Yoon terbangun pagi ini hanya untuk mendapat serbuan omelan dari Tadashi. Ia memarahinya bahkan sebelum Yoon benar-benar membuka mata. Tadashi marah karena nyaris tidak ada apa pun di kulkas. Ia juga belanja begitu banyak bahan makanan. Masih sambil mengomel, ia kini membereskan semua hal pada tempatnya. Sepertinya Tadashi melupakan hal itu semalam dan baru memarahinya sekarang.
Yoon menguap lagi. Ia duduk di meja makan. Masih mengantuk. Tiba-tiba saja Tadashi menempelkan sebelah tangannya yang basah pada pipi Yoon, membuat ia langsung tersentak bangun.
"Setidaknya cuci wajahmu," nasihatnya, lantas kembali mencuci sayuran.
Yoon memberengut dan mengusap pipinya yang basah. Dingin itu langsung mengumpulkan seluruh kesadarannya. Ia pun bangkit dan berdiri menempel pada Tadashi, membuatnya tersentak kaget.
"Geser sedikit, aku mau mencuci wajah," suaranya masih terdengar serak.
Tadashi mendesah kesal. "Cuci wajahmu di kamar mandi, di sana juga ada wastafel."
Yoon bersikukuh dan tak mau mengalah. Ia mendorong Tadashi menjauh. Tadashi juga tidak mau kalah, dengan kekuatannya mempertahankan posisi agar tidak tergeser.
"Tadashi kau pelit sekali," rengeknya.
Tadashi langsung menciprat wajahnya dengan air. "Ish, kau ini, bagaimana bisa menjadi anak baik jika sikapmu saja seperti ini. Cepat cuci wajahmu dan jangan ganggu aku," omel Tadashi galak.
"Kau galak sekali," gerutu Yoon sambil lalu. Begitu selesai mencuci wajah ia kembali duduk di tempat semula. Melipat kedua tangan di meja dan menopang dagu. Memerhatikan Tadashi, yang seperi biasa, tidak membutuhkan bantuannya untuk memasak.
Ia lelaki yang cekatan. Gerakannya cepat dan sempurna. Yah, seperti menonton koki profesional saja.
Yoon menguap. Sudah kesekian kalinya. Ia berpaling pada ponselnya di meja. Mendadak teringat. Ia belum mengirimkan foto-fotonya pada Sua sewaktu di Times Square. Sudut-sudut bibirnya terangkat, tanpa pikir panjang lagi segera menghubungi Sua. Ia mengirim foto-foto terbaiknya, termasuk foto Tadashi juga. Seketika saja ia merasa begitu senang menunggu balasan pesan dari Sua.
Tadashi menata masakannya di meja. Ia juga membuatkan white tea untuk Yoon. Yoon praktis tersenyum ceria. Tak ketinggalan Tadashi memberi banyak sayuran pada piring Yoon.
"Tadashi, aku mau tambah ayam lagi," ia tersenyum manis sekali.
Tadashi mengangkat wajah memandangnya heran. Padahal piring Yoon sudah penuh begitu. "Habiskan ayam yang ada dan sayurannya dulu, baru aku akan memberimu ayam lagi."
Yoon mengangguk-angguk dan patuh memakan makanannya, membuat Tadashi makin heran karna ia tidak cemberut. Sambil mengisi piringnya sendiri Tadashi memerhatikan gadis itu.
Yoon bersenandung ceria sambil memainkan ponsel. Hanya untuk memastikan pesannya sudah terkirim pada Sua. Agak lama juga menunggu balasannya. Mungkin ia sedang sibuk.
Tadashi masih memerhatikan. "Jangan main ponsel saat makan, fokus pada makananmu," nasihatnya.
"Aku menunggu balasan dari Sua-"
Ponsel Yoon berdering. Sebuah panggilan video dari Sua. Lantas ia memekik senang.
"Sua!" Serunya dengan semangat yang Tadashi rasa tidak ada habisnya.
Tadashi diam saja memerhatikan mereka mengobrol. Diam-diam tersenyum senang melihat keceriaan Yoon kembali.
"Oh, ya, aku juga sedang bersama Tadashi," Yoon bangkit. Berjalan memutari meja, menarik kursi dan duduk di sebelah Tadashi.
Tadashi tersenyum. "Hai," sapanya. "Kau masih mengingatku?" Candanya.
Mendadak Yuta muncul dalam layar, sepertinya karna mendengar suara laki-laki ia jadi ingin memastikan.
"Oh, Yuta, kau bersembunyi di sana rupanya?" Pekik Yoon sambil cekikikan.
Yuta langsung tersipu. "Aku tidak bersembunyi, hanya kebetulan lewat saja."
Yoon masih cekikian bersama Sua. Gadis-gadis ini jika disatukan memang jadi agak gila.
"Kemarilah, mengobrol juga dengan Tadashi," ajak Sua.
Yuta menurut dan duduk di samping istrinya. Tersenyum dan menyapa Tadashi. Tadashi balas tersenyum.
"Jadi kau teman Yoon yang sering Sua ceritakan. Sua senang sekali ada kau yang menjaga Yoon."
"Dia bodyguard pribadiku," bisik Yoon. Membuat Sua terkikik geli.
Tadashi tidak menghiraukannya. "Kita juga pernah bertemu sekali."
"Oh, benarkah?" Yuta nampak mengingat-ingat.
Tadashi masih ingat pertemuan pertamanya dengan Yuta. Ketika pemakaman kakek Lee, dan sebaiknya ia tidak mengungkit-ungkit hal itu.
"Oh, ngomong-ngomong Yoon bilang kau juga berasal dari Jepang?" Ia cepat mengalihkan pembicaraan.
Yuta mengangguk sambil tersenyum lebar. Melihatnya sekali saja Tadashi langsung memahami ia tipe orang yang mudah dibaca dan jujur.
"Apa kau berasal dari Jepang juga?"
"Ibuku berasal dari Jepang, tapi aku lahir dan besar di Seoul."
Yuta mengangguk-angguk.
"Hei, Sua," kata Yoon tiba-tiba. "Aku ingin melihat Baby Suyu juga, Mommanya ini merindukan dia."
Tadashi tak mengerti apa yang Yoon katakan. Kenapa juga menyebut dirinya sebagai Momma.
Sua tersenyum senang. Ia pun berdiri dan mundur sedikit dari ponsel. Menunjukan perutnya yang membuncit sedikit. "Baby Suyu pasti merindukan Mommanya, ia bertanya kapan Momma akan pulang."
Mata Yoon berbinar cerah. Hanya ada kebahagiaan dalam mata itu.
Tadashi berharap tak pernah mendengar pertanyaan Sua.
Suara bel rumah mengalihkan perhatian mereka semua.
"Ada yang datang?" Tanya Sua pada Yuta.
"Oh, bukankah ibu mengatakan akan datang semalam?"
Sua mengangguk-angguk. Baru teringat hal itu.
"Aku akan pulang setelah perayaan hallowen," ucap Yoon.
Tadashi terhenyak. Benar-benar berharap tidak mendengarnya.
Setelah saling mengucapkan sampai nanti hubungan terputus. Yoon masih tersenyum-senyum senang.
"Kenapa kau menyebut dirimu Momma?" Tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian.
Yoon mengangkat wajah dari layar ponsel. "Karna anak Sua anakku juga," sahutnya ringan.
"Oh, ya, Tadashi," Yoon memulai.
Tadashi ingin menghindarinya, jika yang akan dibicarakan adalah mengenai kepulangan Yoon ke Seoul Tadashi sama sekali tidak ingin mendengarnya.
"Apa kau pernah berpikir untuk menikah di usia muda seperti Sua dan Yuta?"
Sebelah alis Tadashi terangkat heran.
"Maksudku... Pasti menyenangkan saat kau memiliki seseorang yang bisa kau peluk saat tidur. Seseorang yang menemanimu jalan-jalan ke mana pun."
Tadashi mencubit pipi Yoon. Sontak Yoon memekik kesakitan.
"Menikah tidak sesepele itu alasannya."
Bibir Yoon mengerucut. Memang benar, sih.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh dan kembali makan sarapanmu."
Yoon patuh tanpa memprotes. Ia mendudukan diri di tempat semula.
"Jangan sampai kita mengambil keputusan yang salah, pernikahan itu bukan perkara sederhana. Yang terpenting, jangan sampai salah memilih pasangan. Karna tidak ada kesepian yang lebih parah dibanding menjalin hubungan dengan orang yang salah," Tadashi sadar seketika. Kalimat terakhirnya, seharusnya tidak perlu ia ucapkan. Ia pasti menyakiti Yoon dengan kata-katanya lagi.
Tapi Yoon memandangnya dengan mata berkilat penuh semangat. Tadashi sadar gadis itu tidak-benar memerhatikan, syukurlah, meski agak sebal juga rasanya.
"Kalau begitu seperti apa tipemu?
Nah, kejahilan Yoon memang tidak ada habisnya. "Seseorang yang memakan sarapannya sampai habis tanpa memprotes. Cepat habiskan sarapanmu, aku akan memberimu ayam tambahan."
Yoon menyipitkan mata. "Padahal aku bertanya serius," gerutunya.
***
Yoon menyandarkan punggung pada sandaran kursi sambil menghela napas panjang. "Begitulah, Alice, Tadashi jadi makin galak saja," ia barusan menjelaskan tentang sikap Tadashi akhir-akhir ini pada Alice.
Alice tersenyum lembut. "Bukankah itu berarti Tadashi sangat memedulikanmu?"
Yoon mengerjap. "Benar juga, sih. Tapi kau tahu, Alice? Tadi pagi Tadashi bahkan mencubit pipiku," katanya berapi-api. "Aku harus membalasnya," ia memutuskan sambil menyeringai licik.
Alice tertawa kecil. "Pasti menyenangkan, ya, memiliki seseorang seperti Tadashi yang menjagamu."
Yoon tersenyum lebar. "Sangat."
Oh. Mendadak Yoon teringat. "Ngomong-ngomong, Alice. Apa kau pernah kepikiran untuk menikah di usia muda?"
"Seperti Sua?" Tebaknya.
"Hu'um," Yoon mengangguk. Tidak sabar menunggu jawaban Alice.
Senyum Alice berubah, ada kesedihan di dalam senyum itu. "Aku bahkan tidak berpikir untuk menikah."
"Eh?" Alis Yoon bertaut sedih. "Kenapa?"
Dengan cepat Alice menyembunyikan kesedihannya. "Orang sepertiku, mana ada seseorang yang bisa menyukaiku. Dengan keadaan begini."
Yoon bergeming sesaat. "Alice," ucapnya lirih. "Kau terdengar seperti Sua yang dulu. Dan lebih lagi, kau sangat tidak peka, ya."
Alice memiringkan kepala bingung. "Tidak peka?"
Ups. Yoon keceplosan tanpa sadar. Ia menggelengkan kepala keras-keras sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Ia berpikir keras untuk mengalihkan perhatian.
"Oh, ya!" Serunya kelewat keras. "Alice, bukankah kau bilang akan mengajariku membuat daun laminating itu? Aku sudah berjanji akan membuatkan satu untuk Tadashi."
Alice sepertinya juga baru mengingat hal itu. "Benar, bagaimana bisa aku melupakannya. Maaf, ya, Yoon. Tapi... Apa kau mau datang ke apartemenku?"
"Tentu saja!" Yoon menghela napas lega. Tadi itu nyaris saja.
Perjalanan ke apartemen Alice tidak memakan banyak waktu. Tempatnya tidak terlalu jauh. Dan yang terpenting Sua begitu terpukau dengan ruangan apartemen Alice. Ada banyak perabot kayu dan tanaman hias. Ada kaktus mini juga. Dari ruang tamu sampai dapur, semuanya tertata rapi. Yoon tidak henti-hentinya mendecak kagum.
Alice ikut senang Yoon menyukai apartemennya.
"Wah, Alice, bahkan apartemenmu lebih rapi dari apartemen Tadashi. Hebat sekali," ia memandang berkeliling. Kesan hangat yang ditimbulkan dalam ruangan itu benar-benar membuatnya betah berlama-lama di sana.
"Aku juga punya ikan hias, loh," kata Alice bangga. Ia tersenyum cerah sekali.
Alice menunjukkan sebuah akuarium bulat. Hiasan di dalamnya membuat Yoon takjub sekali lagi. Bagaimana bisa Alice membuat semua ini?
"Kau tinggal bersama siapa, Alice?" Alasan yang paling logis adalah ada orang lain yang tinggal bersama Alice.
Senyum cerah itu hilang dari wajah Alice. Meski tetap tersenyum Yoon dapat melihat kesedihan itu.
"Aku tinggal sendirian," sahutnya lambat. "Kau pasti sudah melihat foto keluargaku di dinding itu, kan?"
Yoon mengangguk. Entah kenapa ikut merasa sedih.
"Kakak dan adikku tinggal bersama orang tuaku, dan aku tinggal sendirian di sini sejak kecil."
Mata Yoon mulai berkaca-kaca. Jelas sekali Alice sengaja dikucilkan. "Maaf, Alice, aku tidak bermaksud..."
Alice menggeleng, masih dengan senyuman lembut itu. "Tidak apa-apa, Yoon."
Yoon tidak bisa menyahut lagi. Terlarut dalam kesedihan. Jadi selama ini Alice sendirian. Ia tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya ia. Terlebih Alice pernah mengatakan bahwa Yoon adalah teman pertamanya. Ia juga senang sekali saat berkenalan dengan Goto dan Tadashi karna itu berarti ia jadi memiliki makin banyak teman. Baiklah! Yoon sudah mengambil keputusan. Bagaimana pun caranya Yoon akan mengajak Goto dan Tadashi main ke apartemen Alice dan membuat ia tidak merasa kesepian lagi.
"Jangan sedih, Yoon. Aku tidak apa-apa."
"Eh," Yoon sering lupa betapa spesialnya Alice. "Tidak," sayangnya suaranya tidak bisa berbohong.
***
Sementara itu di Central Park. Goto berdiri seolah tanpa nyawa memandang kursi tempat biasa Alice berada kosong. Padahal ia sudah datang lebih awal. Terlebih lagi ini akhir pekan, biasanya ia menghabiskan waktu lebih lama di sini. Bahkan Yoon juga mengatakan ia akan datang ke sini juga. Dan sudah dipastikan Alice bersama Yoon.
"Kenapa?" Ucapnya. "Kenapa kau tega sekali padaku, Yoon? Aku bahkan menemanimu saat kau begitu sedih, dan kau malah mengkhianatiku. Ke mana kau pergi membawa Aliceku?" Rasanya Goto ingin menangis keras-keras.
"Kau pasti tidak tahu rasanya," ia mengangkat sebelah tangan menyentuh telinga. "Bahkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh sahabat terdekatmu ini masih terasa sampai sekarang..."
"Kurasa orang itu sudah gila, dia berbicara sendiri."
"Heh!" Goto tersentak mendengar bisikan orang-orang. Lantas secepat kilat ia pergi dari tempat itu. "Kau sudah membuatku kehilangan harga diri, Yoon," isaknya.