bisakah gadis itu bicara lebih keras sedikit. Hingga kemudian. Di akhir kalimat, gadis itu menyebut 'Ben'. Tubuh Yoon langsung membeku. Ia salah dengar, kan? Terdengar pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup dengan cukup keras. Gadis itu sudah pergi. Yoon merasa seluruh tenaganya hilang. Hei, tidak mungkin benar. Ada banyak orang di dunia yang bernama Ben. Dan yakinkah? Yakinkah Yoon yang dia sebut memang Ben? Tidak... Tidak... Semua ini tidak benar. Berapa kali pun Yoon berusaha membantahnya. Kenyataannya di akhir kalimat gadis itu memang menyebut Ben.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD