Neighbour-zone

1370 Words
❝Semua orang memiliki kenangan dan rahasia dari masa lalu. Rahasia untuk disimpan. Masa lalu untuk dipelajari.❞ -Undefinable- "HAHAHA GUE NGAKAK NJIRR!" Arsen tertawa lepas sambil menabok pundak sebelah kiri Fabian. "Sama. Gue juga, Sen. Hahaha." Shafa ikut-ikutan tergelak dan menabok pundak sebelah kanan Fabian. "Maaf ya, Ca. Kayaknya habis ini lo bakal terkenal dengan nama penyakit lo haha." Caca berdecak sebal, "Gila tuh si Udin.. Seharusnya tadi dia bilang kalo gue punya penyakit asma, bukan ayan!" katanya, "Nggak bisa diajak kompromi emang!" "Biarin aja kali, Ca." Sahut Shafa sambil tertawa. "Tapi sumpah, deh. Kita baru kali ini akting senekat ini. Barusan Diana nge-chat gue, katanya pas kita bertiga keluar kelas tadi, BuSuk pingsan. Hahaha." ujarnya, kembali tertawa sambil menepuk pundak Fabian. Fabian berusaha sabar, Shafa tertawa lepas, tapi dirinya yang seolah kena siksaan. "Yang bener, Fa? BuSuk pingsan? Hahaha, azab karena terlalu sering ngasih tugas sama ulangan harian ke kita tuh!" seru Caca, tertawa puas. "By the way, Sen. Tadi yang lo bakar itu apaan?" Arsen nyengir, "Gue ngambil satu troli bola voli tadi," "Wagelaseh, ketahuan Pak Bambang tau rasa lo," sahut Caca, "Siap-siap aja kena panggil," "Santai sih gue, bola voli doang mah." kata Arsen. "Ngomong-ngomong, gue pengen lihat dong gimana lo kalo kena penyakit ayan." Arsen mengedipkan matanya pada Caca. Caca melotot, "ARSEN SAYANG, LO MAU MASA DEPAN LO HANCUR DITEMPAT INI?" tanya Caca sambil mengangkat kaki mengarahkannya pada area kelemahan Arsen. Arsen bergidik ngeri. Membayangkan masa depannya hancur gara-gara tendangan maut dari Caca rasanya sangat menyeramkan. Arsen langsung memasang senyuman sok manisnya, "Caca sayang. Gue cuma becanda kok. Ya nggak, Bian? Yakan, Fa? Hahaha," ujar Arsen tertawa garing dan kembali menepuk pundak Fabian. Memang selalu Fabian yang menjadi sasaran. "BISA NGGAK, LO PADA KALO KETAWA NGGAK USAH NABOK KE GUE?!" hilang sudah kesabaran Fabian. Dari tadi, selalu dirinya yang menjadi tempat untuk ditabok. Apa mereka semua mengira kalau itu nggak sakit? Sakit banget! "Wow, santai dong, Yan. Kalem kalem cuy," kata Arsen. Fabian menarik kerah seragam Arsen, "Nyantai-nyantai apaan? Daritadi gue juga udah nyante, lo nya gak tau diri," katanya, kesal. Ia mendorong tubuh Arsen ke tembok. "Apasih lo, Yan? Galak banget njir!" Arsen balas mendorong tubuh Fabian, ia menggulung lengan seragamnya ke atas, "Mau adu kejantanan sama gua? Ayo sini," Arsen bersiap meninju Fabian, begitu juga Fabian yang sudah mengepalkan tangan-ancang-ancang ingin memukul cowok itu lebih dulu, "Sini lo, njing!" "Lo yang kesini, nyet!" Shafa melipat kedua tangan di depan d**a, saling tatap dengan Caca. Mereka sama-sama mengendikan bahu, acuh tak acuh dengan kelakuan Fabian dan Arsen di depan mereka. Ya memang, di antara mereka ber-empat, nggak ada yang warasnya kan? "Panggilan kepada Arsenio Abraham dari kelas sebelas sosial dua, di minta agar segera menemui Pak Bambang di ruangannya.....," samar-samar panggilan tersebut terdengar dari pengeras suara. Arsen yang mendengar namanya di sebut, mau tak mau kembali menurunkan gulungan lengan seragamnya. Ia menatap Fabian, Shafa dan Caca bergantian dengan senyum jahil, "Apa tabir ketampanan gue sudah terbuka sepenuhnya sampe-sampe Pak Bambang yang gagah perkasa itu manggil gue karena beliau naksir?" Fabian menoyor kepala Arsen, "Lo dipanggil, nyet. Sono samperin si Bambang!" Arsen mengacungkan jari jempolnya kemudian dengan santai berjalan keluar dari gudang, meninggalkan Fabian, Shafa dan Caca. Fabian menatap Shafa dengan tatapan kesal, "Lo tadi juga ketawa sambil nabok gue kan, Fa? Sini lo!" Shafa nyengir, "Hehe maapin daku ya papah sayang, nggak sengaja kok," "Papah sayang pala lu!" Fabian tampak sangat kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya dibawah d**a dengan posisi bersandar menyamping di tembok. Shafa dan Caca menatapnya sambil menahan tawa. "Lo kok galak banget sih, Bian. Lagi PMS ya?" tanya Caca. "Iya gue lagi PMS. Puas?" "Hahaha yang bener? Bian? Lo PMS? Gimana caranya lo make pembalut?" tanya Shafa. Pertanyaan yang sangat unfaedah. "HAHAHA JADI HOTDOG DONGG!" Caca tertawa kencang. Membayangkannya saja sudah membuat Caca tertawa, apalagi jika Fabian benar-benar memakainya. Fabian sudah kesal, ditambah dengan kelakuan Shafa dan Caca yang semakin membuatnya naik pitam. "Lo berdua, berdiri!" perintah Fabian pada mereka berdua. Dengan sigap, Shafa dan Caca menurutinya. "Selama ini, siapa yang selalu bayarin lo berdua kalo lagi nongkrong?" tanya Fabian. "FABIAN GANTENG!" seru Shafa dan Caca lantang. Shafa dan Caca berdecih dalam hati mereka. Meskipun tadi mereka mengatakan Fabian ganteng, tetap saja menurut mereka embel-embel ganteng untuk Fabian hanyalah opini. "Iya gue tau gue ganteng." Fabian menyisir rambutnya dengan jari tangan, membuat aroma pomade yang dipakainya merasuk ke indra penciuman Shafa. "Fabian, lo tadi boker lagi ya? Bau banget tauk!" gerutu Shafa. Ia sangat membenci aroma itu. "Abis boker tuh harusnya cuci tangan yang bersih, Bian!" "Udah gue bilang, ini wangi pomade! Bukan abis boker!" timpal Fabian. "Hari ini lo sering banget bikin gue kesel, Fa. Lo juga sama, Ca," ujar Fabian menatap Shafa dan Caca bergantian. "Lah kok juga kesel ke gue?" tanya Caca, melihat ekspresi Fabian yang sepertinya sedang serius, Caca berdecak, "Iya, iya. Sama kita doang nih keselnya? Sama Arsen enggak?" "Sama Arsen juga. Tapi lebih kesel sama lo berdua," tunjuknya, "Kalo gini terus, gue bisa aja memutarbalikkin semuanya. Mulai sekarang, lo berdua yang nraktir gue. Oke?" Shafa mendengus sebal, "Yaudah." sahutnya. Fabian tertawa puas. Sementara Caca menatap heran Shafa yang tumben-tumbenan tidak memberontak pada pernyataan Fabian. "Bian, kayaknya martabak daging enak deh kalo dimakan malem-malem, pas cuaca dingin," gumam Shafa. Fabian mengacak rambut Shafa dengan gemas, "Yaudah, ntar malem gue beliin." "Beneran? Janji, ya?" "Iya, bacot lo, ah." Shafa tersenyum penuh kemenangan. Caca dibuat melongo oleh keduanya. Bukankah baru saja Fabian kesal pada Shafa dan Caca, lalu mengancam untuk tidak akan mentraktir mereka lagi? Lalu sekarang apa? Shafa hanya memberi kode sedikit, tapi Fabian langsung peka dan berjanji membelikan martabak untuk Shafa. Sampai acak-acak puncak kepala gitu, lagi. Kan jadi gemes. Caca kadang heran. Kenapa Fabian langsung luluh ketika Shafa mengajukan permintaan padanya. Caca tau, Fabian itu sangat mengistimewakan kaum hawa. Tapi di mata Caca, perlakuan Fabian terhadap Shafa itu sedikit berbeda. Caca tersadar dari pikirannya yang sedang merambah kemana-mana, ia baru menyadari bahwa sekarang dirinya sendirian di tempat ini. "Anjir, gue ditinggalin!" Sementara itu, di area atap sekolah dekat gudang yang mereka jadikan sebagai basecamp, Fabian sedang menatap tajam laki-laki di hadapannya. Sementara yang ditatap hanya menampakkan raut wajah datar. "Widih, anak manja main ke atap sekolah. Ada apa nih? Kena angin apaan anak Om Buana yang penakut sekarang berani naik ke atap sekolah?" ujar Fabian, tersenyum meremehkan. "Gue ada urusan sama Shafa. Bukan sama lo," balasnya. Shafa menatap laki-laki di hadapannya dengan alis bertaut, "Ada urusan sama gue?" "Iya, sama lo." sahutnya, lalu menyodorkan amplop berwarna coklat pada Shafa. "Gue udah nemuin pekerjaan paruh waktu sesuai yang lo cari waktu itu. Ini, surat lamaran pekerjaan lo udah gue buatin. Tapi ada sebagian yang belom keisi, lo isi sendiri ya. Kalo udah, ntar balikin lagi ke gue." "Astaga, gue sampe lupa." Shafa menerima map itu, "Thanks ya, Rash. Lo baik banget." ujarnya. "Iya sama-sama, Fa." sahut laki-laki itu. "Yaudah, kalo gitu gue ke bawah dulu. Suasana di sana masih ribut gara-gara ulah lo berempat. Tapi gue akui, lo hebat banget bisa ngelakuin hal senekat ini." pujinya. "Biasa aja kali." sinis Fabian. Pipi Shafa memerah karena malu ketika mendapat pujian dari laki-laki itu. "Tapi lo gak bakal bilang ke bokap lo kan?" "Tenang aja, aman sama gue." kini laki-laki itu benar-benar beranjak meninggalkan Shafa dan Fabian. Nama laki-laki itu adalah Arash Buana Pradipta, putra tunggal dari Buana Pradipta, kepala sekolah SMA Adhyastha. Saat ini Arash menjabat sebagai ketua OSIS angkatannya. Selain tampan, Arash juga berprestasi. Tapi dia lebih memilih jurusan IPS ketimbang IPA. Entahlah, semua orang memiliki alasan untuk pilihan mereka. Shafa tersenyum cerah memandangi amplop​ coklat ditangannya. Fabian yang melihatnya lantas memutar bola matanya malas, "Amplop jelek gitu lo liatin sambil senyam-senyum? Masih waras kan?" Perlu diketahui, meski berada di satu kelas yang sama, Fabian dan Arash tidak pernah akur. Bila keduanya tak sengaja berpapasan, Fabian menatap tajam Arash, sementara Arash menunjukkan wajah datar. Sampai sekarang pun, Shafa belum mengetahui penyebab keduanya bersikap seperti itu. "Ngelamun mulu!" tegur Fabian karena Shafa masih senyum sendiri memandangi map itu. "Kenapa sih lo gak bilang kalo lo nyari pekerjaan paruh waktu kayak gini? Dan kenapa juga lo harus minta bantuan sama anak manja itu?" Shafa menarik nafas dalam, "Emangnya kenapa kalo gue minta bantuan ke Arash? Cemburu lo?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD