Yoon tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir di sini dan ada Tadashi bersamanya. Begitu ia bangun Tadashi langsung menyuruhnya untuk makan. Dan kini, ia duduk di hadapan Tadashi dengan kepala tertunduk. Ia agak bersyukur Tadashi tidak langsung menggilas habis dirinya. Lalu nyengir membayangkan jika ada Sua juga di sini, maka habis sudah riwayatnya.
Yoon tersadar Tadashi masih memerhatikan dirinya dengan tangan terlipat di d**a. Terlihat marah. Ah, kalau dipikir-pikir Yoon lebih memilih diomeli daripada didiamkan. Kali ini tidak seperti biasanya. Apa jangan-jangan Tadashi begitu marah sampai tidak mau bicara lagi dengan dirinya? Yoon langsung merasa ngeri.
Ia mengangkat wajah memandang mata hijau Tadashi yang terasa dingin itu. "Tadashi... Aku, aku minta maaf."
"Maaf untuk apa?" Sahut Tadashi langsung. Kata-katanya tepat menusuk relung hati Yoon.
Yoon menciut. "Maaf, karna sudah merepotanmu," ia kembali menunduk.
"Hanya itu?" Tuntutnya.
Yoon diam saja. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak ingin menceritakan tentang gadis itu lagi. Rasanya memalukan.
"Aku akan memaafkanmu jika berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Yoon mendongak menatap mata hijau itu lagi. Tadashi serius sekarang. Tapi ia tidak bisa berjanji. Yoon kembali menjatuhkan pandangan sedih.
"Kau tahu, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Meski menyebalkan, coba kau bayangkan jika kau tidak bertemu Goto. Bagaimana jika kau bertemu orang-orang yang jahat di sana?"
Yoon tidak berani memandang Tadashi lagi.
Hening begitu lama.
Tiba-tiba Tadashi bangkit. "Baiklah, aku pulang saja."
Yoon tersentak. Memastikan apa laki-laki itu serius. Yah, tidak ada keraguan dalam mata itu. "Tadashi," rengeknya. Mulai menangis. "Jangan tinggalkan aku juga..." mendadak Yoon merasa begitu kesepian. Kesepian yang begitu menyiksa. Ia mengerti sudah membuat Tadashi cemas dan marah. Tapi ia tetap tidak bisa berjanji. Itu satu-satunya cara Yoon untuk melampiaskan emosinya. Satu-satunya cara yang membuat dirinya merasa lebih baik meski hanya sesaat.
"Aku..." Ucap Yoon di sela-sela isaknya. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu lagi. Ini sakit sekali..."
Tadashi menghela napas lelah. "Itu bukan berarti kau boleh menyakiti dirimu sendiri."
Yoon masih terisak. Lantas Tadashi kembali duduk. Memandangnya.
"Aku, merasa sangat kesepian. Dan itu begitu menyiksa. Aku hanya ingin Ben kembali seperti dulu. Aku ingin merasa baik-baik saja. Aku lelah sekali."
"Ada aku, ada Goto, bahkan ada Alice. Kau begitu senang bisa berteman dengan Alice, kan?"
Yoon terdiam sesaat, lalu mengangguk lambat.
"Aku mengerti, kesepian dan sendiri itu dua hal yang berbeda. Tapi setidaknya, kau bisa mengandalkanku, mungkin Goto dan Alice juga," jeda sejanak. "Pernah membayangkan tidak apa yang terjadi jika Sua di sini?"
Yoon tersenyum samar. Sudah menjadi lebih tenang sekarang. Memang benar apa yang Tadashi katakan. Ia bersyukur Tadashi memahaminya. Seperti biasa. Ia tidak sendirian. Ia memiliki banyak orang yang mencintainya. Dan sejauh yang Yoon ingat, ketika ia bersama Ben pun ia tetap merasa sendirian. Yoon lupa. Rasa kesepian itu justru hilang ketika ia menghabiskan waktu bersama mereka.
Yoon kini memahami. Sebegitu besarnya ia mencintai Ben hingga berharap, nyaris memaksa, tidak merasa kesepian lagi saat berada di sisi laki-laki itu.
"Tadashi," ucapnya lirih. Memandang tepat ke dalam mata Tadashi yang kini telah menjadi jauh lebih menenangkan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Tadashi kembali mengingat pertanyaan itu. Ia tidak bisa memberinya jawaban. Ia tidak ingin menyakiti Yoon lagi dengan kata-katanya. Karna jawabannya sudah jelas. Hubungan Yoon dengan Ben terlalu buruk untuk dipertahankan.
Tadashi mendesah lelah. Memandang langit-langit ruang tamu apartemen Yoon ini. Ia berbaring di sofa. Memutuskan untuk menemani Yoon sampai ia merasa lebih baik. Toh, besok hari minggu. Ia bebas dari pekerjaan.
Tadashi berusaha untuk tidur. Setiap kali ia memejamkan mata Yoon selalu mengintip dari balik dinding. Dan hal itu cukup mengganggu konsentrasinya untuk tidur. Terlebih ada begitu banyak hal yang ia pikirkan.
"Apa lagi kali ini?" Ucapnya tanpa menoleh.
"Ummm, hanya memastikan apa kau kedinginan? Kau mau ku ambilkan selimut?"
Tadashi memijit pelipis dengan sebelah tangan. "Tidak, terima kasih."
Lima belas menit berlalu Yoon kembali lagi. Masih mengintip dari balik dinding. Kali ini Tadashi pura-pura tidak menyadarinya. Lalu tiba-tiba saja sesuatu menimpa tubuh Tadashi, membuatnya begitu yakin ia terkena serangan jantung saking terkejutnya. Ternyata Yoon menutupi dirinya dengan selimut.
"Maaf," bisik Yoon hati-hati. Perlahan menurunkan selimut yang ikut menutupi wajah Tadashi. Selesai begitu ia langsung pergi.
Tadashi mengatur napas. Berusaha untuk bersabar. Padahal Yoon harus beristirahat. Kenapa masih terus bertingkah? Tadashi berusaha menyingkirkan kecemasan dalam kepalanya. Mengerahkan seluruh perhatian untuk berkonsentrasi agar ia bisa tidur.
"Ngomong-ngomong Tadashi apa kau sudah makan malam?"
Tadashi langsung bangkit sambil menyibakan selimut. Memandang Yoon kesal. Yoon nyengir. Hanya sebagian tubuhnya yang terlihat dari balik dinding. Lalu perlahan menghilang. Tadashi mengatur napas lagi. Ia memang belum makan malam. Tapi ia tidak lapar.
Yoon mengintip lagi. Kali ini hanya sebagian wajanya yang terlihat. "Tadashi, sejujurnya aku tidak bisa tidur. Mau menemaniku nonton film tidak?"
"Beauty and the Beast?"
Yoon mengangguk. "Aku akan memesan pizza juga."
Akhirnya Tadashi menemani Yoon menonton film favoritnya. Mungkin bagi orang lain aneh rasanya terus menerus menonton film yang sama. Tetapi Tadashi tidak pernah keberatan dengan itu. Mencium aroma pizza juga membuatnya merasa lapar. Tadashi merasa terbantu.
"Menurutmu," ucap Yoon tiba-tiba setelah keheningan sepanjang film itu. "Apa aku sanggup berpisah dengan Ben?" Ia masih menandang layar televisi tanpa berpaling.
Tadashi hanya memberi jawaban yang sama. "Itu tergantung padamu."
Hening sesaat.
"Sebenarnya aku tahu itu," Yoon menghela napas. "Tadashi, jika kau muak karna aku terus membicarakan Ben, katakan saja."
Tadashi tidak menyahut. Pun Yoon tidak menuntut jawaban.
"Oh, ngomong-ngomong, Tadashi, aku lupa memberitahumu," Yoon mendadak berubah ceria. Ia bangkit menuju kamar tidurnya lalu keluar dengan wajah berseri-seri. Sebelah tangannya terangkat menunjukan sebuah daun kecoklatan yang dilaminating.
"Ini dari Alice, dia memberikannya untukku. Sangat cantik, kan?"
Tadashi tersenyum dan mengangguk.
"Nanti saat Alice sudah mengajariku aku akan membuatkan satu untukmu."
"Tentu saja aku masih ingat kau menjanjikannya untukku."
"Eh, aku baru ingat juga. Kau sudah selesai menggambarku, kan? Di mana hasilnya?"
Tadashi menyipitkan mata. Berlagak terluka. "Kau baru mengingatnya sekarang?"
Yoon nyengir, menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Sekilas jadi terlihat mirip Goto.
"Ambillah besok di meja kerjaku."
Yoon mengangguk senang. Ia kembali duduk di samping Tadashi dan memberikan daun laminating itu. "Mau melihatnya?"
Tadashi menerima benda itu. Memerhatikan. Bagus juga. Ia pasti akan menyimpan pemberian Yoon dengan sepenuh hati bagaimana pun hasilnya.
Ia berpaling lagi pada Yoon yang kini memandang layar televisi. Seketika itu Tadashi sadar, lagi-lagi gadis ini hanya berpura-pura ceria. Tadashi langsung mengerti begitu melihat matanya.
Yoon, pikirnya. Sampai kapan ia akan bersikap sok kuat begini?