Temenan Sama Mantan

1199 Words
Setelah menyakiti, lalu dia datang kembali dengan berkata bahwa dirinya ingin memperbaiki. Dasar tidak tahu diri! -Undefinable- "Lempar, Ca!" teriak Shafa dari bawah, saat ini dia sedang berada di belakang sekolah, tepatnya di bawah jendela kelas. “Tangkep ya!" balas Caca berteriak pula. Caca melempar tas Shafa dengan hati-hati. "Fighting!" Tangan Shafa terulur, menantikan tas itu jatuh ditangannya. Namun sepertinya lemparan Caca kurang keras, sehingga tas Shafa malah tersangkut di ranting pohon, buku-buku yang ada didalamnya berjatuhan diatas tanah. “Sorry, Fa. Nggak bisa bantuin, b***k mau masuk!" teriak Caca dari atas. Selain BuSuk, mereka juga mempunyai guru yang bernama Rika. Mereka juga biasanya menyebutnya dengan sebutan b***k, dengan alasan yang sama. Biar lebih singkat. Shafa berjinjit untuk mengambil tasnya namun tangannya tak cukup sampai. Shafa kira selama ini dirinya cukup tinggi karena rajin berenang, tapi pada kenyataannya dirinya tak cukup tinggi. Shafa mencari ranting pohon disekitarnya yang mungkin saja bisa dia jadikan sebagai alat bantu. Namun dia mendengus kesal, tidak ada yang bisa dijadikan alat bantu. "Nih, tas lo." Suara serak itu berhasil membuat Shafa mendongak, orang itu menenteng tas Shafa dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain dimasukkan ke dalam saku celana. "A-Arash?" mata Shafa membulat sempurna. Ia segera mengambil tasnya dari tangan Arash. "Lo kok nggak masuk kelas? Ini jam pelajaran b***k loh, Rash," tanya Shafa. Arash terkekeh pelan, "Gue nggak sengaja liat temen sekelas gue keluar dengan tampang mencurigakan. Dan sekarang, gimana nih? Ada siswi yang bolos ketahuan sama ketua osis," ujarnya. "Gue nggak bolos! Tas gue dijatohin sama Caca! Makanya gue ngambil kesini," balas Shafa cepat. Arash mengacak puncak kepala Shafa, "Bolos aja, Fa. Biar gue izinin. Lo janjian sama bos lo jam sepuluh kan? Sekarang udah setengah sebelas kurang tiga menit." Shafa menarik pergelangan tangan Arash, lalu melihat dengan rinci jam yang bertengger di pergelangan tangan itu, "Ya ampun, gue telat. Yaudah, gue bolos dulu ya! Izinin sama b***k. Dah ketos!" ujar Shafa lalu lari sekuat tenaganya. Arash tertawa pelan, Shafa itu sangat menggemaskan menurutnya. Arash dan Shafa berasal dari SD dan SMP yang sama, dan mereka selalu berada di kelas yang sama pula. Tapi Arash dan Shafa tidak begitu dekat, karena Shafa lebih dekat dengan Fabian yang membenci Arash. Shafa adalah penengah di antara keduanya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, Arash kembali ke kelas. Bu Rika yang melihat Arash datang terlambat lantas bertanya, "Arash, dari mana saja kamu? Kenapa baru masuk?" "Dari ruang Kepala Sekolah, Bu. Ada urusan sama ayah saya," balas Arash. Fabian yang mendengarnya lantas berdecih dalam hati. Anak ayah—batinnya. Bu Rika tersenyum, mempersilahkan Arash duduk di tempatnya. Sekali lagi, yang ber-uang akan selalu menang. Yang memiliki jabatan tinggi, akan selalu dihormati. Kenapa materi selalu dijadikan alasan untuk seseorang di diskriminasi? Bu Rika menatap ke arah tempat duduk Shafa. "Kemana perginya Shafa?" tanya Bu Rika. Fabian menatap Caca, bermaksud menanyakan kemana perginya gadis itu. Belum sempat Caca menjawab, seseorang lebih dulu berbicara. "Shafa izin keluar, Bu. Ada urusan mendadak. Dia sudah izin sama saya." Fabian menggertakkan giginya, sangat kesal. Kenapa Shafa harus izin sama Arash? *** Shafa berdiri sambil menatap kafetaria di hadapannya. Surat lamaran pekerjaannya diterima oleh pemilik kafe ini. Shafa akan bekerja dua kali dalam seminggu di kafe ini. Dan tentunya pada hari dimana tidak ada jadwal latihan renang untuk Shafa. Shafa memasuki kafe itu dengan senyuman cerah. Lalu mengambil tempat duduk tepat di samping jendela kaca. Hari ini bukan hari pertama Shafa bekerja, melainkan hanya pertemuan antara dirinya dengan pemilik kafe. "Udah lama nunggu?" tanya seseorang di belakang Shafa. Suara itu sangat familier, Shafa segera menengok ke belakang, dugaannya benar. Orang itu kini duduk tepat di hadapan Shafa. Shafa membulatkan matanya, "Ngapain lo duduk disini? Itu tempat suci, nggak cocok sama makhluk astral kayak lo!" ucap Shafa sarkas. Bukannya marah, orang itu justru menertawakan Shafa. "Bukannya dari tadi lo nungguin gue ya? Makasih loh, udah bilang tempat duduk ini suci." "Gue nggak nungguin lo!" sahut Shafa. Tingkat kepedean orang di hadapannya ini memang benar-benar di luar batas wajar. "Terus lo nungguin siapa?" "Gue nungguin pemilik kafe ini. Namanya Dania," balas Shafa. "Gue yakin bentar lagi dia bakalan dateng. Dan lo mending cepet-cepet pergi karena bisa aja gue minta bantuan dia buat ngusir lo dari sini," ancamnya. Orang itu mati-matian menahan tawanya, "Sayangnya, Dania nggak bisa dateng karena pacarnya baru aja kecelakaan. Makanya, sekarang adiknya Dania yang ngewakilin." Mulut Shafa terbuka lebar, matanya membelalak. Ternyata... "Kenalin. Gue Daniel, pemilik kafe ini." Daniel mengulurkan tangannya pada Shafa yang masih diam tak berkutik. Hal itu membuat Daniel gemas, lalu mencubit pipi Shafa. "Jangan sentuh gue!" sarkas Shafa setelah tersadar. "Kalo aja gue tau ini kafe milik lo, gue nggak bakal mau ngelamar kerja disini." "Apasih, Fa. Dendam banget sama gue. Gue ini mantan yang baik, loh. Gue nggak pernah nganggep lo musuh. Tapi kenapa lo kayak gini? Lucu banget, sih." Shafa memutar bola matanya malas, "Lo itu banyak salah sama gue, makanya gue dendam sama lo!" "Jangan ngegas mulu dong," gumam Daniel. Daniel memanggil salah satu pelayan. Pelayan itu menunduk sopan di hadapan Daniel, lalu memberikan buku menu. "Makan dulu aja, biar lebih enak ngobrolnya. Gue pesenin makanan kesukaan lo aja, ya?" "Nggak usah repot-repot. Gue nggak mau—" "Biar gue tebak. Lo nggak mau gagal move on?" "Apasih!" ingin rasanya Shafa melempar sepatu kets miliknya ke wajah Daniel yang saat ini sedang menyebutkan pesanan ada pelayan. Daniel terkekeh pelan melihat wajah Shafa yang cemberut. "Gue nggak tau apa alasannya lo jadi benci banget sama gue. Kejadian waktu itu, gue sama sekali nggak tau siapa pelakunya," "Terus gue harus percaya sama lo? Kalo emang lo nggak tau pelakunya, kenapa waktu itu lo milih mutusin gue?" tanya Shafa dengan nada ketus. Daniel menarik nafas dalam, "Kalo gue nggak mutusin lo, mungkin aja waktu itu lo nggak bakal selamat. Gue dapet ancaman, Fa. Dan ancaman itu nggak main-main." Shafa menautkan kedua alisnya, "Ancaman?" Daniel mengangguk, "Pecahan kaca itu, salah satu ancamannya. Gue nggak mau lo terluka lebih jauh lagi. Sorry, ya." Pelayan datang membawakan pesanan yang di ucap Daniel. Dua gelas fruit tea, satu porsi chicken fingers, dengan pancake stroberi berukuran jumbo sebagai makanan penutup. Shafa menelan salivanya ketika melihat fruit tea itu, bukan karena potongan buah-buahan segar yang ada di atasnya, tetapi karena es batu yang ada di dalamnya. Rasanya Shafa ingin segera menggerogoti semua es batu itu. Daniel yang melihat ekspresi Shafa, lantas tersenyum tipis. "Lo pasti ngiler liat es batu ini kan, Fa?" goda Daniel menaikturunkan alisnya. Daniel sangat ingat, mantan pacarnya itu sangat suka menggerogoti es batu. Kalau kata Daniel, Shafa itu kekurangan zat besi. Lagi, Shafa menelan salivanya. Lalu mengangguk pelan. "Makan aja, Fa. Kalo udah abis, gue bisa minta karyawan gue buat nambahin es batu nya lagi." Persetan dengan gengsi, Shafa segera meminum fruit tea nya, lalu mengambil es batu yang ada di dalamnya dengan sendok, menggerogotinya hingga menimbulkan bunyi yang membuat orang lain merasa ngilu. Daniel menatap Shafa sambil tersenyum. Ini adalah pertama kalinya mereka bicara baik-baik setelah sekian lamanya. Kelakuan cewek dihadapannya tidak berubah total, dia tetap menjadi Shafa yang unik. Hanya saja sekarang sikap Shafa terhadapnya menjadi judes karena kejadian setahun yang lalu. "Fa, baikan sama gue ya? Temenan sama mantan nggak ada salahnya kok." -Undefinable-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD