Student A

1189 Words
Terkadang orang tua bersikap tidak adil pada anak mereka. Mereka memberikan sayap untuk anaknya terbang, namun mereka sendiri yang mematahkan sayap itu pada akhirnya. -Undefinable- Dulu Shafa merasa hidupnya sangat beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang sangat harmonis meskipun dalam kondisi ekonomi yang sederhana. Ia merasa cukup dengan kehadiran Ayah dan Bunda disisinya sebagai perisai untuk melindunginya. Shafa sangat ingat saat dirinya menduduki bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Shafa menjadi korban bullying oleh teman sekelasnya yang notabene-nya dari anak orang berada. Saat itu, Shafa sama sekali tidak memiliki teman. Semua orang menjauhinya karena takut ikut-ikutan menjadi korban bullying. Pulang sekolah, Shafa selalu menangis di pelukan Bunda, menceritakan semua masalah yang dialaminya di sekolah. Bunda hanya tersenyum mendengarkannya. Kata Bunda, Shafa harus kuat. Sering dibully bukan berarti kita mati. Tidak punya teman, tidak apa-apa. Shafa masih punya orangtua yang menemaninya ketika di rumah. Hubungan dengan teman bisa saja terputus ketika ada masalah, tapi dengan orangtua? Sebesar apapun masalah yang terjadi, ikatan antara orangtua dan anak tidak bisa terputus. Ayah Shafa seorang pegawai rendahan di sebuah perusahaan. Setiap pulang kerja, Ayah selalu membawakan mainan untuk Shafa. Memberikan semangat dan ucapan selamat tidur pada Shafa layaknya seorang Ayah pada umumnya. Pada kenyataannya, kata-kata penyemangat saja tidak cukup. Pada saat kelas 6 Sekolah Dasar, Shafa dipindahkan dari sekolahnya karena tidak sengaja mendorong anak perempuan yang selalu membully-nya, padahal saat itu Shafa hanya ingin melakukan perlindungan diri karena anak perempuan itu ingin menyiramnya dengan air s**u kemasan. Tapi apalah daya, yang ber-uang akan selalu menang. Bukan hanya dipindahkan dari sekolah, tapi Shafa juga pindah dari rumahnya yang lama ke rumah baru yang ukurannya lebih kecil. Di sekolahnya yang baru, Shafa mendapatkan banyak teman. Karena Shafa adalah anak yang periang, semua anak dikelasnya menyukainya. Ada dua anak laki-laki yang selalu murung di kelasnya yang setiap tanggal 14 selalu tidak hadir ke sekolah. Pada awal saat Shafa pindah ke sekolah dasar itu, kedua anak laki-laki itu duduk sendiri-sendiri dan di belakang barisan mereka terdapat dua buah tempat duduk kosong. Shafa ingin duduk disana, namun kedua anak laki-laki itu mencegahnya. "Jangan duduk disana!" teriak salah satu anak laki-laki itu. "K-kenapa?" tanya Shafa. "Gak kenapa-kenapa. Kalo kamu mau duduk, di samping aku juga ada tempat kosong. Kamu boleh duduk disana." sahut anak laki-laki yang lainnya. Shafa menurutinya, anak laki-laki pemurung itu akhirnya menjadi teman sebangkunya. "Nama kamu siapa?" Shafa kecil penasaran, karena anak laki-laki itu tak kunjung memperkenalkan dirinya. "Fabian," balasnya singkat. "Aku panggil Bian aja, boleh ya?" "Hm." "Kamu tinggal dimana, Bian?" "Kita tetangga." "Wah, hebat. Nanti kita berangkat ke sekolah sama-sama ya?" "Hm." Shafa tersenyum cerah, "Kamu kok duduk sendirian? Kenapa nggak sama anak laki-laki yang tadi? Padahal dia juga duduk sendiri," tanya Shafa untuk kesekian kalinya. Fabian memegang erat pensil ditangannya, lalu memandang Shafa dengan tatapan tak suka, "Karena aku benci Arash!" Jadi, nama anak laki-laki yang satunya itu adalah Arash? *** Gadis itu meringkuk memegangi perutnya yang terasa nyeri. Tamu bulanan memang selalu menyiksanya, apalagi di saat hari pertama seperti ini. Shafa meringis kesakitan, seharusnya malam ini dirinya dan Fabian pergi ke sekolah untuk menyelidiki siapa tau ada jejak pelaku teror di kolam renang yang terjadi tempo hari. Selain sakit perut karena tamu bulanan, sebenarnya Shafa juga belum makan sama sekali. Itu sebabnya, sakit yang dirasakan Shafa menjadi double. Shafa mengambil ponselnya dari atas nakas, lalu membuka aplikasi i********:-nya. Yang dilakukannya hanyalah menge-scroll beranda. Melihat instastory teman-temannya. Menyukai beberapa postingan yang menurutnya menarik. Shafa bukan kpopers yang berandanya dipenuhi dengan postingan para bias mereka. Shafa juga bukan cewek seperti biasanya yang berandanya dipenuhi dengan postingan para online-shop. Followers Shafa pun juga sedikit, hanya ada 1014 followers, sementara yang diikuti Shafa hanya 29 akun. 27 akun teman sekelasnya. Sementara 2 akun lainnya adalah akun milik sekolah dan klub renang yang diikutinya. Shafa menutup aplikasi i********: karena merasa bosan. Yang dilakukan Shafa selanjutnya adalah kembali meringkuk, nyeri di perutnya tak kunjung reda. Memang sudah takdirnya perempuan. Ketika remaja mereka merasakan sakit karena tamu bulanan, lalu ketika melahirkan nanti juga harus merasakan sakitnya melahirkan. Jadi buat para cowok, kurang-kurangin deh nyakitin cewek. Ponsel Shafa bergetar. Shafa segera mengambilnya. Sebuah direct messenger dari akun yang tidak diketahui Shafa itu membuat keningnya berkerut. @student_a fllbck, Fa. Sepertinya akun tersebut sudah lama mengikuti Shafa. Lalu kenapa baru sekarang meminta follow back? Dan darimana pemilik akun itu tahu bahwa orang-orang sering memanggil Shafa dengan sebutan "Fa"? Padahal akun milik Shafa adalah @ashaarletta_ Shafa menghendikkan bahunya. Mengabaikan direct messenger dari akun tak dikenal itu. Lagipula, Shafa sangat malas mengikuti akun yang menurutnya tidak penting. Ia mematikan ponselnya, lalu menarik selimut hingga batas dagu, bersiap untuk tidur karena malam semakin larut. Bayangan dari tirai jendela mengalihkan perhatian Shafa. Matanya yang semula ingin terpejam kini membulat sempurna, membiarkan sosok orang yang berani membuka jendela kamarnya itu masuk. Ketika tirai jendela itu terbuka, Shafa memutar bola matanya malas. "Mamah gak ngizinin papah sayang masuk kalo gak bawain makanan, yah," celetuk Shafa tanpa basa basi—dengan tidak tahu malunya. Cewek yang semula berbaring itu kini mengubah posisi menjadi duduk. Fabian meletakkan tiga buah kantong plastik di atas kasur Shafa. "Hari ini tanggal delapan, gue tau apa yang lo alami hari ini. Cepet ke kamar mandi, sebelum kasur lo itu tambah kotor," perintahnya. Shafa mengambil salah satu kantong plastik, lalu membukanya. "Pembalut?" "Hm," gumam Fabian. Dengan cepat, Shafa pergi ke kamar mandi yang ada dikamarnya. Sementara itu, Fabian mengambil wadah cucian di dekat meja belajar Shafa—tidak layak disebut meja belajar sebenarnya, karena Shafa tidak pernah belajar sama sekali. Dengan telaten, Fabian melepaskan sprei kotor di kasur Shafa. Lalu menggantinya dengan sprei yang baru. Urusan siapa yang akan mencuci sprei kotor itu, esok Fabian akan menyerahkan semuanya pada tukang laundry langganannya. Setelah selesai, Fabian duduk di samping meja belajar Shafa. Tangannya terulur untuk mengambil kalender yang ada di atas meja belajar itu, Fabian juga mengambil spidol berwarna merah dari tempatnya. Lalu memberi tanda dengan membulati tanggal delapan dengan spidol itu. Fabian mengecek lemari dekat meja belajar Shafa. Tersenyum tipis kerena melihat barang pemberiannya masih ada di dalam sana. Fabian tau dimana Shafa menaruh barang-barangnya. Karena mereka bertetangga. Tapi, tetangga macam apa yang perhatiannya seperti Fabian? Shafa keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda dengan yang tadi, ia langsung memeluk Fabian. "Thanks ya, udah gantiin sprei kasur gue. Sama beliin itu juga. Baik banget." Fabian mendorong Shafa, "Jangan meluk gue, Fa. Gue cowok!" "Iya, tau kok. Tapi lo nggak pernah pegang d**a cewek, jadi menurut gue lo belum jadi cowok beneran." Fabian hanya mengacak rambutnya gusar. Selalu saja seperti ini, Shafa memang menyebalkan. "Coba deh, Fa. Lo itu sekali-kali beresin kasur sendiri. Beli pembalut sendiri. Gue cowok beneran, tapi kalo deket lo gue jadi ngelakuin pekerjaan cewek." "Bian, lo beliin gue martabak?" tanya Shafa, mengabaikan ucapan Fabian. Fabian berdecak kesal, lalu mengangguk. "Iya, sama jamu datang bulan juga." "Ih, Bian, baik banget sih." "Yaiyalah gue baik. Tapi lo pikir gue nggak malu? Gue cowok woi! Beli jamu datang bulan, yang ngejualnya mesem-mesem senyum ke gue. Gila emang itu mbak-mbak, sama kayak lo," omel Fabian. "Martabaknya rasa apa, Bian?" Lagi-lagi Fabian diabaikan. "Rasa cinta," balas Fabian sekenanya. Shafa menganga tak percaya, "Lo... cinta sama gue?" "NGGAK!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD