Chapter 11

1155 Words
Yoon termenung memandang minuman di hadapannya. Kini ia berada di sebuah bar sepi yang tak terlalu jauh dari apartemen. Ia memilih tempat di sudut ruangan. Dalam ruangan yang redup dan samar itu Yoon berusaha keras untuk mengendalikan diri dan tetap waras. Semalaman ia tidak bisa tidur. Ia terus memandang ponselnya tanpa melakukan apa pun. Ia ingin menanyakan ini pada Ben. Tapi sudah nyaris dipastikan Ben akan menjadi sangat marah karena Yoon membicarakan hal yang tak berdasar. Memangnya hanya karna seseorang salah alamat dan kebetulan menyebut nama Ben di telepon, yang bahkan belum pasti Yoon salah dengar, alasan itu bisa diterima? Ben akan memaki dirinya habis-habisan. Pasti begitu. Yoon mendengus tertawa. Ia sudah gila. Pasti begitu. Bahkan sampai detik ini Ben tidak mencoba menghubunginya sama sekali. Yah, memang selalu begitu, kan? Laki-laki yang bersikap begitu mana bisa dibilang mencintainya? Yoon tertawa lagi. Lantas meneguk vodka langsung dari botolnya. "Sialan si Ben itu," ia bergumam. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan memandang lurus ke depan. Tak ada orang lain sepanjang kursi di hadapannya. Ada beberapa laki-laki yang duduk di konter dan seorang bartender berkepala botak. "Tapi kenapa," Yoon mulai melantur. "Kenapa aku sangat mencintainya," air matanya mulai berjatuhan. "Ish, sialan air mata ini!" Sedetik kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar. Menegak minumannya lagi sampai habis dan minta dibawakan yang baru. Seorang bartender lain muncul dan menghampirinya. "Apa kau sendirian? Kusarankan jangan terlalu mabuk di sini." Yoon menunjuk dengan kedua jarinya yang membentuk huruf v. "Apa aku terlihat mabuk? Kau tidak lihat mataku?" Si bartender tidak mengatakan apa pun lagi. Kemudian membawakan apa yang Yoon minta. "Oh, ya," ia menahan si bartender. "Bawakan aku tequila sunrise juga, aku ingin bersantai sedikit." "Baiklah," sahut si bartender tanpa bertanya apa-apa lagi. Sepertinya ia malas menghadapi Yoon yang merepotkan. Ini botol vodka keduanya. Yoon termenung. Kalau ada Sua ia sudah pasti digilas habis. Dan untungnya satu-satunya orang yang memedulikan dirinya di New York tak ada di sini. Tadashi Hamada berada di tempat yang jauh darinya saat ini. Yoon bergeming. Ketika si bartender kembali membawakan tequila sunrise yang dipesannya ia diam saja. Yoon menyentuh ujung gelas itu. Ia tidak tahu kenapa ia jadi makin merasa sedih. Tidak ada Tadashi, tidak ada yang menjaganya. Yoon menyesap tequila sunrisenya sedikit. Campuran rasa manis dan asam, begitu berlawanan dengan vodka. Tepat ketika mengalihkan pandangan pada pintu masuk Yoon melihat Goto. Ia memakai coat hitam. Sesaat diam di sana dan memandang berkeliling sampai mata mereka bertemu. Goto terkesiap. Terkejut begitu melihat Yoon. Sebaliknya Yoon segera menutupi wajahnya dengan tas tangan yang ia bawa. Seperti yang sudah Yoon duga, Goto menghampirinya. Yoon masih tidak menurunkan tas itu dari hadapan wajahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Yoon diam saja. "Hei," Goto berusaha menyingkirkan tas itu tapi Yoon segera menepis tangannya. Ia mengembalikan tas itu ke sudut meja. "Pura-pura saja tidak melihatku dan pergilah dengan damai." "Memangnya aku mau mati," wajah Goto berubah kesal. Lantas mendudukan diri di hadapan Yoon. Menyentuh botol vodkanya yang masih utuh. "Apa yang kau minum?" Yoon langsung memukul tangan Goto agar menjauh dari minumannya. "Kenapa? Kau ada masalah?" "Belilah minuman sendiri." "Baiklah, baiklah," ia pun bangkit dan berlalu menuju konter. Yoon memandangnya curiga. Tapi tidak mau berlama-lama juga memerhatikannya. Ia membuang muka dan meminum vodkanya lagi. *** Tadashi berjalan cepat menyusuri jalanan sepi menuju tempat yang Goto katakan. Sebelumnya ia menelepon Tadashi dan memberi tahu melihat Yoon di bar itu sendirian. Terlihat kacau sekali. Tadashi sudah mengatakan pada Goto agar menjaganya. Tadashi mempercepat langkah begitu melihat bar itu. Tak salah lagi. Ia membuka pintu dan memandang berkeliling dengan cemas hanya untuk menemukan Goto mabuk berat dengan Yoon duduk di hadapannya. Seketika ia kesal sekali pada Goto. Ia meminta untuk mejaga Yoon bukannya malah mabuk bersamanya. Ia melangkah cepat menghampiri mereka yang sama-sama tertidur di meja dan merancu tidak jelas. Dengan sekali gerakan menjewer telinganya membuat mereka seketika tersadar. "Aw, Tadashi," Yoon tersentak dan bangkit. Mulai menangis keras. "Tadashi, kenapa kau menyakitiku, Tadashi... Biar Ben saja kau jangan." "Eh?" Tadashi bergeming. Hatinya sakit sekali. Goto juga melakukan hal yang sama bahkan mengatakan hal yang sama pula, bedanya mengganti Ben dengan Alice. "Bahkan Alice tidak menyakitimu sama sekali," bentaknya sambil melepaskan telinga mereka. Tadashi melipat kedua tangan di d**a. "Kau sudah berjanji akan menjadi anak baik, kenapa malah seperti ini sekarang?" Yoon masih menangis. "Tadashi, ini sakit sekali," rengeknya. "Aku bahkan tidak benar-benar menjewer kalian," ia berpaling pada Goto. "Dan kau, aku sudah mengatakan agar menjaga Yoon, apa-apaan kau ini?" "Sebagai teman seperjuangan dalam memperjuangkan cinta seseorang, mana mungkin aku mengkhianati Yoon dan membiarkannya sedih sendirian." "Bicara apa, sih?" Tadashi tak habis pikir. Ia kehabisan ide sekarang. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya. Entah mungkin pelayan di sini. "Mereka kenalanmu?" Tanyanya. Tadashi mengangguk. "Pasti sangat merepotkan, ya. Mau kupanggilkan taksi?" *** Setelah mengantar Goto ke rumahnya. Kini Tadashi sudah berada di apartemen Yoon. Ia memutuskan untuk membawanya pulang karena jelas letaknya lebih dekat. Dan ia akan di sini selama yang dibutuhkan. Yoon kini tertidur di kamarnya. Tadashi juga membuatkan sup untuk pereda mabuk Yoon saat ia sudah bangun nanti. Tidak lupa membuat teh herbal juga. Ia menyiapkan semua itu, menatanya dalam nampan dan meletakannya pada meja tidur di samping ranjang. Ia mengambil langkah mundur. Menarik kursi rias dan memutarnya, mendudukan diri menghadap Yoon. Sejenak Tadashi berpikir. Menerka-nerka apa yang membuat Yoon jadi seperti ini. Lalu ingatannya melayang pada saat perjalanan mereka menuju Times Square kemarin. Tadashi langsung menyesalinya. Mungkin tidak seharusnya ia mengatakan hal semacam itu pada Yoon. Ucapannya saat itu mungkin membuat Yoon jadi terus kepikiran dan membuatnya stres. Rasanya sakit sekali. Melihat orang yang dicintai terluka karena kesalahan diri. Tadashi bangkit. Mengembalikan kursi itu seperti semula lalu tanpa sengaja melihat sebuah bingkai kecil yang terbalik di sudut meja. Ia meraihnya. Dan melihat Yoon dalam foto itu bersama seorang laki-laki bermata biru yang indah. Tadashi akui mata birunya indah sekali. Dalam foto itu Yoon terlihat sangat bahagia. Ia memakai gaun putih sederhana dengan aksen warna ungu sedikit. Cantik sekali. Saat itu Yoon masih memiliki pipi yang chubby. Ah, Tadashi ingat. Itu pasti saat ulang tahun Kakek Lee. Hanya beberapa hari sebelum laki-laki tua bersahaja itu meninggal. Tadashi masih sangat ingat kejadian itu. Benedict Carl. Ia terlihat sama bahagianya dengan Yoon. Menggenggam tangan gadis itu. Rasanya terkadang, ia juga tidak memercayai kisah mereka jadi seperti ini. Meski tak pernah mengakuinya, Tadashi tahu Ben tidak seburuk ini pada saat itu. Entah sejak awal ia sengaja menutupi sikap aslinya atau bagaimana. Tadashi tidak tahu. Eh, mendadak Tadashi menyadari sebuah lengan yang tak sengaja ikut terfoto. Itu pasti Kim Han. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada saat itu. Mengingat betapa meyedihkannya kisah cinta seorang Kim Han. Sudah berapa tahun sejak ia terakhir kali melihat laki-laki itu? Tadashi cukup terkejut mendengar suara Yoon dari balik tubuhnya. Ia cepat-cepat mengembalikan bingkai foto itu ke posisi semula dan berbalik. "Kau sudah bangun?" Tanyanya. Mata Yoon membulat, memandang Tadashi kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD